PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 27


__ADS_3

...***...


Istana kerajaan.


"Ada apa dinda?. Tidak biasanya kau datang menemuiku." Prabu Maharaja kanigara Rajendra menatap aneh pada istrinya. "Apakah ada sesuatu yang sangat penting?. Yang hendak kau sampaikan padaku?. Ada perasaan curiga darinya.


"Apakah dinda tidak boleh menemui kanda?. Apakah di hati kanda hanya ada satu wanita saja yang bernama arundaya dewani?!." Ada kecemburuan yang ia rasakan.


"Apakah kau masih meragukan cinta yang telah aku berikan kepadamu dinda?." Sang prabu terlihat tersenyum. "Hanya ingin memastikannya saja kanda. Karena kanda prabu telah membuat orang yang kanda cintai telah mati rasa." Ucapnya dengan penuh penekan.


"Apa yang kau katakan dinda?. Aku sama sekali tidak mengerti." Prabu Maharaja Kanigara Rajendra mengernyit heran.


"Apakah dinda harus kembali bertanya Pada kanda prabu?. Ratu Aristawati Estiana balik bertanya. "Jika kanda memang mencintai arundaya dewani?. Kenapa kanda malah membuatnya merasakan duka yang sangat dalam?." Sungguh ia tidak mengerti sama sekali dengan pikiran suaminya. "Apakah kanda tidak memiliki perasaan cinta lagi padanya. Sehingga perasaan luka yang kanda berikan padanya." Kembali dan kembali ia bertanya seperti itu.


Prabu Maharaja Kanigara Rajendra tampak berpikir, namun senyumannya Saat itu menatap istrinya dengan tatapan yang sangat nakal. "Karena perasaan cinta itulah yang mendorong kanda untuk membuatnya menderita." Jawabnya tanpa merasa bersalah.


"Hidup dinda masih aman. Apakah kanda prabu tidak mencintai dinda?." Ia mendekati suaminya, ia usap tangannya ke dada Prabu Maharaja kanigara Rajendra dengan pelan. "Sehingga kanda prabu tidak membuat dinda sengsara?." Dengan senyuman lembut ia bertanya seperti itu.


"Dinda adalah wanita yang sangat kanda cintai. Balasnya sambil menggenggam tangan Ratu Aristawati Estiana, ia kecup dengan pelan. "Sedangkan dinda arundaya seperti sebuah keinginan yang sangat. tidak biasa." Itulah yang ia rasakan. "Mungkin karena dia adalah wanita yang sangat dekat dengan maheswara, makanya aku juga. Ingin membuatnya menderita." Lanjutnya sambil menerawang jauh.


"Kanda jangan seperti itu. Kasihan dia. Saat ini dia hanya sebatang kara kanda." Entah kenapa ada perasaan simpati yang la rasakan. "Kanda jangan menyiksanya terlalu dalam." Ia genggam tangan suaminya. Setelah itu ia cium dengan lembut. "Kanda jangan menjadi laki-laki yang jahat pada wanita." Hanya itu saja harapannya.


Namun tidak ada tanggapan dari prabu Maharaja kanigara Rajendra, Karena sebenarnya ia memang melakukan itu semua demi melampraskan rasa sakit, serta dendam yang ia rasakan saat itu.


"Aku hanya melakukan apa yang aku anggap itu adalah sebuah kebenaran yang masuk ke dalam hatiku." Dalam hatinya mengingat bagaimana sikap tidak adil yang ia terima, apakah ia jahat?. "Sebut saja aku jahat jika aku memang dianggap jahat." Dalam hatinya sedang malas berdebat entah dengan dirinya, ataupun orang lain yang menganggap dirinya seperti itu.


...***...


Sementara itu Ratu Arundaya Dewani yang sedang termenung di kamarnya, tatapannya sangat kosong, dan hatinya seperti batu yang tidak lagi memiliki rasa sakit, atau merintih ketika seseorang menyakitinya. Begitu berat cobaan hidup yang aku jalani sekarang. Dalam hatinya mencoba untuk menekan semua amarah yang ia rasakan?.


