PENDEKAR KEGELAPAN

PENDEKAR KEGELAPAN
CHAPTER 65


__ADS_3

...****...


Pada malam itu mereka masih berada di rumah Dewi Astagina. Saat itu mereka merasa iri kepada Arya Susena yang masih memiliki seorang ibu. Seorang ibu yang sangat mencemaskan keadaannya. Arya Susena memiliki tempat kembali yang sangat hangat. Akan tetapi pada saat itu Dewi Astagina sama sekali tidak menduga jika anaknya memiliki banyak teman.


"Kalian teman arya susena?." Dengan senyuman lembut ia bertanya seperti itu.


"Benar bibi. Kami temannya." Bajra yang menjawab. "Walaupun kadang dia seperti terlihat ingin membunuh kami." Dalam hatinya mengingat bagaimana hawa panas yang ditebarkan oleh Arya Susena.


"Teman sih, dia saja yang kadang terlihat ingin membunuh kami." Dalam hati Patari sebenarnya merasa keberatan jika dibilang teman.


"Teman ya?." Dalam hati Darsana merasa miris. "Mungkin kami yang menganggap dia adalah teman kami. Jika dia?. Mari kita tanyakan secara langsung nantinya jika memiliki mental yang aman untuk bertanya seperti itu.


"Teman?. Aku ragu jika arya susena menganggap kami sebagai temannya." Dalam hati Nismara merasa miris jika dianggap teman. "Dia saja yang memiliki niat yang tidak baik terhadap kami." Dalam hatinya masih ingat bagaimana perlakuan Arya Susena kepada mereka semua.


Sepertinya mereka memiliki penilaian tersendiri terhadap Arya Susena. Mereka memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai Arya Susena?. Tapi pada intinya mereka bukan ragu pada Arya Susena, hanya saja dengan sikap Arya Susena yang seperti itu membuat mereka memberikan pendapat yang sangat diluar nalar, dan hampir aneh.


"Kenapa kalian melibatkan diri dalam hal yang sangat berbahaya?. Lalu bagaimana dengan orang tua kalian?." Ada perasaan cemas yang ia tunjukkan saat itu.


Darsana, Patari, Bajra, dan Nismara sama-sama menunduk ketika mendengarkan ucapan itu. Entah kenapa tiba-tiba saja hati mereka sangat sedih mendengarkan kata orang tua.


"Maaf ibunda. Mereka semua telah kehilangan orang tua mereka ketika terjadinya pemberontakan yang telah dilakukan kanigara rajendra." Arya Susena tentunya mengetahui bagaimana kondisi teman-temannya itu.


"Oh, maafkan aku. Aku sungguh tidak mengetahuinya sama sekali." Perasaan bersalah itu terselip di hatinya begitu saja ketika ia mendengarkan ucapan anaknya.


"Tidak apa-apa bibi. Kita semua mengalami nasib yang buruk. Tapi setidaknya arya susena masih beruntung memiliki bibi." Darsana dapat merasakan perasaan iri yang sangat luar biasa ketika itu.


"Kalian boleh menganggap aku sebagai ibunda kalian. Aku juga menginginkan anak yang banyak." Ia mencoba memperbaiki suasana hati mereka.


"Benarkah itu bibi?." Patari terlihat seperti memiliki harapan untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu.


"Kalau begitu panggil aku dengan sebutan ibunda." Balasnya.


"Ibunda." Patari menyebut itu dengan hati yang sangat berat.


"Ya. Itu terdengar lebih baik." Dewi Astagina kembali tersenyum.


"Oh. Ibunda." Patari seperti ingin menangis karena ia selama ini menginginkan kasih sayang seorang ibu.


"Putriku." Dewi Astagina memeluk Patari yang telah menangis di pelukannya.


Tak jauh dari sana, Dharmapati Sardala Saguna dan Asri Kasih sedang memperhatikan mereka dengan perasaan yang sangat haru.


"Mereka semua sangat sedih, karena kehilangan orang-orang yang mereka cintai."


"Ya. Kita juga merasakannya kanda." Tentunya ia juga merasakan bagaimana kehilangan sosok seorang ibu yang sangat ia cintai. Tapi setidaknya ia sangat beruntung karena memiliki seorang kakak yang sangat perhatian kepadanya.


