
"Bunda, bolehkah Ameena memakan buah anggurnya sekarang?" tanya Ameena.
"Kita harus mencucinya terlebih dahulu sayang, tunggu sebentar. Bunda akan mencuci buah anggurnya, setelah itu Ameena boleh memakannya." ucap Mai tersenyum, dia selalu mengajarkan kebersihan sejak dini kepada kedua putrinya.
"Baik bunda." ucap Ameena lalu menyerahkan buah anggur yang baru saja dipetiknya kepada ibunya.
Mai tersenyum mengambilnya lalu bergerak ke tempat pencucian buah yang tersedia di kebun buah tersebut. Setelah itu kembali menghampiri putrinya.
Sementara Ameera tidak mau berhenti berkuda, untuk itu Morgan turun tangan lalu menemani putrinya berkuda.
Sedangkan Aqil dan Aqila sudah puas berkuda karena sedari tadi mereka latihan berkuda. Maklum anak kembar Malfin dan Adelia sudah pada besar dan umurnya hampir menginjak sembilan tahun.
Hobi keduanya berkuda, sehingga setiap liburan semester mereka akan berkunjung ke Savana untuk melatih kemampuan berkudanya.
Malam harinya....
Morgan dan kedua putri kembarnya kompak menyembunyikan kejutan untuk Mai. Sehingga Morgan berpura-pura menjauhi Mai malam ini, agar Mai tidak tahu kejutan yang tengah dipersiapkan untuknya.
"Anak-anak, mana ayah kalian? mengapa tidak bersama dengan kalian." ucap Mai lalu melihat ke arah tangga.
Sedari tadi Mai menunggu Morgan untuk makan malam bersama, namun Morgan tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Sepertinya ayah masih kenyang bunda." ucap Ameera lalu bergegas duduk di kursi, sedang Ameena berdiri di samping sang nenek.
"Ya sudah, kalian sama nenek dulu. Bunda akan memanggil ayah kamu di kamar." ucap Mai lalu bergegas ke kamarnya.
Setelah melihat ibunya pergi ke kamar, Ameera memilih berbisik-bisik kepada kakaknya dan juga neneknya perihal rencana ayahnya. Setelah itu, mereka bergerak cepat ke kamar tamu untuk mengganti pakaiannya yang telah dipersiapkan oleh ayahnya.
Sementara itu, Mai membuka pintu kamarnya dan bergegas masuk kedalam. Mai mengerutkan keningnya tak mendapati sang suami berada di dalam kamarnya.
"Kemana perginya kak Morgan." gumam Mai melihat disekelilingnya, kemudian dia melangkah ke kamar mandi.
"Hufff, kak Morgan kemana sih. Atau jangan-jangan dia berada di ruang kerjanya." ucap Mai lalu bergerak ke ruang kerja sang suami.
Lagi-lagi Mai tidak menemukan keberadaan Morgan, Mai kembali melangkah ke ruang olahraga, balkon kamar dan tetap saja tidak menemukan keberadaan Morgan. Padahal tempat tersebut menjadi tempat favorit sang suami.
Mai menghembuskan nafasnya dengan kasar masuk ke dalam kamarnya. Pandangannya ia edarkan hingga tak sengaja melihat kotak kado di atas tempat tidur.
Mai mendekat dan melihat dengan seksama kotak kado tersebut hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, karena kado tersebut ditujukan untuknya.
Mai langsung membukanya hingga terkejut melihat sebuah gaun pesta muslimah berwarna pink beserta kartu ucapan dalam kado tersebut.
'Pakai gaun ini, sayang. Lalu temui aku di taman belakang'
__ADS_1
Mai tersenyum membacanya karena ia tahu betul sang suami yang memberikan kado untuknya. Mai bergerak menyibakkan gorden kamarnya dan benar saja dia melihat banyaknya lampu-lampu di taman belakang.
Tapi, yang jadi masalahnya, apakah dia harus memakai gaun mewah itu sekarang? Tanpa pikir panjang Mai langsung mengambil gaun tersebut, sebaiknya dia pakai saja gaun mewah itu lalu menemui Morgan di taman belakang.
