
Nenek itu menyalurkan ilmu sinkang yang amat hebat kepada He Shu Huan yang memejamkan sepasang matanya merasakan adanya hawa panas yang menyerang tubuhnya.
Tetapi , datanglah hawa dingin yang menyerang tubuhnya dari kakek itu yang meletakkan telapak tangannya ke dada bidang He Shu Huan yang merasakan hawa yang bertentangan menerobos masuk ke dalam tubuhnya.
"Hei, kakek dan nenek apa yang sudah kalian berdua lakukan terhadap Kakak Huan?! " Hardik Fu Xiao Chao marah dan berniat untuk menyerang kakek dan nenek tua itu.
Namun He Shu Huan mencegahnya karena kedua orang tua tentang itu sudah meninggal dunia usai mewariskan ilmu mukjizat api dan es abadi kepada He Shu Huan.
"Jangan mereka sudah meninggal dunia dan sudah begitu baik mewariskan ilmu hebat yang mereka miliki kepada ku... Arghh." Kata He Shu Huan sebelum jatuh pingsan di pelukan Fu Xiao Chao.
"Kakak...!!! " Jerit Fu Xiao Chao cemas sekali akan keselamatan He Shu Huan.
Maka anak itu membawa He Shu Huan keluar dari rumah sepasang suami-istri pendekar naga api dan naga es utara yang sebenarnya bukanlah Luo Bu yang sesungguhnya adalah Pangeran muda adik kandung Kaisar Ming Luo dengan gelar Pangeran Muda Luo Bu.
Fu Xiao Chao semakin cemas saat Ia melihat Li Wei Shiang di tawan oleh seorang kakek tua wajah rubah hitam saat ia telah berhasil bawa He Shu Huan keluar dari rumah kakek dan nenek sakti itu.
"Gadis kecil, apakah kau menemukan pusaka terakhir dari sepasang Pendekar Naga Api dan Es? " Tanya Kakek wajah rubah hitam kepada Fu Xiao Chao.
"Tidak." Jawab Fu Xiao Chao nada berani dan tegas.
"Ah, baiklah aku percaya kepada ucapan mu tapi kau harus ikut aku ke suatu tempat dengan kapal di dermaga sungai itu. Jangan cemas kakak dan adik mu akan ikut bersama kita. " Kata Kakak muka rubah hitam nada halus tetapi memerintah kepada Fu Xiao Chao.
Fu Xiao Chao menunduk dan melihat He Shu Huan sudah sadar dari pingsan di pelukannya memberikan kode untuk menyerang kakek muka rubah hitam dengan jarum bening kristal racun serbuk bunga api yang berada di dalam saku baju He Shu Huan.
Fu Xiao Chao mematuhi petunjuk He Shu Huan dan Ia menengadahkan kepalanya dengan cepat dan melemparkan jarum bening kristal serbuk bunga api secara tiba-tiba ke arah wajah kakek tua itu yang terkejut sekali dengan serangan dari Fu Xiao Chao.
Kakek itu dengan sedikit mengelak sudah berhasil menolong wajahnya dari serangan maut langsung dari Fu Xiao Chao, tetapi Ia tidak bisa mengelak dari jari maut He Shu Huan yang melompat ke pelipis kirinya.
__ADS_1
Kresss!
Blukk!
Kakek muka rubah hitam itu meninggal dunia di tangan He Shu Huan.
"Kak Huan kau sungguh hebat sekali. " Puji Fu Xiao Chao.
"Kancil Centil cepat kau bawa Wei Shiang ke atas kapal itu dan aku akan membawa naga hitam ke kapal untuk kita bisa mengarungi sungai yang misterius itu. " Kata He Shu Huan yang sudah menghilang dari pandangan mata Fu Xiao Chao dan Li Wei Shiang.
"Ya, Kakak. " Jawab Fu Xiao Chao patuh kepada He Shu Huan.
Kedua orang gadis kecil itu menunggu He Shu Huan hanya dalam waktu lima menit saja di kapal itu dan He Shu Huan sudah datang bersama kesabaran kuda hitam di kapal itu.
Lalu mereka mengarungi kapal milik setan tua muka rubah hitam untuk mengarungi sungai yang menyimpan pusaka milik sepasang kakek dan nenek sakti yang sudah memberitahukan rahasianya kepada He Shu Huan seorang yang berhak untuk memiliki pusaka itu.
Untuk memenuhi permintaan terakhir dari kedua orang tua renta itu yang sudah amat baik hati memberikan ilmu mukjizat ciptaan dari kedua orang tua yang berjuluk sepasang Pendekar naga api dan es utara.
"Kemana kita akan berlayar dengan kapal ini, Kak Huan? " Tanya Fu Xiao Chao kepada He Shu Huan seraya memandangi kedua sisi sungai hutan pohon kuning dari kabin kapal.
"Ke pulau kayu merah yang berada di timur dari sungai ini. " Jawab He Shu Huan kepada Fu Xiao Chao seraya mengemudikan kapal dengan amat terampil.
Li Wei Shiang duduk di dekat naga hitam melihat dan mengamati gunung-gunung dan hutan-hutan serta celah air sungai yang berwarna hijau jernih dan banyak sekali ikan, udang dan kepiting air tawar terlihat jelas.
Gadis kecil itu terkesiap saat melihat ada dua orang berada di dalam air sungai dan melompat keluar dari sungai, lalu menerjang kapal yang di kemudikan oleh He Shu Huan.
Pemuda remaja ini dengan santai menggunakan serbuk merica pedas yang di semprotkan ke arah kedua mata dari dua orang penyusup gelap yang menerjang kapal nya.
__ADS_1
*****!
"Aduh!! Perih!! " Teriak kedua orang penyusup gelap itu.
Dan, kesempatan ini digunakan oleh Fu Xiao Chao memotong leher kedua orang penyusup gelap dengan pedang kayu harum yang memiliki ukiran angsa putih.
Crakk!
Crakk!
He Shu Huan menendang kedua jasad penyusup itu keluar dari kapal dengan seenaknya saja dan tanpa menghiraukan hal pun lagi. Ia telah sibuk berlayar dengan kapal rampasan nya itu.
Duk!
"Wah, ada ikan besar...! " Seru Fu Xiao Chao yang sudah lapar itu terlihat ingin menelan ikan besar dalam sungai dengan sepasang mata indahnya yang bagaikan sepasang matahari kembar di pagi hari.
Mendengar ucapan Fu Xiao Chao membuat iba di hati He Shu Huan tersentuh dan Ia tidak bisa berpikir panjang lagi telah melompat ke dalam air sungai tanpa menghiraukan pakaiannya yang masih lengkap.
Byuuurrr!
"Kak Huan..! Kau mau apa?!!! " Jeritan panik Fu Xiao Chao yang kaget sekali melihat He Shu Huan melompat dan masuk ke dalam air sungai begitu saja.
Tetapi rasa kaget Fu Xiao Chao tergantikan dengan rasa cemas sekali karena ada seekor buaya besar merayap ke arah He Shu Huan yang sibuk menangkap ikan besar yang diinginkan oleh Fu Xiao Chao.
"Kakak, hati -hati dibelakang mu ada buaya besar yang ingin menghampirimu...!! " Teriak Fu Xiao Chao gelisah, panik dan cemas menjadi satu.
Namun He Shu Huan dengan tenang berjungkir balik dan berhadapan langsung dengan buaya besar yang langsung di hantam dengan pukulan telak yang dilakukan oleh He Shu Huan dengan ikan besar tangkapannya sampai buaya besar itu remuk hancur pada rahangnya.
__ADS_1
Bruakk!
Bersambung!