
"Aku terlalu terbawa suasana acara makan malam tadi dan tak sengaja mencium mu." ucap Morgan jujur lalu menggenggam tangan Mai.
Hal itu membuat Mai menjadi sedikit tenang dan lebih nyaman dengan sentuhan tangan Morgan. Tubuhnya tak lagi bergetar. Mai menjadi serba salah, apakah dia membuat tuan mudanya cemburu mengingat bagaimana caranya bercengkrama dengan kerabat terdekatnya, pikirnya.
"Kenapa? apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanya Morgan karena Mai tak menggubris ucapannya.
Mai tersenyum manis memperlihatkan gigi ratanya. Sontak membuat Morgan terpaku melihat senyumannya dan secara mendadak hasratnya merasuki tubuhnya.
Deg
Ini gila!
Lagi-lagi Morgan menelan saliva nya dengan kasar. Hasratnya sudah mendominasi seluruh tubuh dan pikirannya.
"Tidak sama sekali." elak Mai mencoba terlihat biasa-biasa saja. Padahal ia masih takut dan gugup setengah mati, ditambah jantungnya tak berhenti berdegup kencang di dalam sana.
Ini menjadi pengalaman pertama baginya, dimana ciuman pertamanya di berikan oleh orang yang tepat yakni suaminya sendiri. Walaupun sampai sekarang dirinya masih enggan diakui sebagai istri dari tuan Morgan. Namun, Mai akan siap melayani tuan mudanya itu jika meminta haknya sebagai suami.
"Baguslah. Perlu kamu ingat, karena pujian dalam keluargaku memang ditujukan untuk orang lain termasuk dirimu." ucap Morgan menyeringai tipis.
"Kamu tahu, bagaimana rasanya menjadi anak bungsu, semuanya harus sesuai dengan harapan dan keinginan kedua orang tuaku. Aku dituntut harus menjadi kebanggan nya, menjadi kesayangan dan menjadi patuh dengan segala ucapannya." ucapnya tersenyum dan Mai tertegun mendengar ucapannya.
Morgan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Mai dan tertantang untuk menciumnya lagi, mengigat dirinya sama sekali tidak mendapatkan kemarahan dari pelayan itu.
Sedangkan Mai yang kembali akan mendapatkan serangan mendadak hanya bisa pasrah dan siap menerima segalanya. Jika malam ini menjadi malam baginya untuk melayani sang suami, maka Mai akan siap lahir batin serta ikhlas menyerahkan mahkota yang dijaganya selama ini.
Tidak menutup kemungkinan jika hal itu terjadi. Karena melihat tatapan mata Morgan begitu memujanya dan ingin mendapatkan dirinya malam ini juga.
Mereka masih saling tatap-tatapan dan entah dorongan nalurinya, Morgan kembali memajukan wajahnya lebih dekat sembari memiringkan kepalanya. Kembali Mai terkejut dengan mata membola sempurna.
__ADS_1
Morgan tersenyum tipis melihat raut wajah Mai tampak imut yang sedang pasang badan, namun masih saja dilanda perasaan takut dan gugup. Tanpa menunggu lama Morgan kembali mencium bibir Mai bahkan kedua tangannya menangkup wajah Mai untuk memperdalam ciumannya.
Morgan mencium bibir Mai dengan lembut dan meresapinya dengan penuh perasaan yang entah perasaan seperti apa, yang jelas dia tidak tahu.
Seperti inikah rasanya bibir manis yang masih suci? Morgan bermonolog di hati kecilnya. Dia hanya menciumnya, akan tetapi pelayan itu sudah ketakutan setengah mati dengan tubuh gemetaran.
Ingin rasanya Morgan tergelak tawa akan aksinya yang sudah diluar batas, sampai-sampai membuat gadis mungil yang disanjung nya sebagai matahari itu tak bisa berkutik hanya karena menciumnya.
Sementara Mai hanya mampu memejamkan matanya saat bibir Morgan mengulum bibirnya dan mellumat nya dalam-dalam tak ada hentinya.
