Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Ungkapan Perasaan.


__ADS_3

"Kenapa kak? apa ada masalah?" tanya Mai khawatir karena melihat raut wajah Morgan berubah masam.


"Tidak ada, habiskan makananmu." jawab Morgan berusaha tersenyum dan Mai merasa lega mendengar jawabannya. Dia tidak ingin memikirkan dan berurusan kembali dengan wanita masa lalunya.


Cukup Khumaira yang menjadi masa depannya dan harus dia prioritaskan. Banyak wanita yang pernah dia kenal, tapi tak ada yang tulus seperti Khumaira.


"Kak, mengapa terus menatapku seperti itu, aku kan jadi malu." ucap Mai dengan mulut penuh makanan. Karena Morgan hanya menatapnya makan dan sama sekali tidak menyentuh makanannya.


"Kamu terlihat lucu dan menggemaskan jika mulutmu penuh makanan." Morgan tersenyum tipis lalu mengusap puncak kepala Mai dengan penuh kasih.


Mai tersipu malu mendengar ucapan Morgan. Lebih-lebih sikap Morgan semakin hari semakin membuatnya terpesona hingga benih-benih cinta terus tumbuh bermekaran di relung hatinya.


"Emmm...kak, aku ingin menyuapi mu. Boleh tidak?" ucap Mai meminta izin lebih dulu yang melirik kotak makan berisi salad buah yang belum juga disentuh oleh Morgan.


"Ya sudah lakukanlah." ucap Morgan sambil memajukan wajahnya dan segera membuka mulutnya saat Mai mulai menyendok makanan lalu menyuapinya.


Morgan tersenyum senang sambil mengunyah makanannya. Sungguh kebahagiaan seperti ini belum pernah dia rasakan. Mai kembali menyuapinya berulang kali, sesekali mereka tertawa bersama.


Semua makanan di atas meja ludes tak tersisa. Morgan dan Mai tampak kekenyangan yang tengah rebahan bersama di kursi santai panjang, dimana di atasnya terdapat payung teduh yang mampu menghalau sinar matahari menerpa tubuh mereka.


Pandangan Morgan tidak pernah lepas dari wanita yang dicintainya. Tidak hanya itu, Pikiran Morgan selalu saja dipenuhi oleh Mai Mai Mai seorang. Senyuman manis Mai yang selalu ditunjukkan kepadanya selalu terngiang-ngiang di pikirannya, sikap Mai yang malu-malu dan begitu sopan, kebaikannya, kepeduliannya, ketulusannya, kasih sayangnya, semua hal yang ada dalam diri Mai membuatnya kagum dan terpesona dengan wanita muda itu yang sudah sah menjadi istrinya.


Untuk wanita di masa lalunya, Morgan sudah menghapus segala kenangan yang pernah tersiksa. Hanya Mai tertulis dan dijadikan tempat terindah sekaligus wanita istimewa di dalam relung hatinya dan tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.


"Khumaira, aku ingin menanyakan satu hal kepadamu. Tolong, jawab dengan sejujurnya." ucap Morgan serius sambil melirik ke arah Mai.


"Katakanlah kak, aku siap mendengarnya." ucap Mai tersenyum dan juga balas meliriknya.


Morgan menghela nafas, apakah dia harus mengatakan sekarang hal yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini? padahal itu sudah menjadi rahasia tersendiri baginya, tapi jika tidak mengatakannya sekarang, apa yang akan terjadi selanjutnya. Intinya, berkata jujur jauh lebih baik dari pada memendamnya.


"Khumaira, apa kamu sudah siap menjadi ibu dari anak-anakku?." tanya Morgan serius.


Mai yang mendengar ucapannya itu langsung beranjak bangun lalu duduk menghadap ke arahnya. Morgan pun melakukan hal yang sama duduk berhadapan dengan Mai.

__ADS_1


"Insyaallah aku siap, kak. Jika Allah sudah menghendaki kita untuk memiliki momongan, berarti kita sudah dipercaya oleh Allah untuk menjadi orang tua." jawab Mai dengan tatapan mata sendunya.


Morgan langsung tersenyum merekah mendengar jawaban dari Mai. Dia pun merasakan perasaan lega, seolah jawaban dari Mai mampu menyelesaikan masalah pikirannya.


"Tidak salah aku mempercayaimu." ucap Morgan dengan bahagianya lalu menarik tubuh Mai ke dalam pelukannya. Jawaban dari Mai membuatnya puas. Jika dia masih memendamnya terus menerus otomatis beban pikirannya semakin bertambah.


Tinggal satu langkah lagi, aku ingin mengungkapkan perasaanku kepadanya dan jika dia memiliki perasaan yang sama terhadapku, maka secepatnya kami akan melakukan program anak. Batin Morgan tersenyum tipis.


