
Suasana bahagia masih saja tercium di kamar Morgan. Tampak pasangan suami istri itu terlihat bersiap-siap dengan wajah berseri-seri. Mereka terlihat kompak dengan mengenakan pakaian berwarna senada.
"Kamu sangat cantik sayang." puji Morgan sambil memeluk tubuh Mai dari belakang, dengan posisi mereka sedang menghadap ke arah cermin.
"Terima kasih. Tapi kenyataannya kaum wanita memang lah cantik dan kaum pria memang lah tampan." timpal Mai tersenyum tipis sambil mengelus lengan Morgan yang melingkar di perutnya.
"Sudah selesai kan, sebaiknya kita turun ke bawah. Aku yakin seratus persen kedua orang tuaku akan terkejut melihatku. Jadi bersikaplah seperti biasa, sayang." ucap Morgan.
"Bersikap seperti biasa?."
"Iya sayang, bersikaplah seperti biasa." timpal Morgan memperjelas ucapannya sendiri.
"Tapi, kita bangun kesiangan. Semua orang pasti sudah sarapan dan mereka akan...."
"Tidak masalah. Aku bersamamu." potong Morgan cepat.
"Kalau begitu, kita segera turun ke bawah." usul Mai sambil melepaskan tangan Morgan yang membelit perutnya.
Morgan tersenyum lalu menggandeng tangan istrinya. Mereka sudah terlihat rapi dengan pakaian santainya. Mereka berjalan bersama-sama sambil bergandengan tangan keluar dari kamarnya.
Rona bahagia masih saja terpancar di wajah mereka yang sedang menuruni anak tangga. Mereka melangkah bersama-sama ke ruang makan untuk sarapan bersama.
Bersamaan pula Morgan dan Mai tidak menyangka akan berpapasan dengan anggota keluarganya yang baru saja selesai sarapan.
Morgan terkejut ketika melihat dua orang asing berbaur dengan keluarganya. Saat menajamkan penglihatannya menatap ke arah wanita asing yang menggunakan kursi roda, alangkah terkejutnya dirinya hingga matanya membulat sempurna melihat wajah wanita asing yang berkursi roda tersebut.
Begitu halnya wanita yang berkursi roda itu, seketika raut wajahnya berubah pias, namun secepat pula memancarkan senyuman tipis melihat pria yang dicintainya. Namun senyumannya pudar, saat pandangannya tertuju pada wanita muda yang berdiri di samping pria yang dicintainya itu.
Rahang Morgan sudah mengeras, salah satu tangannya di kepal kuat dan sorot matanya begitu tajam melihat wanita asing itu yang ternyata wanita itu adalah masa lalunya.
Bagaimana bisa wanita dari masa lalunya kembali muncul dihadapannya sekarang. Siapa yang sudah membawanya kemari dan mengijinkannya pula masuk di kediaman orang tuanya. Morgan begitu marah plus kesal yang kembali bertemu dengan wanita dari masa lalunya.
Morgan berusaha menurunkan emosinya, dia memilih untuk bersikap biasa-biasa saja, karena Mai sedang bersamanya. Tangannya langsung merangkul pinggang ramping Mai dengan posesifnya dan sengaja menunjukkan bahwa wanita yang berdiri di sampingnya adalah istrinya.
Sementara Mai tersenyum ramah kepada semua orang. Namun kedua orang asing itu hanya menatapnya dengan tatapan datar. Mai melirik ke arah anggota keluarga suaminya dan hanya tatapan sulit diartikan yang ditunjukkan kepadanya.
Ada apa sebenarnya, mengapa semua orang terlihat bersitegang. Siapa sebenarnya mereka?. Batin Mai dan hanya mampu diam.
Masih suasana bersitegang layaknya sedang berhadapan dengan musuhnya di medang tempur. Tak seorangpun yang mau buka suara saat ini, seolah mulut mereka terkunci rapat.
"Hai Morgan, bagaimana kabarmu?" sapa wanita berkursi roda itu mulai buka suara karena hawa-hawa dingin terasa mencekam disekelilingnya. Wanita itu tidak lain adalah Maura.
__ADS_1
Morgan sama sekali tidak membalas sapaannya, dia langsung membawa istrinya ke ruang makan. Morgan tidak memperdulikan Maura, untuk apa lagi wanita itu datang mencarinya setelah membuatnya kecewa.
Memang dirinya tidak pernah menjalin kasih layaknya sepasang kekasih. Namun, dia hanya berteman baik cukup lama dengan Maura. Saat mempercayai wanita itu untuk dijadikan sebagai istrinya, tapi tiba-tiba wanita itu menghilang bagai ditelan bumi. Dari situlah dia begitu kecewa dengan wanita yang bernama Maura.
Sementara Nyonya Milan dan Tuan Fino hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Inilah yang mereka khawatirkan, Maura kembali datang di kehidupan putra bungsunya, padahal wanita itu sudah mengecewakan putranya.
Namun, Nyonya Milan tidak ingin mempermasalahkan kedatangan Maura, karena wanita paruh baya itu sudah yakin seyakin-yakinnya bahwa putranya sudah mencintai Mai. Mengingat apa yang dilihatnya pagi tadi, sudah menunjukkan mereka habis melakukan hubungan suami istri dan dia begitu bahagia akan hal itu.
