Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Malu


__ADS_3

Morgan begitu lahap menyantap makanan yang dimasak oleh Mai. Sedangkan Mai hanya menunduk memakan makanannya.


Masakannya sangat enak. Batin Morgan memuji masakan Mai dan sesekali Morgan curi-curi pandang melirik Mai sekilas.


Selesai makan malam bersama, Morgan memilih bersantai di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Mai tampak sibuk membereskan piring kotor lalu mencuci semua peralatan makan tersebut.


Setelah itu, Mai mulai mengedarkan pandangannya mencari keberadaan tuan mudanya.


"Tumben sekali tuan Morgan mau makan malam di apartemen. Padahal dia pernah mengatakan lebih suka makan diluar." ucap Mai sambil melap tangannya yang basah menggunakan tissue.


"Aku memang pantas mendapatkan hukuman seperti ini. Aku bahkan lupa memasak makan malam untuk tuan. Pokoknya aku tidak boleh lagi mengulangi kesalahan seperti ini." ucap Mai mencoba meyakinkan dirinya untuk tidak melalaikan tugasnya sebagai seorang istri.


Walaupun faktanya dia sama sekali tidak dianggap sebagai istri dari tuan mudanya. Namun, dia tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri. Dia akan bersabar menjalaninya karena ia begitu percaya kekuatan doa bisa membolak-balikkan hati manusia.


Mai menunduk sambil memejamkan matanya.


"Bismillah, dengan kuasa dan kehendak mu, jadikanlah sesuatu yang sulit menjadi mudah dan jadikanlah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tolong bukakan hati suami hamba agar mau berubah dan menjalankan perintah mu dan bukakan juga hatinya untuk bisa menerima hamba sebagai istrinya. Aamiin ya Rabb."


Mai menghembuskan nafasnya dengan lega yang seperti mendapatkan sebuah kekuatan lewat doa-doa yang dipanjatkan nya. Mai melangkah mendekat ke ruang tamu. Morgan yang menyadari keberadaan masih saja terlihat cuek yang sedang asyik memainkan ponselnya tanpa ingin memandang ke arah Mai.


"Duduklah, ada yang ingin kukatakan." perintah Morgan yang tampak fokus pada layar ponselnya tanpa ingin memandang Mai.


"Baik kak." ucap Mai lembut sembari duduk di sofa.


Cukup lama Mai duduk berhadap-hadapan dengan tuan mudanya, namun tak kunjung pria itu buka suara. Mai tampak menunggu dan sesekali melirik ke arah tuan mudanya.


Mai kembali teringat dengan ucapan tuan mudanya yang akan kembali menghukumnya jika masakannya tidak enak.


Ya Allah, semoga tuan Morgan menyukai masakan ku. Batin Mai cemas.


Morgan menghentikan aktivitasnya bermain ponsel. Dia pun meletakkan ponselnya di atas meja lalu melipat lengannya di depan dada sembari menatap tajam ke arah Mai.

__ADS_1


"Masakanmu lumayan, dan aku mengganggap hukumanmu berakhir. Kamu lolos dari hukuman kali ini." ucap Morgan menyeringai tipis dan tidak ingin mengakui masakan Mai yang sangat enak.


"Alhamdulillah, syukurlah. Terima kasih kak, saya minta maaf atas kejadian hari ini. Insyaallah, saya tidak akan mengulanginya lagi." ucap Mai tersenyum.


"Hemm." Morgan tampak cuek sambil menopang dagu.


Mai tersenyum tipis dengan perasaan lega. Akhirnya hukumannya berakhir.


"Besok malam ada acara keluarga di kediaman Paman Darren. Kita di minta untuk datang, jadi persiapkan dirimu dengan baik dan jangan sekali-kali membuat masalah apalagi sampai membuatku malu. Ingat ucapanku baik-baik, apa kamu paham." ucap Morgan dengan sorot mata tajam.


"S-saya paham kak." ucap Mai terbata sambil mengangguk.


"Baguslah jika kamu sudah paham." Morgan bangkit dari duduknya lalu melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Mai pun bergegas mengekor di belakangnya.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar dan tengah mengambil posisi ternyamannya di tempat tidur mereka masing-masing sebelum tidur.


