Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Maura sudah tiada


__ADS_3

Sementara di tempat lain, tepatnya negara C.....


Kamar bernuansa putih beraroma disinfektan selalu ditempati oleh Maura. Dia masih saja terbaring lemah di atas tempat tidur pasien dan tidak tahu kapan waktunya akan tiba meninggalkan dunia ini.


Walaupun sudah bosan mencium aroma disinfektan, tapi dia harus terbiasa dengan semua itu. Dalam benaknya, dia sudah pasrah dan menyerah dengan penyakit yang dideritanya. Apalagi Kondisi tubuhnya semakin memprihatinkan.


Tubuhnya semakin kurus, rambutnya semakin menipis yang tertutup oleh hijabnya, penglihatannya perlahan kabur bahkan terkadang sudah tak bisa melihat dengan jelas wajah seseorang.


Tidak hanya itu, ingatannya perlahan-lahan mulai hilang dari memori otaknya. Dia sudah tak mengingat lagi pria yang dicintainya. Hanya kedua orang tuanya dan juga neneknya yang masih tersimpan di memori nya.


"Dokter....tolong, ba-wa aku ke-luar.... dari... ruangan... ini. Aku... ingin melihat... danau...yang....ber-ada...di belakang...rumah sakit." ucapnya terdengar cadel dan gaya bicaranya seperti anak kecil yang baru belajar berbicara.


Dokter Samuel yang menjaganya hanya mampu menghela nafas berat dan begitu kasihan dengan kondisi pasiennya.


"Disini tempat terbaik untukmu. Diluar sedang turun salju. Kamu bisa saja kedinginan dan itu akan memperburuk kondisimu." ucap Dokter Samuel sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku...ha-nya...ingin melihat...danau...bersama... dokter.. sebelum....aku....pergi..." bahkan bernafas saja, Maura sudah kesulitan. Penyakit ganas sudah menggerogoti organ tubuhnya.


"Baiklah, tapi sebentar saja." ucap Dokter Samuel pada akhirnya.


Dokter Samuel kemudian meminjam jaket salah satu perawat wanita yang biasa membantunya merawat Maura. Karena tidak mungkin jika membawa Maura hanya mengenakan baju pasien keluar ruangan.


Kemudian Dokter Samuel dengan hati-hati memakaikan Maura jaket tebal, lalu sarung tangan dan terakhir syal pemberiannya. Lalu dokter Samuel memindahkan tubuh Maura di kursi roda.


Pria singel itu sampai meneteskan air matanya ketika menurunkan tubuh Maura di kursi roda. Sungguh malang nasib temannya itu harus mengidap penyakit ganas yang menggerogoti tubuhnya.


Dokter Samuel mengusap kasar air matanya, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dengan berat hati dia mendorong kursi roda Maura. Selama menjadi dokter, baru kali ini dirinya benar-benar merasakan perasaan sedih teramat dalam dan takut akan kehilangan wanita yang sudah tiga bulan di rawatnya itu.


Walaupun sebatas teman, namun sudah lama dokter Samuel memendam perasaan kepada Maura. Hanya saja, dia tidak memiliki keberanian untuk menyatakannya.


Kini Mereka sudah sampai di danau buatan yang letaknya belakang rumah sakit. Dokter Samuel berjongkok di samping kursi roda Maura. Udara teramat dingin, salju turun mengenai jaket mereka.


"Bagaimana? apa kamu senang?" tanya dokter Samuel dengan mata berkaca-kaca dan Maura hanya tersenyum mendengar ucapannya.

__ADS_1


Dokter Samuel menggenggam tangan Maura dan ditatapnya lekat-lekat wajah Maura yang semakin tirus dengan perasaan iba.


"Maura, sebenarnya aku menyukaimu. Sudah lama aku menyukaimu. Aku begitu bodoh baru mengatakannya sekarang." ucap Dokter Samuel hingga meneteskan air matanya. Dirinya sungguh pecundang, mengapa baru sekarang mengatakannya disaat wanita yang disukainya sedang berjuang keras melawan penyakitnya.


Maura hanya tersenyum getir mendengar ucapan dokter Samuel.


"Memang.. dokter...begitu... bodoh. Men-yukai...wa-nita....pen-yakitan, seper-ti...diri--ku. Tapi, teri-ma...ka-sih... sudah...men-yukai-ku." ucap Maura dengan mata sayu.


