
...***...
Berbeda lagi dengan Nismara yang sedang memikirkan keberadaan Arya Susena yang belum juga kembali.
"Sebenarnya dia sedang menyelidiki apa?. Biasanya dia akan segera kembali dengan cepat, apapun kondisinya." Dalam hatinya malah gelisah dengan kondisi Arya Susena. "Apakah kau sedang menangani masalah yang sangat serius?. Sehingga kau sama sekali belum kembali?." Entah kenapa ia merasakan kegelisahan yang tidak biasa. "Aku harap kau baik-baik saja." Dalam hatinya hanya berharap seperti itu. "Tidak!. Apa yang sedang aku pikirkan?." Dalam hatinya mencoba menepiskan apa yang sedang ia pikirkan. "Kenapa aku malah memikirkan kucing liar itu?. Bisa saja dia malah percaya dengan mitos yang sedang beredar di desa ini, bahwa tidak boleh keluar sebelum senja menyapa?. Ya, bisa saja seperti itu." Nismara malah kesal dengan apa yang ia pikirkan.
Arya Susena sendiri sedang mengamati bulan yang indah, saat itu ia kembali ke wujud aslinya. Ia duduk di atas atap bangunan kaputren?. Arya Susena mengeluarkan salah satu gagak hitam yang telah menyatu dengan kekuatan tenaga dalamnya. "Malam ini kau harus ke istana. Sampaikan pada Gusti Prabu, paman warsa jadi, atas apa yang aku lihat saat ini."
Gagak Hitam itu langsung terbang menuruti apa yang telah dikatakan Arya Susena padanya. "Aku tidak menduga akan menjadi lawan yang patut dipertimbangkan oleh pendekar?. Bahkan pihak kerajaan?. Sangat luar biasa sekali. Rasanya aku ingin menyundul langit saking bangganya." Ia malah tertawa penuh kegirangan dengan apa yang ia rasakan. "Ups. Tapi aku harus segera kembali dalam wujud kucing hitam, supaya aku tidak terlalu mencurigakan." Setelah itu ia kembali dalam wujud kucing hitam. "Tapi kalau aku kembali ke bilik tuan putri, apakah tidak apa-apa melihat tuan putri tidur, dan bahkan tidur bersamanya?." Tiba-tiba saja ia malah berpikiran seperti itu. "Dalam wujud kucing mungkin tidak masalah, namun yang jadi masalah jika aku dalam wujud arya susena. Mungkin aku telah menyatakan perang sebelum waktunya." Ia kembali terkekeh?. "Tapi aku rasa itu bukanlah ide yang buruk, menikahi seorang putri raja dari pihak musuh. Bisa ada bencana besar jika aku duduk bersama mertua yang ternyata mengincar nyawa menantunya?. Ahahaha!. Kau ini jangan berpikiran yang tidak-tidak arya susena!." Entah itu untuk menghibur dirinya atau apa?. Namun rasanya sangat lucu sekali ia membayangkan jika ada emban yang melihat ia sedang tertidur dengan putri raja?. Seketika istana Tuah Mustika menjadi gempar, dan mereka semua sangat shock?. Setelah mengetahui jika anak mereka tidur dengan Arya Susena yang merupakan musuh utama?. "Aku yakin rajanya akan kejang-kejang setelah mengetahui itu." Ia malah menyeringai lebar, apalagi matanya menangkap tuan putri Nimas Asih Purnama sedang tertidur pulas di tempat tidurnya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Keesokan harinya, mereka semua telah berkumpul d ruangan utama stone. Mereka semua ingin mendengarkan apa yang telah terjadi sebenarnya?. Kecuali Ratu Aristawati Estiana dan Ratu Arundaya Dewani yang tidak hadir, karena mereka tidak ingin membuat hati kedua wanita agung itu merasa sedih dengan apa yang telah terjadi pada Raden Kanigara Hastungkara?. Ya, anggap saja seperti itu.
"Tampa banyak basa bast lagi, mari kita mulai saja." Patih Warsa Jadi yang memimpin sidang itu, apa lagi saat itu Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara memberikan kode padanya untuk memulai. "Raden Kanigara hastungkara. Apakah Raden kenal dengan nimas ini?."
Raden Kanigara Hastungkara melihat ke arah Wanita muda yang sedang hamil?. "Maaf paman Patih, saya sama sekali tidak ingat dengan gadis ini."
"Tega sekali kau Raden!. Kau yang telah menodai aku!."
"Raden!. Kau jangan coba-coba untuk bersandiwara seakan-akan kau tidak kenal dengan anakku!."
"Tunggu!."
"Tunggu dulu kisanak. Janganlah terbawa amarah. Ceritakan terlebih dahulu duduk perkaranya apa?. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan untuk menyalahkan orang lain." Dharmapati Sardala Saguna sangat tidak suka dengan tindakan Darman Sombali.
"Tapi tindakannya sangat pengecut tuan. Dia telah menghamili anak saya ketika berada di desa rambat sirih. Dia yang telah menanamkan benih pada anak saya, tapi dia tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan."
"Tunggu!." Raden Kanigara Ganda ingat dengan sesuatu.
"Ada apa raka ganda?."
"Maaf paman Patih, rayi Prabu. Sepertinya ada kekeliruan di sini."