"Mereka telah banyak kehilangan orang-orang yang mereka cintai sedari dulu." Dalam hati Arya Susena merasa simpati terhadap teman-temannya yang telah kehilangan orang tua mereka.


Mereka semua dapat merasakan bagaimana rasa jika kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Karena itulah mereka tidak akan membiarkan itu terjadi kepada orang lain. Tujuan mereka menjadi pendekar kegelapan adalah untuk melindungi orang-orang baik dari sifat dengki yang dimiliki oleh pemimpin mereka.


...***...


Keesokan harinya di Istana.


Saat itu Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara dan Patih Warsa Jadi sedang berdiskusi mengenai keamanan desa dan apa saja yang telah mereka lakukan untuk membenahi beberapa tempat yang ada di kerajaan Telaga Dewa.

__ADS_1


"Untuk saat ini kondisi beberapa desa telah aman. Kita telah berhasil memulihkan keadaan mereka." Dengan teliti ia melihat data yang masuk.


"Syukurlah jika memang seperti itu paman. Kita harus segera bergerak supaya tidak ada lagi ketimpangan di kerajaan ini." Perasaan lega menyelimuti hatinya.


Akan tetapi pada saat itu ada seorang prajurit yang baru saja masuk. Sepertinya ada kabar yang sangat penting yang hendak ia sampaikan.


"Mohon ampun Gusti Prabu, Gusti Patih." Ia memberi hormat.


"Ada apa prajurit?." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara yang bertanya.


"Ada Gusti arya susena yang hendak menghadap." Jawabnya.


"Persilahkan dia masuk." Balasnya.


"Sandika Gusti Prabu." Setelah memberi hormat ia segera pergi meninggalkan tempat itu untuk memberitahu kepada Arya Susena agar dipersilahkan masuk.


"Tidak biasanya dia datang ke istana ini. Mungkin ada sesuatu yang hendak ia sampaikan paman." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara sedikit merasa heran.


"Kita dengarkan apa yang akan ia sampaikan nanda Prabu." Hanya seperti itu saja jawaban dari Patih Warsa Jadi.


"Paman Patih, Gusti Prabu." Arya Susena memberi hormat.


"Duduklah saudaraku." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara mempersilahkan Arya Susena untuk duduk.


"Terima kasih Gusti Prabu." Balasnya dengan senyuman ramah.


"Sepertinya kau hendak menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Karena tidak biasanya kamu berada di istana ini."


"Dari beberapa laporan kawan hamba, adanya bentuk pemberontakan yang akan dilakukan oleh wilayah kerajaan tuah mustika." Berita penting itulah yang ingin ia sampaikan saat itu. "Bukankah kerajaan itu berada di bawah kepemimpinan istana kerajaan ini?. Tapi sepertinya mereka sedang mempersiapkan perang untuk memberontak."


"Apakah kau yakin dengan itu?. Apakah kau tidak salah dalam mendapatkan informasi itu?."


"Bukankah itu gagak hutan larangan?."


"Ya. Gagak hutan larangan ini terhubung dengan kerajaan tuah mustika. Hamba selalu memerintahkan mereka untuk memeriksa keadaan sekitar Hutan Larangan. Namun pada saat itu mereka melihat ada beberapa orang prajurit yang terus berdatangan ke sana."


"Kalau begitu kita harus memeriksa apa yang terjadi di sana. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya."


"Kalau begitu kami pendekar kegelapan yang akan mengurus mereka."


"Tapi saudaraku."


"Tugas pendekar kegelapan tidak akan berhenti hanya setelah kerajaan ini jatuh kepada pemegang tahta yang sah. Akan tetapi barang siapa yang menyentuh rakyat dengan yang ingin melakukan pemberontakan?. Maka itu adalah tugas kami sebagai pendekar kegelapan yang akan membasmi mereka semua."


Bagi Arya Susena tugas itu sangatlah penting baginya. Karena ia memiliki pemimpin yang sangat baik, makanya ia tidak akan membiarkan Raja baik itu dinodai oleh darah dari orang-orang yang memberontak.


"Baiklah. Jika memang seperti itu yang terjadi. Aku izinkan engkau untuk menyelesaikan masalah itu. Tapi jika terjadi sesuatu kepadamu nantinya?. Kau harus segera melapor kepada kami. Kami juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada kalian yang merupakan tonggak istana ini."


