
"Mai anakku." ucap ibunya terkejut bahkan matanya sudah berkaca-kaca melihat kedatangan putri semata wayangnya.
"Ibu." Mai langsung berhambur memeluk ibunya, dan ibunya langsung membalas pelukannya dengan eratnya. Seketika suasana haru menyelimuti perasaan ibu dan anak itu.
Morgan yang melihatnya hanya mampu tersenyum. Setelah itu bergerak menghampiri mereka lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya.
Ibu Siti lagi-lagi terkejut dengan tingkah tuan mudanya, yang sekarang sudah menjadi anak menantunya ketika menyalami tangannya.
"Ibu tidak menyangka kalian akan datang. Mai, mengapa tidak mengabari ibu terlebih dahulu, jika kalian akan datang, kalau begini kan jadinya ibu tidak melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan kalian." ucap ibunya sambil melirik ke arah putrinya.
"Maaf ibu, Mai cuma ingin beri kejutan untuk ibu atas kedatangan Mai dengan Kak Morgan." ucap Mai tersenyum sambil memeluk lengan ibunya dengan manjanya.
"Ya sudah, bawa tuan muda ke kamarmu. Sepertinya kalian butuh istirahat. Ibu mau masak dulu untuk makan malam nanti." ucap ibunya tersenyum.
"Ibu tidak perlu memanggil seperti itu, panggil saja namaku. Bukankah aku juga sudah menjadi anak ibu." protes Morgan yang mendengar ibu mertuanya memanggilnya dengan sebutan tuan muda.
"Eeh iya ya, tapi ibu sudah keseringan memanggil tuan muda...eeh maksud ibu nak Morgan dengan sebutan tuan." ucap Bu Siti tidak enak hati.
"Tidak apa-apa ibu. Tapi, mulai sekarang ibu tidak perlu lagi memanggilku seperti itu." ucap Morgan tersenyum tipis.
"Baik nak Morgan, kalau begitu ibu kebelakang dulu."
"Tunggu ibu, aku akan membantumu." Mai bergegas menyusul ibunya.
"Tidak usah, sana temani suamimu." ucap ibunya sambil mendorong pelan tubuh Mai agar tetap menemani Morgan.
Untuk itu Mai lekas menghampiri Morgan. Kemudian membawanya ke kamar. Terlihat Morgan mulai mengamati kamar Mai yang begitu kecil dan sempit menurutnya.
Hanya terdapat tempat tidur berukuran kecil yang muatnya satu orang. Terdapat satu meja, kursi dan lemari pakaian. Untungnya masih memiliki kamar mandi di dalam kamar tersebut.
"Kak, kalau mau mandi ini ya handuknya. Aku sudah menyiapkan air di bak mandi." ucap Mai meletakkan handuk di atas tempat tidur.
"Hemm."
"Mau kopi?" tanya Mai.
"Boleh." jawab Morgan dengan anggukan kepala.
"Aku tinggal sebentar." ucap Mai tersenyum lalu bergegas keluar dari kamar untuk membuat kopi.
Kembali Mai memeluk ibunya untuk mengobati kerinduannya.
"Astaga, anak gadis ibu jangan manja begini. Ya ampun ibu salah ucap lagi, kamu kan sudah tidak gadis lagi." ucap ibunya terkekeh yang sedang memotong sayuran.
Mai tersipu dengan wajah tiba-tiba merona hanya mendengar tutur kata ibunya.
"Bagaimana ibu tau kalau aku sudah tidak gadis lagi?" ucap Mai dengan pertanyaan bodohnya.
"Tentu ibu tau, kamu sudah menikah dan punya suami. Apapun yang ada dalam dirimu tentu ibu tau, karena kamu itu anak ibu." jawab ibunya dengan senyuman puas menghiasi wajahnya.
"Iiih ibu." ucap Mai cemberut sambil melepaskan pelukannya lalu bergegas membuat kopi dan juga teh untuk dirinya.
Selesai membuat kopi, Mai segera membawanya ke kamar. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Mai tersenyum lalu menyusun pakaiannya di lemari sembari menunggu suaminya selesai mandi.
