
...***...
Di Istana.
Perasaan suasana hati Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sedang gelisah, karena ia tidak bisa lepas dari bayangan almarhum kakaknya Kanigara Maheswara yang telah lama meninggal.
"Lima belas thun yang lalu bukanlah waktu yang singkat. Kenapa tiba-tiba saja aku teringat dengan maheswara?." Dalam hatinya saat itu mengingat bagaimana kakaknya itu bertanya dengan sangat santainya. "Pertanyaan itu, apakah aku saja?. Atau dinda arundaya diam-diam mempelajari jurus yang sangat aneh?. Dia berencana balas dendam padaku?." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra malah berpikiran ke arah sana. "Tapi tidak mungkin dinda arundaya dewani belajar ilmu kanuragan?. Bahkan lima belas tahun ini ia hanya merenungi kematian maheswara saja." Baginya itu alah hal yang mustahil dilakukan oleh Ratu Arundaya Dewani. "Ya, mustahil dia belajar ilmu kanuragan, sebab dia tidak memiliki kekuatan tenaga dalam untuk melatih dirinya." Ia mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak terlalu memikirkan itu semua.
"Apa yang tidak mungkin rayi rajendra?."
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra sangat terkejut ketika ia melihat Prabu Maharaja Kanigara Maheswara yang berdiri dengan sangat santainya di hadapannya saat itu?.
"Kenapa kau terlihat pucat seperti itu rayi?. Apakah kau tidak mengenali aku lagi sebagai rakamu?." Senyuman itu terlihat ramah seperti biasanya. "Apakah karena mahkota yang kau kenakan sekarang?. Kau tidak ingat dengan saudaramu ini?." Kembali ia bertanya.
"Kenapa kau berada di sini?. Bukankah kau sudah lama mati?. Kenapa kau kembali?!." Amarahnya meledak begitu saja.
"Kau tidak usah semarah itu padaku rayi. Aku hidup saat ini karena kau yang terus ingat padaku. Jadi salahkan dirimu sendiri yang tiba-tiba saja ingat dengan rakamu ini." Balasnya dengan sangat santai.
"Bajingan kau maheswara!." Teriaknya dengan suara yang sangat keras. "Akan aku bunuh kau!." Ucapnya sambil mengeluarkan keris yang selalu terselip di pinggangnya.
"Coba saja kalau kau bisa." Prabu Maharaja Kanigara MAheswara malah menantang adiknya untuk melakukan itu.
Dengan setengah berlari, Prabu Maharaja Kanigara Rajendra mendekati kakaknya, dan siapa yang menduga ia menikam kakaknya itu dengan menggunakan keris itu.
Cekh!.
Dengan menggunakan tenaga dalamnya ia menikam perut kakaknya itu, ia lampiaskan semua kemarahan yang ia rasakan di dalam hatinya.
Deg!.
Namun saat itu ia malah terkejut sendiri, karena keris itu malah menancap pada perutnya?. Ia dapat merasakan bagaimana rasanya sakit akibat tusukan kerisnya sendiri?.
"Kau ini menusuk ke arah mana rayi rajendra?. Apakah kau tidak bisa melihat ke arah mana kau akan menikam?." Senyuman itu, adalah senyuman yang sangat merendahkan.
Deg!.
Prabu Maharaja Kanigara Rajendra terbangun dari tidurnya?. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang, karena ia sangat terkejut dengan apa yang ia alami. Keringat telah membasahi tubuhnya, tampaknya sang prabu masih mencerna mimpinya.
...***...
Arya Susena sudah mulai bergerak, tentunya mereka akan melakukan rencana yang telah mereka susun sebelumnya.
"Tapi kenapa kita harus berpencar arya?. Apakah ini tidak apa-apa?."
"Raden tenang saja. Justru kita akan terlihat sangat mencolok jika kita datang bersama-sama."
__ADS_1
"Tapi apakah kau yakin menempatkan para pendekar berada di perkampungan?."