"Sandika Gusti Prabu."


"Berhati-hatilah jika kau berada di luar sana anakku."


"Terima kasih paman Patih. Saya akan mengingat semua nasehat paman Patih." Arya Susena memberi hormat pada kedua pemimpin istana yang sangat ia hormati. "Kalau begitu saya pamit dulu. Sampurasun."


"Rampes."

__ADS_1


Setelah itu Arya Susena pergi meninggalkan tempat itu, dan tak lupa burung gagak yang tadinya bertengkar di pundaknya kini telah memasuki tubuhnya.


"Apakah dia memang selalu bertindak seperti itu paman?." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara sangat penasaran bagaimana sikap Arya Susena yang sebenarnya. "Selama aku mengerjakan sesuatu bersama arya susena. Saat itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana mereka melakukan pembunuhan dengan kejam terhadap orang-orang yang berniat mencelakai rakyat." Yang tidak akan bisa melupakan begitu saja apa yang telah terjadi di masa itu. "Bahkan terhadap prajurit yang diperintahkan oleh raja?." Ingatan itu terasa sangat kuat ketika ia melihat bagaimana Arya Susena bertindak. "Mereka sama sekali tidak peduli dengan itu. Bahkan ketika aku melihat mereka yang membantai beberapa prajurit yang meminta pajak yang sangat tinggi terhadap rakyat." Prabu Maharaja Kanigara Lakeswara merinding mengingat bagaimana kejadian yang terjadi di depan matanya. "Tanpa perasaan belas kasihan dia membunuh siapa saja yang ia anggap itu adalah orang yang sangat jahat."


"Mereka telah menguatkan hati mereka, bahwa tidak ada bahas kasihan terhadap orang-orang yang bersikap kejam kepada rakyat." Patih Warsa Jadi tentunya mengetahui apa yang telah mereka lakukan selama ini. "Itulah mengapa mereka dijuluki sebagai pendekar kegelapan. Pendekar yang telah gelap hati terhadap orang-orang yang berniat jahat, pendekar yang gelap hati ketika melihat orang-orang yang teraniaya di depan mereka." Ia bahkan menjadi saksi dari apa yang telah mereka lakukan. "Maka mereka tanpa ragu akan membunuh siapa saja yang melakukan kejahatan itu di depan mata mereka." Sesadis itulah mereka.


Kembali ke masa lalu.


Pada pagi itu mereka sedang mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Bagi kelompok pendekar kegelapan mereka harus mengerjakan itu semua dengan lapang dada.


"Setelah kita sarapan pagi. Tentunya kita akan membantu desa empang batu." Bajra, sebagai seseorang yang bertugas mengumpulkan informasi tentunya ia harus mengetahui dan pasti akan terjadi di desa itu.


"Memangnya apa yang terjadi di sana?." Patari sedikit penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Bajra.


"Banyak orang tua yang merintih menangis ketika anak mereka dibawa paksa oleh para prajurit untuk dijadikan tumbal." Bajra menyampaikan informasi yang ia dapatkan.


"Tumbal apa?." Arya Susena kali ini yang bertanya.


"Katanya tumbal kekayaan." Bajra hanya menjawab seperti itu saja.


"Jadi kali ini kau mendapatkan informasi yang seperti itu bajra?." Arya Susena terlihat sangat geram dengan apa yang telah disampaikan oleh Bajra.


"Ya, memang seperti itulah informasi yang aku dapatkan." Balasnya.


"Tapi apakah yang akan kalian lakukan?. Bukankah kalian sekarang menjadi buronan yang paling ditakuti?. Jika pihak istana mengetahui kalian masih membantu rakyat. Aku yakin mereka akan semakin menderita." Raden Kanigara Lakeswara malah terlihat takut dengan apa yang akan mereka lakukan.


"Kami pendekar hitam, pendekar kegelapan tidak akan takut hanya karena ancaman seperti itu." Jawab Darsana dengan perasaan yang berapi-api.


"Jika kami mau melakukan pembantaian habis-habisan pada pihak istana?. Itu sangat mudah kami lakukan. Namun pembantu rakyat untuk saat ini adalah prioritas utama yang harus kami selesaikan. Setelah itu baru kami melakukan perencanaan sesuai dengan keinginan semua rakyat." Arya Susena kali ini yang berbicara.