Morgan semakin mengeratkan pelukannya lalu mendorong pelan tubuhnya hingga membuat tubuh Mai mengikutinya dan berubah posisi dari posisinya semula yang kini tubuh Mai sudah berada di atas tubuhnya.


"Kak, jangan seperti ini." pinta Mai memelas, karena dia sedang berada di area terbuka.


Untungnya tak ada satupun wisatawan yang berkunjung di pulau tersebut. Mau ditaruh kemana wajahnya jika orang-orang melihatnya dengan posisi berpelukan yang tengah berbaring di kursi santai.


"Sebentar saja, aku hanya ingin memandangi wajahmu lebih dekat." ucap Morgan tersenyum sambil mendekap mesra pinggang ramping Mai. Membuat tubuh Mai membeku dengan rona wajah merona.


Morgan terus memandangi wajah cantik Mai yang sudah merona, hingga seringai licik terpatri di wajahnya. Dengan sengaja Morgan memindahkan tangannya naik ke atas punggung Mai lalu mengelus punggung Mai dengan lembut.


"Iya kak."


"Sayang."


"Iya kak." ucap Mai lembut yang semakin gugup saja melihat gerak-gerik Morgan.


Cup


Satu kecupan mendarat di bibir Mai, membuat Mai membulatkan matanya yang tiba-tiba dicium oleh Morgan. Merasa puas apa yang diinginkannya, Morgan kemudian melepaskan Mai dan membiarkannya berbaring di sampingnya


Mai melipat bibirnya sambil bersandar di kursi santai, dia hanya heran saja tuan mudanya sudah hobi menciumnya setiap saat.


"Apa menurutmu tentang cinta pada pandangan pertama?" tanya Morgan melirik ke arah Mai. Bahkan tangan Morgan kembali mencari-cari tangan Mai lalu menggenggamnya erat.


"Aku tidak tahu kak, tapi aku pernah mendengar cerita dari salah satu teman sekolahku. Dia mengatakan bahwa cinta pada pandangan pertama dilakukan oleh dua insan yang tidak saling mengenal dipertemukan hingga keduanya saling jatuh cinta." jawab Mai.

__ADS_1


"Apa kamu percaya itu?"


"Tidak."


"Lalu bagaimana menurutmu jika aku mengalami hal yang sama, cinta pada pandangan pertama denganmu." Morgan tampak serius mengungkapkannya.


"Kurasa itu tidak mungkin kak, karena awal-awal pertemuan kita tidak seperti itu, bukan cinta pada pandangan pertama, melainkan cinta pada kemarahan pertama." Mai tertawa kecil mengatakannya.


Morgan langsung tersinggung mendengar ucapan Mai, memang itulah kenyataan buruknya pada waktu itu. Ngapain juga dia berkata seperti itu. Tapi, sebisa mungkin Morgan bersikap biasa-biasa saja kepada wanita yang dicintainya itu.


"Ha ha ha, ya....kurasa aku salah ngomong." ucap Morgan diiringi gelak tawa sambil buang muka dan sedang menggaruk kecil kepalanya yang tidak gatal karena malu sendiri.


"Tidak masalah, yang lalu biarlah berlalu. Karena kita sudah memperbaiki segalanya." Mai tersenyum lalu mengulurkan tangannya mengelus lembut pipi Morgan.


Morgan menoleh kearah Mai hingga tatapan mata mereka bertemu. Morgan seketika fokus menatap manik mata Mai dengan tatapan sendunya


"Aku mencintaimu." ucap Morgan pada akhirnya. Dia pun mengungkapkan perasaannya pada wanita yang dicintainya.


Mai terlonjat kaget mendengar penuturan dari Morgan. Dia seakan tidak percaya jika tuan mudanya mencintainya.


"Aku mencintaimu, Khumaira." Morgan kembali mengatakannya karena tak ada respon dari Mai.


Mata Mai langsung berkaca-kaca mendengar penuturan tuan mudanya. Mai memilih menundukkan pandangannya mencoba untuk menyembunyikan wajahnya, namun Morgan langsung menangkup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


Mai tidak tahu harus berkata apa? air matanya mendadak menetes dengan perasaan yang diselimuti haru. Tanpa basa-basi Morgan kembali memeluk tubuh Mai.


"Ayo katakan yang jujur, sayang, jika kamu juga mencintaiku." lirih Morgan sambil memeluk dengan penuh kasih istrinya.


"Ak-aku juga mencintaimu kak Morgan." ucap Mai diiringi Isak tangis. Dia tidak bisa menggambarkan perasaannya seperti apa, namun sekarang perasaannya menjadi campur aduk.


Pantaskah dia menerima cinta tuan mudanya itu? apakah perbedaan kasta tak lagi menghalangi cintanya kelak?


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏

__ADS_1


__ADS_2