"Perperangan bukan hanya kita saja yang mungkin akan terluka, tapi rakyat." Ia menatap lurus ke depan. "Bukan kah tugas utama kita sebagai kelompok pendekar kegelapan adalah berpihak pada rakyat?. Apa jadinya kita tidak bisa menyelamatkan rakyat, jika mereka ikut menjadi korban dalam perangan ini?."
Mereka semua sangat setuju dengan apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena.
"Ya. Jika rakyat terluka dalam perang ini, rasanya apa yang aku lakukan selama ini akan sia-sia saja."
"Kalau begitu mari kita selesaikan ini semua dengan darah kita."
"Akan aku habisi mereka yang telah membunuh orang tua kita."
"Mari kita tunjukkan pada mereka, arti rasa sakit yang telah mereka tanamkan pada kita sejak kita lahir."
Ada perasaan yang sedang berkobar di dalam hati mereka saat itu. Sementara itu Raden Kanigara Lakeswara hanya mampu menyimak saja apa yang telah mereka katakan.
"Apakah benar apa yang aku lakukan ini?." Dalam hatinya saat ini sangat gelisah dengan apa yang telah ia lakukan selama ini.
"Raden tenang saja. Jika masalah ibunda raden, hamba telah melakukan sesuatu untuk melindungi ibunda raden."
"Terima kasih arya. Kau memang sangat bisa diandalkan."
"Sama-sama raden." Arya Susena hanya tersenyum kecil. "Baiklah. Karena yang lainnya telah bergerak, dan mungkin akan membutuhkan dua atau tiga hari untu berbaur dengan orang-orang kota raja, maka kita tidak boleh gegabah untuk bertindak."
Setelah itu mereka benar-benar mulai bergerak dengan rencana. Apakah yang akan mereka lakukan?. Apakah mereka akan bisa melakukan rencana itu?. Simak dengan baik kisah ini.
Sementara itu Warsa Jadi, Baruh Tandan, Jande Ingaspati, dan Bumi Teladan sedang mengamati tempat yang akan mereka masuki. Jalur aman yang akan membuat mereka masuk dengan aman tanpa ada yang curiga.
"Sungguh sangat luar biasa sekali muridmu itu kakang. Aku bahkan yang sering meronda di dalam kerajaan tidak pernah menemukan jalur yang seperti ini."
"Seharusnya kau tidak memuji aku adi baruh tandan. Arya susena mewarisi siasat perang dari gusti patih arya saka yang sangat luar biasa."
"Ya, benar yang dikatakan oleh kakang warsa jadi. Aku rasa kecerdasan yang dimiliki oleh arya susena itu adalah turunan dari mendiang guti patih arya saka."
"Tapi tetap saja, kakang lah yang membesarkannya, hingga ia tumbuh dengan baik hingga hari ini."
"Sudahlah. Tidak ada gunanya kita berdebat. Lebih baik kita segera bergerak sebelum matahari tenggelam."
"Baiklah kakang."
Setelah itu meninggalkan tempat itu untuk segera masuk ke dalam kota raja. Tentunya untuk berbaur terlebih dahulu dengan rakyat kota raja, sambil memantau apa yang telah terjadi di sana.
Di sisi lain.
Saat itu ada seekor tikus yang masuk ke dalam bilik Triasti, ia sangat terkejut melihat tikus itu. Namun saat itu ia menyadari sesuatu, bahwa tikus itu sedang membawa sesuatu untuknya. Triasti saat itu mengambil gulungan kecil itu?.
"Paman sardala saguna. Saya harap paman telah siap dengan segalanya. Dua atau tiga hari lagi saya akan sampai di istana. Saya tidak akan menunggu terlalu lama, hanya karena menunggu pengangkatan putra mahkota. Tapi raga saya yang satunya lagi bersama gusti ratu, saya hanya ingin menjamin keselamatannya demi raden kanigara lakeswara. Saya harap paman bersiap-siap dengan rencana yang telah kita siapkan selama ini." Itulah isi dari surat itu.
__ADS_1
"Arya susena. Aku akan mendukung semua rencana yang telah kau buat selama ini. Karena itulah selamatkan negeri ini." Itulah harapannya.
...***...
Nismara on.
