Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Hilang


__ADS_3

Morgan mengerjapkan matanya dan terlihat linglung memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dia terkejut bukan main melihat kursi santai yang ditempatinya bersama Mai dan sudah tak ada siapapun selain dirinya sendiri di kursi tersebut.


"Kemana perginya Khumaira?." tanya Morgan pada dirinya sendiri dan tampak bingung tak melihat keberadaan istrinya. Dia pun jadi khawatir sambil mengedarkan pandangannya melihat disekelilingnya mencari keberadaan Mai.


Morgan mengusap rambutnya kasar menatap kursi santai yang ditempatinya bersama Mai. Meja lipat yang tadi tersedia makanan dan minuman sudah tidak ada di samping kursinya. Kemana semua itu?.


"Astaga, bagaimana bisa aku ketiduran di kursi ini. Tadi kan kami makan bersama, setelah itu kami mengobrol lalu aku mengungkapkan perasaanku kepada Khumaira. Hingga aku tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya. Lantas, mengapa hanya aku seorang di sini, kemana perginya Khumaira? tidak mungkin Khumaira meninggalkan ku seorang diri disini" ucap Morgan bermonolog.


Tidak mungkin jika Mai meninggalkannya seorang diri. Wanita berhijab itu memiliki sifat kepedulian yang teramat tinggi. Dia merasa ada yang tidak beres. Tanpa basa-basi Morgan segera berlari menuju resort hotel.


"Dimana istriku?" tanya Morgan pada pak satpam yang bertugas menjaga resort hotel tersebut sambil mencengkram kuat kerah baju pak satpam.


"Saya tidak tahu tuan." ucap pak Satpam dengan pandangan tertunduk, karena memang dia tidak tahu istri tuan mudanya.


Morgan melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju pak satpam dengan raut wajah teramat kesal. Kembali Morgan berlari masuk ke resort hotel. Morgan berpapasan dengan Manager di lobi hotel, lagi-lagi Morgan melakukan hal yang sama dengan pertanyaan yang sama pula menanyakan keberadaan istrinya.


"Sa-saya tidak tahu tuan Morgan. Bukankah....dari tadi Anda bersama dengan nona Khumaira." ucap pak Manager terbata-bata dengan tubuh gemetar ketakutan.


Morgan berdengus kesal mendengar jawaban dari Manager hotel. Tatapannya begitu tajam menatap pria paruh baya itu.


Tiga karyawan hotel terkejut melihat managernya sedang dalam cengkeraman tangan anak pemilik dari resort hotel tersebut.


"Siapa yang melihat istriku?" teriak Morgan dengan suara meninggi sambil menatap satu persatu karyawan hotel.


Ketiga karyawan hotel terlihat ketakutan hanya melihat sorot mata tajam dari Morgan. Tak ada satupun dari mereka yang menimpali ucapan Morgan, karena mereka memang tidak melihat keberadaan Mai.


Ketiga karyawan hotel begitu kompak langsung membungkuk hormat di hadapan Morgan.

__ADS_1


"Kami benar-benar tidak tahu keberadaan Nona, tuan." ucap Mereka dengan kompaknya dan terlihat ketakutan melihat kemarahan tuan mudanya.


"Cepat cari istriku! apa kalian cuma tinggal berdiam diri sambil menikmati gaji buta hah!" bentak Morgan dengan penuh amarah sambil melepaskan cengkraman tangannya dan kembali mendorong Manager hotel untuk segera pergi dari hadapannya.


"Ba-baik tuan." Seketika mereka semua bubar dan langsung berpencar mencari keberadaan Mai.


Sementara Morgan memilih melangkah menuju kamar yang ditempati menginap bersama Mai. Pikiran Morgan sudah kacau karena tidak melihat keberadaan istrinya. Sungguh dia takut kehilangan wanita yang dicintainya.


Morgan mengusap wajahnya kasar melihat kamarnya kosong tanpa adanya tanda-tanda akan keberadaan Mai di kamar tersebut.


"Aaaaaaa!!!"


Morgan berteriak keras meluapkan perasaannya yang gusar. Mengapa semua ini terjadi padanya, mengapa istrinya menghilang? padahal beberapa saat yang lalu dia sudah merasakan kebahagiaan yang luar biasa, mengapa sekarang Tuhan kembali mengujinya.


