PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 43


__ADS_3

...***...


Di kota Raja.


Saat itu ada seorang pemuda asing yang baru saja melawati sebuah tempat yang sangat rahasia. Darsana dan Bajra langsung mendekati pemuda itu dengan sikap waspada.


"Maaf tuan, apakah tujuan tuan masuk ke sini?."


"Apakah tuan tidak mengetahui?. Jika tempat ini mejadi tempat terlarang untuk siapa saja?."


"Maaf. Jika kedatanganku di saat yang tidak tepat. Aku hanya ingin mengunjungi pamanku yang berada di sini."


Namun saat itu Nismara malah teringat dengan seseorang, ketika ia melihat wajah orang asing yang baru saja masuk.


"Maaf tuan, wajah tuan mirip sekali dengan arya susena. Apakah tuan adalah kerabat dekat arya susena?."


Belum ada tanggapan dari orang asing itu, ia memperhatikan seorang pendekar wanita yang bertanya padanya. Saat itu mereka malah saling menatap satu sama lain?.


"Memang, jika dilihat tuan memiliki wajah yang hampir sama dengan arya susena."


"Apakah kalian kenal dengan arya susena?."


"Kami sangat kenal dengan arya susena, karena dia adalah ketua kami."


"Jadi adi arya susena yang telah membawa kalian ke jalan pemberontakan terhadap pemerintah?."


"Kalau ia kenapa?. Kami hanya ingin memperjuangkan hak kami."


"Dan tuan belum menjawab, apa hubungan tuan dengan arya susena?."


Tentunya mereka sangat penasaran dengan itu. Tidak mungkin rasanya seseorang memiliki kemiripan wajah yang sama persis, jika tidak memiliki hubungan kekeluargaan.


"Aku adalah kakang dari arya susena. Namaku arya restspati. Kalian puas?."


Deg!.


"Kakang arya susena?."


Mereka kompak terkejut berjamaah, karena mereka tidak menduga jika Arya Susena memiliki kakak kandung seorang laki-laki yang sangat tampan?. Mungkin itu kesan pertama mereka saat itu.


...***...


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Ratu Aristawati Estiana yang saat itu mengangkat tinggi pedang itu.


"Dinda. Kanda mohon sadarlah."


"Ibunda."


"Heh!. Nikmatilah kematian yang penuh dengan dendam ini."


"Kau!." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra berusaha untuk melepaskan diri, akan tetapi jeratan itu sangat kuat.


"Akan aku katakan padamu satu hal." Arya Susena saat itu mengubah wajahnya menjadi kasim istana?.


Deg!.


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan itu. Namun bukan hanya itu saja, bahkan ia telah mengubah dirinya menjadi orang-orang yang sangat dekat dengannya.


"Aku telah membaca semua jalan perang yang kalian rencanakan. Namun hal yang tidak kalian duga adalah?. Aku sengaja menemui Ratu arundaya dewani untuk bekerja sama dengannya untuk mengelabui dirimu. Memberi kesan pada kalian semua bahwa Ratu arundaya dewani gila. Tapi sebenarnya beliau masih normal."


"Bajingan kau!."


"Itu aku lakukan untuk menghantui pikiranmu agar kau ingat dengan raja agung yang telah kau bunuh."


"Jadi kau yang datang menyusup ke istana ini dengan menggunakan wajah maheswara?."


"Menyusup di istana ini tidaklah sulit aku lakukan. Bahkan dengan sangat santai aku bisa menusuk mu dengan menyamar menjadi istrimu jika aku mau. Tapi itu terlalu mudah aku lakukan."


"Bajingan busuk!. Sombong sekali kau!."


"Heh!. Aku telah mengatakan padamu. Jadi bunuh saja raja biadab ini." Ia memerintahkan Ratu Aristawati Estiana untuk segera melakukan itu.


Deg!.


"Tidak!. Aku tidak mau melakukan ini." Dalam hati Ratu Aristawati Estiana sangat takut dengan apa yang akan ia lakukan saat itu. Hatinya sangat menjerit ingin terbebas dari pengaruh jahat itu, namun sayangnya ia tidak bisa melakukan itu.


"Matilah kau!." Ucapan Arya Susena seperti sebuah perintah yang tidak bisa dibantah lagi.


