
Mai menjalani perawatan selama seminggu pasca mengalami keguguran. Setelah kondisinya sudah membaik, dia sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, namun masih harus melakukan kontrol setiap saat.
Selama menjalani perawatan, hampir setiap hari Mai menangis pilu dan masih saja tidak ikhlas kehilangan calon bayinya. Bagaimana tidak, dia begitu menantikan kehadiran buah hatinya bersama sang suami.
Setelah kembali dari rumah sakit, Mai masih tidak percaya jika bayi yang dikandungnya sudah tiada, dia sangat sedih dan begitu terpukul atas kehilangan calon bayinya. Dia bahkan berteriak histeris agar calon bayinya dikembalikan oleh dokter yang menanganinya waktu itu.
Harinya menjadi suram dan gelap. Raut wajahnya selalu saja terlihat murung. Biasanya dia di kenal sebagai wanita yang ceria dan murah senyum, sekarang dia menjadi wanita pendiam yang jarang berbicara ataupun berkomunikasi, dan senyumannya tak pernah lagi muncul di sudut bibirnya.
Kesedihannya sungguh teramat mendalam, hingga membuatnya stress, dikarenakan kehilangan calon bayinya. Tidak hanya dirinya saja yang mengalami kesedihan mendalam dan perubahan sikap, Morgan pun mengalaminya.
Morgan terus menyesali dan merutuki dirinya sendiri karena tidak becus menjaga istri dan calon bayinya. Harusnya dia fokus menjaga sang istri dan selalu siaga menjaganya, kalau perlu terus berada di samping sang istri selama hamil.
Namun, dia membagi waktunya dan lebih fokus pada pekerjaannya sendiri, dibandingkan fokus menjaga sang istri yang tengah mengandung buah hatinya. Ini menjadi pelajaran berharga dalam hidupnya.
Untuk pelaku utama dari insiden itu yang tidak lain adalah Isabella Roberto, istri mendiang tuan Alberto sudah tertangkap dan langsung di jebloskan ke dalam penjara dalam kurun waktu seumur hidup. Itu hukuman setimpal untuk wanita paruh baya itu atas perbuatannya yang melakukan perencanaan pembunuhan terhadap Nyonya Milan.
***
Morgan membuka pintu kamarnya dan mendapati Mai masih berada di atas tempat tidur. Morgan menatap kearah sang istri yang tengah bersandar di kepala tempat tidur. Tatapan sang istri begitu kosong melihat pemandangan di luar jendela.
Morgan menghela nafas berat lalu meletakkan nampan yang berisi makan siang untuk sang istri. Dia lalu mendekat ke arah tempat tidur. Kemudian duduk di sisi tempat tidur tepat di samping sang istri.
"Sayang, tolong jangan seperti ini. Bukan kamu saja yang sedih atas kehilangan bayi kita, tapi aku pun merasakan hal yang sama seperti dirimu. Dan semua keluarga kita juga merasa kehilangan." ucap Morgan berusaha membujuknya. Dia tidak ingin Mai terpuruk dan berlarut-larut dalam kesedihan atas kehilangan calon bayinya.
Mai sama sekali tidak menggubris ucapannya, hanya air mata yang menetes membasahi pipinya. Dengan cepat Morgan mengusap lembut air mata sang istri.
"Jangan bersedih sayang, Tuhan belum mempercayakan kita menjadi orang tuanya. Mulai sekarang kita harus menata diri dan belajar pada kesalahan kita masing-masing. Bukankah kita masih bisa memiliki anak. Jadi, jangan berkecil hati sayang." ucap Morgan dengan tatapan hangatnya sambil mengelus pipi mulus sang istri.
"Tapi, dokter mengatakan bahwa aku bisa kembali hamil setelah dua tahun...hiks.... hiks..." ucap Mai diiringi tangis pecah.
__ADS_1
Morgan langsung menariknya ke dalam pelukannya. Kemudian tangan kanannya bergerak menepuk-nepuk pelan punggung sang istri untuk menenangkannya.
"Tidak apa-apa, semua itu demi kebaikanmu, sayang. Kita hanya perlu berusaha dan berdoa. Jika Tuhan sudah berkehendak memberikan kita keturunan, insyaallah pasti akan terjadi." ucap Morgan.
