
Mai merasa tidak nyaman duduk bersama dengan para majikannya. Sebelum-sebelumnya dia hanyalah seorang pelayan, sementara saat ini dirinya tak lagi menjadi pelayan melainkan menantu dari keluarga konglomerat.
Mai hanya mampu menunduk memakan sarapannya, sedang Morgan dengan malas sesekali meliriknya sekilas untuk memastikan apakah pelayan rendahan itu memakan sarapannya atau tidak.
Keluarga kecil Malfin sudah selesai sarapan, begitu halnya tuan Fino. Mereka meninggalkan ruang makan. Sehingga tersisa hanya Mai, Morgan dan nyonya Milan yang masih menempati meja makan.
"Kapan kalian berencana untuk berbulan madu?" tanya Nyonya Milan tersenyum.
Uhukk...Uhukk..
Morgan sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan ibunya, bagaimana mungkin ibunya bertanya hal yang mengarah ke sana, melihat pelayan itu saja membuatnya malas.
Mai bergerak cepat memberinya segelas air putih. Morgan dengan terpaksa mengambilnya dan langsung meneguknya dengan dua kali tegukan hingga tandas.
"Pelan-pelan...tu...kak..." ucap Mai khawatir dan hampir saja keceplosan mengucapkan kata tuan. Untungnya ia masih bisa menggantikannya dengan sebutan kakak. Sungguh Mai tidak tega jika harus bersandiwara di depan keluarga Morgan.
"Terima kasih." balas Morgan cuek sambil meletakkan gelas di atas meja.
Mai mengangguk dengan senyuman manis menghiasi bibirnya. Morgan terperangah melihat senyuman Mai, sulit untuk mengakuinya bahwa wanita itu ketika tersenyum semakin manis.
Morgan menggigit potongan sandwich lalu mengunyahnya cepat dengan ekor mata selalu curi-curi pandang ke arah Mai.
"Tak perlu menjawabnya sekarang, jika kalian belum merencanakan untuk berbulan madu." ucap ibunya tersenyum yang sudah menghabiskan sarapannya.
Morgan sadar tidak memperhatikan ucapan ibunya karena lebih fokus melirik Mai, alasannya pasti mengarah pada pekerjaannya.
"Iya ma, lagian pekerjaanku di kantor sudah menumpuk. Aku tidak punya waktu untuk merencanakan hal itu, dan...." ucap Morgan tak melanjutkan ucapannya.
Siapa sih nama pelayan ini, aku sampai lupa namanya. Batin Morgan.
Ibunya tampak menaikkan alisnya menunggu ucapannya selanjutnya.
"Dan istriku.... mendukung keputusanku, iya kan sayang." ucap Morgan menatap ke arah Mai lewat ekor matanya tersirat sebuah ancaman dan lagi-lagi Mai hanya mampu mengangguk menanggapi ucapannya.
__ADS_1
"Oh tak masalah, jika memang seperti itu. Tapi ada baiknya kalian harus merencanakan berbulan madu mulai dari sekarang, pikirkan tempat-tempat romantis yang ingin kalian kunjungi dan habiskan waktu bersama. Sayang sekali jika kalian melewatkannya, karena waktu tidak bisa diputar kembali. Kalau begitu mama tunggu kalian di ruang keluarga." ucap Nyonya Milan sembari bangkit dari duduknya.
"Baik Mama." jawab Morgan cepat dengan anggukan kepala.
Mai segera menghabiskan satu potong sandwich yang masih tersisa di piringnya lalu meminum segelas susu hangat.
"Alhamdulillah." ucapnya penuh syukur.
"Tuh tambah lagi, kamu bisa menghabiskan semua makanan di atas meja ini." ketus Morgan yang selalu saja cari masalah dengan Mai.
"Terima kasih tuan, porsi makan saya memang seperti ini. Jika Anda mau tambah, dengan senang hati saya akan melayani anda dan mengambil semua makanan di atas meja ini untuk anda seorang, biar anda lebih semangat lagi bekerjanya." ucap Mai diselingi senyuman manis dan entah keberanian darimana pertama kalinya dia berbicara panjang lebar di depan tuan mudanya alias suaminya.
"Wah semakin kesini, bicara mu semakin berbobot dan aku suka gadis yang pandai berbicara." ucap Morgan menyeringai sambil menyentuh dagu Mai supaya mendongak menatap kearahnya.
Tubuh Mai bergetar ketakutan bersitatap dengan Morgan. Tubuh mereka bahkan berdekatan tanpa terkikis oleh jarak.