"Apa kamu menungguku." bisik Morgan yang sudah berdiri di belakang Mai yang hanya bertelanjang dada.
"Kak Morgan, ngagetin aja. Cepat pakai baju." tegur Mai dengan raut wajah memerah dan segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
__ADS_1
Morgan terkekeh lalu segera memakai pakaiannya. Setelah itu mereka duduk bersantai sambil menikmati minuman hangatnya dengan menyaksikan pemandangan pegunungan yang terpampang indah di depan matanya.
*
*
*
Sementara di tempat lain......
Setelah hampir satu jam lamanya mengejar mobilnya yang dibawa kabur oleh seorang wanita. Akhirnya Kendrick berhasil menghadang mobilnya dipertigaan jalan yang baru saja terjadi kecelakaan.
"Kamu tidak akan kabur lagi. Hei turun." bentak Kendrick sambil menggedor-gedor pintu mobilnya, alhasil wanita yang mengendarai mobilnya turun dari mobil.
Alangkah terkejutnya Kendrick melihat wanita yang bergaun pengantin itu.
"Maureen!!!" ucap Kendrick dengan suara meninggi, bahkan sorot matanya begitu tajam menatap wanita itu.
"Maaf, aku hanya meminjam mobilmu untuk aku gunakan kabur." ucap wanita itu dengan santainya yang tidak lain adalah Maureen.
"Sial, kamu tahu! aku susah payah hanya mengejar mu! bahkan aku melalaikan pekerjaan penting di kantor! itu semua karena kamu membawa pergi mobilku!" bentak Kendrick dengan amarah menggebu-gebu yang ingin memakan hidup-hidup wanita menyebalkan itu.
"Astaga, perhitungan sekali. Aku hanya meminjam mobilmu tidak berniat untuk mengambilnya." ucap Maureen terlihat cuek.
Kendrick menarik tangan Maureen lalu mendorong tubuhnya hingga membentur kap mobilnya. Setelah itu, Kendrick bergegas masuk ke dalam mobilnya. Namun Maureen bergerak cepat membuka pintu mobilnya lalu kembali masuk ke dalam mobilnya.
"TURUN!!!"
"Tidak mau, bawa aku kemana kamu akan pergi." ucap Maureen sambil menatap kuku-kuku di jarinya.
Kendrick berdengus kesal kesabarannya sudah menipis meladeni wanita yang super menyebalkan seperti Maureen.
"Baiklah, jika seperti itu. Aku tidak segan-segan untuk menyertmu secara paksa untuk turun dari mobilku." kesal Kendrick lalu mencengkeram kuat lengan Maureen.
"Halo tuan."
"Maureen kabur di acara pernikahannya, semua orang sudah panik. Salah satu karyawan kantor tidak sengaja melihat Maureen membawa pergi mobilmu. Apa kamu bersamanya sekarang?"
"Benar tuan, aku bersama dengan Maureen."
"Bawa Maureen kembali ke tempat acara. Apa kamu paham."
"Baik tuan,"
Kendrick langsung menancap gas yang kembali putar arah menuju hotel diselenggarakannya pesta pernikahan Maureen.
"Jangan bilang kamu akan membawaku kembali ke hotel." ucap Maureen curiga yang begitu mengenali sepanjang jalan yang mereka lewati.
"Jika iya, kamu mau apa." ucap Kendrick bermasa bodoh.
"Sialan! cepat turunkan aku."
"Tidak bisa. Jika kamu terus cerewet aku tidak segan-segan melempar mu di tengah jalan yang dipenuhi kendaraan."ancam Kendrick. Hal itu membuat Maureen menjadi bungkam.
Hanya 30 menit mereka sampai di hotel. Kendrick segera membawa Maureen ke ballroom hotel.
Kedua orang tua Maureen sudah menunggu kedatangan mereka dan terlihat panik. Maureen yang sedang melihat kedua orang tuanya sedang menunggunya, dengan cepat dia melakukan sesuatu.
Tanpa basa-basi Maureen langsung mencium bibir Kendrick dan disaksikan langsung oleh kedua orang tuanya. Sontak Kendrick terkejut bukan main dan langsung mendorong tubuh Maureen hingga terjatuh di lantai.
