Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Bertanggungjawab


__ADS_3

Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil. Hingga mobil yang membawa mereka tiba di Baleno Hatt, tempat kursus pelatihan memasak yang terkenal dinegaranya. Morgan turun terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk Mai.


“Terima kasih kak atas tumpangannya.” Ucap Mai tersenyum sambil turun dari mobil.


“Ya sama-sama.” Balas Morgan cuek menutup pintu mobilnya.


Sementara mobil silver juga berhenti tepat di belakang mobil milik Morgan. Rupanya Mobil tersebut yang sering ditumpangi oleh Mai. Namun pagi ini hanya Bu Jumi dan kedua bodyguard yang selalu bertugas melakukan pengawalan untuk Mai berada di dalam mobil tersebut.


Mai kembali bergerak mencium punggung tangan Morgan. Morgan selalu saja dibuat terpaku jika melihat hal-hal kecil yang dilakukan Mai terhadapnya.


“Kamu pulang jam berapa?” tanya Morgan. Entah mengapa ia ingin kembali menjemput Mai sepulang kerja.


“Sekitar jam empat kak. Tapi saya tidak bisa memastikan karena biasanya terdapat kelas tambahan.” Jawab Mai dan merasa aneh dengan gelagat Morgan pagi ini.


“Oh” Morgan bergegas masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya menuju perusahaannya.


Mai mengerutkan keningnya, dia pikir tuan mudanya kembali berucap untuk menjemputnya. Namun dugaannya salah karena ucapannya hanya ditanggapi dengan ‘oh’ saja.


Dari kejauhan dua wanita cantik sedari tadi memperhatikan Mai tengah berbincang-bincang dengan pria tampan. Mereka menjadi penasaran siapakah pria tampan yang mengantar Mai pagi ini? Keduanya mulai bertanya-tanya dalam hati dan merasa iri kepada Mai yang diantar oleh pria tampan dan menggunakan mobil mewah pula.


Sementara Mai masih saja menatap kepergian Morgan hingga dikejutkan dengan suara Bu Jumi yang menyapanya.


“Selamat pagi nyonya."


"Pagi Bu Jumi." Mai langsung mengalihkan pandangannya ke arah Bu Jumi.


"Cieee..cieee nyonya diantar tuan.” ucapnya tersenyum ramah yang sedang menggoda majikannya. Pasalnya baru kali ini majikannya diantar langsung oleh sang suami.


"Hehehe, iya Bu Jumi. Kebetulan dia tidak sibuk." balas Mai tersenyum dan ada-ada saja Bu Jumi sampai menggodanya segala.


"Nyonya, bel nya sudah berbunyi, cepat masuk. Jangan sampai anda terlambat." ucap Bu Jumi antusias.


Mai mengangguk dan bergegas masuk ke dalam galeri bangunan lima lantai itu bersama peserta lainnya. Sementara Bu Jumi hanya mampu menunggu di lobi Baleno Hatt bersama kedua bodyguard tadi.

__ADS_1


Bu Jumi sangat senang setiap hari bisa menemani majikannya ke tempat kursus pelatihan memasak. Dia seperti seorang ibu yang mengantar pulang pergi anaknya ke sekolah. Bahkan menunggunya sampai pulang.


Bu Jumi merasa seperti kembali memiliki seorang putri. Pasalnya lima tahun yang lalu putrinya meninggal dunia karena mengidap kanker dan nyawanya tak bisa lagi tertolong akibat penyakit ganas tersebut. Sekarang Tuhan seperti mendatangkan seorang putri untuknya sejak kedatangan nyonya mudanya di apartemen.


Mai yang tengah berjalan terburu-buru kembali bertubrukan dengan tubuh seseorang hingga terdengar suara benda terjatuh.


"Astaghfirullah, maaf tuan." Ucap Mai membungkuk hormat meminta maaf kepada pria jangkung yang berdiri di hadapannya. Mai terlonjat kaget melihat ponsel tergeletak di lantai dengan layar tampak retak akibat benturan keras di lantai.


Pria itu sama sekali tidak menggubris ucapan Mai dan lebih memilih membungkuk mengambil ponselnya.


Mai menjadi panik, karenanya ponsel pria itu menjadi rusak karena kecerobohannya yang berjalan terburu-buru menuju kelasnya.


Pria itu mengepalkan tangannya melihat layar ponselnya tampak rusak, dia pun mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang digadang-gadang sebagai penyebab ponselnya rusak.


