
Sementara Morgan yang masih berada di perusahaannya tampak senyum-senyum sendiri melihat potret kebersamaan ibunya dengan Mai.
"Pandai sekali mengambil hati Mama, dasar gadis polos yang manis." gumam Morgan tersenyum tipis memandangi foto mereka.
Morgan jadi tidak sabaran untuk pulang ke apartemen. Dia ingin melayangkan segala pertanyaan kepada pelayan itu mengenai kesehariannya bersama orang terkasihnya.
***
Tepat pukul 5 sore waktu setempat, Mai tiba di apartemen. Mai langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Lima paper bag yang dibawanya di letakkan begitu saja karena dia sangat lelah seharian berada di luar bersama ibu mertuanya.
Berkeliling dan berbelanja di Mall membuatnya lelah. Mana lagi kembali mendatangi tempat destinasi wisata bersejarah di kota tersebut. Dan lelahnya terbayarkan sudah setelah melihat Masjid tua nan megah yang berdiri kokoh ditengah pusat kota. Masjid tersebut berdiri sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi Masjid bersejarah. Masjid bersejarah itu dijadikan sebagai tempat destinasi wisata oleh turis lokal maupun turis mancanegara yang lokasinya tak jauh dari Mall yang mereka sambangi.
Mai tak henti-hentinya bersyukur selama berada di dalam masjid, suasana hatinya sangat adem dan nyaman rasanya. Subhanallah, sungguh megah rumah Allah sampai-sampai Mai tidak ingin kembali ke apartemen.
Mai sangat beruntung bisa mengunjungi masjid bersejarah tersebut. Ia pun bersama ibu mertuanya menunaikan sholat ashar di masjid tersebut dan memanjatkan doa untuk kesembuhan ibunya beserta orang-orang terkasihnya.
Andai saja ada kesempatan untuknya, dia ingin sekali membawa ibunya berkunjung di masjid bersejarah tersebut.
Mai menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan. Senyuman terukir di sudut bibirnya yang masih saja diliput perasaan senang bisa jalan bersama dengan ibu mertuanya.
"Semoga aku bisa membawa ibu jalan-jalan di kota ini. Andai saja ibu ada di sini, bahagia rasanya setiap hari bisa melihatnya, memeluknya, bermanja-manja dengannya, bercanda gurau dan masih banyak lagi lainnya. Ini masih beberapa hari belum juga sebulan, tapi.... rasanya hampir setahun, mana lagi aku sangat merindukan ibu." ucap Mai dengan senyuman luntur tatkala mengingat ibunya.
Mai dengan malas bangkit dari duduknya, matanya memicing melihat jam dinding, dia harus buru-buru ke kamar untuk membersihkan tubuhnya karena tidak lama lagi akan memasuki waktu Maghrib untuk daerah setempat.
*
*
*
Sementara Morgan masih berada di perusahaannya tepatnya di dalam ruangannya. Padahal waktu sudah menunjukkan jam pulang, sedang ia tak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
Jemari tangannya sedang sibuk mengutak-atik keyboard laptopnya. Matanya sudah lelah menatap layar monitor berjam-jam lamanya, namun pekerjaannya tak kunjung selesai.
Sepertinya dia akan lembur mengingat pekerjaannya masih banyak dan tak bisa ditinggal begitu saja.
Konsentrasi Morgan terbuyarkan saat mendengar ponselnya berbunyi. Dia pun melirik ponselnya untuk memastikan siapa yang menghubunginya.
Morgan menghentikan pekerjaannya saat melihat nama seseorang yang sangat dikenalinya tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, Morgan mengangkat panggilan masuk tersebut dan langsung membalas salam dari si penelepon.
__ADS_1
"Baik Paman, saya akan usahakan datang membawa istri saya. Salam untuk keluarga disana." ucap Morgan dan percakapan via telepon mereka berakhir.
Morgan kembali menghubungi sekretarisnya untuk mengirimkan makanan dan minuman di setiap panti asuhan di kota dimana tempat dia mencari rezeki. Ya setiap sebulan sekali dia akan membagikan produk perusahaannya pada panti asuhan. Dan sebagian pendapatan perusahaannya ia kembali donasikan pada panti asuhan, sekolah-sekolah swasta dan rumah sakit.
Morgan memicingkan matanya melihat sebuah pesan masuk di ponselnya. Senyuman tipis seketika terukir di sudut bibirnya manakala membaca pesan tersebut.
"Ada-ada saja pelayan bodoh ini, sok perhatian mengabariku kapan pulang." ucap Morgan tersenyum sinis dan mengabaikan pesan dari Mai tanpa ingin membalasnya.
Sementara Mai baru saja selesai melaksanakan sholat Maghrib. Mai masih duduk di atas sajadah dan tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk kesembuhan ibunya hingga berderai air mata. Ia pun melafalkan doa.
"Allahumma rabbanaa adzhibil ba’sa wasyfihu, wa antasy-syaafii, laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqamaa."