Namaku Nismara. Aku adalah pendekar wanita cantik yang memiliki banyak kemampuan. Apapun bisa aku lakukan termasuk membunuh musuhku. Akan tetapi ada satu hal yang tidak bisa aku lakukan. Yaitunya mengalahkan Arya Susena, ia memang berbeda dari yang lainnya. Bayangkan saja ketika dia marah?. dia menghasilkan hawa panas yang sangat berbeda, panas yang sangat tidak nyaman untuk kita rasakan. Apakah menurut kalian itu adalah hal yang berlebihan?. Mari simak kilasan berikut.
Di tempat persembunyian pendekar kegelapan.
Mereka telah mendengarkan cerita yang sesungguhnya dari Arya Susena yang ternyata kenal dengan Raden Kanigara Lakeswara?.
"Jadi kau mengetahui sesuatu tentang raden kanigara lakeswara?."
"Apakah gurumu itu tidak berbohong?."
"Aku tidak percaya jika raden kanigara lakeswara bukan anak kandung raja kejam itu. Pantas saja sikapnya berbeda."
"Apakah karena fitnah yang beredar mengenai hubungan raden kanigara lakeswara yang terlibat dengan kawanan perampok itu?. Kau sengaja melakukan ini semua?."
"Kau telah merencanakan ini semua dengan matang, kan?."
Bajra, Patari, Nismara, dan Darsana menghujani Arya Susena dengan ucapan dan pertanyaan mereka. Kembali Arya Susena menghela nafasnya dengan sangat pelan. "Rasanya aku sangat lelah dengan sikap kalian yang seperti ini."
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut, karena suasana tiba-tiba saja panas. Panas itu terasa sangat berbeda dari panas karena cuaca.
"Ah!. Benar juga. Aku mau mencari kayu bakar dulu. Aku tidak mau kelaparan jika persediaan kayu bakat mendadak habis." Darsana langsung keluar. Karena itu adalah tugasnya?.
"Oh?!. Aku baru ingat. Aku ada tugas untuk memeriksa panas masuk ke hutan ini. Akan kau periksa sekarang juga. Bisa jadi ada anak panah yang melesat masuk ke sana." Dengan perasaan yang sangat gugup Bajra ingat dengan tugas utamanya yang mengumpulkan informasi tentang permintaan rakyat yang meminta bantuan pada mereka.
"Aku-aku-, aku mau latihan sebentar." Patari juga langsung melarikan diri.
"Aku mau melihat sekitar. Mungkin ada sesuatu yang bisa aku makan." Nismara juga mengambil langkah seribu.
Mereka tidak akan berani berkata apapun, ataupun melawan Arya Susena jika merasakan hawa yang seperti itu. "Hufh!." Arya Susena menghela nafasnya dengan pelan, ketika ruangan itu telah kosong. "Mereka ini sangat tidak sopan. Mereka yang penasaran?. Kenapa malah melarikan diri?. Benar-benar sangat tidak sopan." Keluh Arya Susena dengan kesalnya. Setelah itu ia juga pergi meninggalkan ruangan itu, karena ada hal penting yang harus ia lakukan.
Sementara itu Darsana yang melarikan diri ke hutan?.
"Anak itu memang sangat mengerikan jika marah. Bukan hanya marah saja, bahkan sekitarnya ikut panas." Darsana saat itu ingat dengan masa lalu. "Rasanya aku tidak ingin mengingatnya. Badanku semakin ketakutan mengingat itu semua." Darsana hampir saja setengah berteriak dengan masa-masa menyakitkan.
Nah?. Itu baru hawa panas yang ia tebarkan. Bayangkan saja bagaimana jika dia bertarung?. Aku sangat yakin musuhnya akan berpikir ulang jika berhadapan dengan orang sinting seperti dia. Aku saja merasakan panas yang dia tebarkan sangat tidak nyaman sama sekali sehingga kami semua memilih kabur dari di sekitar itu. Aku sangat yakin dia adalah pendekar yang sangat sulit untuk ditaklukan oleh siapa saja. Dia memiliki kemampuan yang sangat berbeda dari pendekar yang lainnya. pendekar yang gila.
Nismara off.
...***...
__ADS_1