
Morgan dan Mai sudah bergabung di ruang tengah. Kedua tangan mereka saling menggenggam erat. Mereka duduk bersama di sofa dengan anggota keluarganya.
Sementara itu, Maura hanya mampu menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya, sedang Dokter Samuel terus mendampingi nya sambil memberikan pengertian kepada keluarga Alexander perihal kondisi Maura.
"Maaf, aku pernah mengecewakan kalian semua." ucap Maura dengan mata berkaca-kaca.
"Kami sudah memaafkan mu nak Maura. Jangan merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi, memang takdir selalu mempermainkan kita." ucap Nyonya Milan tersenyum sambil menyentuh tangan Maura laku menggenggamnya.
"Terima kasih bibi." ucap Maura dengan perasaan sesak di dada.
Nyonya Milan kemudian bergerak memeluknya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Maura layaknya seorang ibu sedang menenangkan putrinya.
Semua orang hanya mampu menatap kearah mereka, termasuk Mai dan Morgan. Mai yang melihat keakraban mereka, ikut berkaca-kaca.
Mai tidak menyangka wanita yang menggunakan kursi roda itu adalah Maura, calon pengantin suaminya dulu sebelum dirinya.
Mai merasa bingung apakah suaminya masih mencintainya. Jika itu memang terjadi haruskah dia berbagi cinta dengan wanita itu?. Apalagi kondisi Maura terlihat sangat memperhatikan dan dia merasa iba melihatnya.
Akan tetapi, Mai tidak rela... jika hal itu terjadi, dirinya tidak ingin diduakan. Sebaik-baiknya seorang pria pasti tidak akan menduakan istrinya dan sebaik-baiknya seorang wanita tidak akan mungkin rela membiarkan suaminya menikah kembali.
Walaupun itu masih terjadi sebagian orang, tapi tekanan batin, perasaan iri dan rasa tidak ikhlas pasti sering terjadi pada wanita yang dimadu. Memang mulut bisa berbohong, namun hati tidak akan pernah berbohong dan selalu memungkirinya.
Ya Allah, apa aku menjadi perusak hubungan mereka? Dan apakah kak Morgan masih mencintai mbak Maura?. Saat ini diriku ibarat duri dalam hubungan mereka, apa yang harus kulakukan sekarang. Apa perlu aku mempersatukan mereka kembali? Tapi, ini sama saja akan menyiksaku. Batin Mai.
Nyonya Milan melepaskan pelukannya dengan tatapan mata berkaca-kaca, kemudian kembali duduk di sofa.
Maura mengalihkan pandangannya ke arah Morgan yang terlihat termenung.
"Teruntuk Morgan, tolong maafkan aku. Aku tidak akan pernah tenang tanpa mendapatkan maaf darimu. Memang inilah kehendak Tuhan, kita belum ditakdirkan berjodoh. Aku sudah ikhlas dan merelakan dirimu, kuharap kamu bahagia dengan istrimu. Aku ucapkan selamat atas pernikahanmu, semoga kalian selalu bahagia hingga maut memisahkan." ucap Maura dengan mata berkaca-kaca hingga tanpa permisi air matanya menetes membasahi pipinya, dengan cepat Maura mengusapnya kasar. Dia harus tegar dan berdamai dengan perasaannya sendiri. Pria yang dicintainya sudah menjadi suami orang. Tidak seharusnya dia berharap kepada suami orang.
Sementara Morgan hanya diam membisu tanpa menimpali ucapan Maura. Sontak Mai menoleh ke arahnya sambil mengelus lengannya. Hal itu membuat Morgan tersadar dari lamunannya.
Mai menatap Morgan dengan tatapan mata sendunya lalu mengedipkan matanya meminta Morgan untuk berdamai dengan Maura. Karena tidak ada gunanya menaruh dendam kepada wanita dari masa lalu suaminya itu. Apa salahnya mengucapkan kata maaf.
Morgan menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia mampu membaca pikiran istrinya. Hanya lewat tatapan mata istrinya, dia sudah menarik kesimpulan. Sepertinya dia harus berdamai dengan Maura. Karena Maura sudah menceritakan segala hal yang terjadi pada dirinya dan Morgan merasa iba akan hal itu.
Nyonya Milan dan Tuan Fino terlihat cemas menunggu putra bungsunya buka suara. Begitu halnya dengan Adelia dan Malfin yang juga duduk bersama di sofa dengan pandangan mata tertuju ke arah Morgan.
"Aku sudah memaafkan mu." ucap Morgan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tak perlu lagi mengungkit masa lalu yang hanya bisa menorehkan luka. Memaafkannya dan berdamai dengan Maura menjadi jalan terbaik untuknya.
"Lanjutkan hidupmu, semoga kamu cepat sembuh." ucap Morgan dingin sambil merangkul pundak istrinya. Dia sudah mencintai istrinya dan begitu bahagia bersamanya.
__ADS_1
"Iya, terima kasih Morgan. Aku merasa lega." ucap Maura tersenyum sambil mengusap sudut matanya yang berair. Sungguh dirinya terharu mendengar ucapan dari Morgan.