Morgan bersandar di kepala ranjang dengan pandangan tertuju di sofa, dimana Mai sudah meringkuk di sofa berbalut selimut.


Mai yang sepenuhnya belum tidur mengubah posisinya menyamping menghadap ke arah Morgan.


"Saya diajak mama jalan-jalan ke Mall, kami menghabiskan waktu bersama dengan berbelanja di Mall, makan di restoran dan mendatangi tempat bersejarah." terang Mai dengan senyuman menghiasi sudut bibirnya.


"Oh begitu, apa kamu sangat senang menghabiskan uang ibuku?" tanya Morgan.


Mai terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa. Memang ibu mertuanya yang membayar semua belanjaannya.


Morgan menaikkan alisnya tak kunjung mendapatkan jawaban dari pelayan itu.


"Kemarilah," ucap Morgan dingin sambil mengangkat tangan kanannya meminta Mai mendekat kepadanya.


Dengan takut plus gugup Mai menyeret kakinya mendekat ke ranjang. Pandangannya tertunduk yang tak berani menatap ke arah Morgan. Mai tidak sadar dengan ulahnya yang berjalan sambil menunduk hingga kakinya membentur salah satu kaki ranjang.

__ADS_1


"Awwww." Mai meringis kesakitan melipat bibirnya dan berusaha bersikap biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu pada dirinya.


Mai berbelok ke sisi sebelah kanan sesuai posisi Morgan yang berbaring di atas singgasananya, namun secara spontan tiba-tiba saja dia kembali membentur ujung ranjang hingga tubuhnya ambruk tepat di atas paha Morgan.


Baik Mai maupun Morgan terbelalak kaget dengan posisi mereka. Lebih terkejutnya lagi melihat wajah Mai yang begitu dekat dengan juniornya bahkan hanya berjarak beberapa senti, sedikit lagi Mai bisa saja berkenalan dengan juniornya.


"Aaaaa!!!" teriak histeris keduanya.


"Shiittt, dasar bodoh!" umpat Morgan dengan ketusnya melihat tingkah bodoh pelayan itu. Wajahnya memerah menahan amarahnya.


Hampir saja Mai berkenalan dengan junior jagoannya.


"Maaf tuan." Mai membungkukkan badannya berkali-kali guna untuk meminta maaf di hadapan Morgan. Jantungnya hampir saja copot dari tempatnya, bagaimana bisa dia ambruk di atas tubuh tuan mudanya. Ingin sekali dia berlari kencang lalu bersembunyi di tempat gelap demi menghindari tuan mudanya.


"Sudahlah. Ambil ini dan lekaslah tidur." ketus Morgan menyodorkan kartu black card di hadapan Mai, dengan takut Mai mengambil kartu tersebut.


"Terima kasih kak." Setelah selesai mengucapkannya, Mai mengambil seribu langkah mendekati sofa panjang yang dijadikan tempat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Kartu dipegangnya dia taruh di bawa bantal.


Mai menggigit bibirnya sambil menatap langit-langit kamar. Matanya tak bisa terpejam, pikirannya terus saja tergiang-giang dengan kejadian barusan.


"Astaghfirullah.. Astaghfirullah..." Mai terus beristighfar untuk menghilangkan segala pikiran yang menghantui pikirannya.


Ya Allah, aku sungguh malu kepada kak Morgan. Apa aku harus menghindarinya? tapi bagaimana caranya?. Batin Mai cemas.


Sementara Morgan berkali-kali mengubah posisi tidurnya, yang terus mencari posisi ternyamannya hingga posisinya menjadi terlentang. Morgan juga tidak bisa tidur. Wajah cantik Mai terus terngiang-ngiang di pikirannya. Apalagi dengan segala kelakuan bodoh Mai membuatnya tak bisa melupakannya.


Tapi, sungguh aneh rasanya, bagaimana mungkin wajah Pelayan itu merasuki pikirannya. Apakah dia mulai ada rasa pada pelayan itu?, pikirnya.


Morgan segera buang jauh-jauh semua itu, dia tidak ingin ada rasa sedikitpun kepada pelayan itu. Baginya mereka hanya terikat dalam keadaan keterpaksaan. Dia hanya ingin menjalaninya seperti air mengalir.


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏


__ADS_2