Srakh!.


"Ayahanda prabu!."


Satu tebasan yang sangat kuat saat itu, tebasan yang dapat memutuskan kepala Prabu Maharaja Kanigara Rajendra, yang dilakukan oleh istri yang sangat ia cintai. Dan disaksikan oleh kedua putra yang mengasihinya?.


Deg!.


Ia telah tersadar dari pengaruh itu, jantungnya berdegup dengan sangat kencang setelah apa yang ia lakukan tadi?. Tubuhnya sebagian dibasahi darah yang muncrat dari percikan darah. Tangannya bergetar dengan sangat hebatnya, matanya melotot tidak percaya melihat pemandangan yang mengerikan itu.


"Ayahanda prabu!." Teriak Raden Kanigara Hastungkara, dan Raden Kanigara Ganda dengan tangisan penuh kepiluan yang sangat mendalam.


"Kenapa kau melakukan itu?." Dengan bibir yang bergetar ia mencoba untuk mengeluarkan kata-kata, meskipun tenggorokannya terasa sangat kering. Namun ia mencoba untuk mengeluarkan pertanyaan itu.


"Dendam, atas kematian gusti prabu maharaja kanigara maheswara." Matanya saat itu terlihat sangat seram. "Juga kematian ayahandaku patih arya saka." Ia ambil kembali pengaruh tenaga dalam itu dari tubuh Ratu Aristawati Estiana. Sehingga sang Ratu ambruk di tanah dengan lemah tak berdaya.

__ADS_1


"Ibunda." Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda berhasil mendekati Ratu Aristawati Estiana.


"Putraku." Ia mencoba untuk memeluk kedua anaknya dengan perasaan yang sangat takut luar biasa.


"Aku telah bersabar dalam kesakitan, dan bahkan ketika kami menginjak usia anak-anak, kami hampir saja terbunuh dengan cara yang sangat mengenaskan di tangan kanigara rajendra." Ingatan menyakitkan seperti itu masih membekas di dalam hatinya yang terluka akibat perbuatan mereka padanya. "Setelah itu aku bersumpah akan membunuhnya, dengan apapun caranya."


"Kau tidak akan aku ampuni. Kau telah berani membunuh ayahandaku!."


"Kau akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dariku."


"Jika kalian ingin segera menyusul ayahanda kalian?. Maka dengan senang hati aku akan melakukan itu."


"Lakukan saja arya susena!. Bunuh mereka semua!. Jangan biarkan satupun diantara mereka hidup!."


Saat itu banyak orang yang berdatangan di halaman istana saat itu. Mereka adalah orang-orang yang sangat benci akan keluarga Prabu Maharaja Kanigara Rajendra yang terkenal dengan sikap kejam mereka.


"Benar arya!. Bunuh saja mereka semua. Bahkan keluargaku telah terbunuh semua pada hari pemberontakan itu terjadi."


"Ibunda."


"Tenanglah putraku."


Ratu Aristawati Estiana sangat takut, jika terjadi sesuatu dengan anak yang sangat ia cintai.


"Segera putuskan sekarang. Supaya bibit penderitaan generasi berikutnya tidak menimbulkan kerusuhan lagi di kerjaan ini. Hukum mati saja mereka bertiga!."


"Benar itu arya!. Bunuh saja sekarang!."


Suasana sekitar di halaman istana mendadak gaduh, karena mereka menyuarakan untuk membunuh mereka semua.


"Tenanglah kalian semua. Kita akan menunggu kesembuhan paman warsa jadi. Untuk sementara waktu kita tahan saja mereka."


"Memangnya ke mana gusti senopati warsa jadi?."


"Ke mana gusti senopati warsa jadi?. Kenapa kau sendirian saja arya?."


"Kalian semua tenanglah. Saat ini paman senopati warsa jadi sedang diobati paman senopati jande ingaspati. Mohon bersabarlah."


Mereka semua tidak menduga jika Senopati Warsa Jadi dalam keadaan terluka?.


"Kalau begitu kita bawa mereka ke penjara."


"Ya. Bawa saja dulu mereka ke penjara."


Mereka tidak akan membiarkan keluarga istana yang tersisa selamat dari hukuman mati. Bagaimana kelanjutannya?. Simak terus ceritanya.


Next halaman.