"Kenapa kalian pergi meninggalkan aku? Apakah aku tidak boleh menyusul kalian?" Dalam tatapannya yang kosong itu, ia mencoba mencari jawaban yang mungkin dapat mengurangi beban yang mendesak dadanya. "Dinda arundaya dewani." Ada suara seseorang yang menyebut namanya.

__ADS_1


Deg!.


Ratu Arundaya Dewani sangat terkejut, karena la mendengarkan suara yang sangat ia rindukan di dalam hidupnya.


"Kanda. Kanda prabu!" Ratu Arandaya Dewani bangkit dari duduknya, ia sangat terkejut luar biasa karena mendengarkan suara itu. Dalam keadaan setengah sadar, Ratu Arundaya Dewani pada saat itu mencoba mencari arah sumber suara?.


"Dinda arundaya dewani." Kembali suara itu memanggil namanya.


"Kanda maheswara?. Kanda prabu kanigara maheswara? Apakah kanda yang memanggil dinda?." Suasana hatinya saat itu benar-benar bercampur aduk. Hatinya yang sedang bergetar karena suara yang memanggilnya adalah mendiang suaminya. "Tidak mungkin kanda prabu hidup lagi." Dalam hatinya mencoba untuk meyakinkan dirinya, walaupun saat itu kakinya telah melangkah menuju sebuah ruangan yang mungkin dulunya adalah ruangan mendiang suaminya selalu berada di sana. "Aku mohon jangan permainkan perasaanku yang sangat merindukan kanda prabu maheswara." Hatinya sangat sakit luar biasa, dadanya sampai terasa sesak menahan semua amarah, kesedihan, rasa sakit hati, dan juga perasaan rindu yang sangat membuncah di dalam dirinya saat itu.


"Dinda arundaya dewani. "Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangannya, memberikan pelukan yang Sangat hangat padanya.


Deg!.


Pada saat itu Ratu Arundaya Dewani benar-benar sangat terkejut dengan pelukan itu. "Dinda arundaya dewani." Bisiknya dengan sangat lembut. Tanpa sadar air matanya saat itu mengalir begitu saja, seakan-akan kata-kata tak mampu lagi untuk Menggambarkan suasana hatinya. "Tenangkan dirimu dinda.' Bisiknya dengan suara yang sangat lembut. "Jangan bersedih. Kanda akan selalu bersamamu. Percayalah pada kanda, bahwa kanda akan selalu bersamamu dinda. "Lanjutnya.


"Kanda prabu." Dalam hatinya merasakan Pelukan hangat itu. "Apakah benar kau adalah kanda prabu maharaja kanigara Maheswara?." Ratu Arundaya Dewani membalas pelukan itu. "Apakah kanda masih hidup?." Pertanyaan itu keluar begitu saja.


"Dinda tidak perlu merasa curiga pada kanda." Balas prabu Maharaja Kanigara Maheswara. Setelah itu tidak ada tanggapan Ratu Arundaya Dewani, karena pada saat itu ia hanya ingin melepaskan rasa rindu yang selama ini ia rasakan selama tujuh belas tahun lamanya.


...***...


Sementara itu, kelompok pendekar kegelapan pada saat itu sedang menuju sebuah tempat yang menurut mereka sangat rawan.


Deg!.


Raden Kanigara Lakeswara sangat tergamang ketika ia melihat Arya Susena. "Kenapa kau melihat aku seperti itu arya susena?." Raden Kanigara Lakeswara menghentikan langkahnya.


"Aku hanya sedang berpikir. Apakah kau akan kuat menghadapi semua ini?. Jika aku lihat dari kemampuan yang kau miliki, kau masih aku ragukan dalam kelompok ini?." Arya Susena terlihat sangat serius.


"Kau ini jangan bertanya yang tidak-tidak pada kala hitam?!." Nismara yang malah terlihat sangat kesat.

