
"Temani aku tidur malam ini." bisik Morgan ditelinga Mai, membuat Mai terlonjat kaget hingga tersipu malu dengan rona wajah memerah.
"Baik kak." ucap Mai tersenyum merekah yang tampak malu-malu.
Morgan tergelak tawa mendengar ucapan Mai lalu mencubit gemas hidung kecil Mai. Baru kali ini dirinya sebahagia ini, inikah tandanya dia sedang jatuh cinta?
Selesai mengobati luka ditubuh Morgan, Mai kembali membantu Morgan memakaikan baju dengan sangat hati-hati.
"Sudah selesai, aku mau ambil air wudhu dulu. Sudah waktunya sholat Maghrib." ucap Mai tersenyum lalu berbalik badan melangkah ke kamar mandi.
Morgan tampak terdiam mendengar ucapan Mau, ia pun tengah memikirkan sesuatu.
"Tolong siapkan juga sajadah untukku. Aku mau kita sholat bersama." ucap Morgan dengan penuh keyakinan mau menjalankan perintah Allah swt.
Mai langsung berbalik badan kearahnya.
"Baik kak." Mai tersenyum sambil mengangguk yang begitu bahagia tuan mudanya akhirnya berubah dan mau menjalankan perintah Allah swt. Kemudian Mai lekas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Begitu halnya dengan Morgan, hatinya tersentuh untuk menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim, dia pun ingin menjadi imam bagi istrinya.
Tampak mereka sholat Maghrib bersama dengan penuh khusyuk. Selepas sholat Maghrib, mereka masih sibuk memanjatkan doa sembari menunggu waktu isya.
"Alhamdulillah, akhirnya kak Morgan berubah." gumam Mai tersenyum tipis menatap punggung kekar suaminya yang duduk bersila di atas sajadah tepat di depannya.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain....
Terlihat pria gagah bermanik hitam dengan umur di atas tiga puluhan tampak duduk penuh wibawa di kursi kebesarannya. Tangannya di kepal kuat saat mendengar penjelasan dari orang kepercayaannya.
"Penyerangannya gagal tuan, sekarang para anggota The Tiger kembali turun tangan untuk mencari keberadaan markas besar kelompok The Posse." ucap Pria bertopeng sambil menundukkan pandangannya di hadapan ketuanya.
"Shiittt, kerja tak becus." kesalnya lalu melempar pisau belati nya hingga mengenai jantung pria bertopeng itu.
Seketika pria bertopeng itu tewas saat itu juga dengan tubuh berlumuran darah.
__ADS_1
"Singkirkan jasadnya!" teriaknya dengan amarah menggebu-gebu.
Anak buahnya berdatangan lalu mengangkat tubuh pria bertopeng itu dari hadapannya.
"Tenangkan dirimu Al. Satu jam lagi kamu akan bertemu dengan pihak perusahaan JM Group yang akan dilaksanakan di hotel Mexy, bertujuan untuk membahas kontrak kerja sama yang kembali diperpanjang." ucap Pria bermanik coklat berusaha meredakan amarahnya.
"Bagaimana bisa aku tenang Richard, musuhku masih bebas berkeliaran di luaran sana. Aku tidak tinggal diam sebelum menghancurkan keluarga Alexander. Karenanya aku menjadi yatim piatu. Ayah dan ibu ku dibunuh dengan cara tragis. Semua orang yang kusayangi semuanya dirampas. Balas dendam menjadi tujuan utamaku saat ini."
"Ya, aku mengerti tentang apa yang kamu alami. Tapi, kurasa balas dendam hanya mampu menghancurkan mu."
"Heh tau apa kamu tentang hidupku, Richard. Apapun yang kulakukan sesuai dengan tujuanku saat ini. Jadi jangan sok mengajariku, barusan kamu menyebutkan Perusahaan JM Group? tunggu... bukankah pemilik perusahaan JM Group adalah kerabat terdekat Adelio?" ucapnya dengan seringai licik diwajahnya.
"Benar Alfhat, pemilik perusahaan JM Group bernama tuan David Mayer. Dan Tuan David adalah paman dari Adelio. Aku tidak menyangka tuan David tak menaruh curiga sedikitpun terhadap perusahaanmu, padahal seluruh perusahaan dalam naungan Alexander Group tak satupun mau bekerja sama dengan perusahaanmu. Sepertinya pria paruh baya itu mulai pikun hingga tak menyelidiki terlebih dahulu perusahaan yang kamu pimpin."
