
Mai bergegas keluar kamar sambil membawa paper bag yang dimaksud oleh Morgan. Dan pandangan Morgan tidak lepas dari Mai hingga Mai berhasil keluar dari kamar tersebut.
Mengapa aku menjadi gugup seperti ini. Jantungku bahkan berdetak kencang tidak seperti biasanya. Jangan-jangan itu tandanya....
Deg!
"Apa aku menyukai Khumaira?" gumamnya tanpa sadar akan ucapannya.
Morgan menyentuh tengkuknya sambil terkekeh kecil menyadari ucapannya.
Ada apa denganku? bagaimana bisa aku berkata seperti itu? Mungkin aku hanya terpesona melihat segala kelakuannya. Tapi, bagaimana jika semua itu benar adanya, aku rasa tidak salah jika aku menyukainya. Batin Morgan tersenyum tipis.
"Mama.... Aqila mau minum susu." rengek Aqila sambil mengucek matanya yang sudah bangun.
Menyadari tidak melihat keberadaan ibunya, Aqila langsung menangis. Morgan bergerak cepat mengelus puncak kepalanya untuk menenangkannya.
Kebetulan sekali Mai datang tepat waktu membawa nampan berisi dua botol susu dan secangkir kopi. Mai segera mendekat lalu meletakkan nampan dibawanya di atas nakas.
"Mama mana? hiks...hiks...Aqila haus, Aqila mau minum susu."ucapnya terisak hingga membangunkan kembarannya.
Morgan sudah panik melihat Aqila menangis. Ditambah Aqil juga sudah bangun. Pastinya mereka akan mencari orang tuanya.
Mai bergerak cepat untuk menenangkan Aqila. Dia membungkukkan badannya lalu menggendong Aqila dan sesekali mengelus punggungnya agar Aqila berhenti menangis. Tak lupa Mai mengambil botol bayi yang berisi susu formula yang biasa diminum si kembar.
"Ini susu nya, bukankah Aqila haus." ucap Mai lemah lembut yang memegang botol bayi yang berisi susu formula. Aqila mengangguk dan ingin minum susu.
" Jangan lupa baca bismillah." ucap Mai lemah lembut sambil membantunya minum susu.
Sementara Morgan membawa Aqil duduk di sofa. Mereka duduk bersama sambil menikmati minumannya. Aqil yang anaknya tipikal pendiam dan irit bicara hanya diam meminum susu sedangkan Morgan sedang meminum kopinya.
Morgan selalu saja fokus memperhatikan Mai yang sedang menggendong Aqila dan terus mengoceh. Hatinya seketika tersentuh melihat Mai menunjukkan kasih sayangnya kepada ponakannya.
"Aqil, setelah habis minum susu, kamu harus mandi ya, biar paman yang memandikanmu." ucap Morgan tersenyum tipis.
"Baik Paman." ucap Aqil dengan patuhnya.
"Kakak baik, Aqila mau duduk di sana." ucap Aqila menunjuk ke arah sofa.
__ADS_1
"Baiklah," Mai tersenyum sambil menghapus sisa-sisa air matanya lalu mendekat ke arah sofa.
Bersama si kembar memberikan banyak pengalaman untuk Mai dan Morgan dengan umur pernikahan mereka yang masih terbilang seumur jagung.
*
*
*
Malam harinya....
Kini mereka sudah berada di meja makan. Mai tampak antusias mengambil makanan untuk si kembar. Morgan hanya mampu tersenyum tipis melihat interaksi mereka. Hingga mereka baru menikmati makanannya setelah Aqil selesai membaca doa.
Mai terus memancarkan senyuman bahagia melihat Aqil dan Aqila tampak lahap menyantap makanannya. Tidak hanya itu, Morgan tak jarang melempar senyum kepada Mai. Hal itu membuat Mai tersipu dengan rona wajah memerah. Sepertinya benih-benih cinta mulai muncul diantara mereka.
Selesai makan malam bersama, Morgan membawa ponakan kembarnya menonton film kartun. Sementara Mai sibuk membersihkan piring kotor bekas makan malam.
Setelah bosan menonton film kartun. Morgan dan Mai kemudian membawa mereka ke kamar, pasalnya Aqil dan Aqila sudah mengantuk sedari tadi.
Tapi, sebelum tidur, kembali Morgan dan Mai membantu Aqil dan Aqila bersih-bersih terlebih dahulu mulai dari gosok gigi, cuci tangan, cuci kaki sebelum tidur. Dan kini mereka berempat sudah berada di atas tempat tidur.
Mai dan Morgan merasa canggung berada di tempat tidur yang sama. Mereka bahkan tampak saling curi-curi pandang.