...***...


...***...


Di kota Raja.


Saat itu ada seorang pemuda asing yang baru saja melawati sebuah tempat yang sangat rahasia. Darsana dan Bajra langsung mendekati pemuda itu dengan sikap waspada.


"Maaf tuan, apakah tujuan tuan masuk ke sini?."


"Apakah tuan tidak mengetahui?. Jika tempat ini mejadi tempat terlarang untuk siapa saja?."


"Maaf. Jika kedatanganku di saat yang tidak tepat. Aku hanya ingin mengunjungi pamanku yang berada di sini."


Namun saat itu Nismara malah teringat dengan seseorang, ketika ia melihat wajah orang asing yang baru saja masuk.


"Maaf tuan, wajah tuan mirip sekali dengan arya susena. Apakah tuan adalah kerabat dekat arya susena?."


Belum ada tanggapan dari orang asing itu, ia memperhatikan seorang pendekar wanita yang bertanya padanya. Saat itu mereka malah saling menatap satu sama lain?.


"Memang, jika dilihat tuan memiliki wajah yang hampir sama dengan arya susena."


"Apakah kalian kenal dengan arya susena?."


"Kami sangat kenal dengan arya susena, karena dia adalah ketua kami."


"Jadi adi arya susena yang telah membawa kalian ke jalan pemberontakan terhadap pemerintah?."


"Kalau ia kenapa?. Kami hanya ingin memperjuangkan hak kami."


"Dan tuan belum menjawab, apa hubungan tuan dengan arya susena?."


Tentunya mereka sangat penasaran dengan itu. Tidak mungkin rasanya seseorang memiliki kemiripan wajah yang sama persis, jika tidak memiliki hubungan kekeluargaan.


"Aku adalah kakang dari arya susena. Namaku arya restspati. Kalian puas?."


Deg!.


"Kakang arya susena?."


Mereka kompak terkejut berjamaah, karena mereka tidak menduga jika Arya Susena memiliki kakak kandung seorang laki-laki yang sangat tampan?. Mungkin itu kesan pertama mereka saat itu.


...***...


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Ratu Aristawati Estiana yang saat itu mengangkat tinggi pedang itu.

__ADS_1


"Dinda. Kanda mohon sadarlah."


"Ibunda."


"Heh!. Nikmatilah kematian yang penuh dengan dendam ini."


"Kau!." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra berusaha untuk melepaskan diri, akan tetapi jeratan itu sangat kuat.


"Akan aku katakan padamu satu hal." Arya Susena saat itu mengubah wajahnya menjadi kasim istana?.


Deg!.


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut dengan itu. Namun bukan hanya itu saja, bahkan ia telah mengubah dirinya menjadi orang-orang yang sangat dekat dengannya.


"Aku telah membaca semua jalan perang yang kalian rencanakan. Namun hal yang tidak kalian duga adalah?. Aku sengaja menemui Ratu arundaya dewani untuk bekerja sama dengannya untuk mengelabui dirimu. Memberi kesan pada kalian semua bahwa Ratu arundaya dewani gila. Tapi sebenarnya beliau masih normal."


"Bajingan kau!."


"Itu aku lakukan untuk menghantui pikiranmu agar kau ingat dengan raja agung yang telah kau bunuh."


"Jadi kau yang datang menyusup ke istana ini dengan menggunakan wajah maheswara?."


"Menyusup di istana ini tidaklah sulit aku lakukan. Bahkan dengan sangat santai aku bisa menusuk mu dengan menyamar menjadi istrimu jika aku mau. Tapi itu terlalu mudah aku lakukan."


"Bajingan busuk!. Sombong sekali kau!."


"Heh!. Aku telah mengatakan padamu. Jadi bunuh saja raja biadab ini." Ia memerintahkan Ratu Aristawati Estiana untuk segera melakukan itu.


Deg!.


"Tidak!. Aku tidak mau melakukan ini." Dalam hati Ratu Aristawati Estiana sangat takut dengan apa yang akan ia lakukan saat itu. Hatinya sangat menjerit ingin terbebas dari pengaruh jahat itu, namun sayangnya ia tidak bisa melakukan itu.


"Matilah kau!." Ucapan Arya Susena seperti sebuah perintah yang tidak bisa dibantah lagi.