"Aku ingin memelukmu.... hiks... hiks..." ucap Dokter Samuel disertai tangis pilu.


Maura tersenyum dengan mata berkaca-kaca lalu mencoba untuk merentangkan kedua tangannya yang kaku. Namun dengan cepat Dokter Samuel memeluknya dengan penuh kasih.


"Aku...senang...men-dengar... uca-pan...dokter. Bi-sakah... dokter....meme-luk...aku... hing-ga...ter-tidur...."


"Tentu, aku akan memelukmu sampai semalaman." ucap Dokter Samuel berderai air mata. Dirinya tidak kuasa menahan air matanya saat ini, masa bodoh jika dia dianggap pria cengeng.


"Teri-ma... ka-sih" Maura begitu nyaman berada dalam dekapan dokter Samuel.


Dokter Samuel hanya mampu terdiam dan sesekali mencium puncak kepala Maura dengan penuh kasih. Cukup lama mereka duduk di kursi, dimana Maura berada dalam dekapan Dokter Samuel, hingga salah satu tangan Maura sudah tak memeluknya.


Dengan cepat Dokter Samuel memeriksa denyut nadi Maura, namun kenyataan pilu seketika menghampirinya. Maura sudah tiada, Maura menghembuskan nafas terakhirnya dalam dekapannya.


"MAURA!!" Dokter Samuel histeris memanggil nama Maura berharap wanita itu segera bangun. Dia tidak ingin membenarkan kenyataan itu, namun memang itulah kenyataannya. Maura sudah tiada dan pergi untuk selamanya. Maura meninggal dunia tepat awal turunnya salju.


*


*


*


Kabar meninggalnya Maura sudah sampai di Keluarga Alexander. Mereka semua turut berdukacita atas meninggalnya Maura. Untuk itu, Malfin, Adelia, Adelio, Rania, Kendrick, Etha, Dilan dan kerabat lainnya akan berangkat ke negara C untuk melayat dan mengikuti pemakamannya menggunakan pesawat jet pribadi milik Adelio.


Sementara Morgan serasa tidak percaya atas meninggalnya Maura. Dia masih tak bergeming di tempatnya, padahal kedua orang tuanya menyuruhnya untuk menghadiri pemakaman Maura.

__ADS_1


"Kak, pergilah. Kamu harus menghadiri pemakaman almarhumah mbak Maura, ini bentuk penghormatan kamu kepadanya untuk terakhir kalinya." ucap Mai.


"Tapi...."


"Pokoknya kak Morgan harus pergi, jangan sampai kak Morgan ketinggalan pesawat. Cepatlah berangkat." ucap Mai.


"Benar Morgan, jangan khawatir, Mama yang akan menjaga Mai bersama Aqil dan Aqila." ucap Nyonya Milan yang sedang memangku cucu kembarnya.


Nyonya Milan tugasnya menjaga cucu mereka dan juga Mai. Begitu halnya Nyonya Ziva yang juga menjaga cucu-cucunya. Pasalnya para suami mereka sedang menghadiri pemakaman rekan bisnisnya yang sudah dianggap sebagai kerabat terdekat.


"Baiklah, jika memang seperti itu. Mama tolong jaga Mai. Jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku." ucap Morgan.


"Iya sayang." timpal ibunya.


Morgan segera bersiap, semoga saja dia masih memiliki waktu untuk menyusul saudaranya yang sudah berangkat terlebih dahulu ke Bandara.


"Aku pergi." pamit Morgan kepada Mai sambil memeluknya.


"Iya kak, hati-hati." balas Mai.


Morgan melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Mai. Morgan menciumi seluruh wajah sang istri dan terakhir mencium perut rata istrinya.


"Jangan nakal sayang, selama papa pergi." ucap Morgan mencoba berbicara kepada calon buah hatinya.


"Iya Papa." timpal Mai tersenyum


Lagi-lagi Morgan kembali memeluk sang istri, dia seakan tidak rela meninggalkan istrinya. Pasalnya sang istri sedang hamil dan harus siaga menjaganya.


Namun apa boleh buat, dia harus menghadiri pemakaman Maura untuk memberikan penghormatan terakhir kalinya pada teman karibnya itu.


Setelah selesai berpamitan, Morgan bergegas pergi. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untungnya dia sempat menghubungi saudaranya untuk menunggunya.


Jangan lupa tinggalkan jejak....

__ADS_1


__ADS_2