
"Khumaira." ucapnya sekali lagi dengan tatapan mata sendu. Dia tidak menyangka istrinya berada di hadapannya saat ini.
Tanpa basa-basi Khumaira langsung berhambur memeluk tubuh Morgan. Morgan pun langsung membalas pelukannya dengan erat sambil mengangkat tubuh Mai. Senyuman terukir di sudut bibir Morgan, akhirnya dia bertemu kembali dengan istrinya.
"Aku merindukanmu kak," lirih Mai dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya begitu bahagia bisa bertemu kembali dengan Morgan, sosok yang dirindukannya.
"Aku juga sangat merindukanmu sayang." balas Morgan dengan senyuman merekah. Morgan benar-benar merasakan perasaan lega. Dia pun tak henti-hentinya mencium puncak kepala istrinya saking bahagianya.
Cukup lama mereka berpelukan, Mai yang tadinya ingin ke dapur untuk mengambil air minum sudah melupakan tujuannya.
"Sayang, bagaimana bisa kamu berada di rumah Mama?" tanya Morgan tanpa melepaskan pelukannya dan seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Tiba-tiba Mai menghilang dan dia sudah tidak memiliki arah tujuan untuk mencarinya kemana. Namun, anehnya dia mendapati istrinya berada di kediaman orang tuanya. Apakah istrinya memang baru ditemukan atau memang istrinya sengaja disembunyikan di kediaman orang tuanya?.
"Eeeh...ceritanya panjang. Aku tidak tau jelaskannya dari mana, yang jelas aku sangat senang kamu kembali." ucap Mai tersenyum, memang dirinya juga bingung harus menjelaskannya dari mana.
Karena liburan sudah berakhir, dirinya pun hanya mampu mengikuti kakak iparnya yang memutuskan ingin mengunjungi orang tuanya di negara B. Makanya dirinya pun berada di kediaman mertuanya sembari menunggu Morgan datang menjemputnya.
Morgan melepaskan pelukannya lalu menatap dalam manik mata istrinya.
"Khumaira, berhari-hari aku mencarimu di setiap daerah, aku seperti orang bodoh kehilangan dirimu. Aku sangat tersiksa dan begitu mengkhawatirkan mu setiap hari. Setiap saat aku selalu kepikiran dirimu. Aku...merasa lalai dalam menjagamu, dan aku akan semakin menyesal jika kamu terluka. Sungguh, aku takut kehilangan dirimu, dan sekarang aku merasa lega akhirnya kamu kembali, istriku." ucap Morgan dengan mata berkaca-kaca diselimuti perasaan haru, bahagia bercampur menjadi satu.
Mai tersenyum manis lalu menangkup wajah Morgan dengan penuh kasih. "Mendengar ucapan kak Morgan, aku pun mengalami perasaan yang sama seperti dirimu, kak. Aku sangat mengkhawatirkanmu, setiap saat aku selalu kepikiran dirimu dan sangat.... sangat merindukanmu." ucap Mai tersenyum sambil mengelus pipi mulus Morgan.
"Bolehkah aku memelukmu kembali?" Mai tersenyum merekah mengatakannya.
Morgan terkekeh kecil mendengar ucapan Mai. Tanpa basa-basi Morgan langsung menarik tubuh Mai dalam pelukannya. Mai langsung membalas pelukannya dengan erat.
"Bolehkah aku mencium seluruh wajahmu sampai puas?" tanya Morgan dengan suara menggoda.
"Tidak boleh, kak Morgan tidak boleh melakukannya disini. Kalau di kamar aku masih memberimu kesempatan." pinta Mai senyum-senyum sendiri.
"Kalau begitu, ayo kita ke kamar. Karena aku ingin melakukannya di kamar." bisik Morgan.
Mai melonggarkan pelukannya sambil mendongak menatap wajah Morgan.
"Emm tunggu sebentar, kak. Sebenarnya aku haus dan mau minum dulu." ucap Mai kikuk dan merasa malu dengan ucapannya sendiri.
"Ya sudah, sekalian siapkan makan malam untukku. Aku sangat lapar, seharian ini aku belum juga makan." ucap Morgan dengan tatapan hangatnya sambil mengelus puncak kepala Mai.
__ADS_1
"Baik kak. Maaf, sudah membuatmu seperti ini." ucap Mai sambil mengelus punggung Morgan dan merasa kasian kepada Morgan.
"Tidak apa-apa, ini salah satu ujian cinta kita. Dan sekarang kita kembali bersama." ucap Morgan tersenyum lalu mendaratkan ciuman di kening Mai.
"Aku ke kamar dulu." Morgan melepaskan pelukannya dan hanya anggukan kepala yang dilakukan oleh Mai.
Morgan berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia harus mandi terlebih dahulu, tubuhnya begitu lengket seharian penuh mencari Mai di setiap tempat.
Kekuatan dan semangatnya kembali pulih. Sosok kebahagiaannya kembali bersamanya, Morgan tidak ingin kehilangan wanita yang dicintainya itu. Cukup sekali dirinya kehilangan wanitanya, dia tidak akan pernah hal itu terulang kembali.
Morgan melangkah masuk ke kamar mandi dan langsung menanggalkan seluruh pakaiannya. Morgan begitu rileks merasakan guyuran air dari shower membasahi seluruh tubuhnya.
