
Morgan dan Mai akhirnya tiba di pulau Kana tepat pukul 10 malam. Morgan segera membawa Mai masuk ke resort hotel. Pasalnya Mai sedang tidak enak badan dengan tubuh terasa lemas, kepala berdenyut nyeri di karenakan mabuk pesawat dan juga sakit perut akibat tamu bulannya. Tampak Manager dan karyawan resort hotel langsung menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang tuan dan nyonya. Mari saya akan tunjukkan kamar anda!" ucap Manager dengan ramahnya. Sementara kedua karyawan wanita mengambil alih koper yang dibawa oleh para bodyguard Morgan.
"Ya. Tunjukkan kami cepat, karena kami butuh istirahat. Dan satu lagi segera bawa makanan dan minuman hangat di kamar kami." ucap Morgan yang sedang menggendong Mai.
"Baik tuan." ucap manager itu sambil membungkuk hormat, kemudian mengikuti langkah kaki tuan Morgan.
Mai hanya mampu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Morgan. Sungguh kepalanya begitu sakit dan juga perutnya terasa membelitnya maklum dirinya sedang datang bulan. Ditambah perjalanan yang memakan waktu berjam-jam lamanya membuat tubuhnya lemas.
Pak manager langsung membukakan pintu kamar untuk Morgan beserta istrinya. Mereka adalah tamu istimewa karena merupakan anak dari pemilik resort hotel tersebut.
Sehingga kamar yang akan mereka tempati di sulap ala-ala kamar pengantin. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh pihak resort hotel karena perintah langsung dari pemilik resort hotel tersebut.
Morgan melangkah masuk dan segera membaringkan tubuh Mai di atas tempat tidur yang sudah dihiasi kelopak mawar merah. Morgan bahkan dengan penuh perhatiannya membukakan sepatu Mai, lalu menarik selimut menyelimuti tubuh Mai hingga sebatas dada, membuat Mai tak enak hati karena harusnya dirinya yang melayani tuan mudanya mengapa malah sebaliknya.
Sementara kedua karyawan wanita meletakkan koper mereka tepat di dekat pintu lalu bergegas keluar.
"Kami akan memberikan pelayanan terbaik untuk anda. Silahkan nikmati momen bulan madu anda dengan baik. Kalau begitu kami permisi tuan dan nyonya." pamit pak Manager dan tuan Morgan hanya mengangguk menanggapi ucapannya.
Kemudian Pak manager bergegas keluar dari kamar tersebut dan tak lupa menutup kembali pintu kamar. Membiarkan pasangan suami istri itu berduaan. Tak lupa pak manager itu menghubungi seseorang yang sangat dihormatinya perihal kedatangan tamu istimewanya.
Morgan duduk di pinggir tempat tidur sambil menggenggam tangan Mai. Morgan ingin terus berada di samping wanita yang dicintainya itu. Pria dua puluh delapan tahun itu begitu mengkhawatirkan kondisi wanita yang dicintainya.
"Apa masih sakit? sebaiknya aku menelepon dokter pribadiku untuk memintanya datang kemari memeriksa kondisi mu. Aku sangat khawatir kepadamu, sayang....dan aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa" ucap Morgan khawatir dengan tatapan mata sendunya.
"Sedikit mendingan, sebentar juga sakitnya hilang. Percayalah, aku baik-baik saja, kak. Tidak perlu kakak menelepon dokter pribadi kakak untuk memintanya datang kemari." ucap Mai tersenyum.
Morgan menghela nafas, lalu menatap manik mata Mai.
__ADS_1
"Kamu wanita penyelamatku dan aku tidak ingin melihatmu menderita. Aku sangat khawatir kepadamu." ucap Morgan serius lalu mencium punggung tangan Mai.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku." ucap Mai tersenyum dan Morgan hanya mampu menatapnya dengan tatapan hangatnya sambil mengelus lengan Mai.
Karena aku mencintaimu Khumaira, aku tidak tega melihatmu jatuh sakit. Aku sungguh khawatir kepadamu. Batin Morgan.
Maafkan aku kak, karena aku membuat kak Morgan khawatir. Karena aku, bulan madu kita menjadi gagal dan tak sesuai harapan kak Morgan. Batin Mai.
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar, membuyarkan lamunan keduanya. Morgan bergerak cepat untuk membuka pintu kamarnya.