Srakh!.


"Ayahanda prabu!."


Satu tebasan yang sangat kuat saat itu, tebasan yang dapat memutuskan kepala Prabu Maharaja Kanigara Rajendra, yang dilakukan oleh istri yang sangat ia cintai. Dan disaksikan oleh kedua putra yang mengasihinya?.


Deg!.


Ia telah tersadar dari pengaruh itu, jantungnya berdegup dengan sangat kencang setelah apa yang ia lakukan tadi?. Tubuhnya sebagian dibasahi darah yang muncrat dari percikan darah. Tangannya bergetar dengan sangat hebatnya, matanya melotot tidak percaya melihat pemandangan yang mengerikan itu.


"Ayahanda prabu!." Teriak Raden Kanigara Hastungkara, dan Raden Kanigara Ganda dengan tangisan penuh kepiluan yang sangat mendalam.


"Kenapa kau melakukan itu?." Dengan bibir yang bergetar ia mencoba untuk mengeluarkan kata-kata, meskipun tenggorokannya terasa sangat kering. Namun ia mencoba untuk mengeluarkan pertanyaan itu.


"Dendam, atas kematian gusti prabu maharaja kanigara maheswara." Matanya saat itu terlihat sangat seram. "Juga kematian ayahandaku patih arya saka." Ia ambil kembali pengaruh tenaga dalam itu dari tubuh Ratu Aristawati Estiana. Sehingga sang Ratu ambruk di tanah dengan lemah tak berdaya.


"Ibunda." Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda berhasil mendekati Ratu Aristawati Estiana.


"Putraku." Ia mencoba untuk memeluk kedua anaknya dengan perasaan yang sangat takut luar biasa.


"Aku telah bersabar dalam kesakitan, dan bahkan ketika kami menginjak usia anak-anak, kami hampir saja terbunuh dengan cara yang sangat mengenaskan di tangan kanigara rajendra." Ingatan menyakitkan seperti itu masih membekas di dalam hatinya yang terluka akibat perbuatan mereka padanya. "Setelah itu aku bersumpah akan membunuhnya, dengan apapun caranya."


"Kau tidak akan aku ampuni. Kau telah berani membunuh ayahandaku!."


"Kau akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dariku."


"Jika kalian ingin segera menyusul ayahanda kalian?. Maka dengan senang hati aku akan melakukan itu."


"Lakukan saja arya susena!. Bunuh mereka semua!. Jangan biarkan satupun diantara mereka hidup!."


Saat itu banyak orang yang berdatangan di halaman istana saat itu. Mereka adalah orang-orang yang sangat benci akan keluarga Prabu Maharaja Kanigara Rajendra yang terkenal dengan sikap kejam mereka.


"Benar arya!. Bunuh saja mereka semua. Bahkan keluargaku telah terbunuh semua pada hari pemberontakan itu terjadi."


"Ibunda."


"Tenanglah putraku."


Ratu Aristawati Estiana sangat takut, jika terjadi sesuatu dengan anak yang sangat ia cintai.


"Segera putuskan sekarang. Supaya bibit penderitaan generasi berikutnya tidak menimbulkan kerusuhan lagi di kerjaan ini. Hukum mati saja mereka bertiga!."


"Benar itu arya!. Bunuh saja sekarang!."


Suasana sekitar di halaman istana mendadak gaduh, karena mereka menyuarakan untuk membunuh mereka semua.


"Tenanglah kalian semua. Kita akan menunggu kesembuhan paman warsa jadi. Untuk sementara waktu kita tahan saja mereka."


"Memangnya ke mana gusti senopati warsa jadi?."


"Ke mana gusti senopati warsa jadi?. Kenapa kau sendirian saja arya?."


"Kalian semua tenanglah. Saat ini paman senopati warsa jadi sedang diobati paman senopati jande ingaspati. Mohon bersabarlah."


Mereka semua tidak menduga jika Senopati Warsa Jadi dalam keadaan terluka?.


"Kalau begitu kita bawa mereka ke penjara."


"Ya. Bawa saja dulu mereka ke penjara."

__ADS_1


Mereka tidak akan membiarkan keluarga istana yang tersisa selamat dari hukuman mati. Bagaimana kelanjutannya?. Simak terus ceritanya.


__ADS_2