
Mai membaringkan tubuhnya di sofa, tak lupa menyelimuti tubuhnya hingga sebatas leher. Setelah selesai berdoa, Mai memejamkan matanya hingga tertidur.
Sementara Morgan masih terjaga. Dia tidak lupa menghubungi anak buahnya untuk melakukan penjagaan ketat di kawasan apartemennya. Dia tidak boleh kecolongan seorang penyusup berkeliaran di luar apartemennya.
Tak berselang lama kemudian, salah satu anak buah kepercayaannya mengabarinya bahwa semuanya aman terkendali dan tak ada hal yang mencurigakan. Mereka masih berjaga-jaga di lokasi apartemen bos-nya hingga esok pagi.
Morgan meletakkan ponselnya di atas nakas lalu membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang, kedua lengan kekarnya dijadikan bantalan. Pandangan matanya menatap langit-langit kamarnya.
Rencana Tuhan sama sekali tidak bisa diprediksi oleh manusia. Detik itu juga semuanya menjadi berubah, Morgan tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang dia begitu membenci Maura bahkan menyalahkan Maura atas nasib yang dialaminya sekarang.
"Hufff, aku tidak akan pernah mengampuninya. Dia harus membayarnya jauh setimpal daripada yang ku alami." geram Morgan dan begitu kesal jika kembali teringat wanita itu.
Dia ingin membuang jauh-jauh segala kenangan yang pernah dialaminya bersama wanita itu. Bahkan namanya tidak ingin lagi dia ingat selamanya.
Morgan mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah Mai yang sudah terlelap di sofa. Morgan menatap wajah wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu, namun dia masih enggan mengakuinya sebagai istrinya.
"Mengapa dia tidak melepaskan hijabnya, dasar bodoh! apa dia tidak pengap atau kepanasan berhijab sambil tidur." gumam Morgan menatap wajah Mai lalu kembali mengatur suhu ruangannya lewat ponselnya.
Pasalnya Mai memakai hijab dan selimut hingga sebatas leher. Morgan yang melihatnya saja merasa kepanasan melihat pelayan itu.
"Aku sedikit berbaik hati kepadamu, semoga tidurmu nyenyak." ucap Morgan dengan pandangan mata terus mengarah pada wajah Mai.
"Untung saja dia gampang percaya dengan ucapanku, dan tidak banyak bicara." gumam Morgan tersenyum tipis jika mengingat bagaimana bodohnya pelayan itu yang langsung saja percaya dengan ucapannya tanpa menaruh curiga sedikitpun.
Morgan terus menatap ke arah Mai hingga rasa kantuk mulai menyerangnya, seolah Mai obat tidur ampuh yang dapat mempengaruhinya untuk segera tertidur. Dan hal itu benar adanya, tak berselang lama Morgan pun tertidur hingga terbuai alam mimpi.
🍁🍁🍁🍁
Keesokan harinya...
Mai dan Nyonya Milan tampak sibuk membuat sarapan di dapur. Tawa mereka sampai kedengaran di lantai dua.
Morgan yang baru saja keluar dari kamar mandi mengerutkan keningnya mendengar suara tawa yang begitu heboh di bawah sana.
"Apa yang sedang mereka lakukan di bawah sana sampai-sampai tawanya kedengaran hingga di kamar." ucap Morgan tersenyum tipis dan begitu penasaran ingin melihatnya.
Morgan melangkah masuk ke ruang ganti dan kembali mengerutkan keningnya melihat pakaian kantornya sudah disiapkan.
__ADS_1
"Apa Khumaira yang melakukannya?" tanya Morgan pada diri sendiri dan tanpa sadar menyebutkan nama lengkap sang istri.
Morgan kemudian bergegas memakai pakaian yang disiapkan oleh Mai. Pagi ini dia ada rapat penting di perusahaannya, sehingga dia langsung saja memakai pakaian yang disiapkan oleh Mai tanpa harus repot-repot memilih kembali pakaian kantornya.
"Pagi semua." sapa Morgan dengan wajah berseri-seri lalu mencium pipi ibunya yang sedang menyajikan makanan di atas meja.
Tuan Fino yang sudah duduk di kursi hanya mampu geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra bungsunya itu.
"Pagi sayang. Loh, kok cuman ibu yang dicium, sana cium juga Istrimu." ucap ibunya tersenyum yang menggodanya sambil mendorongnya mendekat ke arah Mai.
