
...***...
Raden Kanigara Hastungkara dan Raden
Kanigara Ganda hendak menuju Wisma, akan tetapi pada saat itu, mereka sedang melihat ayahanda dan ibunda mereka menuju kaputren.
"Bagaimana menurut raka?. Apakah kita akan mengikuti ayahanda?."
"Sebenarnya aku ingin segera istirahat rayi. Tapi aku sangat penasaran."
"Kalau begitu mari kita ikuti raka."
"Mari rayi."
Perasaan Penasaran yang telah mendorong keduanya untuk mengikuti ayahanda dan ibunda mereka. Prabu Maharaja Kanigara Rajendra saat itu melihat Ratu Arundaya Dewani seperti sedang menyandar Pada sesuatu yang tidak terlihat?.
"Kanda Prabu." Ucapnya dengan suara yang Sangat lembut. "Hari ini dinda akan melakukan tapa puasa, sama seperti yang kanda prabu lakukan."
"Oh!. Rayi arundaya dewani." Ratu Aristawati Estiana tidak tahan melihat itu. "Kenapa itu bisa terjadi padamu rayi?." Hatinya sangat sedih melihat itu.
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra saat itu sangat terkejut. Karena tiba tiba saja ia melihat sosok prabu Maharaja Kanigara Maheswara yang sedang duduk bersama Ratu Arundaya Dewani.
"Duduklah rayi. Apakah kau memiliki urusan yang sangat penting?. Sehingga kau berani masuk ke dalam bilik dinda arundaya dewani?."
Tidak ada jawaban darinya, karena ia sangat tidak mengerti, bagaimana mungkin ia dapat melihat Prabu Maharaja Kanigara Maheswara yang telah lama meninggal?. Tapi bagaimana mungkin bisa duduk dengan sangat santai di sana?.
"Kanda?. Kanda prabu?." Ratu Aristawati Estiana merasa heran dengan tatapan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra. "Kanda Prabu?." Ratu. Aristawati Estiana menepuk pundak sang prabu, hingga ia terperanjat terkejut. Saat itu kondisi normal, ia tidak lagi melihat kakaknya?. "Apa yang terjadi kanda? kenapa kanda malah melamun?."
"Tidak apa-apa dinda."
Namun saat itu Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda baru saja masuk ke dalam bilik Ratu Arundaya Dewani.
"Ayahanda prabu?. Ibunda?." Keduanya memberi hormat.
"Apa yang ibunda, juga ayahanda lakukan di sini?."
"Tidak apa-apa." Setelah berkata seperti itu ia langsung pergi dari sana.
"Apa yang terjadi padanya ibunda?." Raden Kanigara Hastungkara melihat ada yang aneh dengan Ratu Arundaya Dewani.
"Mari kita keluarkan dulu. Nanti ibunda jelaskan."
Mereka semua pergi meninggalkan bilik Ratu Arundaya Dewani yang tampak aneh bagi mereka semua. Sedangkan Prabu Maharaja Kanigara Rajendra masih terdiam, karena ia sungguh tidak menduga sama sekali jika ia melihat kakak laki-lakinya itu bersama Ratu Arundaya Dewani?.
"Bagaimana mungkin?. Aku bisa melihat itu dengan sangat jelas?. Sedangkan dinda aristawati estiana dan kedua putraku sama sekali tidak melihat itu?." Dalam hatinya sangat heran.
...***...
Setelah pertemuan itu bubar.
Saat itu Nismara sedang bersama Arya Susena, hanya mereka berdua saja saat itu.
__ADS_1
"Kau telah melakukan banyak hal arya. Kau bertindak sejauh ini untuk apa?."
"Aku hanya ingin melakukannya saja."
"Menurutku, dengan kemampuan yang kau miliki, kau bahkan bisa menjadi raja, jika kau mau."
"Sayangnya aku tidak mau. Karena menjadi raja itu sangat rumit. Aku tidak mau bersama orang yang suka menjilati mukaku dengan bau liur mereka yang sangat busuk."
Nismara malah tertawa mendengarkan ucapan itu, ia tidak menduga akan mendengarkan jawaban seperti itu dari Arya Susena.