__ADS_1
Kendrick menatap tajam wanita yang baru saja menciumnya. Tangannya dikepal kuat yang ingin menghajar wanita itu.
Jika aku tidak bisa mendapatkan atasannya, maka.... aku akan mengejar bawahannya yang lumayan tampan ini. Batin Maureen menyeringai licik dengan idenya.
"Hiks... hiks..hiks, mengapa kamu tidak ingin bertanggungjawab. Padahal aku sedang mengandung anakmu." ucap Maureen bersandiwara.
Kedua orang tuanya terkejut bukan main mendengar ucapan Maureen. Untungnya tidak ada orang lain yang berkeliaran di sekitar mereka.
Sementara Kendrick membulatkan matanya mendengar bualan Maureen, kedua tangannya sudah terangkat untuk menarik rambut Maureen, namun Papa Maureen keburu menangkap tangannya.
"Sebaiknya kita bicara baik-baik di ruangan private." ucap Papa Maureen lalu segera membawa Kendrick di ruangan khusus. Begitu halnya Maureen yang juga dibantu oleh ibunya ke ruangan khusus.
Di ruangan itu, Maureen kembali bersandiwara mengatakan bahwa dirinya sedang hamil anak Kendrick.
"Kamu harus bertanggungjawab kepada putriku!." Ucap Papa Maureen yang mulai percaya dengan segala ucapan putrinya.
"Sumpah, aku tidak menghamilinya. Jika kalian tidak percaya segera bawa putrimu ke rumah sakit." bantah Kendrick.
Namun tetap saja mereka lebih mempercayai ucapan Maureen. Dan hari itu juga, Kendrick mendadak menikahi Maureen karena desakan kedua orang tuanya dan juga desakan kedua orang tua Maureen yang meminta pertanggungjawaban kepadanya.
Padahal semua itu semata-mata hanyalah sandiwara Maureen yang tidak ingin menikah dengan pria pilihan ayahnya. Hingga akhirnya menyeret Kendrick untuk dijadikan sebagai suaminya.
🍁🍁🍁🍁
Sebulan kemudian.....
"Hoeekk....Hoeekk...."
Terdengar suara seseorang muntah-muntah dari dalam kamar mandi.
Morgan yang sedang memakai dasi mengerutkan keningnya mendengar suara seseorang dari dalam kamar mandi. Dia pun melepaskan dasinya dan melemparnya begitu saja, kemudian melangkah ke kamar mandi.
"Hoeekk.... Hoeekk."
"Khumaira, kamu kenapa sayang." ucap Morgan khawatir sambil memijit leher belakang sang istri.
"Sepertinya aku masuk angin, kak." ucap Mai memelas, hingga tiba-tiba tubuhnya lemas dan hampir saja terjatuh, untungnya sang suami dengan sigap menangkap tubuhnya.
Morgan segera membawa Mai keluar dari kamar mandi lalu membaringkannya di atas tempat tidur.
"Aku akan memanggil dokter Nisa untuk memeriksa kondisi mu." ucap Morgan khawatir. Dia pun langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya.
Tak berselang lama kemudian, dokter Nisa sampai di apartemennya. Morgan segera meminta dokter Nisa untuk memeriksa kondisi istrinya di kamar.
Tampak Mai tersenyum menatap dokter Nisa. Raut wajahnya pun terlihat pucat. Dokter Nisa ikut tersenyum ramah lalu memeriksanya.
Senyuman dokter Nisa terukir di sudut bibirnya setelah selesai memeriksa Mai.
"Bagaimana kondisi istriku dok?" tanya Morgan.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selamat istri anda hamil." ucap Dokter Nisa.
"Hamil!" Mai dan Morgan kompak mengatakannya.
"Iya tuan Morgan. Istri anda hamil."
Morgan langsung tersenyum merekah lalu berhambur memeluk istrinya dan tak lupa mendaratkan ciuman di keningnya.
"Alhamdulillah, aku sangat senang kamu hamil sayang." ucap Morgan bahagia dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Alhamdulillah kak, akhirnya aku hamil." ucap Mai sambil meneteskan air matanya dan begitu terharu atas kehamilannya.
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