
Suara adzan subuh berkumandang, perlahan Mai menggeliat sambil mengerjapkan mata indahnya. Anehnya Mai merasakan sebuah tangan kekar melingkar di perutnya.
Padahal semalam posisinya hanya memeluk guling, dengan posisi mereka berjauhan dan tidak ada aksi berpelukan. Mengapa sekarang tuan mudanya memeluknya, pikirnya.
Mai mengubah posisinya menghadap ke arah sang empunya. Perlahan tangannya bergerak mengelus pipi mulus Morgan hingga mampu membangunkan Morgan karena aksinya itu.
Mai terkejut dan segera menghentikan aksinya itu. Akhir-akhir ini dia sudah tidak canggung lagi menyentuh Morgan. Karena sikap Morgan yang begitu baik kepadanya membuatnya ingin selalu berada di samping pria itu.
"Sudah subuh kak." ucap Mai dan dengan hati-hati memindahkan tangan Morgan dari perutnya.
Morgan mengerjapkan matanya yang masih dalam proses mengumpulkan kesadarannya kembali. Mendengar ucapan Mai, Morgan hanya mampu diam dengan pandangan tertunduk menatap wajah Mai sembari melepaskan pelukannya. Lalu Morgan mengubah posisinya menjadi terlentang.
"Hemm. Tolong siapkan peralatan sholat ku. Aku ingin kita sholat bersama." ucap Morgan dengan suara seraknya yang baru bangun tidur.
"Baik kak." ucap Mai lalu bergerak turun dari tempat tidur.
Kini Mai dan Morgan sholat bersama, dimana Morgan yang menjadi imam sholatnya. Setelah selesai sholat bersama, terlihat Morgan termenung di atas sajadahnya dan belum beranjak. Sementara Mai sudah keluar dari kamar tersebut untuk melakukan rutinitasnya di pagi hari membuat sarapan.
Morgan menghela nafas berat lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Semalaman dia susah tidur karena memikirkan ucapan Mai, bahkan umur Mai mengganggu pikirannya.
"Apa perlu aku menanyakan hal ini kepada Papa.?" gumam Morgan bertanya pada dirinya sendiri yang mulai bingung. Pasalnya dari semalam ucapan Mai mengganggu pikirannya. Jika dirinya mendapatkan masalah pasti larinya curhat ke ayahnya.
"Aah tidak, aku tidak ingin masalah rumah tanggaku di ketahui oleh Papa." ucap Morgan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bisa berabe jadinya jika melibatkan ayahnya dalam urusan rumah tangganya.
"Biarlah seperti ini, aku harus pandai-pandai bersabar menghadapinya."
Morgan bangkit berdiri lalu merapikan peralatan sholatnya kemudian menyimpannya kembali di tempatnya semula.
Karena masih pagi, Morgan memutuskan untuk berolahraga di ruang olahraganya sebelum berangkat kerja. Sedangkan Mai sibuk dengan urusan dapur.
*
*
__ADS_1
*
Seminggu kemudian.....
Baik Mai maupun Morgan kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Mai kembali aktif mengikuti kelas memasak, sedangkan Morgan sibuk bekerja di perusahaannya.
Seperti hari biasanya, Morgan selalu disibukkan dengan pekerjaannya. Terlihat Morgan sibuk berkutat dengan laptopnya. Tangannya terus berselancar di papan keyboardnya memindai berkas penting di atas meja kerjanya.
Morgan menghela nafas ketika ponselnya terus berdering, hal itu membuatnya menghentikan pekerjaannya. Morgan mengerutkan keningnya melihat panggilan masuk dari Malfin. Tanpa basa-basi Morgan langsung menjawab panggilan masuk dari saudaranya itu.
"Ya halo." ucapnya ketus di ujung telepon.
"Kapan kamu akan berbulan madu? ini sudah lewat dari seminggu. Apa kamu ingin tiket bulan madu mu hangus begitu saja hah!" ucap Malfin memakinya di ujung telepon.
"Aku tidak ingin membuang-buang waktu ku hanya urusan begituan." geram Morgan.
"Urusan begituan bagaimana ? jelas-jelas disini aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk berduaan dengan istrimu." tegas Malfin di ujung telepon.
"Heh, setiap hari aku berduaan dengan istriku. Jadi jangan mendesakku untuk berbulan madu. Cukup berbulan madu di apartemen saja kami sangat puas." ucap Morgan marah dan langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Jadi bagaimana tuan?." ucap orang kepercayaannya yang bernama Niko sekaligus sekretarisnya.
