PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 66


__ADS_3

...***...


Pada saat itu mereka telah sampai di desa Tebing Tinggi, dan mereka tidak melihat ada manusia yang lewat di sana?. Bahkan mereka tidak melihat prajurit yang melintasi tempat itu?. Prajurit aneh yang sebelumnya mereka lihat?.


"Apakah kau yakin di desa ini mereka lewat jalur ini?."


"Kau meragukan kemampuan aku arya susena?."


"Tidak ragu sama sekali. Hanya saja tempat ini terlalu sepi, biasanya mereka lewat di sini dan masuk ke desa ini."


Bajra sangat kesal dengan sikap Arya Susena yang meragukan kemampuannya?. Apakah dia tidak tahu?. Setiap informasi yang mereka dapatkan adalah berkat usahanya?.


"Bukankah gagak hitam yang melihatnya?. Bukan kah itu sudah sangat jelas?. Bahwa mereka sering lewat ke sini?."


"Sudahlah jangan terlalu banyak mengeluarkan tenaga hanya untuk berdebat. Lebih baik kita selidiki saja apa yang terjadi sebenarnya."


Akan tetapi pada saat itu mereka dicegat oleh dua orang yang sebelumnya pernah bertemu dengan Arya Susena dan Darsana.


"Nah itu mereka. Di antara mereka ada dua orangnya telah berani mengganggu aku untuk meminta pajak kepada rakyat."


"Oh?. Bukankah dia orang bodoh yang kita temui di desa tebing tinggi waktu itu?."


"Kau masih memiliki urusan denganku?. Sehingga kau membawa gentong pecah seperti dia?."


"Bangsat!. Kau buruk mulut rupanya arya susena!."


Krik!.


Pada saat itu mereka semua melihat ke arah Arya Susena yang sama sekali tidak memiliki dosa?. Tapi kenapa orang gendut itu malah mengatai Arya Susena bermulut buruk?. Padahal yang dia tunjuk adalah Darsana?. Saat itu tawa mereka pecah, sungguh?. Mereka tidak dapat menahan tawa saat itu, karena mereka tidak menduga ada yang salah dalam mengenali seseorang?.


"Bfuh!. Bwahaha!."


"Kurang ajar!. Apa yang kalian?!."


"Hahaha!. Jika aku arya susena?. Lantas kau siapa?."


Dalam suasana marah seperti itu Darsana malah menunjuk dirinya dan Arya Susena yang seperti sedang menahan amarahnya.


"Dia benar-benar bodoh!. Hanya kenal dengan namanya saja?. Tapi tidak kenal dengan orangnya?. Sangat lucu sekali!. Ahaha!. Aku tidak dapat menahan tawaku!. Ahahaha!."


"Baru pertama kali aku melihat sandiwara yang mengundang gelak tawa seperti ini."


"Tapi sandiwara ini sangat menghibur sekali, apa lagi dia mengatakan jika arya susena bermulut buruk. Ahahaha!."


"Ya, benar sekali. Rasanya aku tidak percaya, jika ada seseorang yang berani menghina arya susena tapi salah orang?. Ahaha!. Sandiwara yang sangat luar biasa sekali."


Nismara, Darsana, Bajra dan Patari masih tertawa?. Akan tetapi pada saat itu mereka terdiam karena merasakan ada hawa yang berbeda.


Deg!.


"Apakah menurut kalian ini adalah sandiwara yang sangat lucu?." Ia tatap tajam ke arah mereka yang telah berani tertawa terbahak-bahak. "Bahkan aku tidak bisa tertawa dengan baik mendengarkan lawakan yang dia ucapkan dalam pembicaraan sebuah sandiwara." Senyumannya pada saat itu terlihat sangat mengerikan, sehingga pada saat itu mereka bergidik nyeri melihat bagaimana Arya Susena seperti sosok iblis yang sangat menyeramkan.


"Si-si-silahkan kasih pengertian tuan." Dengan takutnya Darsana mempersilahkan Arya Susena untuk menghajar dua orang itu.


"Kabur."


"Kabur?."


"Kabur!."


"Kabur!."


Nismara, Bajra, Darsana dan Patari segera menjauh dari sana. Karena mereka tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Arya Susena.


"Hei!. Berani sekali kau mengabaikan aku!."


"Hajar saja dia!. Tidak usah membuang-buang waktu lagi."


