
Rombongan sekte Beng San Pai sama sekali tidak menyadari ada dua orang pemuda yang ikut serta bersama mereka karena sekte mereka memakai topeng dan baju sekte Beng San Pai. Maka He Shu Huan dan Yu Man Ji mencuri dan memakai topeng serta seragam mereka secara diam-diam.
" Kakak seperguruan Sun, apakah mereka juga akan hadir di acara ulang tahun Pendekar Naga Es Luo Bu sesuai dengan harapan kita? " Tanya pria muda dari sekte Beng San Pai.
" Iya, mereka tidak akan pernah menyia - yiakan satu kesempatan emas untuk menunjukkan kebesaran mereka sebagai penguasa negeri ini. " Jawab pria tua yang di panggil Kakak Seperguruan Sun.
" Siapakah mereka yang kalian bicarakan? " Tanya salah satu dari anggota sekte Khong Tong Pai di dekat mereka.
" Wakil Kaisar Ming Luo yang bernama Perdana Menteri Wen dari Ibukota Kekaisaran Ming. " Jawab pria tua marga Sun dari Sekte Beng San Pai.
" Sekte angsa emas juga datang bersama putri dari Bangsawan Fu sebagai wakil istana untuk lihat dan memantau kita semua sesuai dengan perintah dari Kaisar Lalim itu. " Kata salah seorang dari anggota sekte Khong Tong Pai.
He Shu Huan memperhatikan rombongan dari Istana Kekaisaran Ming yang menarik perhatian nya. Sedangkan Yu Man Ji lebih tertarik kepada rombongan lain yang semuanya bersikap angkuh sekali.
" Mereka berasal dari Sekte Ermei dan wanita itu bernama Mei Yun wakil ketua sekte Ermei. " Kata pria lain di dekat Yu Man Ji.
" Aku tidak tertarik pada wanita itu, Aku tertarik pada buah pisang yang di bawa oleh wanita itu. " Kata Yu Man Ji yang berbeda dengan dugaan pria yang di dekatnya.
"Kau lapar?" Tanya He Shu Huan mengelus atas puncak kepala Yu Man Ji dengan sayang.
" Iya. " Jawab Yu Man Ji berlinang airmata yang memelas kepada He Shu Huan.
" Hmm, aku ambilkan untuk mu. Kau tunggu saja di sini. " Kata He Shu Huan berkelebat hanya hitungan nol koma satu detik, dia sudah ambil pisang untuk Yu Man Ji dengan mencuri dari anggota sekte Ermei tanpa di ketahui oleh semua orang di sana.
" Wah terimakasih, Shu Huan. " Kata Yu Man Ji ceria kembali, lalu mereka mengikuti rombongan para undangan lainnya menuju ke kota Embun Bening bersama-sama.
Setibanya rombongan para pendekar yang telah datang ke rumah Kediaman Pendekar Naga Es Luo Bu di kota Embun Bening. Mereka semua telah di sambut hangat oleh pihak rumah Sang Pendekar Naga Es Luo Bu. Begitu juga dengan He Shu Huan dan sahabatnya Si Kera Manis Yu Man Ji, mereka berdua ikut di rombongan Sekte Beng San Pai dengan menyamar sebagai dua orang anggota sekte Beng San Pai yang sudah mereka kerjai habis-habisan di tengah jalan dan mereka juga mencuri kartu undangan dari anggota sekte Beng San Pai yang tidak sengaja jumpa dengan He Shu Huan di daerah Liao yang menjadi daerah kekuasaannya He Shu Huan.
Kini, He Shu Huan dan Yu Man Ji mendapatkan layanan kamar yang nyaman sekali oleh pihak rumah yang akan mengadakan pesta ulang tahun Sang pemilik rumah tersebut. Karena acara akan di mulai di esok hari, maka He Shu Huan harus bersabar untuk menanti acara yang sangat penting bagi kaum dunia persilatan yang sangat di pantau oleh pemerintah Kekaisaran Ming yang anti keramaian.
__ADS_1
" Ah, Aku tak bisa tidur lagi masih belum ada tengah malam.. Ahh, lebih baik aku lihat-lihat dulu saja... Ahh.. " Kata He Shu Huan usai lelah berguling-guling di atas tempat tidur tanpa bisa pulas yang sama sekali tidak seperti Yu Man Ji yang sudah ke alam mimpi.
He Shu Huan pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan Ia melihat seorang gadis kecil yang sangat cantik jelita sekali sedang bermain-main di halaman depan kamarnya dengan lincah.
" Wah, dia mirip seekor Kancil yang suka lompat- lompat. " Kata He Shu Huan duduk di pelataran kamarnya dan Ia suka sekali memandangi gadis kecil itu.
Gadis kecil itu merasa ada yang memperhatikan setiap gerakannya, maka ia menoleh dan melihat ada pemuda usia empat belas tahun yang amat yang sangat tampan sekali duduk di pelataran depan kamar dan sibuk memandangi dirinya dengan kagum.
" Kakak kau siapakah dan kenapa kau menatap ku terus? " Tanya gadis kecil itu berjongkok di depan He Shu Huan yang kaget sekali melihat sepasang mata yang lebar dan indah bagai mata kancil.
" Eh, dasar kancil kau mengagetkan ku saja. " Kata He Shu Huan melompat berdiri dan dia juga mengagetkan gadis kecil itu hingga jatuh ke arah tubuhnya.
"Ahh, aduh. " Kata gadis kecil itu merasakan He Shu Huan memeluknya.
" Hei kancil jangan centil ya sama aku. " Kata He Shu Huan melepaskan pelukannya dari gadis kecil itu.