"Mau bagaimana lagi, hari ini adalah hari kepulangan Maura. Sesuai jadwal keberangkatannya, Maura kembali ke negara A tepatnya hari ini. Cepat atau lambat Morgan akan bertemu kembali dengan Maura." ucap Malfin menghembuskan nafasnya kasar sambil bersandar di kursi kebesarannya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya jika Morgan kembali bertemu dengan Maura, sosok wanita yang hilang jejak ketika mendekati hari pernikahan mereka. Malfin terlihat cemas memikirkan hal itu.
Sampai detik ini Morgan terus mengerahkan anggota The Tiger untuk mencari keberadaan Maura, namun Malfin memilih turun tangan untuk menghandle mereka agar tak lagi mencari keberadaan Maura. Karena Malfin sudah mengetahui keberadaan Maura dari orang kepercayaannya, sebelum melakukan perjalanan bisnis.
Maka dari itu dia menjadi khawatir akan hubungan Mai dan Morgan, jika wanita masa lalu Morgan kembali memasuki kehidupan rumah tangga mereka.
"Niko, tidak ada cara lain. Tugasmu, jalankan rencana yang sudah ku buat tempo hari. Aku ingin melihat bagaimana keseriusan Morgan terhadap wanita yang dinikahinya. Apakah dia benar-benar mencintainya atau tidak." ucap Malfin serius.
"Baik tuan." ucap Niko sembari membungkuk hormat. Kemudian pamit undur diri dari hadapan atasannya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁
Di bandara...
Terlihat dua sosok pria bertubuh kekar berjalan beriringan keluar dari bandara. Keduanya memakai kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Kemudian disusul oleh wanita yang menggunakan kursi roda dan tengah dibantu oleh pria berkacamata yang senantiasa mendorong kursi rodanya.
"Apa kamu baik-baik saja nona Maura." tanya pria berkacamata itu untuk memastikan kondisi wanita yang menempati kursi roda.
"Iya dok, aku baik-baik saja." balas wanita itu dengan raut wajah tampak pucat dan terlihat lelah.
Maklum dia baru saja melakukan perjalanan jauh yang memakan waktu berjam-jam lamanya. Untungnya tubuhnya tak mengalami drop sepanjang perjalanan melalui jalur udara dan akhirnya ia pun tiba di negara tempat dimana ia bertemu dengan pria yang dicintainya.
"Hei kalian, aku sudah menyiapkan mobil beserta supir yang bisa membawa kalian pergi. Hubungi aku jika kalian mendapat masalah, aku akan langsung ke hotel." ucap Pria berkacamata hitam itu.
"Terima kasih Alfhat, aku jadi merepotkanmu." ucap wanita yang berkursi roda.
"Santai saja, bersenang-senanglah di negara ini." ucapnya tersenyum sinis.
"Ya, sekali lagi terima kasih."
Pria itu hanya mengidihkan bahunya lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya, dimana orang kepercayaannya membungkuk hormat di samping mobilnya, lalu bergerak cepat menutup pintu mobilnya. Kemudian orang kepercayaannya bergegas masuk ke dalam mobil untuk mengemudikan mobilnya.
Sementara pria berkacamata itu bergerak membantu wanita berkursi roda masuk ke dalam mobil, lalu disusul dirinya masuk ke dalam mobil hitam yang siap membawanya pergi ke suatu tempat.
"Ke rumah sakit " ucap pria berkacamata itu memberitahukan tujuannya kepada supirnya.
"Baik tuan." balasnya dengan anggukan kepala.
"Mengapa kita harus...."
"Patutlah, ini demi kebaikanmu." potong cepat pria berkacamata itu, sedang wanita berkursi roda menjadi bungkam mendengar ucapannya.
Ya mereka semua adalah, Alfhat, Maura, Dokter Samuel dan Richard yang kesemuanya baru saja tiba di bandara internasional negara A dengan menggunakan jet pribadi Alfhat.
__ADS_1
Kebetulan Alfhat ada pertemuan dengan rekan bisnisnya di negara tersebut, jadi mereka satu jurusan. Dan hari ini adalah hari kepulangan Maura ke negara A.
Jangan lupa, like, hadiahnya, komentarnya dan vote ya teman-teman .... terima kasih 🙏🤗