Mai yang sedang membuat kopi tak sengaja mendengar obrolan mereka. Mai menjadi canggung, apalagi Morgan sudah berdiri di sampingnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Berbalik lah, aku akan melakukan sesuatu kepadamu" ucap Morgan yang juga canggung sambil melirik ke arah ibunya untuk memastikan ibunya sudah tak memperhatikannya. Namun dugaannya salah, sang ibu sedang bertolak pinggang menatap kearahnya.
"Melakukan apa kak? saya tidak tahu maksud kak Mo...."
Cup
Mai tak mampu melanjutkan ucapannya, matanya membulat sempurna merasakan benda kenyal menempel di pipi kanannya beberapa detik yang lalu. Secara tiba-tiba jantungnya meletup-letup di dalam sana, wajahnya merona memerah bak buah ceri.
Sementara Nyonya Milan senyum-senyum sendiri dan begitu puas melihat keromantisan pengantin baru itu.
"Aku terpaksa menciummu demi menyenangkan Mama. Ingat, hanya keadaan terpaksa!" bisik Morgan tepat ditelinga nya. Tangannya bahkan kembali menepuk pipi Mai bekas diciumnya untuk menyadarkan pelayan itu yang masih terbengong-bengong menatapnya.
Sial, bisa-bisanya aku mencium pelayan ini. Haiss, hancur sudah harga diriku!. Batin Morgan merutuki kebodohannya.
Mai langsung menundukkan pandangannya dengan raut wajah merona memerah. Bibirnya dilipat rapat-rapat yang tidak bisa berkata-kata.
Ternyata bukan mimpi, barusan tuan mencium pipiku. Batin Mai.
Morgan terlebih dahulu mendekat ke meja makan lalu disusul Mai yang membawa secangkir kopi untuknya. Mai meletakkan secangkir kopi hitam tepat di hadapan Morgan, lalu Mai duduk bersebelahan dengan Morgan.
Mereka mulai menikmati sarapannya dengan diam tanpa adanya obrolan. Setelah selesai sarapan bersama, Nyonya Milan dan tuan Fino berpamitan untuk pulang ke mansion. Rencananya besok pagi kedua orang tua Morgan akan kembali ke negara B.
"Jaga diri kalian baik-baik. Ingat pesan Mama Morgan, jangan sampai melupakannya."
"Iya Mamaku sayang, Morgan akan selalu mengingatnya."
__ADS_1
"Kalau begitu Mama pulang dulu, assalamualaikum." pamit ibunya yang digandeng tangannya oleh suami tercintanya.
"Waalaikumsalam." ucap Morgan dan Mai bersamaan membalas salamnya.
Mai dan Morgan hanya mampu menatap kepergian kedua orang tuanya.
"Mana ponselmu?" tanya Morgan.
"Tunggu sebentar kak, aku akan mengambilnya di kamar." jawab Mai dan ingin melangkah menuju kamarnya, namun Morgan langsung menghentikan langkahnya.
"Tak perlu, sebutkan saja nomormu." ucap Morgan dingin.
Mai pun langsung menyebutkan sederet angka yang menjadi nomor ponselnya dengan pandangan tertunduk dan masih saja merasa canggung berdekatan dengan tuan mudanya.
Kejadian tadi masih terngiang-ngiang di pikirannya. Seumur-umur baru kali ini dia dicium oleh seorang pria, dan bersyukurnya sang suami lah menjadi orang pertama yang menciumnya.
"Aku sudah mengirim pesan di nomormu. Jadi simpan baik-baik nomor ku. Jika kamu membutuhkan sesuatu segera hubungi aku." tegas Morgan mengingatkannya.
"Baik kak." ucap Mai dengan anggukan kepala.
"Aku berangkat kerja." pamit Morgan dan Mai kembali bergerak mencium punggung tangan tuan mudanya.
Lagi-lagi Morgan terpaku melihat tingkah laku pelayan itu.
"Semangat bekerja kak, hati-hati di jalan." ucap Mai tersenyum memberikan semangat untuknya.
"Hemm." Morgan melangkah menuju pintu, namun langkahnya kembali terhenti mendengar suara lembut Mai.
"Ini bekal untuk kakak." ucap Mai menyodorkan paper bag berisi bekal di dalamnya.
"Tidak perlu, kamu pikir aku anak kecil membawa bekal. Aku terbiasa makan diluar." tegas Morgan dengan ketusnya lalu melenggang pergi.
Mai hanya mampu memeluk paper bag tersebut dengan mata berkaca-kaca. Sungguh tidak nyaman rasanya jika mendapatkan penolakan.
Mai berusaha menarik senyuman disudut bibirnya lalu melangkah ke dapur untuk menyimpan kembali bekal tersebut.
Bersambung....
__ADS_1