Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Mai terlonjat kaget melihatnya dan tanpa basa-basi dia segera berlari kencang lalu mendorong tubuh ibu mertuanya. Bersamaan pula penjahat langsung menusukkan pisau nya tepat di perut Mai, lalu menendang tubuh Mai hingga terjatuh.


Brukkk


"KHUMAIRA!!" Nyonya Milan berteriak memanggilnya dan terkejut melihat Mai terluka.


"Mama...." lirih Mai kesakitan hingga tak sadarkan diri. Darah segar mengalir dari perutnya dan juga pangkal pahanya hingga mengotori pakaiannya.


"TIDAK!!!" Nyonya Milan histeris melihat Mai terluka. Dia sudah menganggap Mai sebagai putrinya sendiri.


Sementara itu, salah satu bodyguard langsung mengejar pengendara motor tadi lalu menangkapnya untuk membawanya pergi. Tapi, pengendara motor itu terus memberontak untuk lepas, mau tak mau sang bodyguard langsung menembaknya hingga tewas dan segera membereskannya.


Wanita paruh baya yang masih mengintai dari dalam mobilnya berdengus kesal sambil memukul stir mobilnya, rencananya lagi-lagi gagal. Bukan Milan yang menjadi targetnya, malah wanita muda yang terkena tusukan dari orang suruhannya.


Setelah itu, dia langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh siapapun, termasuk para bodyguard keluarga Alexander.


Wanita paruh baya itu bernama Isabella Roberto, istri dari mendiang tuan Alberto. Kedatangannya ke negara A semata-mata untuk balas dendam atas kematian suaminya (tuan Alberto) kepada keluarga Fino.


Satu-satunya yang selalu menjadi incarannya adalah Nyonya Milan, karena gara-gara wanita itu suaminya tewas di tangan ketua mafia The Tiger yang ternyata suami Milan sendiri. Jadi mereka sepasang suami istri yang sudah membunuh suaminya.


Sudah bertahun-tahun lamanya dia menaruh dendam kepadanya. Suaminya meninggal dunia di tengah dirinya sedang mengandung putranya. Itu hal yang menyakitkan baginya. Dan sekarang dia datang untuk balas dendam.


***


Pengawal lainnya segera menghampiri nyonya Milan lalu bergegas memasukkan Mai ke dalam mobil, lalu disusul oleh Nyonya Milan yang terlihat panik dan tak berhenti menangis melihat keadaan Mai.


"Cepat, jalan!." bentak Nyonya Milan yang berderai air mata, dimana posisinya memangku kepala Mai. Dia sungguh takut Mai dan calon cucunya kenapa-kenapa. Tak henti-hentinya wanita paruh baya itu mendoakan keselamatan Mai bersama calon bayinya.


Sang supir langsung menancap gas menuju rumah sakit terdekat.


Devan begitu terkejut melihat insiden secara tiba-tiba dialami oleh wanita pujaan hatinya. Dia berlari menghampiri mereka, namun mobil yang membawa Mai keburu pergi.


Devan menutup mulutnya dan merutuki kebodohannya sendiri karena tidak sempat menyelamatkan Mai. Padahal dirinya berada di tempat yang sama.


"Arghh." Devan menjambak rambutnya dengan mata berkaca-kaca melihat lumuran darah di atas aspal. Dia sungguh bodoh, niatnya untuk menculik Mai mendadak ia urungkan. Dia tidak ingin lagi memikirkan rencananya itu, dia sungguh mengkhawatirkan kondisi Mai.


Devan segera berlari menuju mobilnya dan langsung menancap gas untuk menyusul mobil yang membawa Mai pergi.

__ADS_1


Sementara si kembar juga di masukkan ke dalam mobil dan langsung dibawa pergi dari tempat tersebut. Walaupun mereka memberontak sambil menangis karena ingin bersama Oma dan bundanya.


Tak berselang lama kemudian mobil yang membawa Mai sampai di rumah sakit terdekat.


Mai segera diangkat lalu dibawa ke ruang UGD.


Nyonya Milan terlihat panik dengan mata sembab berdiri di depan pintu ruang UGD. Pakaian yang dikenakannya tampak kotor dipenuhi darah. Karena dia yang sempat mengangkat tubuh Mai lalu memangku nya.


Tak lupa Nyonya Milan menghubungi putranya untuk memintanya datang ke rumah sakit. Lalu kembali menghubungi sang suami dan juga keluarga lainnya perihal Mai masuk rumah sakit.


Morgan yang mendengar kabar dari ibunya, menghentikan pekerjaannya. Morgan langsung bergegas pergi menuju rumah sakit yang dimaksud oleh ibunya.


Sementara itu, Devan sudah tiba di rumah sakit. Dia langsung menghampiri nyonya Milan untuk mencari tahu kondisi Mai.


"Bagaimana keadaan Khumaira, nyonya?" ucap Devan khawatir.


"Saya belum tahu, dokter masih menanganinya." ucapnya diiringi isak tangis.


