
Hari kedua Mai dan Morgan menjadi orang tua bagi Aqil dan Aqila berjalan dengan lancar. Walaupun banyak drama yang mereka lakukan semenjak mengurus ponakan kembarnya, yang jelas mereka begitu kompak dan saling membagi tugas.
Untuk hari ketiga Mai dan Morgan mulai kesulitan membujuk ponakan kembarnya yang sudah hilang selera makan dan tak bersemangat karena sudah merindukan orang tuanya.
"Mama... Papa.... Kapan mereka pulang, Paman.." lirih Aqila dengan raut wajah sendu yang sedang duduk di pangkuan Mai.
Morgan hanya mampu menghela nafas berat sembari bangkit dari duduknya. Kemudian Morgan berjongkok di samping kursi yang ditempati oleh Aqila.
Belum juga buka suara, Morgan kembali didahului oleh ponakannya.
"Aqila, ayo kita pulang ke rumah. Papa mama pasti sudah pulang." ajak Aqil yang sudah tidak menyentuh lagi makanannya dan perlahan turun dari kursinya.
Mereka benar-benar tidak sabaran untuk bertemu dengan orang tuanya saking rindunya.
Morgan dan Mai terkejut mendengar ucapan Aqil. Dengan cepat Morgan beralih untuk membujuk Aqil.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu, terus paman antar kalian pulang ke rumah." usul Morgan sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh ponakannya itu.
Aqil tampak berpikir sejenak sambil menopang dagunya menatap pamannya.
"Aku setuju dengan ucapan Paman." timpal Aqila bersemangat.
Morgan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Aqila. Sementara Mai langsung menatap Morgan sambil menggeleng pelan karena dia tidak setuju dengan keputusan Morgan yang ingin membawa Aqil dan Aqila jalan-jalan. Dan Morgan sendiri hanya mengedipkan matanya sebagai isyarat bahwa dirinya bisa mengatasinya.
"Baiklah, aku juga setuju dengan ucapan Paman." ucap Aqil pada akhirnya.
"Kalau begitu tunggu apalagi, sebaiknya kita bersiap-siap." ucap Morgan antusias lalu mengangkat Aqil dan membawanya menuju kamarnya.
Sementara Mai hanya mampu menghembuskan nafasnya kasar kemudian menggendong Aqila untuk menyusul Morgan ke kamar.
Bu Jumi tersenyum melihat pemandangan majikannya yang seperti keluarga harmonis. Setelah itu, wanita paruh baya itu bergerak membereskan meja makan.
*
*
*
Kini Morgan, Mai, Aqil dan Aqila sudah berada di dalam mobil yang siap membawanya pergi.
__ADS_1
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Morgan yang sudah menempati kursi kemudi. Dimana Aqil duduk di pangkuannya.
"Kami sudah siap Paman." ucap Aqil dan Aqila dengan kompaknya.
Mai hanya mampu tersenyum mendengar suara si kembar yang begitu bersemangat. Dia pun sedang memangku Aqila.
Mobil yang membawa mereka mulai melaju pelan meninggalkan tempat tersebut. Sepanjang perjalanan canda tawa terus terdengar di dalam mobil. Dimana Morgan dan Mai sengaja bercanda gurau guna untuk menghibur ponakan kembarnya.
"Setelah Aqila bertemu Mama dan Papa, Aqila mau ceritain tentang keseharian Aqila bersama Paman dan Kakak baik yang sangat pandai menjaga kami. Dan masakan Kakak baik sangat enak." ucap Aqila antusias.
"Wah benarkah? kakak baik sangat senang mendengarnya." ucap Mai tersenyum lalu mencium pipi gembul Aqila dengan gemasnya.
Morgan yang fokus mengemudikan mobilnya sesekali melirik ke arah Mai dengan raut wajah berseri-seri yang terlihat begitu bahagia menghabiskan waktu bersama orang yang disukainya.
Mereka tidak menyadari sebuah mobil hitam dan pengendara motor sport sedari tadi mengikuti mobilnya.
Tak berselang lama, Mobil yang membawa mereka memasuki pelataran Mall. Aqil dan Aqila tampak antusias di dalam mobil yang sudah tidak sabaran untuk mencoba arena bermain anak.
Sementara pengendara motor sport yang sedari tadi membuntutinya sudah terlebih dahulu memarkirkan motornya di area parkir, begitu pun mobil hitam yang masih mengawasi mobil Morgan.
"Target sudah di depan mata." ucap pria bertopeng lewat earphone kecil yang terhubung dengan para rekannya.
