PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 35


__ADS_3

...***...


...Istana....


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra saat itu terlihat pendiam, tentunya menjadi tanda tanya bagi mereka semua. Termasuk Ratu Aristawati Estiana.


"Ada kanda prabu?. Apakah kanda prabu sedang sakit?."


"Tidak apa-apa dinda. Hanya sedang lelah saja."


"Kalau begitu beristirahatlah kanda."


"Nanti, jika kanda memastikan tidak ada yang berniat ingin berontak."


"Beristirahatlah kanda."


Belum ada tanggapan dari Prabu Maharaja Kanigara Rajendra, ia memperhatikan mereka semua yang tampak cemas padanya. Namun saat itu ada seorang prajurit yang datang membawakan pesan.


"Mohon ampun gusti prabu. Hamba menghadap."


"Katakan apa yang hendak kau sampaikan."


"Mohon ampun gusti prabu. Ada sebuah surat yang sangat rahasia dari seseorang untuk gusti prabu."


"Patih palasara mada. Tolong bacakan surat itu untukku."


"Sandika gusti prabu."


Patih Palasara Mada mengambil surat itu dari tangan prajurit, kemudian ia bacakan dengan suara yang sangat lantang.


"Kepada yang terhormat prabu maharaja kanigara rajendra yang telah memimpin istana kerajaan telaga dewa selama hampir enam belas tahun. Namun gusti prabu tidak menjalankan tugas gusti prabu sebagai seorang raja yang memberikan-."


Dengan berat hati Patih Palasara Mada melanjutkan membacakan surat itu, sementara Prabu Maharaja Kanigara Rajendra cukup terkejut dengan apa yang ia dengar, begitu juga dengan yang lainnya.


"Lanjutkan, aku ingin mendengarkan apa yang telah ia katakan dalam surat itu!."


"Hamba akan melanjutkannya gusti prabu."


"Kanda prabu." Dalam hati Ratu Arsitawati Estiana merasakan hal yang tidak baik.


"Sebagai seorang raja gusti prabu sama sekali tidak memberikan kesejahteraan pada rakyat, memakmurkan kehidupan rakyat, ataupun memberikan perlindungan pada rakyat."


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra saat itu ingin meledak mendengarkan apa yang telah ia dengar saat itu, akan tetapi ia berusaha untuk menahan dirinya.


"Kami telah merasakan kesengsaraan yang sangat mendalam selama gusti prabu yang memimpin kerajaan ini. Kami tidak menerima raja kejam seperti gusti prabu. Karena itulah. Dalam dua hari ini, jika gusti prabu tidak juga bisa melakukan tugas gusti prabu semestinya seorang raja, maka jangan salahkan kami, pada hari ketiga kami semua rakyat kerajaan telaga dewa menyatakan perang dengan gusti prabu. Akan kami kembalikan tahta pemerintahan pada pemilik yang sah. Salam penuh cinta dari kelompok pendekar kegelapan, rakyat yang gusti aniaya dari lahir."


"Laknat!."


Pecah sudah kemarahan yang dirasakan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra mendengarkan apa yang tertulis pada surat itu. Sementara itu mereka semua yang berada di sana dapat merasakan bagaimana kemarahan yang dirasakan sang prabu.


"Siapkan pasukan yang lebih banyak!. Untuk membunuh kelompok pendekar kegelapan yang tidak seberapa itu!." Itulah kalimat yang ia ucapkan dalam kemarahan yang ia rasakan saat itu. "Bawa pasukan yang sangat banyak untuk membuat mereka keluar dari sarang mereka yang bercokol di hutan larangan."


"Mohon ampun gusti prabu."


"Ada patih palasara mada?."


"Di dalam surat ini mereka mengatakan akan berperang di bukit topan, bukit semak, dan lembah curam pati, dan juga hutan larangan."


"Kurang ajar!. Berani sekali mereka yang menentukan di mana aja lokasi perang itu?!. Apakah mereka sedang meremehkan aku sebagai raja yang hebat dalam menyusun taktik perperangan?!."