Dengan marah Morgan menjatuhkan benda di atas nakas, tidak hanya itu dia pun meninju dinding berulang kali hingga punggung tangannya berdarah.


Morgan ingin mengabaikan panggilan masuk tersebut, namun tak jadi, dia urungkan niatnya itu. Jangan sampai hal penting yang ingin disampaikan oleh saudaranya. Tanpa basa-basi Morgan mengangkat panggilan masuk dari saudaranya.


"Halo."


"Kamu harus segera pulang hari ini, karena Maura sudah kembali, dia sangat membutuhkanmu. Apapun alasanmu kamu harus pulang. Mengenai bulan madu mu hentikan dulu, lain kali saja kamu lanjutkan karena sekarang masalahnya begitu genting. Niko yang akan datang menjemputmu menggunakan helikopter" ucap Malfin di ujung telepon dan tidak ingin dibantah.


Morgan mengepalkan tangannya mendengar ucapan saudaranya.


"Aku tidak akan pulang!" bentak Morgan di ujung telepon. "Sudah kukatakan, aku tidak ingin lagi bertemu dengan wanita itu. Asal kamu tahu, istriku jauh lebih penting dari segalanya. Tapi sekarang istriku hilang, aku sama sekali tidak tahu keberadaannya." ucap Morgan dengan mata memerah yang sudah frustasi tidak melihat keberadaan istrinya.


"Maura menjalani perawatan di rumah sakit, dia mengidap penyakit ganas, kemungkinan sisa hidupnya tidak akan lama lagi. Keinginannya hanya satu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dia ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf, jadi pikirkan baik-baik. Dan mengenai istrimu aku akan mengerahkan anggota The Tiger untuk mencari keberadaannya." jelas Malfin panjang lebar.

__ADS_1


Morgan terkejut bukan main mendengar ucapan Malfin yang mengatakan bahwa Maura mengidap penyakit ganas dan sisa hidupnya tidak akan lama lagi.


Morgan terdiam sejenak, seolah masalah kembali datang menghampirinya. Namun dia sudah tidak ingin lagi berurusan dengan Maura, namun hati kecilnya merasa iba dengan kondisi wanita itu.


"Tentukan pilihan mu sekarang, mana yang akan kamu pilih Maura atau Khumaira." ucap Malfin dingin yang menyeringai di ujung telepon.


Morgan menghela nafas berat. Apa-apaan saudaranya itu melakukan pilihan kepadanya. Morgan memejamkan matanya, seketika bayangan istrinya yang tersenyum kepadanya terlintas dipikirannya.


"Aku tidak akan pernah kembali kepada masa laluku, karena masa depanku yang sedang menanti ku. Aku mencintai masa depanku, apapun akan kulakukan untuknya. Kakak, Kamu pasti bisa menebak pilihanku. Jadi, jangan pernah mencampuri urusan pribadiku." tegas Morgan sambil mengepalkan tangannya, lalu mematikan panggilan teleponnya secara sepihak dan sudah menjadi kebiasaannya itu.


Sementara Malfin tersenyum tipis sambil menggeleng pelan mendengar ucapan adiknya.


"Ternyata kamu sudah dewasa. Aku tidak menyangka, kamu sudah bijak menyikapi masalah yang sedang kamu hadapi." gumam Malfin tersenyum tipis.


Sementara Morgan menjambak rambutnya dengan kasar, dia mengkhawatirkan kondisi istrinya saat ini. Siapakah yang sudah berani bermain-main dengannya sampai menggunakan cara kotor untuk menculik istrinya.


Morgan pun teringat dengan makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Dia yakin makanan dan minuman itu tidak beres karena membuatnya tertidur cukup lama hingga tak menyadari lagi apa yang terjadi selanjutnya hingga tak melihat lagi keberadaan istrinya.


Morgan mengedarkan pandangannya hingga tak sengaja melihat gulungan kertas di bawah meja. Morgan berjongkok mengambilnya kemudian segera membukanya.


Mata Morgan membulat sempurna melihat isi dari gulungan kertas tersebut yang berupa ancaman baginya.


'Jika kamu ingin wanitamu selamat, datanglah seorang diri di dermaga Singh sebelum matahari terbenam.'


Morgan langsung meremas kertas tersebut lalu melemparkannya dengan kesal. Morgan segera memakai jaketnya lalu melangkah tergesa-gesa meninggalkan kamarnya.


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏

__ADS_1


Maaf baru update 🙏


__ADS_2