"Baiklah. Sekarang giliran kalian!." Arya Susena benar-benar sangat marah, hingga tanpa sadar hawa kemarahannya itu membuat sekitarnya menjadi lebih panas lagi.


"Sial!. Kenapa tiba-tiba saja cuaca menjadi panas seperti ini?."

__ADS_1


"Kau benar. Kenapa tiba-tiba saja terasa panas yang berbeda seperti ini?."


Tampaknya keduanya sangat heran dengan apa yang terjadi, karena mereka merasakan hawa panas yang sangat berbeda.


"Aku harap mereka selamat dari kemarahan arya susena."


"Mereka benar-benar ingin mencari mati."


"Rasanya aku tidak sanggup melihat mereka dihajar arya susena."


"Mau bagaimana lagi?. Mereka telah membangkitkan naga yang sedang tidur. Aku harap mereka bisa melihat bulan malam ini, dan masih bisa merasakan hangatnya mentari besok pagi."


Sementara itu Nismara dan kawan-kawan malah merasa kasihan pada kedua orang yang hendak melawan Arya Susena?.


***


Sementara itu di istana.


Tiga wanita cantik yang telah berstatus janda?. Ah lupakan, jangan berikan lawakan yang tidak baik untuk pembaca. Pada saat itu ketiganya kembali berkumpul untuk sekedar saling berbincang-bincang ringan saja. Tidak ada gosip yang berarti di sana, hanya pembicaraan para ibu yang sangat khawatir dengan anak-anak mereka.


"Sudah sangat lama rasanya kita tidak bertemu, berkumpul seperti ini. Rasanya rindu juga dengan suasana seperti ini."


"Baru beberapa hari yang lalu rayi. Jangan terlalu menuruti perasaan rindu."


"Ahaha!. Yunda bisa saja."


Mereka malah tertawa terbahak-bahak dengan candaan itu.


"Tapi yunda, kabar yang aku dengar, yunda mencari keberadaan nanda arya susena?. Apakah keadaannya baik-baik saja?." Ratu Arundaya Dewani tampak cemas.


"Hanya perasaan cemas saja. Tidak perlu di khawatirkan lagi."


"Syukurlah kalau begitu." "


Lalu bagaimana dengan nanda Prabu?. Apakah kau tidak berniat mencarikan permaisuri untuknya?."


"Benar yang dikatakan yunda dewi. Permaisuri dibutuhkan untuk mendampingi Raja."


"Tapi nanda prabu masih sangat muda untuk sebuah pernikahan."


"Nanti, akan aku tanyakan pada nanda prabu." Ya, tentu saja la akan bertanya pada anaknya terlebih dahulu. Supaya tidak ada perdebatan nantinya yang akan membuat keributan.


"Lantas bagaimana dengan nanda hastungkara?. Nanda ganda?. Apakah mereka suka dengan pekerjaan mereka?."


Ratu Aristawati Estiana tersenyum kecil. "Untuk saat ini mereka sedang menjalani yang namanya hukuman kehidupan." Jawabnya. "Tapi dharmapati sardala saguna benar-benar membimbing mereka dengan baik." Ada perasaan bersyukur yang ia sampaikan.


"Syukurlah kalau memang seperti itu." Ratu Arundaya Dewani merasa bersyukur pula.


"Kita hanya bisa mendukung apapun yang mereka lakukan. Semoga saja mereka menjadi lebih baik."


"Ya, kau benar rayi." Dewi Astagina dapat merasakannya. "Kita sebagai ibu mereka?. kita yang akan membimbing mereka. Jangan sampai mereka terpecah belah."


Dalam hati mereka sangat ingin melihat kebahagian anak-anak mereka tanpa adanya pertumpahan darah. Apakah bisa?. Simak dengan baik kisahnya.


...***...


Raden Kanigara Hastungkara dan Raden Kanigara Ganda sedang jalan-jalan memperhatikan bagaimana kehidupan rakyat. Meskipun mereka pada awalnya takut, apalagi sambutan rakyat yang kurang baik pada mereka.


"Apakah karena kami adalah anak dari mendiang Prabu kanigara rajendra?."


"Rasanya sangat sedih diperlakukan seperti itu oleh mereka yang hanya melihat jahatnya ayahanda prabu saja."


"Tenanglah Raden. Hidup ini memang kadang dibawah, dan kadang diatas." Balasnya dengan lembut. "Tapi sebagai manusia biasa, kita harus lah berusaha menjala diri kita agar tetap berada pada garis yang benar. Supaya kelak kita tidak akan menyesal dengan apa yang akan kita lakukan hari ini."