" Yang Artinya: Ya Allah, Ya Tuhan Kami, hilangkan penyakit dan berikanlah dia kesembuhan, Engkau Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain.”
"Aamiin ya Rabb." Mai membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya mengakhiri doanya.
Kembali Mai melantunkan shalawat nabi sembari menunggu waktu isya. Selepas sholat isya rasa kantuk sudah tak tertahankan, Mai bergegas merapikan peralatan sholatnya, hingga dia pun akhirnya ambruk di atas ranjang tuan mudanya. Bahkan Mai melewatkan makan malamnya saking capeknya habis jalan-jalan bersama ibu mertuanya.
🍁🍁🍁🍁
Morgan tiba di apartemen tepat pukul 9 malam waktu setempat. Morgan mengedarkan pandangannya dan tak menemukan keberadaan Mai. Morgan melangkah cepat ke kamarnya dan ia meyakini Mai berada di dalam kamar.
Ceklek
Morgan membuka pintu kamar dengan sedikit membantingnya, namun sayangnya tidak membangunkan sosok gadis berhijab yang meringkuk di atas ranjang empuknya.
Morgan mendekat dan menatap lekat-lekat wajah gadis yang tengah tertidur pulas. Ukuran wajah gadis itu kira-kira hanya sebesar telapak tangannya. Morgan berdengus kesal lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak berselang lama, Morgan tampak segar keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Salah satu tangannya bergerak mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Morgan melangkah mendekati ranjang miliknya, sungguh dia tidak terima pelayan itu tidur di singgasananya. Morgan membungkuk lalu mengibaskan rambutnya yang masih basah di wajah Mai, hingga percikan air dari rambutnya mengenai pipi chubby Mai. Tapi sayangnya aksinya itu tak membangunkan Mai.
Morgan kembali mengulangi aksinya hingga suara perutnya berbunyi nyaring.
Kryuuukkk...
"Sial!" Morgan berdengus kesal karena memang dirinya belum makan malam. Tanpa basa-basi dia menepuk bahu Mai berulang kali untuk membangunkannya, dan benar saja aksinya berhasil juga karena Mai mulai menggeliat membuka mata sambil mengumpulkan kesadarannya.
Kembali Morgan mencubit hidung kecil Mai dengan kesalnya. Mai terlonjat kaget seketika kesadarannya kembali, matanya membola sempurna sambil memegang tangan tuan mudanya untuk segera menghentikan aksinya karena dia sudah tidak bisa bernafas. Merasa pelayan itu teraniaya, Morgan melepaskan tangannya dari hidung kecil pelayan itu.
__ADS_1
"Hah..hah..." Mai terlonjat kaget sambil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan lebih terkejutnya lagi melihat tuan mudanya bertelanjang dada yang hanya mengenakan handuk. Mai langsung menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"Dasar bodoh. Cepat turun, sebelum kesabaran ku habis!" peringat Morgan dengan sorot mata tajam layaknya akan melahap Mai hidup-hidup.
Mai ketakutan dan bergegas turun dari ranjang. Pandangannya tertunduk dan begitu takut bertemu pandang dengan tuan mudanya
"Hebat sekali kamu tidur...."
Kryuuukkk...
Morgan tak melanjutkan ucapannya, dia menjadi malu mendengar suara perutnya yang kembali berbunyi.
"Sebagai hukumannya kamu harus memasak untukku. Satu lagi, jika masakanmu tidak enak, siap-siap untuk menerima hukuman selanjutnya." tegas Morgan tak main-main lalu melenggang masuk ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya.
Hukuman! aaaa!!!
Mai berlari kecil masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu, dia melangkah cepat ke dapur untuk memasak makan malam.
Bodoh bodoh, Mai merutuki kebodohannya sendiri. Tidak seharusnya juga dia tertidur di ranjang tuan mudanya. Sebagai hukumannya, dia harus memasak makanan kesukaan tuan mudanya dan Mai tak masalah akan hal itu.
Mai begitu cekatan memotong-motong sayuran dan mengulek bumbu, dia seperti orang yang begitu ahli dalam memasak makanan dengan menu pasta dan sup makaroni.
Morgan tertawa kecil menuruni anak tangga dia sungguh puas melihat Mai lari terbirit-birit ketakutan. Di pertengahan tangga dia mampu mencium aroma masakan Mai yang sangat menggugah selera. Morgan mempercepat langkahnya. Dari kejauhan ia melihat Mai sedang menghidangkan makanan di atas meja.
"Ehemm." Morgan berdehem menarik kursi lalu duduk.
Mai terhentak sambil memundurkan langkahnya dan ingin segera pergi.
"Mau kemana?"
"Kak...ak..aku.."
"Duduk, temani aku makan."
"Ba-baik."
Morgan begitu lahap menyantap makanan yang dimasak oleh Mai. Sedangkan Mai hanya menunduk memakan makanannya.
Masakannya sangat enak. Batin Morgan memuji masakan Mai dan sesekali Morgan curi-curi pandang melirik Mai sekilas.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