Hanya beberapa menit, Morgan menyelesaikan ritual mandinya. Morgan tak ingin berlama-lama di kamar mandi. Morgan menyambar handuknya lalu dililitkan di pinggangnya. Setelah itu, Morgan keluar dari kamar mandi dan melangkah ke ruang ganti untuk mengenakan pakaiannya.
Kini Morgan terlihat rapi plus tampan dengan pakaian santainya. Morgan senyum-senyum sendiri sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil. Aksinya dia hentikan saat mendengar perutnya berbunyi yang sudah keroncongan.
Morgan melempar handuknya di sembarang tempat, lalu melangkah keluar dari kamar untuk menemui Mai di ruang makan.
Tampak Morgan mengendap-endap menghampiri Mai yang terlihat sibuk menghidangkan makanan di atas meja. Morgan ingin mengelabui Mai, namun aroma maskulin dari tubuhnya membuat Mai menyadari keberadaannya.
Aroma maskulin dari tubuhnya langsung menghunus indera penciuman Mai dan Mai sangat menyukainya. Mai masih saja sibuk dan berpura-pura cuek tidak menyadari keberadaan Morgan.
"Haaappp." Morgan langsung mendekap tubuh Mai dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di perut Mai.
"Aku hanya ingin terus memelukku."
"Iya baiklah, lakukan sepuasnya." ucap Mai dengan senyuman tak pernah pudar di wajahnya.
Mereka tertawa kecil, dimana posisi Morgan masih setia memeluk tubuh Mai. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang memperhatikan mereka.
"Sudah selesai, sekarang Kak Morgan harus makan." ucap Mai sambil melepaskan tangan Morgan yang masih melingkar di perutnya.
"Baiklah." ucap Morgan lalu melepaskan pelukannya. Kemudian Morgan menarik kursi untuk Mai dan juga untuk dia duduki.
"Duduklah, temani aku makan."
"Aku masih kenyang kak," tolak Mai sambil menggeleng.
"Kalau begitu tugasmu suapi aku." ucap Morgan menyeringai tipis dan ucapannya tidak ingin dibantah.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Mai langsung mengambil sendok lalu menyuapi Morgan. Tampak Morgan begitu lahap menyantap makanannya dan begitu bahagia menikmati kebersamaannya dengan sang istri.
"Alhamdulillah." ucap Morgan penuh syukur yang baru saja selesai makan.
Morgan bangkit dari duduknya, sedangkan Mai bergerak cepat untuk membersihkan meja makan dan peralatan makan yang habis digunakan oleh Morgan.
"Tinggalkan saja, biar pelayan yang membereskannya." ucap Morgan menatap istrinya yang sedang mencuci piring.
"Tidak bisa, kasian mereka sudah pada tidur. Lagian ini tidak akan lama." ucap Mai tersenyum. Dan benar saja, tidak membutuhkan lama Mai sudah selesai membersihkan piring kotor.
Sementara Morgan masih bersandar di meja pantry sembari menatap gerak gerik istrinya.
"Sudah selesai." tanyanya kepada Mai.
Mai hanya mampu menggangguk sambil mendekat ke arahnya.
"Kalau begitu, kita kembali ke kamar." ucap Morgan tak ingin dibantah.
"Iya...kak." ucap Mai tersenyum lalu menarik tangan Morgan, namun kekuatan Mai tak mampu membuat tubuh Morgan beranjak dari tempatnya.
Sekuat tenaga Mai mencoba menarik tangan Morgan untuk mengikuti langkahnya, namun sayangnya kekuatannya tak sebanding karena malah tubuhnya yang ketarik.
"Kak..." Mai terkejut saat tubuhnya membentur dada bidang Morgan.
"Kenapa?" Morgan menyeringai dengan tatapan mata sendu. Perlahan Morgan mendekatkan wajahnya ke wajah Mai. Membuat Mai menjadi gugup setengah mati dan langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Ayo kita ke kamar." Ucap Mai gugup dan memilih berjalan lebih dulu meninggalkan Morgan.
Sementara Morgan tak menggubris ucapan Mai, karena baru saja dirinya mendapatkan penolakan dari Mai. Saat melihat Mai sudah menjauh dari pandangannya, Morgan melangkah cepat menyusul Mai dan tanpa basa-basi Morgan langsung mengangkat tubuh Mai dan menggendongnya layaknya anak kecil.
"Turunkan aku, kak." bisik Mai takutnya membangunkan anggota keluarga lainnya.
"Tidak!" balas Morgan dan terus mempercepat langkahnya menuju kamarnya. Mai hanya mampu diam dan tak melakukan aksi protes lagi.
Morgan membuka pintu kamarnya lalu membawa Mai masuk ke dalam kamar, kakinya digunakan untuk menutup kembali pintu kamarnya, hingga pintu kamarnya tertutup rapat. Kemudian Morgan dengan hati-hati menurunkan Mai di atas tempat tidur.
Morgan menatap Mai dengan penuh damba lalu duduk di pinggir tempat tidur. Tangannya mulai bergerak mengelus pipi mulus Mai.
"Aku ingin melakukannya, bolehkah?" tanya Morgan.
__ADS_1
Mai hanya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan ambigu dari Morgan. Dia sama sekali tidak ngeh, apa maksud dari pertanyaan Morgan.
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