"Tapi, bukankah kau ingin membalaskan dendammu pada orang yang telah membunuh ayahanda, ibunda, juga rayimu?. Apakah kau masih ingin memiliki niat yang seperti itu?."
"Jika kau berkata seperti itu, tentunya aku sangat ingat. Bahkan perasaanku saat ini sangat mendidih sampai ke jantungku."
"Kalau begitu aku akan membantumu untuk membunuhnya. Aku telah mengetahui di mana ia tinggal."
"Benarkah?."
"Apakah wajahku ini wajah tukang pembohong?."
"Bukan wajah pembohong, tapi wajah tukang pemarah yang tidak ada obatnya."
"Bfh!."
Saat itu Arya Susena bukannya marah, justru ia malah tertawa mendengarkan paa yang telah dikatakan Nismara saat itu.
"Jadi aku seperti itu id matamu ya?. Ahaha!."
Mereka sebenarnya bisa saja akrab, jika dilihat dari situasi saja. Sementara itu di lokasi yang sama. Darsana dan Patari sedang mengambil air untuk persediaan.
"Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini."
"Ya, kau benar. Itu karena kita ikut arya susena, menjadi pendampingnya, meskipun sebenarnya ia bisa melakukan itu sendirian."
"Tapi paman warsa jadi, paman baruh tandan, paman, jande ingaspati, dan paman bumi teladan tidak mengizinkan dia untuk bergerak sendirian. Sehingga terbentuklah kelompok pendekar kegelapan sampai sekarang."
"Ya, aku rasa kau benar."
Namun saat mereka hampir mendekati yang lainnya, tiba-tiba saja ada empat orang pemuda lainnya yang mendekati Patari.
"Mau kami bantu neng?. Bawa gentong airnya?"
"Kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Kau istirahat saja. Biarkan pekerjaan mengambil air ini menjadi tugas kami."
"Benar yang dikatakannya. Biar kami saja, kau beristirahatlah bersama para wanita yang lainnya."
"Atau kau memasak saja. Aku yakin masakan yang diracik dari tanganmu itu lebih enak."
Keempat pemuda itu sepertinya berniat menggoda Patari, pendekar wanita yang terlihat sangat cantik.
"Kalian ini laki-laki, bukan?. Jika kalian memang berniat membantu kami, maka segera ambil gentong itu." Patari terlihat kesal. "Aku telah memiliki seseorang yang dapat aku andalkan untuk membantu aku. Benarkan?. Kakang darsana."
"Eh?. Ah."
__ADS_1
Darsana sangat gugup ketika ia melihat tatapan mata mereka yang mengarah padanya.
"Kalian sebaiknya bantu kami mengambil air, atau aku yang akan mengambil darah kalian untuk jadi santapan nyamuk malam ini. Biar yang lainnya tidak digit nyamuk, karena telah mendapatkan tumbal darah dari kalian."
"Ba-baik, kami akan segera bekerja."
"Fyuh!."
Darsana menghela nafas dengan sangat pelan, ia tadi sempat bingung. Tapi setidaknya keempat pemuda itu langsung melarikan diri setelah mendengarkan ancaman dari Patari.
"Sejak kapan kau memanggil aku dengan sebutan kakang?."
"Lupakan saja. Anggap saja sekarang aku sedang latihan memanggilmu seperti itu, supaya nantinya akau tidak canggung lagi."
Pipi Darsana memerah malu mendengarkan ucapan Patari. Pendekar wanita itu memang galak pada orang lain, namun siapa sangka?. Jika ia bisa bersikap manis seperti itu setelah keempat pemuda itu menggodanya?.
"Tidak, ku tidak mau terlalu berharap. Akan aku jalani dengan apa adanya. Akan malu sekali rasanya, jika dewata yang agung nanti tidak menjodohkan aku bersamanya." Dalam hati Darsana sebenarnya sangat berharap bisa memiliki Patari, namun keadaan yang sekarang ia sangat cemas, dan takut akan kehilangan wanita itu jika suatu hari ia bertemu dengan pendekar yang sangat tangguh, dan pada akhirnya mereka akan dipisahkan oleh garis takdir yang sangat menyakitkan. Saat ini ia hanya bisa berjanji, bahwa ia akan menjaga wanita itu dengan sepenuh hatinya, tidak akan ia biarkan wanita itu pergi jauh sendirian.
