Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Tak sengaja


__ADS_3

Mobil yang membawa pasangan pengantin baru tiba di bassment apartemen. Mai dan Morgan bergegas turun dari mobil. Namun tanpa diduga Morgan langsung menarik tangan Mai lalu menggandengnya mesra berjalan bersama-sama menuju lift yang akan membawanya naik ke lantai unit apartemennya.


Mai dibuat terkejut akan aksi tuan mudanya itu. Kembali jantungnya berdegup kencang, entah mengapa akhir-akhir ini setiap kali berdekatan dengan tuan mudanya jantungnya akan bereaksi cepat.


Ada apa ini? kenapa tuan menggandeng tanganku?


Mai merasa was-was plus takut, tidak biasanya tuan mudanya bertingkah aneh seperti itu.


Ya Allah, semoga saja aku tidak dalam masalah. Batinnya cemas dilanda perasaan gugup.


Pandangan Mai terus fokus menatap pintu lift yang tak kunjung terbuka. Mengapa waktu berjalan begitu lama selama berada di dalam lift. Sementara Morgan begitu santainya berdiri di dekat Mai, tangannya masih menggenggam erat tangan Mai seolah tak ingin membiarkannya lepas.


Tlinggg


Pintu lift terbuka lebar, Morgan dan Mai bergegas keluar dari lift kemudian melangkah ke arah pintu apartemennya. Morgan mulai menempelkan kartu aksesnya di pintu apartemennya, dan Morgan sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mai hingga pintu tersebut terbuka lebar.


"Masuklah." ucapnya dingin dan sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mai. Sedangkan Mai menanggapi ucapannya lewat anggukan kepala.


Mereka masuk ke dalam apartemen, spontan pintu apartemen kembali tertutup rapat. Morgan melepaskan genggaman tangannya lalu mendudukkan tubuhnya di sofa, sedang Mai masih berdiri mematung di dekat pintu.


Mai menghela nafas lega dan merasa terbebas dari tangan kekar si tuan muda. Tanpa basa-basi Mai melangkah menuju kamarnya. Namun baru beberapa langkah, Morgan kembali menghentikannya.


"Duduklah, siapa yang menyuruhmu pergi." ucap Morgan dingin dengan raut wajah datarnya. Sontak membuat Mai berbalik badan menghadap kearahnya.


Tanpa banyak bicara ataupun membantah, Mai mendudukkan tubuhnya di sofa panjang yang ditempati oleh Morgan dan mencoba menjaga jarak dengan Morgan.


Morgan mengalihkan pandangannya ke arah Mai, kemudian dengan perlahan menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Mai. Refleks membuat Mai ikut menggeser posisi duduknya. Hal itu tidak menyudahi aksi Morgan dan semakin menyudutkan Mai di ujung sofa dengan kedua tangannya mengurung tubuh gadis mungil itu.


Mai semakin gugup saja, jantungnya terus berdemo ria di dalam tubuhnya melihat aksi tuan mudanya tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Sementara Morgan menatap lekat-lekat wajah Mai dengan tatapan mata sulit diartikan. Kemudian Morgan membelai lembut wajah Mai dengan jemarinya, membuat Mai gelagapan yang sedang dirundung perasaan gugup.


"Aku tidak suka melihatmu tersenyum kepada pria lain." ucapnya dengan entengnya dan terdengar kesal mengatakannya.


"M-maaf...kak...ak-akku..." Mai tak mampu melanjutkan ucapannya karena jari telunjuk Morgan sudah menempel di bibirnya untuk memintanya diam. Dan hal itu membuat Mai langsung bungkam.


Morgan kembali membelai lembut pipi gadis berhijab itu lalu jemari tangannya bergerak turun menyentuh dagu Mai. Sementara raut wajah Mai semakin pucat saja dan sudah kesulitan untuk menghirup udara segar.


"Satu pelajaran yang perlu kamu ketahui tentang bagaimana aku bisa membaca pikiran dan juga wajahmu. Ketika kamu tersenyum wajahmu bagaikan matahari yang mampu membius pria lain. Dan tak seharusnya ditatap lama oleh pria yang bukan suamimu."


Morgan menatapnya dengan sorot mata tajam, sedang Mai hanya mampu menunduk yang mulai menangkap setiap ucapannya. Ditambah hawa-hawa dingin terasa mencekam disekelilingnya hingga membuat Mai berkeringat dingin.