"Ooh berarti, Itu tandanya mereka adalah keluarga serumpun. Ha ha ha, sepertinya aku mendapatkan tangkapan bagus. Akulah pemilik saham terbanyak di perusahaan tersebut. Kurasa aku harus memanfaatkan keadaan ini demi bisa balas dendam kepada keluarga Alexander Karena mereka aku tidak bisa merasakan kasih sayang dari orang tuaku." ucapnya tersenyum sinis sambil mengepalkan tangannya.
Ya pria gagah itu adalah Alfhat dan yang bersamanya adalah Richard (sekretarisnya).
"Persiapkan meeting itu sebaik mungkin. Jangan ada kesalahan sedikitpun."
"Oke bos ku." ucap Richard cepat. "Dengar-dengar Maura sudah siuman, apa kamu tidak menemuinya?"
"Maksudmu?"
Alfhat menghela nafas berat.
"Maura lumpuh total dan tak bisa berjalan. Tidak hanya itu, dia mengidap kanker otak dan penyakit langka. Lambat laun daya ingatannya akan hilang perlahan. Dan Sam memvonisnya hanya bisa bertahan hidup kurang lebih tiga bulan lamanya."
"Ya Tuhan, sungguh malang nasibnya. Mengalami kecelakaan tragis, ditinggal nikah oleh pria yang dicintainya dan sekarang dia mengidap penyakit mematikan dan hanya mampu bertahan hidup hingga beberapa bulan saja. Wow kehidupannya sungguh menyedihkan."
"Ya, hidupnya sangat menyedihkan."
*
*
__ADS_1
*
Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit.
"Kenapa aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku dok? kenapa? apa aku tidak bisa berjalan lagi?" tanya Maura dengan mata berkaca-kaca kepada dokter yang menanganinya. Bahkan Maura memukul kedua kakinya dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Hentikan, kamu hanya menyakiti dirimu sendiri." Dokter Samuel langsung mendekatinya untuk menghentikan aksinya itu.
Maura kembali memberontak untuk memukuli kedua kakinya, namun Dokter Samuel dengan cepat memegang kedua tangannya.
"Hiks.... hiks... hiks..aku harus pulang, Morgan pasti sedang mencariku, kami akan segera menikah. Tolong bantu aku dok, aku harus pulang" ucap Maura berderai air mata.
Pasalnya dia ingin pergi dari tempat tersebut, namun sayangnya kedua kakinya tak bisa digerakkan sama sekali. Apalagi digunakan untuk berjalan.
Samuel hanya mampu menyerahkan sebuah amplop yang berisi tentang hasil citi scan. Maura membulatkan matanya melihat isi dari amplop tersebut, hingga air matanya lolos dengan derasnya membasahi pipinya.
"Morgan, maafkan aku...hiks.... hiks. Aku sangat merindukanmu Morgan." lirihnya dengan dada sesak. Hatinya bagaikan teriris pisau belati mendapati kenyataan pahit tentang dirinya yang divonis lumpuh total dan tidak bisa berjalan seumur hidupnya.
Bagaimana nantinya? akankah Morgan bersedia menerima segala kekurangan? Dan siapakah wanita yang akan bersanding dengan pria yang sangat dicintainya itu?
🍁🍁🍁🍁
Apartemen Morgan....
Kebetulan malam ini Mai tidur bersama dengan Morgan. Tampak pasangan suami istri itu tengah berbaring di atas tempat tidur dengan posisi berpelukan. Dimana terlihat Morgan sedang memeluk Mai.
Hingga pria itu melepaskan pelukannya dengan tubuh mulai berkeringat dingin. Keringat mulai bercucuran membasahi wajah Morgan.
"Pergi Maura, aku tidak sudi melihatmu kembali." ngigau Morgan tampak gelisah berusaha meminta pergi wanita dalam mimpinya
"Pergi, jangan ganggu aku lagi. Pergi Maura!" teriak Morgan berteriak histeris. Membuat Mai terbangun dari tidurnya.
"Kak." Mai mencoba untuk membangunkannya karena yakin tuan mudanya sedang mimpi buruk, namun Morgan terus menyebut nama wanita lain.
"Maura!" teriak Morgan hingga terbangun dari mimpi buruknya. Tampak Morgan ngos-ngosan. Mai langsung mengulurkan tangannya mengambil segelas air minum di atas nakas.
__ADS_1
"Minum dulu kak " ucap Mai lembut dan Morgan mengambil gelas di tangannya lalu meneguknya cepat.
Maura? siapakah wanita itu?. Batin Mai bertanya-tanya dalam hati.