Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Siasat licik Devan


__ADS_3

Pagi harinya...


Mai tidak lagi mengalami morning sickness. Dia terlihat bugar pagi ini dan sempat berolahraga kecil di balkon kamarnya sambil menikmati udara segar di pagi hari.


Nafsu makannya pun kembali normal, dia selalu mengonsumsi makanan yang bergizi dan bernutrisi tinggi demi tumbuh kembang janin dalam kandungannya. Ibu mertuanya yang selalu turun tangan memasak makanan bergizi tinggi untuknya.


Sementara itu, Morgan mengerutkan keningnya karena tak mendapati sang istri di dalam kamar. Pasalnya dia baru saja selesai mandi. Morgan mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terhubung ke arah balkon kamar. Dan rupanya disanalah sang istri berada.


Morgan tersenyum tipis melihatnya melalui jendela kamar, kemudian dia melangkah ke ruang ganti untuk mengenakan pakaian kantornya. Kebetulan pagi ini ada rapat penting di perusahaannya, dia harus menghadirinya karena peranannya begitu penting sebagai pimpinan perusahaan.


"Biar aku saja yang memasangkan dasi kak Morgan." ucap Mai tersenyum sembari melangkah mendekat ke arah suaminya.


"Baiklah, jika kamu ingin melakukannya sayang." ucap Morgan sambil menyerahkan dasi ditangannya.


Mai tersenyum lalu memakaikan dasi di kerah kemeja suaminya. Morgan senyum-senyum sendiri menunduk menatap wajah cantik sang istri. Lalu kedua tangannya merengkuh pinggang sang istri.


"Sayang, kapan perutmu akan membesar?" tanya Morgan.


"Setelah kehamilanku semakin tua, emm jika kehamilanku sudah memasuki usia tujuh bulanan." ucap Mai tersenyum yang sudah selesai memakaikan dasi untuk sang suami.


"Terima kasih sayang, aku sangat senang kamu yang memakaikan dasi untukku." puji Morgan lalu mendaratkan ciuman di kening sang istri.


"Sama-sama kak, ayo kita turun ke bawah, mama pasti sudah menunggu kita." ajak Mai lalu menarik tangan Morgan.


Mereka melangkah bersama-sama ke ruang makan untuk sarapan bersama. Tampak anggota keluarga lainnya sudah menempati kursinya.


"Bunda Mai harus duduk di samping kami." ucap Aqila tersenyum.


Mai dan Morgan seketika tersenyum lalu saling pandang. Mereka merasa lucu mendengar ucapan Aqila yang memanggil Mai dengan sebutan bunda.


"Ini jauh lebih baik dari pada panggilan sebelumnya." ucap Nyonya Milan tersenyum.


"Bunda? kenapa Aqila memanggil seperti itu." ucap Morgan menatap ke arah Adelia untuk meminta penjelasan.


"Biarkan saja, lagian aku sangat senang dipanggil bunda. Bukankah tidak lama lagi aku akan menjadi seorang ibu." timpal Mai.


"Sebaiknya kalian duduk lalu sarapan." tegur Nyonya Milan.

__ADS_1


Mereka bergegas duduk di kursi lalu memakan sarapannya. Selesai sarapan, Morgan berpamitan kepada istrinya dan juga kedua orang tuanya sebelum berangkat kerja.


*


*


*


Apartemen Kendrick


Sinar mentari pagi begitu leluasa masuk di cela jendela kamar, hingga mampu membangunkan sosok wanita yang meringkuk di atas tempat tidur.


Wanita itu terlonjat kaget dan beranjak duduk. Dia langsung mengedarkan pandangannya melihat disekelilingnya dan sudah tak menemukan pemilik kamar tersebut. Wanita itu mulai memegangi kepalanya hingga bibir kecilnya mengomel ketika tanpa sadar menyentuh keningnya yang terluka.


"Awwww. Ternyata keningku masih sakit. Tunggu, bagaimana bisa aku berada di atas tempat tidur. Padahal semalam posisiku berada di dalam kamar mandi, ya aku baru mengingatnya. Aku terpeleset di dalam kamar mandi hingga membentur daun pintu, terus kesadaran ku perlahan hilang dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Lalu siapa yang sudah mengobati lukaku dan menempelkan plester luka? jangan-jangan si kulkas yang melakukannya." ucap wanita itu panjang lebar yang baru mengingat kejadian semalam. Rupanya wanita itu tidak lain adalah Maureen.


"Astaga, bahkan dia mengganti pakaianku dengan kemejanya, sungguh perhatian. Apa dia mulai ada perasaan kepadaku? Oh senangnya... aku harus menaklukkannya."


"Emm wanginya, aroma tubuhnya masih saja tercium di kemejanya yang sedang aku pakai." Maureen tampak senyum-senyum sendiri sambil mengendus-endus aroma tubuh Kendrick yang masih menempel di kemejanya.


"Kemana perginya si kulkas, apakah dia sudah berangkat ke kantor?" gumam Maureen lalu mengedarkan pandangannya hingga melihat sepucuk surat di atas nakas.


'Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, jangan lupa memakannya, terus minum obat yang ada di atas nakas. Ingat, tak perlu datang ke kantor, aku sudah mengizinkan mu hari ini untuk tidak datang ke kantor, tetaplah tinggal di rumah.'


Maureen tersenyum membacanya. "Tumben dia begitu perhatian kepadaku." gumamnya tersenyum.


"Bersabarlah Maureen, sebentar lagi suami kulkas mu akan bertekuk lutut kepadamu. Kamu hanya perlu tarik ulur kepadanya demi bisa mendapatkan perhatian darinya." ucap Maureen tersenyum lalu mengecup sepucuk surat tersebut.


Sementara itu, Kendrick tidak begitu fokus bekerja. Dia masih memikirkan kondisi Maureen, pasalnya sebelum berangkat kerja Maureen tak kunjung bangun. Padahal dokter yang memeriksa kondisi Maureen semalam mengatakan bahwa Maureen baik-baik saja. Maureen hanya shock hingga membuatnya jatuh pingsan.


"Sial! mengapa aku masih memikirkannya." kesal Kendrick sambil menghentikan pekerjaannya.


Mengapa sekarang dia malah kepikiran dengan Maureen. Jelas-jelas dia begitu membenci wanita penggoda itu. Apa yang sedang terjadi kepadanya.


🍁🍁🍁🍁


Sementara di tempat lain...

__ADS_1


Terlihat pria cukup tampan berdiri tegak di depan kaca jendela raksasa. Dia tampak menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari menatap bangunan pencakar langit diluar gedung.


Pria itu merogoh saku celananya mengambil ponselnya. Kemudian dia menghubungi seseorang.


"Terus awasi Baleno Hatt dan kabari aku jika wanita itu sudah datang untuk mengikuti pelatihan. Kalau perlu bujuk dia agar kembali datang untuk melanjutkan kelasnya. Apapun caranya kamu harus membuat wanita bernama Khumaira bergabung kembali di Baleno Hatt." ucapnya terdengar ketus di ujung telepon.


"Baik tuan." ucap seseorang di ujung telepon.


"Hemm." ucapnya dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Pria itu tidak lain adalah Devan.


"Kamu harus menjadi milikku Khumaira, aku tidak peduli jika kamu sudah menjadi istri orang. Aku akan merebut mu darinya, apapun caranya, aku tidak peduli. Walaupun resikonya begitu tinggi karena harus melawan keluarga Alexander, keluarga penguasa di negeri ini." ucapnya menyeringai licik sambil menatap foto Khumaira di ponselnya dan foto tersebut diam-diam dia ambil ketika Khumaira mengikuti kelas memasak di galeri miliknya.


Keinginannya untuk memiliki Khumaira semakin menjadi-jadi. Apapun akan dia lakukan demi bisa mendapatkan wanita yang diinginkannya. Untuk itu dia menyusun siasat licik demi bisa memiliki Khumaira.


Saat melamun, tiba-tiba ponselnya berdering. Devan segera melihat panggilan masuk tersebut. Tanpa menunggu lama dia langsung mengangkat panggilan masuk tersebut dari salah satu anak buah pamannya.


"Aku melihat target berada di taman kota bersama anak kecil, wanita paruh baya dan dikawal lima bodyguard." ucap seseorang di ujung telepon.


"Terus awasi, jangan sampai lengah. Aku akan segera ke sana. Dan siapkan seluruh anak buah mu, untuk menjalankan rencana kita, kita harus menculiknya." ucap Devan menyeringai licik yang sebentar lagi akan mendapatkan mangsanya.


"Siap tuan." ucap seseorang di ujung telepon.


Panggilan mereka pun berakhir. Lagi-lagi Devan kembali memandangi foto Khumaira.


"Khumaira, tidak seharusnya kamu menjadi bagian dari keluarga Mafia itu. Kamu wanita baik-baik dan memiliki sejuta pesona. Harusnya aku yang lebih dulu mendapatkanmu, bukan para penerus keluarga mafia itu." ucap Devan tidak rela.


***


Sementara itu, Mai tampak senang diajak jalan-jalan oleh Nyonya Milan. Tidak hanya mereka saja, Aqil dan Aqila juga ikut. Mereka semua sedang berada di taman.


"Oma, aku mau es krim." rengek Aqila sambil melihat anak kecil yang memegang cup es krim.


"Tunggu sebentar, Oma akan suruh pengawal untuk membeli es krim untuk kalian." ucap Nyonya Milan tersenyum. Kemudian menyuruh salah satu pengawalnya untuk membelikan cucunya es krim.


Diluar dugaan seseorang sedang mengintai mereka sedari tadi.


Author ucapin banyak terima kasih buat teman-teman semua yang masih setia ngikutin cerita Mai dan Morgan. Terus dukung mereka ya🤗

__ADS_1


Dengan memberikan, like, komentar, hadiah dan vote ya teman-teman 🙏


__ADS_2