"Maaf kak, Aku..aku belum pantas menjadi seorang ibu, aku lalai menjaga calon bayi kita." ucap Mai diiringi isak tangis.
"Jangan merasa bersalah seperti ini. Percayalah, Tuhan sedang menguji rumah tangga kita, bukankah Mama dan Papa juga mengatakan hal demikian. Kita hanya dituntut untuk pandai-pandai bersabar dan selalu bersyukur atas apa yang kita miliki."
"Dan jalani seperti air yang mengalir. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja." timpal Mai sambil mengusap kasar air matanya.
"Benar, ucapanmu memang benar sayang." balas Morgan tersenyum tipis.
Dia tidak lelah membujuk sang istri agar ikhlas menerima segala hal yang sudah terjadi dan tak berhenti memberikan nasihatnya. Walaupun dirinya juga memiliki banyak kekurangan dan dosa, serta masih jauh dari kata Istikomah. Tapi, dia tetap membentengi diri dan berlapang dada menerima segala ujian yang tengah dihadapinya.
Cukup lama mereka berpelukan hingga tersadar mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
"Masuk." teriak Morgan tanpa melepaskan pelukannya pada sang istri.
"Ada apa ma?" tanya Morgan sambil melepaskan pelukannya. Lalu beranjak berdiri.
"Mama dan papa mau ke rumah sakit, tidak apa-apa kan jika mama tinggal." ucap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
"Untuk apa Mama dan Papa ke rumah sakit, lalu siapa yang sakit?" tanya Morgan.
Nyonya Milan menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu pandangan matanya beralih menatap ke arah Mai.
"Rania. Dia masuk ke rumah sakit dan dia mengalami..... keguguran." ucap Nyonya Milan teramat berat untuk mengatakannya.
"Apa!"
__ADS_1
"Astaghfirullah." Morgan dan Mai kompak menimpali ucapan ibunya. Mereka terkejut bukan main mendengar ucapan ibunya yang mengatakan bahwa Rania keguguran.
"Mama belum tau pasti apa penyebab Rania keguguran. Kalau begitu mama pergi dulu, assalamualaikum." ucap Nyonya Milan berpamitan kepada mereka.
"Waalaikumsalam, hati-hati Mama." timpal Morgan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Nyonya Milan mengangguk lalu bergegas keluar dari kamar Morgan.
Sementara Mai sudah diam seribu bahasa, kabar keguguran Rania kembali mengusik pikirannya hingga tanpa sadar air matanya kembali membanjiri wajahnya. Lagi-lagi Morgan memeluknya untuk menenangkannya.
Ternyata ia bernasib sama dengan Rania, sama-sama kehilangan buah hatinya. Ditengah kebahagiaan baru saja menghampirinya, namun begitu cepat kebahagiaan itu pergi meninggalkannya.
"Kak, aku mau pulang ke rumah ibu. Tolong bawa aku pulang. Mungkin aku bisa tenang dan menata hidup disana. Aku tidak ingin terus kepikiran dengan hal yang menyakitkan itu. Dan aku tidak ingin terus merepotkan semua orang." ucap Mai dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi sayang, disinilah tempatmu sekarang. Namun, jika itu permintaan mu, aku akan mengabulkannya dan membawamu mengunjungi ibumu." ucap Morgan tersenyum tipis.
"Terima kasih, mungkin setelah tinggal bersama ibumu aku bisa melupakannya." Morgan tersenyum sambil mengangguk menanggapi ucapannya.
"Kita akan tinggal bersama ibumu selama beberapa hari disana. Tapi, kamu harus janji, setelah semuanya membaik kita harus kembali di negara ini." ucap Morgan dengan usulannya.
Mai tersenyum sembari mengangguk menanggapi ucapannya.
*
*
*
Sementara hubungan Kendrick dan Maureen mulai ada kemajuan. Perubahan sikap Maureen yang menjadi pendiam dan tidak lagi menjelma menjadi wanita menggoda memberikan dampak positif terhadap hubungannya dengan sang suami.
Maureen berpura-pura menjauhi Kendrick bahkan jarang berbicara terhadap suami kulkasnya itu. Sontak membuat Kendrick merasa aneh dengan sikap Maureen dan perlahan mulai tertarik mendekatinya. Semua itu dia lakukan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan wanita penggoda itu yang sudah berstatus sebagai istri sahnya.
__ADS_1
Mohon maaf baru update 🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