Amarah Prabu Maharaja Kanigara Rajendra saat itu keluar begitu saja, hatinya sangat panas mendengarkan itu semua. Apakah yang akan ia lakukan sebagai seorang raja?.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


***

__ADS_1


...Sementara itu Arya Susena yang telah berhasil masuk ke dalam kota raja. Saat ini mereka benar-benar tampak seperti rakyat biasa yang tidak dicurigai sama sekali oleh prajurit, ataupun penggawa istana. ...


"Kutilang utara katanya lebih manis, tapi kok dagingnya alot?."


"Eh?."


Raden Kanigara Lakeswara, Nismara, Patari, Bajra, dan Darsana sangat terkejut mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena pada pemilik kedai  makan itu.


"Aden masuk saja ke bilik paling belakang. Nanti saya siapkan kutilang yang manis, daging empuk. Di sana ada minuman kendi yang saya siapkan, tapi aden putar sedikit ke arah utara, supaya airnya tidak nyembur."


"Baiklah. Terima kasih jamuan paman. Saya akan ke sana untuk istirahat."


"Sama-sama aden."


"Mari kita istirahat di sana."


Setelah berkata seperti itu ia segera pergi dari sana, sedangkan yang lainnya hanya diam sambil mengikuti apa yang telah dikatakan Arya Susena pada pemilik warung itu.


"Memangnya apa yang kau lakukan tadi arya?."


"Benar arya. Apakah itu bentuk kode?. Kenapa aku tidak mengetahuinya sama sekali?."


"Sudahlah, kita ke sana dulu. Nanti saja penjelasannya."


Tidak ada lagi bantahan dari mereka, tentunya mereka tidak ingin memancing kemarahan yang dimiliki Arya Susena. Namun seperti yang dikatakan tadi, bahwa mereka masuk ke dalam sebuah bilik yang paling ujung. Saat itu juga mereka melihat ada sebuah kendi yang cukup besar?.


"Apa yang terjadi sebenarnya?." Dalam hati Nismara sangat penasaran.


Akan tetapi rasa penasaran itu terjawab ketika Arya Susena memutar kendi itu ke arah utara?. Saat itu pula ada yang bergeser, sebuah lantai yang berbentuk pintu rahasia bawah tanah?. Tentu saja mereka yang melihat itu sangat terkejut dengan apa yang telah mereka lihat?.


"Mari masuk. Aku yakin mereka telah berada di dalam menunggu kita."


"Mereka siapa?."


"Siapa lagi kalau bukan paman warsa jadi dan sekutu kita yang lainnya."


Mereka semua mengikuti langkah Arya Susena, dan saat mereka melangkah beberapa langkah?. Pintu itu bergeser dengan sendirinya, dan lorong itu menyala obor dengan sendirinya.


"Apakah akan aman arya?. Bagaimana jika pemilik kedai itu menunjukkan tempat persembunyian kita selama di kota raja?."


"Benar yang dikatakan patari. Apakah kau tidak cemas?. Kita akan terbunuh di sini, jika raja kejam itu mengetahui tempat ini."


"Kau ini selalu saja bertindak dengan penuh ketegangan yang sangat memacu nyali arya."


"Kalian tenang saja. Tempat ini sangat aman." Ia terlihat sangat tenang. "Pemilik kedai ini adalah adik paman warsa jadi. Jika dia berani membocorkan tempat ini pada pihak istana, aku yakin paman warsa jadi yang akan membunuhnya."


Mereka bisa bernafas lega mendengarkan itu, namun saat itu mereka melihat ada sebuah pintu?. Begitu Arya Susena membuka pintu itu, ternyata mereka telah disambut oleh banyak orang. Sementara itu Patari, Raden Kanigara Lakeswara, Nismara, Darsana dan Bajra sangat terkejut melihat itu.


"Akhirnya kau datang juga arya."


"Maaf paman. Kami hanya ingin memastikan, bahwa lokasi yang dijadikan sebagai tempat perang, telah aman untuk mereka nantinya."


"Baiklah. Kalau begitu silahkan duduk. Mari kita bahas masalah rakyat kota raja yang kemungkinan akan menjadi lokasi pertama dilalui selama perang itu terjadi nantinya."