__ADS_1


"Aku tahu kau memiliki kemampuan yang sangat tinggi." Raden Kanigara Lakeswara merasakan perasaan yang sangat tidak enak sama sekali. "Jika kau masih ragu dengan apa yang ada pada diriku?. Harusnya kau tidak melakukan ini padaku." Lama-lama ia kesal juga dengan pertanyaan yang muncul begitu saja.


"Kau ini sangat keterlaluan sekali arya." Darsana juga sangat kesal.


"Benar yang dikatakan kala hitam . Jika kau ragu dengan kemampuannya ?. Seharusnya kau tidak usah merencanakan apapun." Patari mengambil ancang-ancang untuk menyerang Arya susena.


"Aku tahu kau sangat kuat arya susena. Tapi kau tidak harus merendahkan orang lain." Darsana juga mengambil ancang-ancang untuk menyerang arya susena.


"Jadi kalian lebih membela dia?." Arya Susena tampak kesal.


Deg!.


Sebenarnya mereka sangat terkejut dengan hawa yang telah ditunjukkan oleh Arya Susena yang tampak sangat menyeramkan.


"Kalau begitu berikan aku perlawanan yang lebih baik. Aku sedang bosan hanya jalan-jalan saja." Arya Susena menantang mereka.


"Kalian ini Kenapa?." Raden Kanigara sangat heran dengan mereka. "Kalian ini sangat aneh sekali." Ia tidak mengerti . "Kenapa mereka sangat mudah sekali terpancing amarah?." Raden Kanigara Lakeswara menatap heran ke arah mereka yang sepertinya hendak berseteru.


"Kala hitam, sebaiknya kau menyingkir saja." Arya Susena menatap Raden Lakeswara dengan sangat tajam. Apa lagi saat itu ia mengeluarkan pedang yang selalu ia simpan di dalam tubuhnya.


"Kau pikir aku takut padamu arya?. Keluarkan semua jurus yang kau miliki. Jika kau masih memiliki nyali, atau tidak lebih baik aku menyerangmu terlebih dahulu." Patari langsung yang akan m langsung menyerang Arya Susena dengan beberapa jurus.


"Aku akan membantumu nini." Begitu juga dengan Darsana yang ikut menyerang Arya susena. Mereka bertiga benar-benar bertarung dengan sangat serius, ketiganya benar-benar mengeluarkan kemam puan yang mereka miliki.


"Nini nismara. Apakah mereka memang seperti itu?. Mereka sedang bertarung, apakah mereka memang seperti itu?." Raden Kanigara Lakeswara tampaknya belum terbiasa dengan sikap mereka yang seperti itu. "Apakah tidak apa-apa jika dibiarkan begitu saja?." Raut wajah itu memang tampak alami mencemaskan keadaan pertarungan itu.


Namun saat itu belum ada tanggapan pendekar wanita itu. Matanya saat itu memperhatikan bagaimana pertarungan ketiga temannya. "Raden tenang saja. Saat ini mereka sedang menguji sesuatu. Sebab ini adalah wilayah kekuasaan raja kejam itu." Nismara memperhatikan dengan seksama bagaimana pertarungan itu.


"Sungguh, aku tidak mengerti sama sekali, apa yang ingin kalian lakukan sebenarnya?." Raden Kanigara Lakeswara akhirnya hanya bisa pasrah saja.


"Raden harus mulai terbiasa dengan situasi seperti ini." Bajra memang memahami apa yang telah dilaku- kan mereka juga sikap Raden Kanigara Lakeswara yang bingung.

__ADS_1


"Terserah kalian saja. Kalian ini kelompok pendekar kegelapan?. Atau kelompok pendekar tukang lawak yang bosan selama perjalanan?. Lalu mencari hiburan dengan pertarungan kecil?." Dalam hati Raden Kanigara Lakeswara. "Tapi tadi arya susena memanggil aku dengan sebutan kala hitam. Nama baru lagi yang ia berikan padaku." Dalam hatinya masih ingat dengan apa yang telah dikatakan Arya Susena tadi. "Tapi aku masih bingung dengan kemampuan yang dimiliki oleh arya susena. Seberapa kuatnya dia?. Sehingga memimpin kelompok ini." Dalam hatinya.


...***...


__ADS_2