Pasalnya Mai menjadi objek perhatian semua orang selama mengikuti makan malam keluarga tadi, terutama kaum pria jomblo yang merupakan sahabatnya sekaligus kerabat terdekat yang tak pernah lepas pandangannya dari wajah cantik Mai.


Morgan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Mai, deru nafasnya terasa hangat menerpa wajah Mai, bahkan aroma mint dari tubuhnya mampu menghunus indera penciuman Mai.


"Apakah ucapanku membuatmu tidak nyaman, sampai kamu terus menunduk. Oh...atau kamu merasa tersanjung karena aku mengibaratkan mu sebagai matahari" ucap Morgan dan kembali mencengkeram dagu Mai untuk mendongak menatapnya. Dan benar saja pandangan mata mereka bertemu.


Morgan kembali mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi ke wajah Mai hingga berjarak beberapa senti saja. Ditatapnya dengan intens wajah gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya itu.


"Dan kamu lebih tersanjung mendapatkan pujian dari keluargaku, begitu!" ucap Morgan dingin yang terdengar kesal dan Mai menggeleng cepat.


"Tidak kak, aku...."


Mai tak mampu melanjutkan ucapannya, ketika Morgan kembali memajukan wajahnya semakin dekat dan semakin dekat dengan wajah Mai hingga tak mengikis jarak diantara mereka.


Deg


Refleks membuat Mai langsung memejamkan matanya. Tanpa basa-basi Morgan langsung membungkam habis mulut Mai dengan ciumannya. Bibir Morgan terus meresapi setiap inci bibir Mai dan terus menjelajahinya dalam-dalam.

__ADS_1


"Emmppp."


Mai sudah kehabisan nafas akibat ciuman dari Morgan, tubuhnya bahkan gemetaran namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Pelan-pelan Morgan mencium bibir Mai dengan lembut karena merasakan tubuh gadis mungil itu gemetaran. Lalu ia pun mengakhiri ciumannya dengan memberikan kecupan singkat dibibir manis Mai.


Morgan kembali memperbaiki posisi duduknya dan menjaga jarak antara dirinya dengan Mai.


"Maaf, aku tak sengaja menciummu." ucap Morgan merasa bersalah karena membuat Mai tampak ketakutan dengan tubuh bergetar, akibat aksinya yang diluar dugaan itu.


Bisa-bisanya Morgan mencium pelayan yang selalu dia rendahkan dan caci maki selama ini. Apakah yang mendorongnya hingga berani mencium pelayan itu?


Ini sungguh diluar batas, kenapa bisa aku menciumnya? tapi semuanya sudah terjadi. Khumaira pasti sudah beranggapan buruk terhadapku.


Jujur saja, baru kali ini jantungku berdetak kencang hanya karena mencium Khumaira. Batin Morgan merasa aneh.


Tatapan matanya tak lepas dari wajah Mai. Bahkan dia masih saja menelan saliva nya dengan kasar melihat bibir ranum Mai yang tampak basah dan sangat menggoda itu.


Mai menggeleng cepat dan masih saja takut untuk menatap wajah Morgan. Tapi gadis berhijab itu tidak enak hati jika menyinggung perasaan tuan mudanya.


"Tidak kak, kamu berhak atas diriku." ucap Mai dengan tatapan mata sendunya menatap ke arah Morgan. Sungguh berdosa dirinya jika menolak segala bentuk sentuhan dari sang suami.


"Aku terlalu terbawa suasana acara makan malam tadi dan tak sengaja mencium mu." ucap Morgan jujur lalu menggenggam tangan Mai.


Hal itu membuat Mai menjadi sedikit tenang dan lebih nyaman dengan sentuhan tangan Morgan. Tubuhnya tak lagi bergetar. Mai menjadi serba salah, apakah dia membuat tuan mudanya cemburu mengingat bagaimana caranya bercengkrama dengan kerabat terdekatnya, pikirnya.


"Kenapa? apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanya Morgan karena Mai tak menggubris ucapannya.


Mai tersenyum manis memperlihatkan gigi ratanya. Sontak membuat Morgan terpaku melihat senyumannya dan secara mendadak hasratnya merasuki tubuhnya.


Deg

__ADS_1


Ini gila!


Jangan lupa like, love, komen, hadiah dan vote ya teman-teman 🙏


__ADS_2