
Usai tiba di dermaga sungai hutan pohon kuning, He Shu Huan dan Fu Xiao Chao melanjutkan misi mereka berdua menuju ke Gunung Pei dengan berjalan kaki dengan santai sama dan seakan -akan mereka berdua sedang tamasya saja.
"Gunung Pei itu berada di sebelah mana hutan pohon kuning? " Tanya He Shu Huan mengamati hutan pohon kuning dengan melompat ke atas pohon tertinggi untuk bisa melihat letak gunung Pei.
Di saat yang sama ia mendengar suara derap kaki kuda yang sangat ramai sekali di daerah utara hutan pohon kuning dan rombongan ini berasal dari pria paruh baya dan dua orang tua yang memiliki wajah sangar dan membawa pedang panjang yang mengesankan arogan dan kejamnya kedua orang tua itu.
"Pendekar besar Huang, apakah kau benar-benar berniat untuk memaksa putriku menjadi selir Kaisar Ming Luo? " Tanya pria tua rambut keriting dan menunggangi kuda warna agak kemerahan.
"Iya, tentu saja karena itulah aku datang ke gunung Pei untuk mengambil putriku dari Pei Su dan mantan istri kedua Song Dan yang sangat aku benci sekali. " Jawab pria paruh baya yang rambutnya panjang hitam riap-riapan dan kuda nya warna putih jantan.
"Akh itu karena kau punya tujuan untuk menjadi besannya Kaisar Ming Luo ya, kan? " Tanya nenek tua memakai anting bulat besar di telinga kirinya dan kudanya warna hitam mirip naga hitam cuma bedanya naga hitam ada bulu putih di sisi telinga kanannya ulah He Shu Huan yang memberi naga hitam cat rambut warna putih ciptaan He Shu Huan.
"Apa pun tujuan ku ke gunung Pei adalah urusan ku dan urusan kalian berdua adalah membantu ku untuk membunuh Pei Su dan semua anggota sekte Pek San Pai nya." Jawab pria paruh baya yang di panggil Pendekar besar Huang oleh sepasang orangtua aneh itu.
Sesudah derap kaki kuda mengarah ke utara dari pandang He Shu Huan berdiri atas pohon yang tertinggi di hutan pohon kuning. He Shu Huan tanpa harus menunggu waktu lebih lama lagi. Ia pun cepat turun dari atas pohon tertinggi di hutan pohon kuning dan mengajak Fu Xiao Chao cepat melangkahkan kakinya menuju ke utara hutan pohon kuning.
"Kak Huan, lihat di sana ada banyak darah orang di tanah. " Kata Fu Xiao Chao menunjuk ke arah tanah dekat tanjakan menuju ke gunung Pei.
He Shu Huan menggunakan rumput ilalang untuk memeriksa darah yang berceceran di atas tanah dekat tanjakan menuju ke gunung Pei dan ia mencium bau darah segar di hidungnya.
__ADS_1
"Kita harus segera naik ke gunung Pei untuk bantu keluarga Pei terutama Yu Man Ji. " Kata He Shu Huan tergesa-gesa meraih jemari Fu Xiao Chao dan berlari kencang sekali tanpa memperdulikan jeritan Fu Xiao Chao yang di bawa terbang olehnya.
Sesampainya di gunung Pei. He Shu Huan dan Fu Xiao Chao terpaku melihat seorang pemuda remaja tanggung seusia He Shu Huan dengan lincah nya sibuk ke sana kemari membunuh banyak orang tanpa gunakan senjata apapun di tangannya, melainkan gunakan kulit pisang saja dan di dekat pemuda itu, ada seorang gadis muda yang menyamar sebagai seorang pemuda menjerit-jerit ketakutan terkena serangan puluhan orang yang menghadang jalan mereka.
Lalu di sisi lain pemuda remaja tanggung hebat itu ada seekor keledai dengan pita merah asyik sekali makan daun bawang tanpa hiraukan sejumlah manusia saling bunuh satu sama lain nya.
