Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Positif Hamil


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Mai dan Morgan begitu antusias dan tengah bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Karena tepatnya hari ini Mai akan melakukan pemeriksaan untuk melihat hasil dari program kehamilannya.


Namun sebelum pergi, Mai bergegas ke kamar mandi sambil menyembunyikan sesuatu di balik saku bajunya. Sebelum pergi ke rumah sakit, dia ingin membuktikan sesuatu terlebih dahulu. Jangan sampai dia hanya dikecewakan dengan hasil pemeriksaan dari dokter setelah ini.


Saat berasa di dalam kamar mandi, Mai mengeluarkan benda yang disembunyikannya. Sebuah alat tes kehamilan yang sempat dia beli beberapa hari yang lalu. Namun, Mai belum berani untuk mencobanya, tapi sekarang dia akan mencoba alat tersebut.


Mai mengambil gelas plastik yang berisi dengan urine miliknya, dia sudah menyiapkannya saat bangun tidur. Kemudian Mai membuka bungkusan alat tes kehamilan atau testpack, lalu di celupkan ke dalam gelas yang berisi urine sesuai dari petunjuk bungkusan testpack.


Mai terlihat cemas sambil mondar-mandir menunggu testpack itu bekerja.


Bismillah, dengan kuasa dan kehendak mu Ya Allah, jadikanlah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dan mudahkanlah segala urusan hamba. Berilah hamba keturunan yang baik, sholeh dan sholehah, serta kabulkanlah segala doa dan hajat hamba mu ini, sesungguhnya engkau yang Maha mendengar doa-doa hamba mu, aamiin ya Rabbal Al-Amin. Batin Mai sambil mengusap wajahnya.


Beberapa menit kemudian berlalu, Mai masih bersandar di dinding kamar mandi dengan pandangan tertuju pada testpack yang masih bereaksi.


"Sayang, apa kamu ada di dalam?" teriak Morgan sambil mengetuk pintu kamar mandi. Mai terkejut mendengar suara Morgan, dia tidak ingin membiarkan Morgan masuk ke kamar mandi.


"Iya, tunggu sebentar." ucap Mai balas berteriak kepadanya.


"Bergegaslah sayang, aku tunggu di bawah." ucap Morgan.


"Iya." Mai segera mendekat ke meja wastafel lalu mengambil testpack tadi. Mai memejamkan matanya sambil memanjatkan doa sebelum melihat hasil dari testpack tersebut.


Lagi-lagi Mai menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum melihat hasil dari testpack tersebut, setelah yakin Mai langsung melihat testpack tersebut, hingga matanya membulat sempurna dan tak berselang lama air matanya menetes dengan sendirinya membasahi pipinya.


Dua garis merah terpampang jelas di testpack tersebut. Itu berarti menandakan bahwa dirinya positif hamil.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Akhirnya aku positif hamil." ucapnya diiringi isak tangis haru plus bahagia. Dia bahkan mencium testpack tersebut saking bahagianya.


Mai tersenyum bahagia sambil mengusap air matanya. Apakah dia harus mengatakan sekarang bahwa dirinya tengah hamil? tapi, sebaiknya dia merahasiakan terlebih dahulu kabar kehamilannya, mengigat hari ini adalah jadwal pemeriksaannya di rumah sakit, sebaiknya dokter yang mengungkapkan perihal kehamilannya.


Buru-buru Mai menyimpan testpack nya di dalam laci yang biasa digunakan untuk menyimpan handuk. Setelah itu dia bergegas keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Semua orang sudah menunggunya di ruang tamu. Dikarenakan ibunya dan Mama Milan akan ikut bersamanya ke rumah sakit untuk melihat langsung hasil pemeriksaannya.


"Kalau begitu ayo berangkat." ucap Morgan langsung menggandeng tangan istrinya.


Mereka berjalan bersama-sama menuju mobilnya, lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Setelah semuanya lengkap, mobil melaju menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, mereka bergegas ke ruangan dokter Latifah, dokter spesialis kandungan yang menangani Mai. Hanya Mai dan Morgan yang masuk dalam ruangan dokter, sementara ibu mereka menunggu di luar.


"Baiklah, silahkan berbaring nona Mai. Kita akan melakukan pemeriksaan terhadap anda." ucap Dokter Latifah tersenyum ramah yang sudah memegang stetoskop untuk memeriksa pasiennya.


Mai tersenyum tipis sembari mengangguk menanggapi ucapan dokter tersebut. Berbagai tahapan pemeriksaan dilakukan oleh Mai dan terakhir melakukan USG.


"Program kehamilan anda berhasil, lihatlah janin sudah tumbuh dengan baik di dalam rahim anda. Perhatikan baik-baik, disini terlihat dua benjolan kecil, itu artinya janin anda kembar" ucap dokter Latifah tersenyum melihat layar monitor. Sedangkan Mai hanya mampu tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan perasaannya sangat-sangat bahagia dan bersyukur atas kehamilannya.


Sementara Morgan tak bisa menggambarkan perasaannya seperti apa, kedua matanya sudah berkaca-kaca, yang jelasnya dia sangat bahagia dan sangat terharu setelah mendengar penjelasan dokter perihal kehamilan istrinya. Istrinya dinyatakan positif hamil dan itu tandanya program kehamilan yang dijalani oleh istrinya berhasil.