"Paman, kapan Mama dan Papa pulang?" tanya Aqila dengan mata sendu yang kembali mencari ibu dan ayahnya.
Morgan melirik Mai lewat ekor matanya untuk memberikan jawaban yang bagus, namun Mai hanya tersenyum tipis menanggapinya yang sedang mengelus punggung Aqila.
"Secepatnya, mereka sedang bekerja. Setelah pulang nanti Mama dan Papa kamu akan membawa mainan baru untuk Aqila dan juga Aqil." jawab Morgan tersenyum tipis.
"Hoamm, Aqila sudah rindu Mama...Papa." ucap Aqila dengan mata berat dengan rasa kantuk tak bisa ditahan lagi hingga akhirnya bocah imut itu tertidur.
"Hoamm, Aqil mau pipis Paman." ucap Aqil dengan wajah memelas yang kembali bangun.
"Ayo, jangan sampai kamu pipis di tempat tidur." ucap Morgan dan langsung mengangkat tubuh Aqil untuk membawanya ke kamar mandi.
Mai tersenyum melihat tingkah lucu mereka. Mai yang asyik memandangi wajah cantik Aqila dikejutkan dengan suara dering ponselnya. Dengan hati-hati Mai menggeser tubuhnya lalu turun dari tempat tidur untuk mencari ponselnya.
__ADS_1
Mai menemukan ponselnya di atas sofa, dia bergegas mengambilnya dan terlonjat kaget melihat nomor baru yang sangat dikenalinya, karena baru beberapa jam selalu menghubunginya.
Mai menjadi gusar dan langsung membulatkan matanya melihat pesan masuk di ponselnya.
[ Angkat telepon ku nona Khumaira manis atau aku datang ke unit apartemen mu untuk menemui mu langsung.]
Begitulah pesan masuk di ponselnya, di mana orang itu sedang mencoba mengancamnya.
Tanpa pikir panjang Mai ingin mengangkat telepon tersebut, namun keburu Morgan memanggil namanya. Dengan terpaksa Mai tak jadi mengangkatnya.
"Khumaira tolong ambilkan celana Aqil, aku tidak sengaja membuat celananya basah." teriak Morgan dari dalam kamar mandi.
"Iya, tunggu sebentar." ucap Mai lalu meletakkan ponselnya di atas meja dan berlari kecil masuk ke ruang ganti untuk mengambil celana Aqil yang sudah dia susun di rak baju.
Tak berselang lama Mai bergegas menghampiri Morgan di kamar mandi.
"Tolong pakaikan celana Aqil, aku juga mau ganti baju." ucap Morgan karena bajunya ikut basah.
"Iya." ucap Mai lalu membantu Aqil memakai celana.
Morgan keluar dari kamar mandi, langkahnya terhenti mendengar suara ponsel berbunyi. Morgan mengedarkan pandangannya hingga melihat ponsel Mai di atas meja. Dia pun mengambil ponsel tersebut untuk melihat siapa yang menelepon malam-malam begini. Kebetulan ponsel Mai tak memakai layar kunci dan sebagainya, otomatis Morgan bisa leluasa mengecek ponsel Mai.
Mata Morgan membola sempurna melihat deretan pesan masuk di ponsel Mai. Seketika tangannya dikepal kuat hingga kuku-kukunya memutih, rahangnya ikut mengeras hanya membaca pesan tersebut. Dadanya ikut bergemuruh sedang menahan amarahnya.
Tanpa basa-basi Morgan langsung memblokir nomor tersebut dan dengan kesalnya melempar ponsel Mai di lantai hingga layarnya retak lalu pergi begitu saja.
Pesan apa gerangan sampai-sampai membuat seorang Morgan marah besar.
Mai yang sedang menggendong Aqil dikejutkan dengan suara benda terjatuh. Dia pun mengedarkan pandangannya hingga melihat ponselnya tergeletak di lantai dengan puing-puing serpihan dari ponselnya.
Mai memilih untuk membaringkan Aqil di tempat tidur lalu menyelimutinya, setelah itu barulah dia bergerak mengambil ponselnya. Mata Mai berkaca-kaca melihat layar ponselnya sudah retak.
Perlahan Mai berjongkok mengambilnya lalu diusapnya ponsel yang sudah dipakai hampir setahun ini. Pasalnya Ponsel tersebut ia beli dari gaji pertamanya menjadi seorang pelayan.
"Ya Allah, bagaimana bisa ponsel ini jatuh, tadi aku kan menyimpannya di atas meja." gumam Mai dengan mata berkaca-kaca lalu mencoba menyalakannya, namun sayangnya ponselnya sudah rusak.
Dia kembali teringat dengan ibunya karena setiap pagi ibunya menelepon untuk menanyakan kabarnya. Tapi, sekarang ponselnya sudah rusak.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