"Baiklah kalau begitu paman. Mari kita mulai untuk persiapan kita."


Arya Susena telah duduk bersama mereka semua, tentunya mereka ingin melanjutkan rencana mereka. Terutama mengungsikan rakyat kota raja yang sebenarnya sangat membenci pemerintahan. Karena mereka sebenarnya hanya dijadikan sapi perah untuk mendapatkan keuntungan istana saja. Mereka juga tidak ingin ada korban dari rakyat yang tidak memiliki ilmu kanuragan yang mempuni untuk melindungi diri mereka. Jika mereka mampu melindungi diri?. Maka dari dulu mereka akan melakukan pemberontakan, tai sayangnya mereka tidak bisa melakukan itu. Namun setidaknya mereka sangat bersyukur, dengan adanya kelompok pendekar kegelapan dapat diharapkan meringankan beban yang mereka rasakan. Bagaimana lanjutan dari rencana mereka?. Simak dengan baik kisahnya.


***


Di sisi yang lainnya.


Sardala Saguna saat itu sedang mengamati sebuah pintu yang sangat besar, pintu yang selama 13 tahun tidak pernah dibuka?. Hatinya sangat sedih sambil menatap pintu itu. Ia tidak memiliki tenaga dalam yang cukup kuat untuk membuka pintu itu.


"Yunda dewi tenang saja. Jika putra yunda telah datang ke sini, saya akan menyuruhnya untuk membuka pintu itu." Hatinya sangat sakit dengan apa yang telah terjadi pada kakak perempuannya. "Tapi saya mohon, yunda tetaplah bertahan di dalam sana. Saya mohon agar yunda masih bertahan di dalam sana, sampai saya membawakan putra yunda ke istana ini." Air matanya tidak dapat ia bendung lagi. Sungguh hatinya sangat sedih, sakit, dan sesak membayangkan kemungkinan hal yang terburuk di alami oleh kakak perempuannya di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Masih di dalam lingkungan istana.


Mereka semua sedang sibuk menyiapkan persiapan perang, termasuk Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda yang telah dilibatkan dalam masalah itu. 


"Para pemberontak mulai menunjukkan diri mereka, termasuk para pendekar kegelapan yang sudah sangat lama mengincar istana ini." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra saat itu memimpin langsung rapat itu. "Mereka secara terang-terangan mengatakan lokasi perang itu pada kita!." Ada bentuk kemarahan yang ia sampaikan. "Seberapa banyak tentara yang telah mereka siapkan untuk menghadapi ribuan tentara kuat yang dimiliki kerajaan telaga dewa?. Sehingga mereka berani menentukan di mana saja lokasi perang itu?."


"Mohon ampun gusti prabu. Hamba telah mengutus telik sandi hamba agar melihat ke sana. Seberapa besar pasukan mereka di sana."


"Kerja bagus patih palasara mada. Itulah yang aku harapkan darimu sebagai seorang patih yang dapay aku percayai."


"Hamba gusti prabu."


"Baiklah. Untuk senopati dan dharmapati bimbing kedua anakku raden kanigara ganda dan raden kanigara lakeswara untuk memimpin perang ini. Mereka akan terjun langsung untuk menghabisi para pemberontak itu!."


"Sandika gusti prabu."


"Untuk persiapan perang, kita harus mengetahui semua kekuatan yang mereka miliki, sehingga kita bisa meluluh lantahkan mereka semua yang telah berani berniat untuk berontak padaku!."


"Sandika gusti prabu."


Ya, pada rapat dadakan seperti itu, Prabu Maharaja Kanigara Rajendra menyuruh mereka semua untuk memantau jumlah musuh yang akan mereka lawan pada saat perang nanti. Tapi apakah mereka bisa mengetahui kebenaran dari apa yang telah tersembunyi sebenarnya?.


"Mereka semua akan aku bunuh!. Karena telah berani mengambil tahta ini dari tanganku." Dalam hati Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat marah, ia tidak menduga akan mendapatkan tantangan dari pendekar kelas teri yang membela rakyat?.


***


Di sebuah tempat.