Semua orang tersenyum dan merasa lega mendengar ucapan Morgan. Mai sendiri ikut tersenyum, akhirnya suaminya mau memaafkan Maura. Mereka kembali mengobrol bersama.
Setelah itu, Maura dan Dokter Samuel pamit pergi dan meninggalkan kediaman Alexander. Karena Maura harus kembali di bawa ke rumah sakit terdekat untuk menjalani perawatan.
*
*
*
Sementara di tempat lain.....
Kendrick baru saja sampai di tempat lokasi pernikahan Maureen. Dia mengikuti dena lokasi melalui undangan pernikahan Maureen yang dikirimkan oleh kepala Divisi bagian keuangan.
Kendrick belum juga turun dari mobil, pandangannya mulai melihat-lihat ke arah bangunan Hotel. Beberapa karangan bunga disertai kata ucapan atas pernikahan Maureen sudah berjejer di lobi hotel.
Beberapa tamu yang notabenenya adalah kolega bisnis ayah Maureen tampak berdatangan berjalan di lobi hotel.
Kendrick bergegas turun dari mobilnya lalu bergerak ke samping untuk membuka pintu mobilnya lalu mengambil kado yang baru saja dibelinya beserta kado dari atasannya.
Saat akan menutup pintu mobilnya, Kendrick dikejutkan dengan sosok wanita bergaun pengantin langsung menyelonong masuk ke dalam mobilnya.
Dengan cepat Kendrick mengambil kado tersebut dan akan menyeret paksa wanita yang tidak memiliki sopan santun masuk ke dalam mobilnya.
Saat akan membuka pintu mobilnya, tiba-tiba pintu mobilnya terkunci dari dalam.
"Sialan, hei buka pintunya. Apa-apaan ini, beraninya masuk ke dalam mobilku!" teriak Kendrick sambil menggedor-gedor pintu mobilnya yang sudah tersulut emosi.
Sementara wanita yang berada dalam mobilnya langsung menancap gas membawa mobilnya pergi. Dengan cepat Kendrick mengejarnya.
"Hei berhenti." teriak Kendrick dengan penuh amarah dengan deru nafas ngos-ngosan.
Kebetulan sekali sebuah motor melintas kearahnya dengan cepat Kendrick memberhentikan pengendara motor tersebut dengan cara mengancamnya.
Kendrick tidak habis pikir beraninya orang itu mengusiknya dengan membawa pergi kendaraannya.
"Aku pastikan tidak akan mengampuni orang itu." kesal Kendrick yang masih mengikuti laju mobilnya yang sedang dikendarai secara ugal-ugalan.
Sementara di hotel tempat diselenggarakannya acara, beberapa orang terlihat panik.
__ADS_1
"Pengantinnya kabur." teriak salah satu Bridesmaids.
"Apa!!!" Keluarga inti mempelai wanita terlonjat kaget.
*
*
*
Sore harinya Mai dan Morgan memutuskan untuk menemui ibu Mai. Segala perlengkapan sudah mereka siapkan untuk di bawa pergi. Mereka akan menginap selama tiga hari di sana.
Terlihat Mai begitu senang duduk di kursi samping kemudi, dimana mobil yang membawanya melaju kencang menuju kediamannya.
"Aku sangat merindukan ibu." ucap Mai dengan senyuman tak pernah luntur dari wajahnya.
"Apa kamu sangat senang?" tanya Morgan yang fokus mengemudikan mobilnya.
"Iya kak, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan ibu. Dan sekarang kita akan menemuinya." ucap Mai sambil menoleh ke arah Morgan.
"Hemm, aku belum pernah bertemu dengan ibumu. Setelah kami bertemu, aku akan meminta restu kepadanya karena sudah menikahimu. Walaupun sudah terlambat namun niatku ini begitu tulus" ucap Morgan tersenyum.
"Tidak apa-apa. Lagian dulu kita menikah karena keterpaksaan. Bagaimana bisa kak Morgan mau meminta restu kepada ibu, padahal dulu kak Morgan begitu membenciku. Tapi, sekarang tidak lagi." ucap Mai tersenyum dan Morgan manggut-manggut mendengar ucapannya.
Sekitar satu jam perjalanan, mobil yang membawa mereka tiba di kediaman Mai.
Morgan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Mai. Kemudian mereka bergegas turun dari mobil. Terlihat bangunan sederhana yang begitu minimalis namun tampak asri dengan banyaknya tanaman hias dan bunga-bunga bermekaran berjejer indah di pekarangan rumah.
Mai dan Morgan bergandengan tangan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, ibu....ibu aku pulang." teriak Mai ketika masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam." terdengar suara dari arah dapur.
Mai meminta Morgan untuk duduk di kursi yang tersedia di ruang tamu. Kemudian Mai melangkah menemui ibunya.
"Ibu."
"Mai anakku." ucap ibunya terkejut bahkan matanya sudah berkaca-kaca melihat kedatangan putri semata wayangnya.
"Ibu." Mai langsung berhambur memeluk ibunya, dan ibunya langsung membalas pelukannya dengan eratnya. Seketika suasana haru menyelimuti perasaan ibu dan anak itu.
__ADS_1
Morgan yang melihatnya hanya mampu tersenyum.