...***...
Kilasan.
Ini adalah ingatan Arya Susena mengenai diskusi mereka tentang hari itu. Mereka yang selalu bergerak di dalam kegelapan, mencari tahu kebenarannya sebelum bergerak. Tentu saja mereka tidak akan bergerak begitu saja tanpa mencari tahu apa yang telah terjadi sebenarnya pada hari itu.
Sementara itu Arya Susesa yang saat ini sedang bersama teman-temannya sedang berdiskusi mengenai target mereka yang selanjutnya itu siapa.
"Di desa kembang. Aku mendapatkan informasi yang sebenarnya sangat tidak enak aku katakan pada kalian semua." Bajra, ia adalah pendekar yang berjulukan seribu tangan. Dia yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa jika mencari informasi yang sangat akurat.
"Katakan saja. Bukankah itu adalah makanan sehari-hari kita semua?. Jadi jangan sungkan lagi." Patari, pendekar wanita yang sangat sadis jika telah menyentuh selendang maut miliknya. Jurus yang paling berbahaya yang ia miliki adalah lipatan selendang kematian. Jika kau terkena jurus itu, maka jangan harap kau akan melihat bulan, ataupun matahari besoknya.
"Baiklah." Bajra hanya pasrah saja. "Di desa kembang. Desa yang saat ini ada penculikan untuk gadis muda yang belum menikah." Kali ini tatapan matanya terlihat sangat serius. "Mereka ditangkap oleh tuan tanah untuk dijadikan budak malam, demi kepuasan para tamu perdagangan." Nafasnya hampir saja sesak membayangkan itu semua. "Mereka sangat biadab!. Mereka akan membunuh siapa yang ketahuan mengandung. Karena bagi mereka wanita yang mengandung benih busuk, maka mereka akan dibunuh dengan dilempar ke jurang." Lanjutnya lagi.
Mereka yang mendengar itu sangat geram, kebiadaban yang sangat tidak manusiawi. Ada kemarahan yang sangat membawa yang ada di dalam diri mereka pada saat itu.
"Bukankah tuan tanah itu berdekatan dengan senopati Uperangga?. Kenapa tidak ada tanggapan darinya mengenai pembantaian itu?." Arya Susena kali ini yang bersuara.
"Sayang sekali arya susena." Ucap Bajra dengan lelahnya. "Jika saja senopati tidak berguna itu bergerak, mungkin tidak akan ada korban seperti itu." Lanjutnya dengan helaan nafas panjang.
"Kalau begitu tunggu apalagi?." Nismara, pendekar wanita yang memiliki paras cantik, tapi ia lebih berbahaya dari apa yang kalian duga. "Kita bunuh mereka semua yang telah memberikan penderitaan pada wanita. Akan aku potong barang berharga mereka, supaya mereka bisa mengingat bagaimana jika harga diri mereka yang diinjak seperti binatang!." Hawa yang ditunjukkan pendekar wanita itu sangat mengerikan.
"Lihat arya susena. Penggemarmu itu sudah terbakar." Bisik Darsana sedikit takut melihat raut wajah Nismara.
"Baiklah. Kita bantu wanita-wanita yang dijadikan budak malam. Setelah itu kita bunuh senopati tidak berguna itu." Arya Susena juga tidak tahan mendengarkan itu.
"Baik!. Mari kita lakukan." Ucap mereka dengan nada penuh semangat.
Arya Susena on.
Saat ini kami bergerak atas nama rakyat yang selama ini telah tertindas oleh kekuasaan yang sangat kejam. Kami benar-benar harus berjuang untuk menumpaskan kejahatan itu. Apakah menurut kalian ini kami salah?. Tapi pada dasarnya manusia memiliki alasan masing-masing kenapa ia melakukan itu. Sama halnya dengan apa yang kami lakukan pada saat ini, bukan hanya demi membela rakyat saja. Tapi ini demi dendam kami pada orang-orang yang telah membunuh orang tua kami, mereka yang telah bersikap semena-mena kepada kami selama ini. Bunuh!.
Arya Susena off.
...***...
__ADS_1