" Kau memanggil ku kancil... Aku memanggil mu Kakak mentimun nakal...!! " Jerit gadis kecil itu dan melompat berdiri dari He Shu Huan.
" Namamu siapa kancil centil? " Tanya He Shu Huan duduk kembali di tangga menuju ke kamar lain.
" Namaku Fu Xiao Chao. Kalau kamu siapa nama mu Kakak mentimun nakal? " Gadis kecil itu sudah kembali bermain di halaman depan kamar He Shu Huan dengan gembira dan lincah sekali.
" Namaku He Shu Huan, Kancil centil. " Jawab He Shu Huan ikut bermain lompat kapur yang di buat kotak-kotak untuk melompat-lompat di lantai halaman depan kamar He Shu Huan.
" Kakak mentimun kau salah jalan. " Kata Fu Xiao Chao atau kancil centil menarik He Shu Huan keluar dari garis kapur permainan mereka dan ia di colek tinta tulis untuk di torehkan di wajah He Shu Huan yang tertawa senang sekali.
" Hai, Awas ya aku coret wajahmu dengan garis yang lebih besar lagi. " Kata He Shu Huan mundur dari garis kotak kapur untuk memulai permainan dari awal lagi.
" Lihatlah aku sangat pandai bermain ulat tangga di lantai menggunakan kapur sebatas kotak dan koin emas ini sebagai dadu nya. " Kata Fu Xiao Chao memperlihatkan koin emas dua gambar orang dan burung kecil.
__ADS_1
" Tunggu... Tunggu.. Aku lihat dulu gambar koin mu sebagai tanda pemilikan ku yang mana. " Kata He Shu Huan cepat mengambil koin emas ada gambar orang dan burung kecil.
" Aku gambar orang. " Kata Fu Xiao Chao yang suaranya bagai burung pipit ramai sekali tetapi sangat indah di telinga He Shu Huan.
" Hmmm, baiklah. Aku pilih gambar burung kecil. Marilah kita lempar dan siapa yang pertama bermain. " Kata He Shu Huan melempar koin emas dan keluarlah gambar burung kecil.
" Yeah, Aku duluan. " Kata He Shu Huan yang melompat ke kotak pertama.
" Giliran ku. " Kata Fu Xiao Chao melemparkan koin emas dan keluar gambar orang, maka ia yang melompat ke kotak nomor dua.
Demikianlah mereka berdua menjadi akrab satu sama lain dan tanpa sadar telah terjalin suatu perasaan yang sama di antara mereka berdua, yaitu cinta monyet yang belum mereka sadari dan ketahui di usia mereka berdua saat ini.
" Baiklah, karena sekarang sudah larut malam hari.. Ah, sebaiknya kita berhenti bermain dan kita harus pergi tidur untuk esok pagi kita lihat pesta ulang tahun Pendekar Naga Es Luo Bu. " Kata He Shu Huan pamit untuk pergi tidur kepada Fu Xiao Chao.
" Iya, Aku juga sudah lelah dan mengantuk. Ah, ya selamat malam Kakak Mentimun nakal . " Kata Fu Xiao Chao yang lari naik ke tangga yang menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas dari kamarnya He Shu Huan.
" Selamat tidur Kancil centil " Ucap He Shu Huan dari pintu kamarnya memandangi siluet tubuh mungil belakang Fu Xiao Chao dengan senang hati.
" Shu Huan, darimana saja kamu? " Tanya Yu Man Ji terbangun dari tidurnya karena Ia berada di kamar itu seorang diri tanpa sahabatnya itu.
" Aku habis mengambil pisang untukmu di dapur. " Jawab He Shu Huan melemparkan buah pisang dari Fu Xiao Chao kepada Yu Man Ji yang tidak lagi sedih dan kini ceria kembali.
" Wah, terimakasih Shu Huan kebetulan aku lapar nih. " Kata Yu Man Ji langsung melahap pisang tanpa basa basi lagi.
He Shu Huan berbaring di tempat tidur satunya lagi dan Ia menikmati buah strawberry liar dari Fu Xiao Chao yang bercerita tentang bukit buatan di belakang rumah gadis kecil itu yang berada di Ibukota Kekaisaran Ming.
Di sisi lain, Fu Xiao Chao juga berbaring di atas tempat tidurnya dan memandangi tirai kamar tidur sepupunya yaitu putri dari Pendekar Naga Es Luo Bu yang bernama Luo Zi yang pernah jumpa dengan He Shu Huan dan kawan-kawan nya di sebuah hutan di dekat pantai utara saat He Shu Huan baru tiba di daratan tengah.
" Burung kecil dari anyaman kayu ini untukmu, Kancil centil sebagai tanda persahabatan kita di mulai hari ini. " Kata He Shu Huan tadi di halaman depan kamar pemuda remaja tanggung itu pada Fu Xiao Chao yang menerima hadiah mainan burung kecil dari anyaman kayu dari pemberian He Shu Huan untuknya.
__ADS_1
"Kakak mentimun nakal kau manis sekali. Aku jadi ingin mengajakmu main ke rumah ku yang berada di Ibukota Kekaisaran Ming sebagai sahabat belajar dan bermain ku di rumah ku yang sepi sekali sejak Kakek ku suka sekali marah - marah dan nenekku suka teriak- teriak sendiri karena peristiwa meninggalnya Paman Chien Kai pada usia muda di hari kelahiran ku dan Ibuku pergi entah kemana sejak aku masih bayi. " Kata Fu Xiao Chao bicara sendiri sambil memandangi burung kayu anyaman kayu dari ciptaan He Shu Huan untuknya.
Bersambung..!