PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 47


__ADS_3

Arya Susena sangat terkejut mendapatkan pelukan itu, namun sebisa mungkin ia tidak membuat hati ibundanya itu bersedih. Karena Dewi Astagina menganggap ia sebagai mendiang ayahandanya.


"Syukur lah jika kakang patih masih hidup, saya takut jika terjadi sesuatu pada kakang patih." Ia mengeluarkan semua kesedihan yang ia rasakan saat itu. "Saya sangat merindukan kakang patih." Hatinya sangat sakit, karena ia telah sangat lama berpisah dari suaminya.


"Oh. Dewata yang agung, apa yang aku katakan pada ibunda?." Dalam hati Arya Susena sangat sakit. Tanpa sadar ia menangis, meneteskan air mata. "Ibunda." Ia peluk ibundanya dengan sangat erat wanita yang telah melahirkannya dengan perasan yang sangat bercampur aduk. "Ibunda." Kali ini isak tangisnya terdengar sangat jelas, hingga membuat mereka yang berada di sana terkejut.


Deg!.


Dewi Astagina sangat terkejut ketika orang yang ia peluk itu menyebutnya dengan nama ibunda, dan saat itu ia melepaskan pelukannya, dan ia pastikan siapa yang telah ia peluk itu?.


"Kanda patih terlihat sangat muda." Hatinya bergetar sangat sakit ketika ia melihat wajah pemuda yang sedang menangis itu. "Bagaimana mungkin kakang patih terlihat sangat muda seperti ini." Ia sentuh pipi Arya Susena dengan perasaan yang sangat bercampur aduk. "Katakan padaku jika kau adalah kakang patih yang sangat saya cintai." Suaranya bergetar sakit.


Brukh!.


Arya Susena menjatuhkan tubuhnya ke tanah, sambil berismpuh ia peluk dengan sangat erat kaki Dewi Astagina sambil menangis kuat.


"Ini saya, arya susena. Putra yang telah ibunda lahir kan di penjara. Anak yang telah berhasil diselamatkan oleh paman Senopati warsa jadi. Saya adalah putra dari gusti patih arya saka, yang dilahirkan dari rahim wanita yang bernama dewi astagina. Saya adalah putra ibunda yang sangat ingin bertemu dengan ibunda." Arya Susena telah mengeluarkan semua kesedihan yang ia rasakan saat itu, hatinya sangat sakit berkata seperti itu. Hatinya sesak, sakit, perih, dan pedih saat mengatakan kalimat itu. Bahkan tangisnya pecah ketika ia berkata seperti itu. "Ibunda!. Saya adalah putra ibunda!." Perasaan yang sangat sesak membuat ia terlihat sangat lemah saat itu. "Ayahanda patih, saya bahkan tidak sempat melihat ayahanda patih yang katanya memiliki wajah yang sama persis dengan saya. Hati saya sangat sakit ketika mereka mengatakan jika wajah saya sangat mirip dengan mendiang ayahanda patih, sedangkan saya sama sekali tidak melihat wajahnya." Arya Susena menangis dengan sejadi-jadinya. Ia lampiaskan semua perasaan yang sesak menghimpit dadanya saat itu.


"Arya susena."


Dalam hati mereka merasa sangat bersimpati dengan apa yang telah dikatakan Arya Susena. Meskipun Arya Susena adalah pendekar berhati buas?. Tidka pernah mengampuni siapa saja yang membuat ia marah?. Tapi mereka yang mendengarkan dan melihat secara langsung bagaimana terlukanya hatinya saat itu?. Apakah mereka tersentuh?. Tentu saja merak sangat tersentuh dengan situasi saat itu, dan bahkan mereka sampai meneteskan air mata saking tersentuhnya.

__ADS_1


"Ibunda?. Putra dari patih arya saka?." Dewi Astagina sangat terkejut dengan apa yang ia dengar. "Benarkah kau adalah putraku?." Saat itu ingatannya kembali ke masa lalu. Memang saat itu ia mengandung di dalam penjara bawah tanah sebelum di pindahkan ke ruangan yang sangat aneh itu.


