Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Ngidam


__ADS_3

"Hamil!" Mai dan Morgan kompak mengatakannya.


"Iya tuan Morgan. Istri anda hamil."


Morgan langsung tersenyum merekah lalu berhambur memeluk istrinya dan tak lupa mendaratkan ciuman di keningnya.


"Alhamdulillah, aku sangat senang kamu hamil sayang." ucap Morgan bahagia dengan mata berkaca-kaca.


"Alhamdulillah kak, akhirnya aku hamil." ucap Mai sambil meneteskan air matanya dan begitu terharu atas kehamilannya.


Mai dan Morgan diselimuti perasaan bahagia dan penuh haru yang masih saja berpelukan. Mereka bahkan tidak memperdulikan Dokter Nisa yang masih berada di dalam kamarnya.


Sementara Dokter Nisa yang menyaksikan mereka hanya mampu tersenyum dan memakluminya. Wajarlah mereka sebahagia itu, dirinya pun pernah berada di saat-saat seperti itu.


"Ehemm" Dokter Nisa berdehem, sontak Morgan melonggarkan pelukannya.


"Maaf dok, aku terbawa suasana bahagia atas kehamilan istriku." ucap Morgan.


"Tidak masalah. Oh iya, ini resep obatnya untuk mengurangi gejala mual nona Mai." ucap Dokter Nisa tersenyum sambil meletakkan resep obat di atas nakas.


"Baik dok." ucap Morgan mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi." ucap Dokter Nisa tersenyum pamit undur diri.


"Terima kasih dok." ucap Morgan.


"Sama-sama." Dokter Nisa tersenyum ramah lalu bergegas pergi.


Morgan kembali duduk di sisi tempat tidur, tangannya perlahan terulur menyentuh perut rata Mai. Sedang Mai ikut menyentuh punggung tangan Morgan yang menyentuh perutnya. Senyuman bahagia selalu saja terpancar di wajahnya.


"Kami akan menjagamu nak, yang sehat ya dalam rahim ibu mu." ucap Morgan dengan penuh kasih sayang.


"Dengar nak, Papa dan Mama akan menjagamu dengan baik." timpal Mai tersenyum tipis sambil menatap wajah Morgan, sedang Morgan ikut tersenyum lalu mencium keningnya.


"Aku akan mengabari Mama atas kabar bahagia ini. Bagaimana sayang?" ucap Morgan antusias dan Mai hanya mampu menggangguk menanggapi ucapannya.


"Jangan lupa kabari juga ibu." ucap Mai tersenyum yang mengubah posisinya menjadi bersandar di kepala tempat tidur.


"Iya pasti, aku akan mengumumkan kehamilanmu pada keluarga kita." ucap Morgan kemudian langsung menghubungi kedua orang tuanya dan juga ibu Mai.


Kabar kehamilan Mai sudah menyebar di keluarganya. Nyonya Milan dan Tuan Fino begitu senang mendengar kehamilan Mai bahkan ingin segera menemuinya secepatnya. Begitu halnya dengan Bu Siti sangat bersyukur atas kehamilan putri semata wayangnya.


*


*


*


Seminggu kemudian.....

__ADS_1


Morgan memutuskan untuk tinggal bersama dengan orang tuanya di mansion. Mengingat Mai sedang hamil dan kedua orang tuanya kembali datang ke negara A demi tujuan untuk selalu melihat perkembangan kehamilan Mai.


Nyonya Milan begitu antusias dan bersemangat mempersiapkan segala kebutuhan dan keinginan Mai selama hamil. Wanita paruh baya itu begitu gembira yang kembali akan dikaruniai seorang cucu.


Kerabat terdekat, termasuk Nyonya Ziva dan Tuan Darren ikut bahagia atas kehamilan Mai, karena ia pun akan kembali mendapatkan seorang cucu dari ponakannya Morgan.


Namun, selama kehamilan, kondisi Mai tidak begitu baik. Mai selalu saja mual-mual dan muntah. Sudah seminggu ini, setiap bangun pagi, Mai kembali mengalami morning sickness. Padahal dia selalu mengonsumsi obat peredam mual dan juga vitamin yang dianjurkan oleh dokter. Namun, masih saja Mai mengalami mual-mual dan muntah.


Tampak Mai terkulai lemas di kamar mandi yang baru saja mual. Untungnya Morgan selalu mendampinginya jika dia mual di pagi hari.


"Sudah selesai." ucap Morgan penuh perhatian kepada istrinya. Mai mengangguk, kemudian Morgan dengan sigap menggendongnya lalu membawanya keluar dari kamar mandi.


Tubuh Mai semakin kurus sejak dirinya dinyatakan hamil. Raut wajahnya pun masih saja terlihat pucat. Mai lebih menyukai berbaring di atas tempat tidur hingga siang hari, selepas itu dirinya mulai melakukan kegiatan yang diinginkannya.


"Sayang, kamu harus sarapan dulu." ucap Morgan yang sudah memegang semangkuk bubur.


Mai menggeleng cepat, dia benar-benar tidak berselera makan.


"Ayolah sayang, kasian dede bayinya. Bagaimana bisa dia akan tumbuh besar jika ibunya mogok makan." ucap Morgan mencoba membujuknya.


"Ya sudah, dua sendok saja." ucap Mai memelas.


Morgan tersenyum karena bujukannya berhasil. Dengan cepat dia menyuapi sang istri. Baru saja memakan bubur, lagi-lagi Mai membekap mulutnya dan berlari masuk ke kamar mandi.