"Selamat malam tuan, maaf mengganggu waktu anda." ucap karyawan wanita yang membawa troli berisi makanan dan minuman.
"Taruh saja di atas meja." ucap Morgan acuh lalu melangkah mendekati tempat tidur.
Karyawan itu bergerak menghidangkan makanan dan minuman di atas meja lalu pamit undur diri dari hadapan pasangan suami istri itu.
"Sayang, makanan sudah siap, ayo kita makan malam bersama. Aku tau kamu belum makan sama sekali." bujuk Morgan dan Mai mengangguk menanggapi ucapannya.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain....
Etha, Dilan dan Kendrick tampak berjalan beriringan diiringi canda gurau keluar dari restoran hotel berbintang. Mereka baru saja merayakan hari perpisahan dengan saudaranya.
Dikarenakan Dilan akan ke negara B untuk mengembangkan bisnisnya sekaligus memantau proyek pembangunan hotel dan juga apartemen yang sedang berjalan di negara kelahirannya itu. Kebetulan kedua orang tuanya menetap di negara tersebut, jadi baik Etha maupun Dilan terkadang bolak-balik mengunjungi kedua orang tuanya.
Mengingat kakak beradik yang tidak sedarah itu lebih menyukai menetap di negara A. Pasalnya mereka menikmati masa-masa remajanya, memiliki sahabat, sekolah hingga kuliah di negara tersebut dan sekarang sudah tumbuh dewasa dengan bisnis yang digelutinya masing-masing. Dilan menjadi CEO di perusahaan yang dipimpinnya, sedangkan Etha menjadi desainer busana muslimah.
"Sampaikan salam ku kepada Papa dan Mama. Insyaallah minggu depan aku akan datang mengunjunginya" ucap Etha tersenyum kepada adiknya.
__ADS_1
"Pasti kak Etha, selagi aku tidak ada, terus repot kan Kendrick." ucap Dilan nyengir kuda menatap ke arah Kendrick. Sedangkan Kendrick hanya memutar bola matanya jengah.
"Tentu, karena kalian berdua para pengawal ku." timpal Etha tersenyum bangga.
"Karena itu aku tidak akan menikah sebelum kak Etha menikah." ucap Dilan dengan candaannya, membuat raut wajah Etha seketika berubah masam.
Kendrick langsung memukul punggung Dilan karena ia tahu Etha begitu sensitif jika pembahasan tentang pernikahan.
"Tak perlu menunggu ku menikah, kalian berdua harus segera menikah. Ya, kalian harus segera menikah, bukankah papa dan mama serta bibi dan paman sudah mendesak kalian untuk segera menikah." ucap Etha terdengar ketus.
Dilan jadi menyesali ucapannya sendiri. Dia yakin mood kakak angkatnya menjadi buruk jika candaannya tentang pernikahan.
"Kak Etha, bukan seperti itu...."
"Astaga, aku melupakan kunci mobilku di toilet. Sebaiknya kalian pergi duluan." ucap Etha berdusta dan segera melangkah masuk ke dalam hotel dan berjalan cepat menuju toilet.
Dilan dan Kendrick hanya mampu saling pandang sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Aku sudah peringatkan jangan bercanda seperti tadi. Tau sendiri kan Etha bagaimana." tegur Kendrick.
"Iya bro, aku menyesali candaan ku." balas Dilan.
"Sebaiknya kita pergi, biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu." ucap Kendrick memukul pundaknya. Dilan menghela nafas lalu mengikuti langkah Kendrick.
Kemudian Dilan dan Kendrick masuk ke dalam mobilnya masing-masing. Saat Kendrick akan menutup pintu mobilnya, dia dikejutkan seseorang menahan pintu mobilnya.
"Hei, siapa kamu?" Kendrick memilih turun dari mobilnya. Kendrick terkejut melihat sosok wanita bar-bar yang selalu membuat masalah di perusahaan.
"Beri aku tumpangan tuan Ken, ban mobil ku kempes. Ponselku mati dan tidak ada taksi yang melintas di daerah ini. Apa kamu ingin rekan kerjamu yang cantik jelita ini di culik bandot tua" wanita itu memohon-mohon di hadapan Kendrick.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo masuk!" ketus Kendrick.
Wanita itu tersenyum tipis lalu bergegas masuk ke dalam mobil Kendrick. Setelah itu, Kendrick langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut.