Pendekar Serigala Emas Sakti

Pendekar Serigala Emas Sakti
Mengarungi sungai pohon kuning.


__ADS_3

He Shu Huan sudah melompat keluar dari sungai dan tiba di kapal dengan tersenyum bahagia dan memperlihatkan ikan besar tangkapannya itu kepada Fu Xiao Chao.


"Kakak, kau sungguh bodoh sekali. " Kata Fu Xiao Chao memeluknya sambil menangis saking cemas akan keselamatannya. He Shu Huan pun terpana dengan pelukan hangat dan airmata cemas Fu Xiao Chao untuknya sampai ikan besar tangkapannya di tangannya jatuh di atas lantai kapal.


"Kancil Centil, aku tak apa-apa, lihat ini aku sudah menangkap ikan besar untkmu makan malam. " Kata He Shu Huan mengangkat tangan untuk menyentuh rambut panjang berkuncir cepol atas pakai pita biru yang sangat cantik dari atas kepala Fu Xiao Chao.


"Aku sangat cemas dan takut terjadi sesuatu padamu karena di dunia aku hanya memilikimu seorang. " Kata Fu Xiao Chao masih sempat mengambil tangan He Shu Huan yang lainnya untuk ia cium dengan bibir mungilnya.


"Eh, apa yang kamu lakukan pada tanganku? " Tanya He Shu Huan terperanjat dan menarik tangan kanannya dari genggaman tangan Fu Xiao Chao karena ia takut di cium oleh bibir mungil Fu Xiao Chao.


"Aku mau mengucapkan terimakasih kepada mu yang sudah sangat baik kepadaku." Jawab Fu Xiao Chao menatap He Shu Huan dengan sinar mata yang aneh sekali sampai Li Wei Shiang bisa melihat tatapan matanya yang begitu dalam kepada He Shu Huan.


"Ya sudah, sekarang kau buatlah makanan mu sendiri dengan ikan besar yang aku tangkap ini dengan pertaruhan nyawa ku melawan buaya besar di dalam sungai tadi. " Kata He Shu Huan nada ketus kepada Fu Xiao Chao.


"Emm, baiklah. " Jawab Fu Xiao Chao dengan senyuman di bibirnya lalu mengambil ikan besar dari lantai kapal dan ia membersihkan sisik ikan dan isi perut ikan besar yang sudah mati karena membentur rahang besar buaya oleh He Shu Huan tadi.


Lima belas menit kemudian Fu Xiao Chao sudah mengajak He Shu Huan dan Li Wei Shiang makan ikan bakar karyanya tetapi He Shu Huan dengan tegas melarang Li Wei Shiang makan ikan bakar karya Fu Xiao Chao.

__ADS_1


"Kau makan bakpao isi kacang merah ini saja. " Kata He Shu Huan nada ketus kepada Li Wei Shiang.


"Kakak, kenapa kau melarang Li Wei Shiang makan ikan bakar karya ku? " Tanya Fu Xiao Chao dengan nada heran dengan sikap He Shu Huan.


"Karena ikan besar bakar karya mu adalah hasil tangkapan ku. Jadi tak bisa aku bagi dengan dia atau orang lain. " Jawab He Shu Huan dengan nada tegas.


"Wahhh, dia benar-benar hanya memberikan perhatiannya kepada ku seorang. " Kata Fu Xiao Chao dalam hatinya. Ia amat senang sekali dengan pemuda masa depan pilihan hatinya itu.


"Emmm, aku bicara seperti ini bukan karena aku aneh kepada mu, ya?! " Tukas He Shu Huan yang memalingkan wajahnya karena merasa ada api di wajahnya.


"Iya, Kak Huan. " Jawab Fu Xiao Chao manis sekali tapi dengan menciun pipi kiri He Shu Huan dengan lembut sekali.


"Bocah, pulau kayu ada sebuah pohon yang ada ukiran pisau bawahnya kau gali tanah itu ada kotak kecil isinya adalah kunci untuk membuka pintu rahasia di dalam kamar tidur Kaisar Ming Luo. Kamu harus ambil stempel asli Kaisar Ming Chun darinya dan di dalam tanah pot bunga putri kecil Kaisar Ming Luo ada jepitan rambut bentuk bunga persik untuk gadis kecil mu. " Kata Kakek tua berjuluk Pendekar naga es utara sebelum meninggal dunia pada He Shu Huan.


"Dan, ambillah kitab pusaka sembilan matahari dan sembilan bulan serta kitab pusaka ilmu pedang naga api dan es kami untuk mu. " Kata nenek tua berjuluk Pendekar naga api yang telah menyelipkan kertas tinta sumi dari kulit biri-biri ke dalam saku baju He Shu Huan.


He Shu Huan teringat pesan ini yang akan bisa memberikan petunjuk dan peluang untuk balas dendam nya terhadap Kaisar Ming Luo bisa ia gapai dengan baik dan sempurna.

__ADS_1


"Aku hanya menunggu waktu untuk aku bisa membunuh Kaisar jahanam itu dan menyeret jasadnya keliling Ibukota Kekaisaran Ming di saksikan oleh rakyat. " Kata He Shu Huan di dalam hatinya dengan geram dan tatapan mata nya kini bersinar-bersinar kejam sekali menatap arah depan menuju ke pulau kayu merah.


Fu Xiao Chao dan Li Wei Shiang sudah tidur pulas di dalam kapal dengan berdampingan satu sama lainnya. Sedangkan, He Shu Huan berjaga- jaga di tepi kapal di temani oleh awan-awan malam di atas langit dan di kapal ada kuda hitam atau naga hitam yang sibuk makan bakpao isi daging.


Setelah mengarungi sungai hutan pohon kuning selama tujuh hari lamanya akhirnya kapal He Shu Huan tiba juga di pulau kayu merah sesuai dengan peta yang diberikan oleh sepasang Pendekar naga api dan es kepadanya sebelum kedua orang tua itu meninggal dunia di dalam rumah mereka sendiri yang disebabkan oleh dua ilmu mukjizat mereka sendiri.


Hal ini disebabkan rasa haus kemenangan yang belum bisa di capai oleh kedua orang tua itu terhadap pasangan hidup mereka masing - masing dan akhirnya mereka saling membunuh dan meninggal dunia sendiri.


Dan, kini He Shu Huan sebagai pewaris ilmu mukjizat kedua orang tua itu mencari pulau kayu merah untuk menemukan harta karun pusaka yang di simpan di pulau itu oleh Kakek tua sakti yang baik hati tetapi memiliki watak yang aneh.


"Wah semua batang pohon di pulau ini merah semua..!!" Seru Fu Xiao Chao saat ia keluar dari kapal untuk mengikuti He Shu Huan yang menjadi calon pasangan hidup kesayangannya di masa depan.


"Nama juga Pulau kayu merah, ya semuanya serba merah lah." Sahut He Shu Huan sembari mengikat tali kapal di tiang dermaga usai ia menaruh jangkar di bawah sungai terdekat dari dermaga.


Lalu He Shu Huan dan Fu Xiao Chao berjalan dan menaiki tangga menuju ke daratan di atas pulau kayu merah melalui dermaga kayu yang berada di bawah tangga batu gunung.


Mereka berdua menaiki tangga tersebut selama kurang lebih lima jam barulah mereka bisa tiba di lokasi yang sama dengan He Shu Huan dan Fu Xiao Chao datangi.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2