"Terima kasih tuan atas pujiannya." balas Mai dengan bibir bergetar, namun senyuman selalu menghiasi bibirnya.
Morgan berdengus kesal lalu melepaskan tangannya hingga memberi jarak antara dirinya dengan Mai.
Mai ikut bangkit dari duduknya dan segera melangkah mengikuti langkah kaki Morgan menuju ruang keluarga.
"Kakak baik." teriak si kembar dengan kompaknya melihat Mai berdiri di belakang pamannya hingga tubuh Mai tampak kecil.
Tinggi Mai hanya sebatas dada dengan tubuh Morgan, sehingga jika berdiri di samping pria jangkung itu tubuhnya terlihat kecil dan pendek.
Aqil dan Aqila berlari kecil menghampirinya lalu berhambur memeluk kaki Mai. Dengan cepat Mai berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan si kembar.
"Bagaimana hadiahnya? apa kakak baik menyukainya?" tanya Aqila.
Mai langsung mendongak menatap ke arah Morgan, sedang Morgan hanya mengidihkan bahunya berpura-pura tidak tau.
"Kakak baik sangat menyukainya, terima kasih ya." ucap Mai beralasan yang tidak tau menahu hadiah yang dimaksud oleh Aqila.
__ADS_1
Morgan menarik tangan Aqil untuk berdiri di sampingnya. Lalu kembali bergerak ingin menarik tangan Aqila, namun ponakannya keburu memeluk Mai dan Mai bergerak cepat menggendong Aqila.
Morgan mengepalkan tangannya, sungguh dia tidak suka melihat kedekatan ponakannya dengan pelayan rendahan itu. Namun, Morgan tak bisa berbuat apa-apa, keluarganya tengah berkumpul di ruang keluarga dan tersenyum melihatnya.
Kini mereka tengah duduk bersama, dimana Mai duduk bersebelahan dengannya yang sedang memangku Aqila dan Morgan sendiri memangku Aqil. Mereka seperti keluarga kecil yang bahagia dikaruniai anak kembar.
Sementara Malfin dan Adelia duduk berdampingan, begitu pun Nyonya Milan dan tuan Fino yang selalu tersenyum melihat tingkah lucu ponakannya.
"Bagaimana rencana kalian selanjutnya? apa kalian sudah memutuskan sesuatu?" tanya Nyonya Milan.
"Aku memutuskan untuk membawa istriku tinggal bersama di apartemen." ucap Morgan dengan entengnya.
"Tidak bisa, Mama belum percaya seratus persen kepadamu, Morgan. Jangan sampai kamu malah menyakiti Mai dan berbuat semena-mena terhadapnya. Kalian tidak boleh meninggalkan rumah ini, kalian harus tetap tinggal di rumah ini, titik."protes nyonya Milan penuh curiga tak terima keputusan putranya.
Inilah yang diwanti-wanti oleh Morgan, ibunya pasti tidak akan setuju dengan keputusannya yang terbilang mendadak.
"Sayang, biarkan mereka memutuskan apa yang dianggapnya benar. Mereka sudah menikah. Jangan ikut campur urusan rumah tangganya, mereka sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan benar." timpal tuan Fino.
"Tapi mas, kamu tahu sendiri seperti apa sifat anakmu itu" balas nyonya Milan sambil melipat lengannya di depan dada.
Tuan Fino menghela nafas dan kembali mencoba meyakinkan istrinya. "Mereka sudah berumah tangga dan ingin hidup mandiri, kita sebagai orang tua hanya perlu mendukungnya." ucapnya menggenggam tangan istrinya.
"Mas..."
"Percayalah, mereka tidak saling mengenal sebelum terikat dalam pernikahan. Berikan waktu bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain. Dengan tinggal bersama, siapa tahu benih-benih cinta akan tumbuh diantara mereka." bujuk suaminya berbisik kepada istrinya.
Nyonya Milan lalu mengalihkan pandangannya menatap ke arah Morgan dan Mai secara bergantian.
"Baiklah, mama akan setuju kalian tinggal bersama. Tapi, dengan satu syarat jangan pernah menyakiti Mai, jika kamu menyakiti Mai mama tidak akan pernah memaafkan mu lagi, ingat itu Morgan." tegas ibunya tak main-main.
Morgan dengan mantap mengiyakan ucapan ibunya. Sementara Mai tidak menyangka tuan mudanya akan mengajaknya tinggal bersama.
"Berbahagialah karena aku mengajakmu tinggal bersama." bisik Morgan tepat ditelinga Mai.
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