"Ya, paman benar. Kita memang harus memikirkan semua tindakan kita hari ini, supaya kelak kita menjadi orang yang lebih terarah."


"Syukurlah, jika raden mengerti. "


Dharmapati Sardala Saguna memang telah dekat dengan keduanya sedari kecil, sehingga tidak sulit baginya untuk membujuk keduanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


"Kalau begitu mari kita lanjutkan untuk memeriksa daerah lainnya."

__ADS_1


"Baik paman."


Setelah itu keduanya mengikuti Dharmapati Sardala saguna untuk memeriksa keamanan kota Raja.


...***...


Sementara itu di istana.


Saat itu Patih Warsa Jadi dan prabu Maharaja Kanigara Lakeswara sedang bersama. Seperti biasanya mereka masih membahas masalah ekonomi rakyat yang masih belum pulih. Mereka benar-benar tidak menduga akan dihadang dengan masalah yang seperti itu oleh faktu yang membuat hati miris.


"Bagaimana menurut paman ?. Apakah persediaan Istana masih cukup?."


"Untuk saat ini kita benar-benar harus berhemat Gusti. Sebab, bulan berikutnya akan datang masa kemarau. Jadi kita harus melakukan persiapan yang sangat banyak, supaya kita tidak kelaparan nantinya." Ya, itulah. yang mereka takut kan saat itu.


"Lalu bagaimana solusi terbaik dari masalah ini paman?."


"Kita harus memberikan pemasukan kepada daerah-daerah yang memiliki perairan yang banyak. Agar tetap waspada, supaya mereka tidak menutup perairan itu, dan terus mengalirkan aliran itu." Jawabnya. "Selain itu, untuk sementara waktu, kita bersihkan sungai-sungai ketika musim kering, supaya ketika musim hujan nanti, sungai itu dapat menampung semua air bah yang mengalir nantinya."


"Baiklah. Jika memang seperti itu akan kita kerjakan dengan baik paman."


Tentu saja mereka harus bisa bekerja sama untuk menyelesaikan masalah itu dengan baik. Karena masalah pemulihan sangat rentan, banyak masalah yang harus mereka perhatikan di dalam kehidupan rakyat. Entah itu dari segi ekonomi, keamanan, serta mereka mulai mengajarkan kepada anak-anak muda tentang proses pembelajaran menjadi pemimpin yang baik. Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara dan Patih Warsa Jadi benar-benar memikirkan bagaimana kehidupan kerajaan Telaga Dewa ke arah yang lebih baik dari yang sebelumnya.


...***...


Sementara itu tempat yang akan dituju Arya Susena dan kawan-kawan? Di dalam ruangan yang sangat mewah?. Saat itu ada beberapa orang yang sedang berdiskusi mengenai banyak hal.


"Sebelum Prabu Maharaja kanigara rajendra dikalahkan, kita memang sangat takut dengan kerajaan telaga dewa. Tapi untuk saat ini kita tidak perlu takut lagi." Ucapnya dengan sangat semangat. "Aku telah mendapatkan informasi bahwa raja kejam itu telah mati dibunuh oleh pendekar kegelapan yang bernama arya susena!."


Seketika suasana sedikit menjadi ribut, karena mereka sama sekali tidak menduga itu. Bagaimana mungkin Raja hebat bisa dikalahkan oleh kelompok pendekar kegelapan yang berasal dari orang-orang kecil?.


"Bukankah arya susena adalah pendekar yang membela hak rakyat?."


"Ya, kabar itu memang sangat benar."


"Tapi bukankah pihak Istana telah menyebar luas tentang sayembara untuk menangkap mereka?."


"Pendekar arya susena terkenal kejam dan sangat sadis kepada orang yang sangat ia benci. Baginya ancaman seperti itu tidak akan membuatnya berhenti begitu saja."


"Ya. Buktinya dia malah berhasil membunuh Prabu Maharaja kanigara rajendra seorang diri."


Mereka semua sepertinya mengetahui siapa Arya Susena yang memiliki kemampuan ilmu kanuragan yang sangat mempuni.


"Tujuan kita adalah untuk merebut kekuasaan kerajaan telaga dewa. Kita harus merebutnya dengan berbagai macam cara, walaupun pendekar kegelapan yang akan menjadi batu sandungan kita. Tapi bukan berarti kalah sebelum perang!."