"Yunda. Kakang patih telah lama meninggal. kakang patih telah-." Sardala Saguna mencoba untuk mengatakannya. "Pada hari pemberontakan itu, kakang patih telah tewas dibunuh oleh kanigara rajendra. Dan yang bersama dengan yunda, pemuda yang sangat mirip dengan kakang patih ini adalah putra yunda." Hatinya juga merasakan sakit yang sangat tidak biasa saat itu.


Deg!.


Saat itu jantungnya terasa ditusuk oleh benda yang sangat tajam sehingga ia merasakan sakit yang sangat luar biasa. Ia tetep anak muda yang sedang mendekap kakinya itu.


"Itu sangat benar sekali yunda dewi. Pada saat itu saya menyaksikannya sendiri, jika patih arya saka saat itu dibunuh oleh kanda kanigara rajendra." Ratu Arundaya Dewani membantu mereka menjelaskan apa yang telah terjadi di masa lalu.


"Bukan kah gusti adalah ratu arundaya dewani?. Apakah benar itu yang terjadi?." Dari raut wajahnya ia mencoba untuk menerima kenyataan itu dengan perasaan yang sangat hancur.


Mereka semua terdiam, mereka semua tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Suasana yang mereka rasakan saat itu sangat tidak enak untuk dirasakan. Hanya ada rasa luka yang sangat pedih, perih, sesak, dan air mata yang telah mewakili hati mereka yang telah hancur berkeping-keping tanpa sisa.


...***...


Sementara itu di ruang pengobatan.


Ratu Aristawati Estiana saat itu sedang menjaga kedua anaknya yang baru saja diobati. Mereka sangat tidak menduga sama sekali jika Raden Kanigara Lakeswara ternyata masih hidup?. Dan sampai saat ini mereka juga hidup karena jaminan dari Raden Kanigara Lakeswara.


"Bagaimana keadaan kalian anakku?. Apakah masih sakit?."

__ADS_1


"Ibunda tenang saja. Aku baik-baik saja ibunda. Tubuhku sudah agak baikan."


"Ananda baik-baik saja ibunda."


"Syukurlah jika memnag seperti itu." Ia peluk kedua anaknya dengan perasaan yang sangat sayang. "Ibunda tidak sanggup jika harus berpisah dengan kalian nak." Dalam hatinya merasakan sakit ketika membayangkan ancaman seperti itu.


"Ibunda tenang saja. Kami tidak akan pergi dari ibunda, kami akan selalu melindungi ibunda apapun yang akan mereka lakukan pada ibunda nantinya." Hati Raden Kanigara Ganda sangat sedih membayangkan hal yang buruk yang akan mereka terima nantinya.


"Ananda janji akan saya lindungi dengan segenap jiwa saya. Tidak akan saya biarkan mereka untuk menyentuh ibunda." Begitu juga dengan Raden Kanigara Hastungkara yang sangat tidak terima dengan apa yang telah dikatakan mereka padanya


"Hanya kalian yang ibunda miliki. Ibunda tidak mau kehilangan kalian nak." Hatinya semakin sakit.


"Tapi lakeswara telah menipu kita selama ini ibunda. Ternyata ia telah merencanakan ini semua untuk membalas perbuatan kita padanya."


"Ya, ternyata dia bekerjasama dengan para pendekar kegelapan untuk menggulingkan tahta pemerintahan ayahanda prabu, dan bahkan mereka telah berhasil membunuh ayahanda prabu."


Tangis keduanya pecah, hati mereka juga sangat terluka setelah apa yang ia lihat saat itu. Namun lebih luka lagi Ratu Aristawati Estiana yang merupakan pembunuh langsung dari Prabu Maharaja Kanigara Rajendra.


Ya, mereka sama-sama terluka, begitu juga dengan orang-orang yang masa lalu yang terluka atas perbuatan dari Prabu Maharaja Kanigara Rajendra. Lalu siapa yang akan disalahkan dalam masalah ini?. Sedangkan mereka saling merasakan terluka akibat keserakahan dan perebutan tahta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2