
Sementara Etha memilih berdiam diri di dalam toilet. Dia terus membersihkan tangannya di wastafel. Hal itu sering dia lakukan jika mengalami kecemasan.
Sindiran-sindiran yang berupa candaan dari keluarga hingga kerabat terdekatnya selalu menyudutkannya untuk segera menikah.
Pasalnya umurnya yang sudah kepala tiga, Etha belum juga menikah. Gelar perawan tua sudah dia dapatkan. Bukannya tidak ada pria yang menyukainya, namun dia selalu menutup diri. Berbagai cara perjodohan sudah dilakukan oleh kedua orang tuanya, namun pada dasarnya dia belum siap untuk berumah tangga.
"Emmppp... toloong." teriak suara parau seseorang.
Etha yang sibuk membersihkan tangannya langsung mengalihkan pandangannya dan terlonjat kaget melihat seorang pria tengah mencium paksa seorang wanita yang jaraknya cukup dekat dari tempatnya berdiri. Bahkan pria itu sudah menguasai tubuh wanita itu dengan cara mengurungnya di dinding.
Etha yang melihat itu langsung mengambil tindakan, Etha membuka sepatu high heels nya lalu melempari pria tersebut hingga tepat mengenai kepala pria itu.
"Shitt!" umpat pria itu dengan kesalnya karena aksinya di ganggu.
Pria itu langsung mengalihkan pandangannya dan menatap tajam wanita berhijab yang berdiri dengan santainya tidak jauh darinya. Seketika rahangnya mengeras dan kedua tangannya di kepal kuat.
"Wanita sialan!" gerutunya dengan kesal.
"Kenapa? mau marah! dasar pria cabul." tantang Etha tak kenal takut melangkah mendekati pria itu.
Pria itu melangkah mendekat ke arah Etha, tatapannya begitu mengintimidasi yang ingin melahap habis wanita berhijab yang baru saja mengganggu kesenangannya bersama wanitanya.
"Kamu lagi! ini kali kedua kamu berurusan denganku!." tegas Pria itu dengan suara meninggi karena mengenali Etha. Dimana tatapan mata mereka bertemu dan saling melontarkan tatapan tajam.
"Oh... astaga aku baru mengingatmu. Kamu itu kan pencuri waktu itu. Tidak hanya pria cabul, ternyata kamu juga seorang pencuri." ejek Etha lalu memungut sepatunya kemudian memasangnya kembali di kakinya.
Ya pasalnya Etha masih sangat mengenali dengan jelas wajah pria itu, pria yang sudah menculik Rania beberapa tahun yang lalu.
"Sialan!" Pria itu mengepalkan tangannya ingin menghajar wanita menyebalkan itu, namun keburu wanitanya memeluknya dari belakang.
"Aku menang sayang. Kamu kalah dari permainanmu" ucap wanita itu manja bergelayut di tubuhnya.
Etha berdengus kesal menatap sinis mereka.
"Dasar pasangan mesum, tidak seharusnya aku meladeni mereka." gumam Etha dan melangkah pergi meninggalkan pasangan mesum yang masih berduaan di dalam toilet.
Moodnya benar-benar buruk malam ini, jalan satu-satunya dia harus pulang ke rumah.
Sementara pria itu tampak kesal meninju dinding toilet, dia sungguh tidak terima dengan ucapan wanita menyebalkan tadi.
__ADS_1
"Sayang, yuk kita lanjutkan di kamar. Aku sudah tidak sabaran bercinta denganmu." rengek wanita itu manja sambil meraba-raba punggung kekar Pria nya.
"Hentikan Vivian, aku sudah tidak berselera. Sebaiknya kembali ke mansion, aku ada urusan penting" ketusnya yang sedang diselimuti perasaan emosi dan wanitanya hanya mampu mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah sayangku, Alfhat." ucapnya tersenyum dan tak lupa mendaratkan ciuman di pipi pria nya itu lalu bergegas keluar dari toilet.
Ya ternyata pria itu tidak lain adalah Alfhat. Setelah memastikan wanitanya sudah pergi, barulah Alfhat keluar dari toilet tersebut. Langkahnya terhenti saat mendengar ponselnya berbunyi.
Alfhat sangat tahu betul siapa yang meneleponnya.
"Ada apa Richard?"
"Segeralah ke rumah sakit, Dokter Samuel baru saja menelepon ku untuk meminta anda ke rumah sakit karena sekarang kondisi Maura sedang drop."
"Aku tidak bisa, biarkan saja dia seperti itu. Ada baiknya jika dia segera mati daripada hidup hanya membuatnya tersiksa." ucap Alfhat yang terdengar ketus dan begitu acuh dengan kehidupan orang lain.