"Tapi kenapa kalian menginginkan aku menjadi raja?. Bukankah siapa saja bisa menjadi raja?." Raden Kanigara Lakeswara semakin tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan.


"Jika Raden ingin mati sekarang, maka dengan senang hati akan aku turuti."


"Semua orang bisa menjadi raja. Tapi Raja bukanlah sembarangan orang yang dipilih, jika tidak berasal dari keturunan yang sah. Maka saat itu kutukanlah yang akan didapatkan oleh suatu negeri. Termasuk tahta yang didapatkan oleh rajendra saat ini." Arya Susena menjelaskan pada Raden Kanigara Lakeswara. "Saat ini negeri ini sedang dikutuk karena memiliki penguasa yang sangat kejam. Akan tetapi jika negeri ini dipimpin oleh keturunan yang sah?. Maka akan beda lagi ceritanya."


"Jika Raden ingin melihat kenyataan itu. Dalam satu purnama ini kami akan menunjukkan kepada Raden bagaimana derita yang dialami oleh rakyat, jika kerajaan ini dipimpin oleh orang yang berambisi jahat." Nismara juga ikutan bersuara untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya saat itu. "Juga orang-orang yang memiliki hati batu, karena mereka sama sekali bukanlah pemimpin yang sah sehingga mereka menganggap kerajaan ini hanyalah mainan untuk mereka."


"Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang akan mereka lakukan. Pendekar kegelapan?. Untuk apa mereka melakukan ini semua?. Apakah mereka melakukan ini hanya untuk cari nama saja?."


"Raden dapat melihat dengan mata kepala Raden sendiri. Lihatlah dengan baik-baik bagaimana penderitaan rakyat yang selama ini menginginkan kedamaian. Akan tetapi pada kenyataannya itu sama sekali tidak mereka dapatkan."


"Raden mungkin selama ini hanya berada di istana. Merasakan bagaimana diperlakukan secara beda bukan?."


Deg!.


"Bagaimana mungkin kamu mengetahui itu arya susena?." Raden Kanigara Lakeswara sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Arya Susena.


"Kami telah mengatakan kepada Raden, jika membunuh pihak istana itu sangatlah mudah. Akan tetapi yang sangat sulit itu adalah melindungi semua rakyat dari tangan kejam seorang raja yang kini sedang berkuasa di negeri ini." Arya Susena terlihat tersenyum kecil, nama suasana hatinya pada saat itu sedang bergemuruh. "Kami pendekar kegelapan tidak akan membiarkan itu terjadi sampai berlarut-larut. Akan kami bunuh mereka dengan tangan kami jika mereka berani menyentuh rakyat dengan tangan mereka yang sangat kejam."


"Ya. Apapun resiko yang akan kami tanggung nantinya. Kami tidak akan pernah membiarkan siapapun juga untuk melakukan hal yang tidak manusiawi."


"Kami akan membunuh siapa saja, jika mereka berani melakukan tindakan hal-hal yang dapat merugikan rakyat."


"Kami semua bertindak bukan hanya demi melindungi rakyat. Akan tetapi kami juga melindungi hak kami supaya tidak direnggut begitu saja oleh orang-orang yang bersikap tamak terhadap kami."

__ADS_1


Pada saat itu mereka sama sekali tidak memikirkan apapun selain demi keselamatan rakyat. Mereka memang terkenal sebagai pendekar kegelapan bagi orang-orang yang menganggap mereka adalah pemberontakan. Namun bagi rakyat dan mereka adalah pendekar kegelapan yang memiliki hati nurani daripada pemimpin yang kejam. Bagi mereka pendekar kegelapan adalah senjata pembunuh yang sangat mematikan. Bagi mereka pendekar kegelapan adalah orang-orang yang sadis tidak memiliki perasaan membunuh orang-orang yang bersikap kejam kepada rakyat. Darah mereka telah tumpah oleh prajurit-prajurit dan para bangsawan yang tidak memiliki belas kasihan terhadap rakyat. lalu bagaimana pendapatmu tentang pendekar kegelapan yang sebenarnya?. Apakah baik?. Jahat?. Berikan nilaimu.


...***...


__ADS_2