__ADS_1
"Kekeliruan?." Mereka semua sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan Raden Kanigara Ganda.
"Kekeliruan apa yang Raden maksud, kan?."
"Katakan dengan jelas, apa yang keliru itu Raden. Supaya kita bisa mendengarkan dengan baik duduk perkaranya."
"Benar itu raka, jangan sampai raka salah dalam mengucapkan penyampaian masalah kekeliruan itu."
"Kami semua akan mendengarkan dengan baik Raden."
Raden Kanigara Ganda sedikit gugup, karena Dharmapati Sardala Saguna, Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara, dan Patih Warsa Jadi begitu menaruh harapan dan kepercayaan yang sangat besar atas apa yang akan ia sampaikan kepada mereka.
"Apakah kau ingat rayi hastungkara?." Ia melihat ke arah adiknya. "Ketika kita sedang berada desa rambat sirih?. Saat itu ada seorang pemuda yang menggunakan jurus malih rupa." Dengan pelan-pelan ia mencoba mengingatkan adiknya dengan kejadian hari itu.
"Aku mulai ingat raka."
"Pemuda itu menggunakan wajah rayi kanigara hastungkara untuk memikat banyak gadis desa itu." Lanjutnya. "Saya rasa dia adalah orang yang membuat kekacauan itu rayi Prabu."
Mereka semua tampak berpikir dengan apa yang telah dikatakan Raden Kanigara Ganda. Menimang dengan baik ucapan itu, ucapan yang menjadi saksi atas apa yang telah terjadi saat itu.
"Mohon ampun nanda Prabu. Saat itu paman sedang ada tugas penting, jadi paman tidak bersama mereka."
"Bagaimana dengan raka kanigara hastungkara sendiri?."
"Itu sangat benar." Ia memberi hormat pada Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara. "Rayi prabu, saat kami berada di desa rambat sirih, kami saat itu bertarung dengan pemuda yang sangat mirip sekali dengan saya-."
"Raden!. Jadi Raden ingin mengatakan pada hamba?. Bahwa orang itu yang telah menodai anak hamba?."
"Maaf saja paman. Saya tidak pernah bertemu dengan anak paman selama di desa." Raden Kanigara Hastungkara sangat tidak terima dengan itu. "Jadi tidak mungkin saya yang telah menodai anak paman." Bantahnya. "Jika saya bertemu dengan wanita selama di desa?. Saya hanya bertemu dengan nimas lara suara."
"Lara suara?!."
"Ya Dia adalah Senopati bagasara adipa!. Jika paman tidak percaya dengan ucapan saya?. Paman bisa bertanya pada mereka!." Amarahnya memuncak begitu saja.
"Tenanglah raka!."
__ADS_1
"Tenanglah raden!."
Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara, Patih Warsa Jadi, dan Dharmapati Sardala Saguna mencoba untuk menenangkan Raden Kanigara Hastungkara yang sedang terbawa amarah.
"Bahkan itupun kami diawasi oleh paman Senopati bagasara adipa, karena beliau sangat takut dengan berita yang beredar mengenai saya."
"Ya, itu sangat benar rayi Prabu, paman Patih, paman sardala saguna. Saya yang menjadi saksi ketika itu."
"Itu tidak mungkin!." Bantah Darman Sombali. "Raden jangan coba-coba untuk menjadi saksi palsu." Hatinya sangat panas saat itu. "Raden, bisa saja menyewa orang lain untuk berpura-pura menjadi orang lain, demi menjaga nama baiknya."
"Paman!."
"Jaga ucapan paman!.
"Oh! Ayah cukup!."
Seketika suasana menjadi panas, mereka sama-sama mempertahankan apa yang mereka anggap itu adalah kebenaran. Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara, Patih Warsa Jadi dan Dharmapati Sardala Saguna mencoba untuk menjadi pihak yang tidak akan membela siapapun, walaupun mereka hampir saja terbawa emosi.
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba sangat yakin, jika Raden kanigara hastungkara yang telah melakukan itu." Darman Sombali masih bersikeras mengatakan itu. "Hamba yakin, saat ini dia sedang berusaha melarikan diri dari tanggung jawabnya."
"Paman jangan berkata dusta. Apakah paman ingin bukti?. Jika adik saya bukanlah orang yang telah menodai anak paman?." Raden Kanigara Ganda lah yang emosi saat itu.
"Raden tidak perlu membela adik raden yang jelas-jelas telah melakukan kesalahan."
"Paman!. Jangan uji kesabaran saya!."
"Raka!." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara terlihat tersenyum menyeramkan.
"Gusti Prabu." Path Warsa Jadi dan Dharmapati Sardala Saguna sedikit terkejut melihat senyuman mengerikan itu. "Paman Sardala saguna?. Tolong jemput Senopati bagasara adipa dan putrinya. Supaya mereka jadi saksi atas apa yang telah terjadi."
"Baik nanda Prabu." Ia memberi hormat. Setelah itu ia segera pergi dari sana.
"Kalian semua istirahat saja. Jangan sampai menimbulkan masalah." Sang Prabu masih tersenyum. "Jika kalian melakukan itu?. Aku yang akan membunuh kalian."
Next.
__ADS_1
...***...