Terdengar suaranya yang menggelegar untuk membangkitkan semangat juang mereka yang masih terlelap jauh di dalam lubuk hati mereka yg paling dalam. Apakah mereka akan melakukan pemberontakan?. Simak terus ceritanya.


...***...


Arya Susena saat itu sedang bermain-main dengan pendekar berbadan gempal itu. Walaupun suasana hatinya memanas karena ucapan mereka?. Entah kenapa ia malah mempermainkan mereka dengan beberapa jurus yang terbilang sangat kocak. Sehingga kedua orang itu pusing dengan tingkah Arya Susena.


Sementara itu Nismra, Bajra, Darsana dan Patari malah kebingungan melihat itu. Apa yang sedang dilakukan Arya Susena dengan bersikap seperti itu?. Mereka terlihat melongo dengan pertarungan yang ditampilkan Arya Susena kala itu. Mungkin, bagi mereka itu Arya Susena atau bukan?. Sebab Arya Susena yang mereka kenal tidak kenal ampun pada musuhnya.


"Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?." Dalam hati Nismara bingung. "Apakah kau tidak bisa mengubah kebiasaan buruk mu itu dalam mempertahankan orang lain?. Bagaimana kalau kau yang dipermainkan oleh orang lain suatu hari nanti?." Dalam hatinya sangat bingung dengan Arya Susena yang sangat suka menjahili orang lain.


"Bukannya tadi dia malah-marah?. Dasar arya susena kau. Tidak bisakah kau bertindak sesuai dengan ucapan yang telah kau lontarkan dari mulut buruk mu itu." Dalam hati Bajra dapat melihat apa yang telah dilakukan oleh Arya Susena, hampir saja ia tertawa mengingat apa yang telah dikatakan pendekar gempal itu tadi.


"Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran arya susena seperti apa?. Tapi apa yang dia lakukan cukup menghibur. Setidaknya perjalanan kali ini tidak akan membosankan." Dalam hati Darsana sangat ingin tertawa terpingkal-pingkal. Matanya menangkap adegan kocak yang di suguhkan kepada mereka.


"Pertarungan jenis apa ini? Kenapa malah mengundang tawa?. Arya Susena, apakah kau sedang ingin mengusir rasa bosan yang ada di dalam hatimu?." Dalam hati Patari sangat heran. "Tapi tidak dengan cara mempermainkan mereka seperti itu. Kau ini ada-ada saja." Dalam hati Patari baru melihat sikap lain dari Arya susena yang selama ini terlihat sangat kaku, wajah datar, dan kadang sukanya marah-marah.


Bahkan mereka semua dikerjai Arya susena yang menyamar jadi salah satu dari mereka. Arya Susena yang biasanya akan sangat serius menghadapi musuh? Tapi kenapa hari itu malah memukuli kedua orang itu?. Seperti seorang ibu-ibu yang sedang marah besar karena anaknya bermain sampai lupa waktu. Tidak, tidak seperti itu yang terlihat karena saat itu mata Arya Susena sedang menangkap ada beberapa orang asing yang memperhatikan dirinya.


"Eagkh!." Kedua orang itu sesekali merintih sakit atas apa yang telah dilakukan Arya Susena. Mereka tidak menduga akan mendapatkan musuh yang sangat tangguh dari apa yang mereka duga.


"Arya susena kurang ajar!. Ternyata dia lebih kuat dari apa yang aku duga." Dalam hati keduanya sangat menyesal karena telah berurusan dengan Arya Susena yang ternyata tidak bisa mereka anggap remeh begitu saja.


"Sejak kapan mereka berada di sana?. Kenapa mereka melihat ke arahku?." Arya Susena mencoba mengamati mereka melalui celah matanya agar ia tidak terlihat mencurigakan.


"Jika aku lihat dari aura, mereka bukanlah pendekar Sembarangan. Aku harus berhati-hati lagi." Dalam hatinya Sangat waspada akan gerakan mencurigakan dari mereka yang telah mengintip dirinya dari jarak yang aman untuk dijangkau mata manusia biasa. "Apakah aku harus memancing mereka untuk keluar dari persembunyian?." Dalam hatinya sedang memikirkan cara yang tepat untuk menghadapi mereka yang seakan-akan hendak menantang dirinya.


Apakah yang akan dilakukan Arya Susena kepada mereka semua?. Simak dengan baik bagaimana kisah itu terjadi nantinya.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2