Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Mengobati


__ADS_3

"Paman, kakak baik" teriak Aqil dengan senangnya sambil berlari menghampiri mereka.


Morgan dan Mai langsung mengalihkan pandangannya, raut wajahnya seketika berubah. Morgan langsung merentangkan kedua tangannya dan siap menangkap tubuh ponakannya itu.


Aqil langsung melompat ke tubuhnya dan memeluknya erat. Morgan tak kuasa menahan air matanya hingga lolos begitu saja, namun secepat kilat menghapusnya. Perasaannya begitu lega, Aqil kembali bersamanya.


Semua orang tampak terharu menyaksikan pasangan suami istri itu. Bahkan Aqila sudah bergabung bersamanya. Mereka berempat berpelukan bersama persis sebuah keluarga kecil.


Dan kebetulan Malfin dan Adelia sudah bergabung bersama mereka, Malfin dan Adelia hanya mampu tersenyum menyaksikan keakraban anak kembarnya bersama dengan Morgan dan Mai.


"Aku jadi iri, kenapa anak-anakku semakin akrab dengan kalian." ucap Malfin tersenyum tipis melihat keakraban mereka.


Bersamaan itu, mereka kompak melepaskan pelukannya. Aqil dan Aqila yang mendengar suara ayahnya kompak memanggilnya. Tapi sebelum itu, Aqil dan Aqila berpamitan kepada paman dan kakak baiknya dan tak lupa bergantian mencium kedua pipi paman dan bibinya. Setelah itu, mereka berlarian menghampiri ayahnya yang sangat dirindukannya.


Sementara Morgan dan Mai hanya mampu tersenyum melihat ponakan kembarnya kembali ke pelukan orang tuanya. Mereka sama-sama merasakan perasaan lega. Sedangkan Kendrick, Dilan dan Etha ikut bahagia melihat keluarga bahagia itu.


"Bagaimana bisa kak Etha bersama Aqil?" tanya Dilan kepada saudarinya itu.


"Ya, benar yang dikatakan Dilan. Bagaimana bisa kamu bersama Aqil, sedang Aqil dibawa pergi oleh salah satu pria bertopeng." timpal Morgan sambil merangkul pundak istrinya.


Etha pun langsung menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutup-tutupinya dan tak lupa memperlihatkan alat perlindungan dirinya yang hampir setiap hari selalu berada dalam tasnya.


"Ha ha ha, aku salut kepadamu kak. Kamu memang wanita cerdik. Bisa-bisanya melawan pria itu dengan cairan cabai merah." ucap Dilan diiringi gelak tawa.


Morgan dan Mai ikut tersenyum mendengar penuturan Etha. Begitu halnya dengan Kendrick yang tampak tersenyum tipis dan Maureen diam-diam sudah kabur dengan cara mengelabuinya pura-pura meminta izin ke toilet.


"Mau bagaimana lagi, jika ada orang yang berbuat macam-macam kepadaku, langsung saja aku semprotkan cairan ampuh ini." ucap Etha percaya diri sambil memperlihatkan botol yang menyerupai sebuah parfum dan didalamnya terdapat cairan cabai merah yang selalu digunakan sebagai alat perlindungan diri dari para penjahat.


"Terima kasih Etha, Ken, Dilan, kalian semua sudah membantuku." ucap Morgan.


"Ya sama-sama." timpal Etha. Dilan hanya mampu menepuk pundaknya dan Kendrick menanggapi ucapannya dengan anggukan kepala.


"Papa.. Mama, ayo kita pulang." ucap Aqila antusias yang sudah tidak sabaran untuk pulang ke rumahnya.


"Tunggu sebentar sayang, kami mau ucapin terima kasih dulu kepada paman dan bibi kamu." ucap Adelia sambil memperbaiki posisi hijab putrinya. Aqil dan Aqila tampak kompak mengangguk menyetujui ucapan ibunya.


"Terima kasih sudah menjaga anak-anakku." ucap Adelia kepada Mai dan Morgan.


"Sama-sama kak, kami sangat senang mendapatkan kesempatan menjaganya." ucap Mai tersenyum, dan Morgan menggangguk menanggapi ucapan kakak iparnya.

__ADS_1


"Sebagai tanda terima kasih kami, kalian mendapatkan tiket bulan madu ke negara yang ingin kalian kunjungi." timpal Malfin tersenyum merekah yang sedang menggendong anak kembarnya.


Morgan dan Mai hanya saling diam tak menanggapi ucapan Malfin.


"Ehemm, terima saja pemberian kak Malfin. Lagian kalian masih dalam masa-masa pengantin baru." goda Dilan cengengesan.


Morgan hanya meliriknya tajam dan Dilan memang hobinya menggodanya.


"Diam berarti tandanya setuju." ucap Malfin menaikkan alisnya dan tak ingin saudaranya itu menolak pemberiannya.


Morgan menghela nafas dan dengan ragu mengangguk setuju bahwa dia menerima hadiah pemberian Malfin.


"Kalau begitu kami permisi, assalamualaikum." pamit Malfin.


Semua orang kompak menjawab salamnya.


Kemudian Malfin memasukkan anak-anaknya ke dalam mobil lalu disusul istrinya.