Alangkah terkejutnya pria itu ketika melihat wanita berhijab yang selama ini dicarinya dan ingin ditemuinya sekali lagi tengah berdiri di hadapannya.


"Kamu." ucapnya terkejut membelalakkan matanya menatap wajah Mai. Sedangkan Mai hanya bengong melihatnya dan memang tidak mengenal pria itu.


"Akhirnya kita bertemu lagi nona." ucapnya tersenyum merekah sambil menunjuk ke arah Mai, seolah memenangkan undian hanya melihat Mai.


"Sekali lagi saya minta maaf tuan. Saya bersedia ganti rugi atas kerusakan ponsel anda." ucap Mai tidak enak hati.


Pria itu menarik sudut bibirnya mendengar ucapan dari wanita yang selalu dicarinya selama ini. Seketika sebuah ide licik terlintas dipikirannya demi bisa terus bertemu dengan wanita itu.


"Oh tentu, kamu harus bertanggungjawab atas rusaknya ponselku." ucapnya berpura-pura marah. Padahal jelas-jelas dirinya pun salah karena berjalan sambil menelepon tanpa melihat disekitarnya.


"Baik tuan, saya siap bertanggungjawab. Tolong berikan nomor rekening anda agar...." Mai tak mampu melanjutkan ucapannya karena dipotong oleh pria itu.


"Siapa namamu?" tanyanya tegas dan begitu ingin tahu siapa nama asli wanita cantik di hadapannya itu.


"Khumaira tuan." ucap Mai ragu yang serba salah dan tampak cemas karena sepertinya kelasnya sudah dimulai.


Oh ternyata namanya Khumaira, nama yang cantik persis dengan pemiliknya. Batinnya memuji.

__ADS_1


"Dimana kamu tinggal? apa kamu sudah memiliki pasangan?"


"Tuan, saya tidak punya waktu. Tolong berikan nomor rekening anda biar saya langsung transfer berapa nominal yang anda minta." ucap Mai memelas.


"Hufff, tak perlu memanggilku tuan, apa aku terlihat ketuaan. Panggil saja Devan. Ini kartu namaku, kamu bisa menghubungiku lewat nomor ini Khumaira. Dan masalah ganti ruginya aku tidak membutuhkan uang darimu. Tapi, berikan sedikit waktumu untukku" tegas pria itu yang bernama Devan dengan seringai licik diwajahnya.


Mai tercengang mendengar ucapan pria asing itu.


"Satu lagi berikan nomor ponselmu sebagai jaminannya." lanjutnya tersenyum sinis.


Mai tampak berpikir, dia pun tidak ingin terus berurusan dengan pria asing itu jika menyerahkan nomor ponselnya. Akan tetapi, dia pun tidak ingin lepas tanggungjawab.


"Maaf tuan saya tidak memiliki waktu untuk anda, tapi saya bersedia memberikan nomor ponsel saya, tapi dengan satu syarat tuan harus menerima segala bentuk ganti rugi dari saya, bagaimana?." ucap Mai dengan syaratnya.


"Baiklah." tanpa pikir panjang Devan mengiyakan syaratnya.


Sedangkan Mai terlihat ragu untuk menyerahkan ponselnya. Hingga pada akhirnya ia pun menyebutkan nomor ponselnya. Setelah itu dia pamit pergi ke kelasnya yang sepertinya pelatihannya sudah dimulai.


"Akhirnya aku mendapatkan mu nona cantik. Aku tidak akan melepaskanmu lagi." ucapnya percaya diri lalu mencium ponselnya sebagai dewi keberuntungannya.


*


*


*


Sementara Morgan setibanya di perusahaannya, dia langsung disibukkan dengan pekerjaannya.


Sekretarisnya mengetuk pintu ruangannya dan Morgan mempersilahkannya masuk. Joni selalu melakukan tata krama dengan baik sebelum masuk ke ruangan atasannya.


Tampak Joni begitu kewalahan membawa tumpukan laporan beserta desain produk makanan serta paper bag di tangannya.


"Ini laporan yang anda minta beserta contoh desain produk makanan yang sudah direalisasikan bersama dengan divisi bagian desain produk." ucap Joni meletakkan laporan dibawahnya di atas meja kerja atasannya beserta hasil print out desain produk makanan.

__ADS_1


"Taruh saja disitu, nanti aku memeriksanya." ucap Morgan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


Sepertinya dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menjemput Mai pulang.


__ADS_2