"Ya, terlebih dahulu aku akan menghabisi wanita berhijab itu, kemudian menghabisi kedua anak kecil yang bersamanya." ucap pria bertopeng itu dengan seringai jahat di sudut bibirnya.
"Bagus, aku setuju. Bersiaplah mereka sudah turun dari mobil." pinta rekannya.
"Oke" ucap pria bertopeng itu yang masih betah duduk di jok motornya.
Terlihat Mai dan Morgan berjalan beriringan dan masing-masing membawa anak kecil.
Pria bertopeng itu mulai mengikutinya dan saling terhubung dengan rekannya.
"Mereka berjalan ke arena bermain anak. Cepatlah awasi mereka disana, lalu mainkan gong nya."
"Berhati-hatilah, aku baru saja mendapatkan informasi bahwa bodyguard nya tersebar di area mall, kesemuanya berpakaian preman jadi sulit untuk dikenali." peringat rekannya.
"Jangan khawatir, ini kesempatan emas untuk menghabisi mereka." ucapnya sambil melangkah mengikuti langkah kaki Morgan dan Mai.
"Paman, aku mau coba main perosotan." ucap Aqil dengan mata berbinar melihat semua arena bermain.
__ADS_1
"Aqil, kita coba main komedi putar saja. Iya kan Paman" usul Aqila antusias.
"Iya, kalian boleh mencobanya, semua arena bermain bisa kalian coba sepuasnya. Tapi, dalam pengawasan Paman." timpal Morgan tersenyum tipis
"Baik Paman."
"Horeee." Aqila dan Aqil bersorak gembira dan begitu bahagia mengunjungi tempat tersebut.
Mai hanya mampu tersenyum merekah melihat raut wajah mereka tampak bahagia.
"Ayo kakak baik." ucap Aqila sambil menarik tangan Mai untuk mengikutinya. Karena ia ingin naik komedi putar.
"Ha ha ha, ini sangat menyenangkan kakak baik."teriak Aqila dengan bahagianya yang sedang mencoba komedi putar. Begitu halnya dengan Aqil yang tampak bahagia bahkan sejenak mereka melupakan orang tuanya.
Dari kejauhan sosok pria bertopeng mulai mengeluarkan pistolnya lalu diarahkan ke arah Mai yang menjadi target utamanya. Dengan bidikannya yang begitu tajam pria bertopeng itu perlahan menarik pelatuk nya hingga terdengar suara....
Dor
Sayangnya bidikannya tidak tepat sasaran karena Mai berpindah dari posisinya. Hal itu mengundang keributan di tempat tersebut.
Mai menjadi panik melihat tiga pria bertopeng berlarian kearahnya bahkan mengarahkan pistolnya ke arah dirinya dan juga Morgan.
"Awas tuan!." teriak Mai dan berlarian untuk melindungi ponakan kembarnya.
Morgan yang melihat keributan tersebut langsung turun tangan melawan ketiga pria tersebut. Salah satu pria itu bahkan menembak ke arah Morgan, untungnya Morgan mampu menghindari serangan mematikan tersebut.
"Cepat, amankan anak-anak." teriak Morgan memberikan peringatan kepada Mai.
"Iya kak."
Mai bergerak cepat, kemudian segera menurunkan Aqil dan Aqila dari komedi putar lalu membawanya ke tempat yang aman. Tampak anak kembar itu menjadi bingung sendiri melihat kekacauan di tempat tersebut.
Mai menggendong Aqila sedang Aqil berjalan di sampingnya yang senantiasa menggenggam tangannya. Mai begitu shock melihat secara langsung orang-orang berdatangan melakukan penyerangan terhadapnya.
Sementara Morgan mulai melawan ketiga penjahat pelaku penyerangan. Tak berselang lama, para bodyguardnya berdatangan untuk membantunya melawan para pelaku penyerangan.
Morgan kemudian membiarkan bodyguardnya melawan pelaku penyerangan. Dia pun berlarian kesana-kemari untuk mencari keberadaan Mai yang sedang membawa ponakan kembarnya mencari tempat yang aman.
Morgan terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Mai bersama ponakannya, hingga matanya membulat sempurna melihat Mai tengah dihadang oleh tiga pria tak dikenal, masing-masing menodongkan pistol ke arah Mai. Bahkan Aqila sudah menangis di gendongan Mai.
__ADS_1
Sementara Mai hanya mampu mematung yang tak bisa melakukan apa-apa, hanya doa yang mampu dilafalkannya dan menyerahkan segalanya kepada sang pencipta.