"Yu Man Ji , aku datang membantumu. " Kata He Shu Huan melompat sambil menampari tujuh orang pria dan wanita dewasa dengan rumput ilalang di tangan kirinya tapi akibatnya tujuh orang pria dan wanita dewasa itu tewas dalam keadaan wajah mereka penyok oleh ilmu sinkang pemetik bunga milik salah seorang guru mesum He Shu Huan di pulau abadi.
Plak!!
Plakk!!
"Shu Huan, aku rindu kamu..!! " Sahut Yu Man Ji ramai sekali seraya membunuh lawannya dengan ilmu kulit pisang menembus tulang ciptaan gurunya di pulau abadi.
Jlebbb!
"Daun bawang kau kurus sekali baru saja aku tinggal bersama Yu Man Ji selama sebulan saja. " Kata He Shu Huan memeluk daun bawang yang hanya menengok heran kepadanya.
"Shu Huan, sejak kapan kau perhatian kepadaku? " Sorot mata keledai hitam itu yang di artikan oleh Yu Man Ji di sisi lain keledai itu.
__ADS_1
"Hehe sejak dulu lah, masa lupa sih, aku kan tipe sahabat yang selalu perhatian sama sahabatnya sendiri. " Jawab He Shu Huan menampar halus kepala Yu Man Ji yang terkekeh senang sekali dengan cara sapa biasa He Shu Huan kepada nya sejak kecil.
"Shu Huan, siapa nona kecil ini? " Tanya Yu Man Ji lupa kepada Fu Xiao Chao datang ke dekat He Shu Huan yang awalnya bingung kasih tahu Yu Man Ji tentang gadis kecil idola pertama Yu Man Ji ini bersama dengan He Shu Huan.
"Aku Angsa Putih, senang berkenalan denganmu, Yu Man Ji. " Kata Fu Xiao Chao memperkenalkan dirinya sendiri dengan nama julukannya saja tanpa kasih tahu nama aslinya maupun nama baru dari He Shu Huan dengan nama He Yinshuang atau Kancil Centil, karena kedua nama itu adalah hadiah He Shu Huan untuknya, jadi tidak bisa dibagi ke orang lain.
"Angsa Putih, nama yang bagus sesuai dengan orangnya yang bagus tapi aneh. " Kata Yu Man Ji memuji namun menjatuhkan kembali pujiannya dengan sikap polosnya itu.
"Tidak aneh justru sangat manis kok. " Kata Nona Huang Rong Er yang ingin berteman baik dengan Fu Xiao Chao agar ia bisa dekat dengan He Shu Huan yang semakin tampan saja.
"Eh, apa kau tak salah dalam memujinya? Dia itu pahit dan hambar." Kata He Shu Huan tersenyum untuk Fu Xiao Chao yang mengerti arti kata itu.
"Apakah aku boleh naik ke daun bawang? " Tanya Fu Xiao Chao halus karena Ia melihat He Shu Huan ingin ia naik ke atas punggung daun bawang yang sudah menurunkan keempat kakinya di atas tanah untuk memudahkan Fu Xiao Chao duduk di punggungnya dengan aman dan nyaman.
"Kau lihat sendiri saja, ia sudah sujud kepada mu dan itu tandanya apa?! "Jawab He Shu Huan nada ramah dan bersahabat sekali kepada Fu Xiao Chao.
" Hmmm, aku mengertilah."Kata Fu Xiao Chao riang gembira naik dan duduk di atas punggung daun bawang di ikuti oleh He Shu Huan duduk di belakang Fu Xiao Chao.
Yu Man Ji heran sekali melihat He Shu Huan baik sekali mengizinkan orang lain duduk di atas punggung daun bawang bahkan He Shu Huan tak ragu untuk duduk di belakang gadis kecil asing itu.
__ADS_1
"Yu Man Ji ayo jalan. " Kata He Shu Huan yang memacu daun bawang untuk berjalan di depan dengan di ikuti oleh Yu Man Ji dan Huang Rong Er yang cemberut karna He Shu Huan melarang nya naik ke atas punggung daun bawang tetapi Angsa Putih diizinkan He Shu Huan bahkan He Shu Huan mau duduk di dekat punggung gadis kecil itu.
Bersambung!