Maura hanya mampu menunduk dan begitu sedih melihat tingkah laku Morgan kepadanya. Pria tampan itu sudah berubah dan tidak lagi memperdulikan kehadirannya, dia hanya dianggap sebagai orang asing oleh pria yang dicintainya.
Apalagi dirinya mendapatkan penolakan secara terang-terangan dari Morgan ketika mencoba menyapanya.
Mengapa kamu bersikap seperti ini, Morgan. Apa kamu begitu membenciku? sampai -sampai kamu seolah enggan hanya untuk melihatku saja. Batin Maura sedih.
"Sebaiknya kita mengobrol di ruang tengah, mari." ucap Adelia dengan ramahnya.
Semua orang menyetujui ucapan Adelia. Mereka semua melangkah ke ruang tengah.
Sementara Mai dan Morgan sudah berada di meja makan. Mereka duduk saling berdampingan.
Terlihat Mai sedang melamun sendiri memikirkan kejadian barusan. Bagaimana tidak, dia merasa aneh dengan sikap Morgan karena tak membalas sapaan wanita asing tadi.
Sedangkan Morgan mengerutkan keningnya melihat Mai hanya melamun seolah sedang memikirkan sesuatu.
Mai langsung menoleh kearahnya lalu melihat piringnya yang sudah terisi dua potong sandwich beserta potongan buah apel di piringnya.
"Hah..." Mai gelagapan dengan mata membola.
"Sekarang aku akan menyuapi mu." Morgan sudah memang sendok garpu berisi potongan sandwich.
"Tidak ada penolakan." ucap Morgan tidak ingin dibantah.
Mau tak mau Mai langsung menerima suapan dari Morgan. Mai tidak mau kalah, dia pun balas menyuapi Morgan. Mereka menikmati sarapannya dengan sedikit candaan. Hingga suara tawa mereka sampai kedengaran di ruang tengah.
Semua orang yang sedang serius mengobrol seketika mendadak menguping mendengar kehebohan dari ruang makan. Terutama Nyonya Milan yang langsung tersenyum lalu menutup mulutnya cepat mendengar suara tawa mereka.
"Kami turut perihatin atas musibah yang menimpamu, Maura." ucap Adelia merasa iba pada mantan bodyguardnya itu.
"Ini sudah menjadi takdirku." ucap Maura dengan mata berkaca-kaca yang sudah tak memiliki semangat untuk hidup. Dadanya begitu sesak dan ulu hatinya seperti tertusuk ribuan jarum.
Perasaannya sudah campur aduk, namun kesedihan lebih mendominasi. Tak ada lagi harapan baginya untuk kembali melanjutkan hubungannya dengan Morgan. Dia baru menyadarinya sekarang, Morgan tidak menginginkan dirinya dan sudah tergantikan oleh wanita lain.
__ADS_1
"Yang sabar Maura, kamu harus melanjutkan hidupmu, masih banyak kebahagiaan yang menghampiri mu. Fokuslah pada kesembuhan mu dan semoga Allah swt mengangkat seluruh penyakitmu, aamiin." ucap Adelia.
"Terima kasih. sudah peduli kepadaku." balas Maura menunduk berusaha menyembunyikan kesedihannya.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Kendrick tampak sibuk dengan pekerjaannya. Sudah beberapa hari dirinya disibukkan dengan urusan kantor. Karena sampai detik ini atasannya tak kunjung datang ke kantor.
Beginilah sebabnya jika istri atasannya sedang hamil, pasti dirinya lah yang kerepotan mengurus perusahaan Alexander Group.
"Ini berkas yang anda minta tuan." ucap karyawan wanita membawa dokumen penting.
"Taruh saja disitu." ucap Kendrick kepada karyawan wanita itu. Dengan cepat karyawan wanita itu meletakkan map berwarna biru di atas meja kerja Kendrick.
"Kamu boleh keluar."
"Baik tuan."
Karyawan wanita itu bergegas keluar dari ruangan Kendrick.
Kendrick kembali memeriksa dokumen yang dibawa oleh karyawan tadi. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi dan itu panggilan masuk dari atasannya. Kendrick langsung mengangkatnya.
"Halo tuan."
"Apa kamu sudah di kantor?"
"Iya tuan, saya tiba di kantor dua jam yang lalu."
"Bagus. Kalau begitu hentikan pekerjaanmu, lalu pergilah ke acara pernikahan Maureen. Aku baru mengingatnya, bahwa hari ini adalah hari pernikahan Maureen. Salah satu karyawan wanita menggugah undangan Maureen di grup chat kantor. Untuk itu, kamu harus datang di acaranya, karena aku tidak bisa hadir bersama istriku. Dia kembali mual-mual dan aku harus ekstra menjaganya." ucap Adelio di ujung telepon.
"Baik tuan." ucap Kendrick yang selalu saja patuh dengan perintah atasannya. Hingga sambungan telepon mereka berakhir.
Hah... jadi wanita penggoda itu akan menikah, pantas saja beberapa hari yang lalu dia memasukkan surat cuti. Batin Kendrick.
Kendrick menghentikan pekerjaannya, dia harus segera pergi ke acara pernikahan Maureen.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