"Sampai jumpa Paman, bibi, kakak baik." teriak Aqila dari dalam mobil bahkan melambaikan tangannya ke arah mereka.


Setelah melihat kepergian Malfin bersama keluarga kecilnya, sekarang giliran Morgan dan Mai yang berpamitan. Kendrick, Dilan dan Etha juga bersiap-siap untuk pergi dari tempat tersebut.


Untuk pelaku penyerangan sudah diamankan oleh pihak kepolisian dan para anggota The Tiger sudah meninggalkan tempat kejadian.


Setibanya di apartemen, Mai dan Morgan berjalan ke kamarnya masing-masing untuk membersihkan diri lalu beristirahat. Sepertinya mereka akan kembali bertemu di meja makan pas jam makan malam tiba.


Di dalam kamar utama, Morgan tampak kesulitan membuka pakaiannya. Pria arogan itu berkali-kali meringis kesakitan hingga berhasil membuka seluruh pakaiannya.


Terdapat luka sayatan pada lengan kirinya, bagian dada kanannya dan juga punggungnya. Padahal saat melawan para pria bertopeng itu dia sama sekali tidak merasakan tubuhnya terluka.


Morgan menatap wajahnya di dalam cermin. Sudut bibirnya tampak lebam dengan darah masih mengering di sana. Pelipis kanannya juga tampak lebam. Seketika Morgan kembali membayangkan bagaimana dirinya di keroyok oleh sekelompok pria bertopeng.


"Aku harus cari tahu siapa dalang dibalik penyerangan ini.," ucap Morgan sambil mengepalkan tangannya. Kemudian bergegas membersihkan tubuhnya.


Lagi-lagi Morgan meringis kesakitan merasakan air dingin membasahi permukaan kulitnya yang terluka. Buru-buru Morgan menyelesaikan ritual mandinya lalu menyambar handuk, kemudian dililitkan di pinggangnya.


Morgan melangkah keluar dari kamar mandi sambil meringis kesakitan dengan luka mulai berdenyut nyeri. Langkahnya terhenti saat mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Morgan lekas membuka pintu kamarnya dan mendapati sosok wanita yang disukainya tengah berdiri di ambang pintu.


"Kak Morgan." ucapnya terkejut melihat raut wajah Morgan tampak pucat.

__ADS_1


"Masuklah" ucap Morgan tersenyum tipis mempersilahkannya masuk.


Mai melangkah mendekatinya, pandangan matanya tidak lepas menatap tubuh bagian atas Morgan yang tampak terluka.


"Kak..." ucap Mai dengan mata berkaca-kaca melihat luka sayatan ditubuh Morgan.


"Aku baik-baik saja." ucap Morgan yang mampu membaca pikiran Mai yang sedang mengkhawatirkannya.


"Apa begitu sakit?" tanya Mai dengan dada sesak melihat tuan mudanya terluka.


Morgan menggeleng cepat menanggapi ucapannya.


"Aku akan mengobati lukamu." ucap Mai dengan mata berkaca-kaca, raut wajahnya menunjukkan kekhwatiran.


"Percayalah, aku baik-baik saja." Morgan menangkup wajahnya guna untuk meyakinkannya.


"Mari ku bantu." Mai langsung merangkul pinggangnya lalu menuntunnya berjalan.


Morgan dibuat terpaku dengan sikap Mai yang begitu peduli kepadanya. Morgan terus menunduk menatap Mai dengan tatapan berbeda hingga tubuhnya berhasil didudukkan di sofa.


Mai bergegas membuka laci nakas untuk mencari kotak obat P3K didalamnya. Setelah berhasil menemukannya, Mai menghampiri Morgan.


Mai dengan hati-hati mengobati luka ditubuh Morgan. Tampak Morgan terus menatap lekat-lekat wajah Mai hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.


Walaupun ia berkali-kali meringis kesakitan sambil mencengkram kuat sandaran sofa, namun dia begitu senang Mai lah yang mengobati lukanya. Hingga akhirnya Mai berhasil membalut lukanya dengan kain kasa.


Morgan menghembuskan nafasnya dengan kasar dengan tatapan mata berbinar menatap wanita pujaan hatinya.


"Terima kasih Khumaira." ucapnya dengan senyum mengembang.


"Sama-sama kak, ini sudah menjadi kewajiban ku." balas Mai tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Morgan mengulurkan tangannya lalu membelai lembut wajah Mai dan terakhir menyentuh dagu Mai. Tatapan mata mereka bertemu, perlahan Morgan mendekatkan wajahnya ke wajah Mai hingga berhasil mencium bibir Mai.


"Temani aku tidur malam ini." bisik Morgan ditelinga Mai, membuat Mai terlonjat kaget hingga tersipu malu dengan rona wajah memerah.


"Baik kak." ucap Mai tersenyum merekah yang tampak malu-malu.


Morgan tergelak tawa mendengar ucapan Mai lalu mencubit gemas hidung kecil Mai. Baru kali ini dirinya sebahagia ini, inikah tandanya dia sedang jatuh cinta?

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, hadiah, komentar dan vote ya teman-teman, terima kasih 🙏


__ADS_2