Mai ingin menolak semua itu, tapi tubuhnya ikut merespons dengan baik segala sentuhan dari Morgan yang sedang menjamahnya. Tidak hanya itu, tubuhnya sudah terpojok di ujung sofa akibat ulah dari tuan mudanya yang sedang menguasai dirinya.
"Emmppp.." lenguhan keluar dari bibir mereka disela-sela ciumannya.
Merasa lawannya sudah tampak ngos-ngosan. Morgan memilih menghentikan ciumannya, apalagi seluruh tubuhnya sudah merespon untuk melakukan hal lebih daripada itu. Sedangkan tubuh Mai kembali gemetar tapi tidak seperti sebelumnya.
"Dan ciuman barusan memang sengaja aku lakukan untukmu." ucap Morgan dengan deru nafas ngos-ngosan sambil menatap manik mata Mai.
"Aku ingin kita berteman baik." ucap Morgan sambil menyentuh dagu Mai.
"Bagaimana? kamu setuju kan menjadi teman baikku?" Mai mengangguk sebagai jawabannya.
Morgan tersenyum tipis sembari bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang terasa panas akibat aksinya barusan.
Hampir saja aku melakukannya. Batin Morgan menyentuh tengkuknya, yang sedang menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ya dia akui sudah gelap mata untuk menyentuh Mai, tapi untungnya akal dan pikirannya masih dalam tahap sadar hingga tidak melanjutkan aksinya.
Sementara Mai tak bergeming di tempatnya. Penampilannya sedikit berantakan dengan posisi hijab miring ke kiri akibat ulah dari Morgan.
__ADS_1
Mai menyentuh dadanya sejenak. Wajahnya semakin merona saja, Mai menarik senyuman tipis disudut bibirnya. Jemari tangannya kembali terangkat untuk meraba-raba bibirnya yang baru saja dicium oleh tuan mudanya. Seketika hatinya terasa berbunga-bunga, namun seketika hilang sekejap saat Mai menyadari bagaimana posisinya yang sesungguhnya.
'Seorang pelayan'
'Pengantin pengganti'
Itulah kata-kata yang merasuki pikirannya. Mai mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dadanya menjadi sesak jika teringat kembali bagaimana dirinya direndahkan diawal-awal saat baru saja menjadi bagian dari anggota keluarga konglomerat tersebut.
Mai menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian bangkit dari duduknya. Mai bertekad untuk tidak menyangkut pautkan perasaannya ataupun berharap banyak kepada tuan mudanya. Ia harus membuang jauh-jauh perasaan yang mulai muncul mengisi hatinya.
Ya benar yang dikatakan oleh tuan mudanya, mereka hanya perlu berteman baik tidak lebih daripada itu.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain....
Terlihat seorang wanita terbaring di atas tempat tidur pasien yang berbalut kain perban di kepalanya dan juga di pergelangan tangannya. Tidak hanya itu, banyaknya alat-alat medis yang menempel di tubuhnya yang sepertinya sebagai alat bantu untuk membuatnya bertahan hidup.
Sementara itu tampak seorang pria tengah duduk di kursi tepat di samping tempat tidur dan sedang menatap wanita itu dengan perasaan iba dan juga sedih.
"Kapan dia akan terbangun Sam?" tanyanya pada Pria berjas putih yang juga berdiri disebelahnya.
"Saya tidak bisa memastikannya tuan, ini sudah menjadi minggu kelima wanita ini masih dalam kondisi koma pasca menjalani operasi. Jangan pernah berhenti mendoakannya. Kita hanya perlu menunggu keajaiban dari Tuhan." ucap Pria berjas putih itu yang diyakini seorang dokter.
"Ya, aku masih tidak menyangka dia masih bisa bertahan hidup, mengingat seperti apa kondisinya pasca mengalami kecelakaan tragis." ucapnya menghela nafas berat memandangi wajah wanita yang terbaring lemah itu.
"Terus kabari aku tentang kondisinya. Aku harus kembali ke rumah utama." ucapnya melirik jam dipergelangan tangannya lalu bangkit berdiri.
"Baik tuan."
__ADS_1
Kemudian menepuk bahu pria berjas putih itu setelah mendengar jawabannya dan melenggang pergi meninggalkan ruangan yang bernuansa putih itu.