Setelah selesai melakukan USG, Mai dan Morgan kembali mendengarkan penjelasan dari dokter Latifah perihal kehamilannya. Print out hasil USG sudah berada di tangan Mai, tak henti-hentinya Mai tersenyum merekah sambil mendekap hasil USG calon bayinya. Sementara Morgan terlihat fokus mendengarkan semua penjelasan dari dokter Latifah perihal kehamilan istrinya.


"Iya sama-sama, perbanyak minum air putih dan mengonsumsi makanan yang bernutrisi tinggi, buah-buahan dan sayuran." ucap Dokter Latifah


"Baik dok, kalau begitu kami permisi." ucap Mai tersenyum dan pamit undur diri.


Dokter Latifah ikut tersenyum lalu menjabat tangan Mai dan Morgan. Setelah itu, Mai dan Morgan bergegas keluar dari ruangan dokter Latifah dengan wajah berseri-seri penuh kebahagiaan.


"Sayang, bagaimana?" tanya Nyonya Milan yang langsung menghadang mereka untuk meminta penjelasan.


"Mai...positif hamil, Mama." ucap Morgan antusias.


"Alhamdulillah." Nyonya Milan dan Bu Siti kompak mengucapkannya. Kemudian mereka berhambur memeluk Mai dan memberikan selamat untuknya.


Senyuman bahagia terpancar di wajah mereka keluar dari rumah sakit. Mai berada dalam pengawasan kedua wanita paruh baya itu, Morgan hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah ibunya dan ibu Mai.

__ADS_1


Kemudian Morgan bergegas membukakan pintu mobil untuk mereka, lalu disusul dirinya. Hingga mobil yang membawa mereka melaju pelan meninggalkan tempat tersebut.


Kabar kehamilan Mai sudah menyebar di keluarga Alexander. Semua orang begitu senang mendengar kabar kehamilan Mai, bahkan mereka memberikan ucapan selamat dan bingkisan hadiah atas kehamilan Mai.


Selama hamil, Mai selalu dalam pengawasan ketat oleh Morgan dan para orang tuanya. Untuk itu Mai lebih betah tinggal di rumah dan menikmati masakan rumahan.


Untuk mengurangi kebosanannya selama tinggal di rumah yang kerjaannya cuma makan, tidur, main ponsel, nonton film, baca buku edisi kehamilan, hal itu membuat Mai menyibukkan dirinya dengan hal yang baru, yakni bercocok tanam di taman belakang dengan cara hidroponik.


Semua peralatan disiapkan oleh tukang kebun yang bekerja di kediamannya. Jadi, dia hanya perlu menanam aneka macam sayuran dan dibantu langsung oleh sang suami beserta ibunya.


Mai sangat senang menjalani aktivitasnya. Kehamilannya pun berjalan lancar tanpa mengalami morning sickness di trimester pertama. Aksi ngidam juga tak muncul di kehamilannya kali ini. Dia hanya doyan makan, maklum ada dua janin dalam perutnya yang selalu butuh asupan makanan.


Setiap kali melakukan pemeriksaan kandungan, dia selalu dikawal ketat demi keselamatannya beserta janinnya. Sungguh Morgan tidak ingin kembali kecolongan, dia harus selalu siaga mendampingi sang istri kemanapun perginya.


Dan hari demi hari berlalu hingga bulan terus berganti. Tak terasa kehamilan Mai sudah memasuki bulan kesembilan. Tinggal menghitung hari, dia akan menjalani persalinan. Mengenai jenis kelamin yang dikandungnya masih saja dirahasiakan sampai detik ini. Mereka hanya ingin memberikan kejutan kepada orang tuanya.


Tampak Mai kesulitan berjalan dengan perutnya yang membuncit besar. Sesekali dia menghentikan langkahnya sambil menghirup udara segar, lalu kembali melangkah.


Sementara itu, Morgan selalu setia berada disampingnya dan bertugas sebagai bodyguardnya selama 24 jam. Namun untuk urusan berjalan, Mai tidak perlu membutuhkan bantuannya


"Apa kamu membutuhkan sesuatu sayang?" tanya Morgan yang selalu berada di samping sang istri.


Mai hanya mampu menggeleng pelan sambil mengelus perut buncitnya. Kemudian Morgan mengulurkan tangannya lalu bergerak mengelus lembut perut buncit sang istri.


"Sayang, mereka kembali menendang." ucap Morgan tersenyum karena mampu merasakan calon bayinya menendang di dalam perut ibunya.


"Mereka sangat bahagia bisa dekat dengan ayahnya" ucap Mai tersenyum tipis. Kemudian Morgan membungkuk mencium perut buncit Mai.


"Anak-anak kesayangan ayah dan bunda, dengar ya, sebentar lagi kalian akan melihat dunia ini. Jadi yang sabar di perut bunda, jangan pada rewel." ucap Morgan mengajak berbicara calon bayinya. Mai hanya mampu tersenyum dan kembali merasakan calon bayinya menendang-nendang.


"Baik ayah." ucap Mai membalas ucapan sang suami. Namun tiba-tiba Mai meringis kesakitan merasakan perutnya berdenyut nyeri.

__ADS_1


__ADS_2