"Baiklah jika seperti itu. Aku sudah menyiapkan wanita bayaran untuk anda malam ini, apa anda akan bermain di kamar hotel atau di mansion?"
"Mood ku begitu hancur malam ini karena bertemu wanita sialan itu. Aku ingin kamu menyelidiki identitasnya, berani-beraninya dia mengatakan bahwa aku seorang pencuri dan juga pria cabul. Awas saja dia tidak tahu siapa aku sebenarnya" ucap Alfhat emosi sambil mengepalkan tangannya mengigat kembali ucapan wanita tadi. Wanita yang sudah memainkan genderang perang dengannya.
"Wanita mana lagi tuan, bukankah setiap hari hingga malam anda terus berurusan dengan seorang wanita." ejek Richard di ujung telepon.
"Apa kamu sudah bosan bekerja denganku hah! pokoknya cari tahu wanita itu." kesalnya langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain...
Pasangan suami istri yang tengah berbulan madu sudah meringkuk di atas tempat tidur. Mereka tidur sambil berpelukan, dimana sang suami begitu lengket dengan istrinya layaknya sebuah perangko.
Sikap manis dan saling perhatian selalu mereka tunjukkan satu sama lain, dan yang paling mengesankan mereka saling peduli satu sama lain dikala susah maupun senang.
Seperti contohnya hari ini, dikala Mai sedang sakit, Morgan begitu khawatir dan selalu siaga terus menjaganya dan merawatnya. Begitu halnya yang pernah dilakukan oleh Mai yang lalu-lalu kepada Morgan.
Keesokan harinya....
Mai terlihat sudah bugar dan tengah berdiri di depan jendela yang pemandangannya mengarah pada lautan lepas. Tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar sempurna di perutnya dan Mai sangat tau betul siapa pelakunya. Bahkan dia merasakan jemari nakal mulai mengusap perutnya dengan lembut.
Mai sama sekali tidak melakukan penolakan apa lagi menegur suaminya itu.
__ADS_1
"Apa masih sakit?" tanya Morgan yang sedang mendekapnya erat dan Mai hanya menggeleng sebagai jawabannya.
"Syukurlah. Aku sangat senang mendengarnya. Jadi apa list mu untuk hari ini?"
"Aku hanya ingin jalan-jalan di pinggir pantai bersamamu." ucap Mai tersenyum.
"Baiklah sayang, aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku akan menjadi pemandu wisata untuk istriku." ucap Morgan antusias.
Mai tertawa kecil mendengar ucapan Morgan. Hal itu membuat Morgan langsung mengangkat tubuh Mai lalu membawanya keluar kamar untuk mengajaknya jalan-jalan ke pinggir pantai.
"Kak, turunkan aku." ucap Mai memelas berada dalam gendongan Morgan.
"Tidak, aku akan menurunkan mu setelah kita sampai di pantai." ucap Morgan tak ingin dibantah.
Mai memilih bungkam dan membiarkan tuan mudanya membawanya ke pantai.
Pasir putih tampak terbentang luas di depan matanya, lautan lepas dan pemandangan alam yang super indah sungguh menyejukkan mata mereka.
Morgan dengan hati-hati menurunkan Mai dari gendongannya karena sedari tadi Mai begitu rewel minta diturunkan.
Dan benar saja ketika Mai turun dari gendongannya, Mai langsung berlari kecil melewati pasir putih seperti anak kecil yang baru menginjakkan kakinya di pantai.
Morgan tersenyum merekah melihat tingkah laku Mai. Dia pun lekas bergegas mengejar Mai. Mereka berlarian kesana-kemari di tepi pantai dan tertawa sepuasnya.
Setelah puas menikmati keindahan pantai. Mai dan Morgan memilih beristirahat sejenak di kursi yang sudah disiapkan untuknya. Terdapat meja lipat yang di atasnya tersedia minuman dingin dan aneka cemilan.
"Minumlah." Morgan menyerahkan segelas jus buah untuk Mai.
"Terima kasih." Mai tersenyum mengambilnya lalu meminumnya secara perlahan.
Morgan tak lepas memandang wajah cantik Mai bahkan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.
Derttt...Derttt
"Tunggu sebentar." ucap Morgan mendengar ponselnya berbunyi lalu segera menjauh dari Mai karena ingin mengangkat panggilan masuk dari ponselnya.
"Apa! wanita itu kembali!. Sial! ini menjadi kabar buruk darimu, Niko. Aku tidak ingin lagi berurusan dengan wanita itu." ucap Morgan dingin sambil mengepalkan tangannya dan langsung mematikan ponselnya.
Raut wajah Morgan seketika berubah masam. Wanita di masa lalunya kembali datang dan dia sangat membenci wanita itu.
__ADS_1