Devan menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu memilih duduk di kursi tunggu. Sembari menunggu dokter yang sedang menangani Mai.


Hanya lima belas menit, Morgan sampai di rumah sakit yang dimaksud oleh sang ibu. Dia berjalan terburu-buru masuk ke dalam rumah sakit. Tangannya dikepal kuat melihat Devan juga berada di sana menemani sang ibu.


"Aku hanya ingin melihat kondisi Istrimu." ucap Devan.


"Tapi, aku tidak suka melihatmu disini. Sebaiknya pergi, sebelum kesabaran ku habis." ucap Morgan marah lalu mendorong tubuh Devan.


"Jangan buat keributan." ucap Nyonya Milan melerai mereka.


"Tapi, Mama, kehadirannya tidak dibutuhkan disini. Dia hanya orang asing." kesal Morgan.


Sementara Devan yang mendengar obrolan mereka hanya mampu mengusap wajahnya dengan kasar lalu merapikan jasnya. Semoga kondisi Khumaira baik-baik saja.


"Baik, aku akan pergi." ucap Devan mengalah.


Setelah kepergian Devan, Morgan mendekati sang ibu untuk menanyakan perihal kondisi istrinya.


"Mama, bagaimana kondisi Mai?" tanya Morgan panik sambil memegang kedua bahu ibunya, dimana sang ibu terlihat menunduk.

__ADS_1


Ibunya hanya mampu menangis tersedu-sedu, dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya hingga dilarikan ke rumah sakit.


Morgan merasa kasihan kepada ibunya, dia pun tidak kuasa dan langsung berhambur memeluk ibunya. Morgan menepuk-nepuk pelan punggung ibunya untuk menenangkannya. Padahal dirinya sendiri juga tidak tenang saat ini.


"Seseorang ingin mencelakai Mama, tapi Mai yang datang menyelamatkan Mama hingga....hiks...hiks...hiks...Mai yang terluka...Mai terkena luka tusukan di perutnya."


Deg!


Dada Morgan mendadak sesak, terasa dihantam batu karang. Jantungnya seakan berhenti berdetak dipenuhi ribuan jarum. Ucapan ibunya seketika membuatnya tak berdaya.


Pikirannya langsung tertuju kepada istrinya dan calon bayinya. Semoga saja mereka berdua selamat. Dia merasa menyesal karena tidak ekstra siaga menjaga sang istri yang tengah mengandung anaknya.


"Maafkan Mama Morgan, Mama sungguh lalai menjaga istrimu." Nyonya Milan terus mengoceh dengan tangis pilu.


Morgan hanya mampu diam membisu dan tak berani bersuara, apalagi menanggapi ucapannya ibunya. Tubuhnya seakan mati rasa dengan mata ikut berkaca-kaca merasakan rasa sakit yang sedang dialami istrinya di dalam sana.


Dia merasakan perasaan sedih, pilu, khawatir, takut dan semuanya sudah campur aduk menyelimuti perasaannya. Tidak hanya itu, dia merasa kasihan kepada istrinya dan juga calon bayinya yang masih ditangani oleh dokter.


Tuan Fino baru juga sampai, kemudian bergegas menghampiri keluarganya. Mai sudah dipindahkan ke ruang operasi. Sekitar dua jam berlalu, Mai masih ditangani oleh dokter di dalam sana.


Sementara keluarganya terlihat khawatir dan selalu memanjatkan doa untuk Mai dan calon bayinya. Morgan masih saja berdiri di depan pintu ruang operasi sembari menunggu pintu ruang operasi terbuka.


Tak berselang lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka dan menampilkan dokter wanita yang baru saja menangani Mai.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" tanya Morgan.


Dokter wanita itu tidak langsung menjawab, dia hanya menghela nafas berat sambil memperbaiki posisi kacamatanya.


"Kami sudah bekerja keras. Tapi....bayi dalam kandungan istri anda tidak bisa tertolong. Istri anda mengalami keguguran, akibat luka tusukan dan benturan keras. Mengenai kondisi istri anda, dia masih perlu menjalani tahap perawatan selama seminggu lamanya pasca mengalami keguguran." jelas dokter wanita tersebut.


Deg!


Semua orang terkejut mendengar ucapan Dokter, Nyonya Milan langsung menangis histeris, tuan Fino segera menenangkannya.


Sementara Morgan tak kuasa menahan kesedihannya kehilangan calon bayinya, dan tak terasa air matanya menetes dengan sendirinya. Sungguh hatinya begitu hancur berkeping-keping. Mendapati kenyataan pahit yang begitu menyakitkan dialaminya sekarang, kehilangan calon bayinya yang selalu dinantikan selama ini.


Sungguh dia ingin berteriak keras dan memukul orang-orang di sekitarnya karena mendengar kabar tersebut.

__ADS_1


Jangan lupa, like hadiah, komen dan vote ya teman-teman 🤗 terima kasih 🙏


__ADS_2