Morgan menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar suara sang istri kembali mual dan muntah di dalam kamar mandi. Sungguh perjuangan ibu hamil memang luar biasa.


"Kak, mengapa belum berangkat ke kantor?" tanya Mai sambil melangkah mendekati tempat tidur.


"Aku tidak akan ke kantor hari ini, karena aku ingin menjagamu sayang. Kebetulan hari ini tidak ada rapat penting dan pertemuan dengan rekan bisnisku. Jadi seharian ini aku akan menjagamu. Dan ya aku bisa bekerja dari rumah jika tidak ada hal yang mendesak di kantor." ucap Morgan tersenyum sambil mendekati istrinya lalu menuntunnya untuk kembali berbaring di atas tempat tidur.


Setelah itu, Morgan duduk di sisi tempat tidur sambil memijit betis sang istri. Padahal Mai selalu melarangnya untuk tidak memijitnya, namun Morgan teramat senang melakukannya karena dia begitu kasihan dengan kondisi Mai sekarang.


"Apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya Morgan dengan tatapan hangatnya.


Mai terdiam sambil menopang dagu seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Kak, sebenarnya aku pengen makan sushi. Tapi, kak Morgan yang harus membuatnya." ucap Mai menatap harap wajah suaminya.


"Baiklah." ucap Morgan yang langsung menyetujui permintaan istrinya.


"Aku akan membuatkan sushi untukmu, sayang." ucap Morgan tersenyum sambil mengusap lembut pipi istrinya. Sedangkan Mai hanya mampu tersenyum.


"Tunggu sebentar, aku akan buatkan kamu sushi yang paling enak." Mai menggangguk mendengar ucapannya.


"Ya, aku tidak sabar untuk mencicipinya." Mai sudah menelan ludahnya dan begitu berharap untuk segera memakan sushi buatan suaminya.


Morgan bangkit berdiri lalu melangkah keluar dari kamarnya. Dia pun berpapasan dengan ibunya di tangga, hingga sang ibu langsung menghadangnya di tangga.


"Kenapa?" tanya ibunya menatapnya heran, karena melihatnya terburu-buru menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Mai ingin makan sushi, Mama. Tapi aku yang harus membuatnya." ucap Morgan.


"Oh baguslah, istrimu sedang ngidam dan pengennya makan Sushi. Jadi cepatlah buat sushi yang enak." ucap ibunya tersenyum yang sedang membawa nampan berisi susu ibu hamil untuk Mai.


"Ngidam?"


"Ya, ngidam itu kondisi ibu hamil yang menginginkan makanan dan minuman tertentu. Contohnya sekarang istrimu ingin makan sushi dan itu tandanya sedang ngidam." jelas ibunya.


Morgan tampak manggut-manggut mendengar ucapan ibunya. Setelah dia pun bergegas ke dapur untuk membuat sushi.


Kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Morgan selesai membuat sushi. Dia sedikit kesulitan membuat sushi, untungnya juru masak yang dipekerjakan oleh ibunya sempat mengajarinya dan sedikit membantu.


Morgan begitu percaya diri membawa kotak makanan berisi sushi buatan nya menuju kamarnya.


"Sushi nya sudah jadi." ucap Morgan sambil membuka pintu kamarnya. Namun sayangnya dia mendapati sang istri sudah tertidur pulas.


"Simpan saja sushi nya, kalau kamu mau makan, makan saja sendiri karena setelah istrimu bangun, dia pasti sudah tidak menginginkannya dan akan meminta mu untuk kembali membuat makanan yang lain." ucap Nyonya Milan tersenyum lalu melangkah keluar meninggalkannya.


Morgan menghela nafas lalu meletakkan kotak makanan yang berisi sushi buatannya di atas meja.


Dan benar saja, setelah Mai bangun, dia kembali menginginkan buah manggis. Mau tak mau Morgan segera membeli buah manggis untuk sang istri. Setelah mendapatkan buah manggis lagi-lagi Mai sudah tidak menginginkannya. Sehingga Morgan harus ekstra sabar menghadapi ngidam sang istri.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Etha masih saja diintai oleh orang misterius. Namun sampai sekarang dia belum menyadarinya juga. Sementara orang misterius itu segera menghubungi bosnya.


"Tuan, aku melihat wanita itu menuju ke sebuah hotel. Apa sudah waktunya aku menculiknya?"


"Tak perlu menculiknya, aku sudah punya rencana sendiri. Aku tidak ingin mengotori tanganku hanya menculik wanita sombong itu. Berhenti mengintainya." ucap seseorang di ujung telepon.


"Baik tuan Alfhat."


"Hemm."


Percakapan mereka berakhir dan orang misterius itu segera meninggalkan lokasi.


Tampak mobil Etha melaju pelan memasuki pelataran hotel. Dia datang ke hotel tersebut dengan tujuan untuk menghadiri acara pernikahan rekan bisnisnya yang diselenggarakan di hotel berbintang yang dia datangi.


Diluar dugaan, Alfhat juga baru saja sampai di hotel tersebut dan menggandeng wanita cantik. Sepertinya dia juga menghadiri acara pernikahan tersebut.


Etha tak sengaja berpapasan dengan Alfhat saat memasuki ballroom hotel. Etha langsung menatap sinis pria cabul itu dan melenggang pergi menjauh untuk berbaur dengan tamu undangan lainnya.


Sementara Alfhat tersenyum licik. Sebentar lagi kamu akan dapat akibatnya. Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2