Arya Restapati kembali menerima surat dari seseorang?. Lebih tepatnya adalah Arya Susena adiknya sendiri. Adik yang beda enam tahun darinya. Akan tetapi pada saat ini Arya Restapati telah memutuskan untuk menjadi seorang pengembara, karena ia berpikir bahwa dendam akan melahirkan dendam baru suatu hari nanti. Itulah alasan kenapa ia tidak mau terlibat dalam masalah itu. Namun rasa penasaran selalu menghantui pikirannya setiap adiknya itu mengirim surat untuknya. "Bagaimana dia mengetahui keberadaan diriku?. Apakah dia memiliki mata-mata setiap tempat?." Dalam hatinya kadang memikirkan ke arah sana.


"Kakang arya restapati, apakah kakang masih mau melakukan pengembaraan?. Aku harap kakang kali ini akan mendengarkan apa yang akan aku katakan. Paman sardala saguna, adik dari ibunda kita telah mengetahui di mana keberadaan ibunda kita. Meskipun paman sardala saguna tidak bisa memastikan apakah ibunda kita masih hidup atau tidak. Tapi kita sama-sama berdoa kakang, semoga saja ibunda masih hidup. Jika kakang ingin mengetahui kepastian itu, maka kakang datang lah melalui jalur ini untuk masuk ke kota raja. Katakan sandi ini pada pemilik kedai makan yang bernama paman wilis. Aku yakin dia akan menunjukkannya pada kakang."


Hatinya merasa iba setelah membacakan surat itu, hatinya kembali tergores luka sakit yang sangat dalam. "Ibunda. Oh!. Ibunda." Rasanya ia tidak dapat menahan air mata yang ia tahan selama ini. Rasa rindunya pada sosok ibunda yang sangat ia cintai. Jika saja ia tidak diselamatkan oleh Warsa Jadi?. Mungkin ia tidak akan hidup?.


"Ibunda?. Kenapa perut ibunda membesar seperti ini?." Dengan raut wajah yang masih polos ia bertanya pada ibundanya. "Apakah karena ibunda terlalu banyak makan?."


Tentunya Dewi Astagina tertawa mendengarkan ucapan anaknya. Ia gendong anaknya, dan ia dudukkan di pangkuannya. "Ibunda sedang mengandung adik bayi, nanti adik bayi ini akan menjadi adik nanda."


"Benarkah itu ibunda?."


"Tentu saja nak."


Saat itu Patih Arya Saka datang, ia ambil alih menggendong anaknya Arya Restapati. Setelah itu ia duduk bersama istinya sambil memangku anaknya.


"Ayahanda. Apakah benar yang dikatakan ibunda?. Jika sebentar lagi nanda akan memiliki adik?."


"Benar sekali." Balasnya sambil mengelus kepala anaknya. "Apakah nanda senang?."


"Tentu saja ayahanda. Sebab nanda memiliki adik yang akan menemani nanda bermain."


"Ahaha!. Pintar sekali anak ayahanda ini." Ada kebanggaan yang ia rasakan. "Kalua begitu nanda harus berjanji pada ayahanda, jika nanda akan melindungi adik nanda dengan sepenuh hati."


"Nanda janji ayahanda."


"Betul?."


"Betul ayahanda."


"Ahaha!. Lihat dinda. Putra kita telah menjadi seorang laki-laki sejati."


"Pastinya putra kita akan menjadi laki-laki sejati kanda."


Patih Arya Saka dan Dewi Astagina sangat bangga dengan apa yang telah dikatakan anak mereka Arya Restapati.


Namun itu hanyalah masa lalu, Arya Restapati sangat ingat dengan apa yang telah ia ucapkan pada kedua orang tuanya, bahwa ia akan melindungi adiknya dengan sepenuh hatinya. Akan tetapi apa yang telah ia lakukan sekarang?. Di saat adiknya sedang berjuang untuk merebutkan kemerdekaan rakyat dari raja yang kejam?. Ia malah memilih menjadi pendekar pengembara dengan alasan tidak ingin melibatkan dirinya untuk melakukan pemberontakan?. Apakah seperti itu sikap dari seorang anak Patih besar yang dipercayai banyak orang?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2