Mai segera bersiap-siap, dia bahkan melupakan niatnya untuk mengajak sang suami makan malam karena ada sebuah kejutan yang sepertinya tengah dipersiapkan oleh sang suami.
Mai sama sekali tidak tahu kejutan apa, yang jelas dia harus tampil cantik malam ini di depan suami dan kedua putri cantiknya. Karena sebuah kejutan yang notabene dari sang suami sedang menantinya.
Sampai sekarang, Mai sama sekali tidak mengingat hari anniversary pernikahannya, memang dia tidak terbiasa merayakan hari istimewa seperti itu, hanya Morgan yang selalu mempersiapkannya.
Sementara di taman belakang..
Lampu-lampu hias berwarna putih yang bergelantungan di atas pohon tampak indah menyinari taman belakang. Banyaknya lilin berjejer rapi di sepanjang taman, hingga tersusun berbentuk love.
Terdapat kursi dan meja oval di tengah taman. Makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja beserta lilin di atasnya menambah kesan romantis. Kue tart berbentuk rumah dengan desain 'Happy Wedding Anniversary' juga tersedia di atas meja dan kejutan lainnya semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.
Terlihat Morgan sudah berdiri di samping gazebo sambil menunggu kedatangan istri dan kedua putrinya. Dikarenakan malam ini mereka akan makan malam bersama dengan suasana romantis.
Tak berselang lama, terlihat kedua putri kembarnya berjalan beriringan bersama dengan neneknya. Morgan tersenyum merekah melihat kedatangan mereka.
Tampak Ameena dan Ameera memakai gaun muslimah anak-anak berwarna pink beserta hijab yang warnanya senada dengan gaunnya. Sejak dini mereka sudah diajarkan untuk memakai pakaian tertutup.
Morgan bergegas menghampiri mereka. Ameena dan Ameera langsung berhambur memeluk tubuh ayahnya.
"Makasih nenek sudah mengantar kami." ucap si kembar bersamaan.
"Iya nak" ucap Bu Siti tersenyum.
"Kenapa nenek tidak ikut dalam acara ini?" tanya Ameera.
"Iya ibu, sebaiknya ibu ikut makan malam bersama kami." timpal Morgan membenarkan ucapan putrinya.
"Maaf, nenek tidak bisa nak, nenek sudah ngantuk. Jadi, kalian saja ya yang merayakannya." ucap Bu Siti.
"Ya nggak seru dong." ucap Ameena memasang wajah sendu.
Bu Siti hanya mampu tersenyum lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Bersamaan pula Mai sempat bertemu dengan ibunya di dekat kolam, mereka sempat mengobrol sebentar kemudian melangkah ke taman.
Mai terkejut melihat suasana taman sudah disulap seindah mungkin. Tampak Morgan dan kedua putrinya masing-masing memegang buket bunga. Mai melangkah dengan senyuman merekah dan kedua putrinya langsung menyambut kedatangannya dengan memberinya buket bunga mawar.
"Terima kasih sayang." ucap Mai tersenyum sambil mengambil buket bunga dari kedua putrinya.
"Sama-sama bunda." ucap si kembar dengan kompaknya.
__ADS_1
Mai benar-benar tampil cantik malam ini, sampai-sampai membuat Morgan tak berkedip melihatnya.
"Ayah, bunda sudah datang." tegur Ameera kepada ayahnya. Hingga ayahnya tersadar dari dunianya sesaat.
Kemudian Morgan mendekat, lalu berlutut di depan sang istri sambil menyodorkan buket bunga nya.
"Kamu adalah ratu dunia dan akhiratku. Aku mencintaimu karena ketulusanmu, kesabaranmu, kelembutanmu dan segala sifat yang kamu miliki. Serta ibu dari anak-anakku. Aku bersyukur kepada Allah karena sudah menghadirkan mu dalam hidupku. Kamu benar-benar adalah hadiah indah dalam hidupku. Selamat hari jadi pernikahan, sayang. Semoga Allah menjaga cinta, kepercayaan dan kebaikan menyala di hati kita selamanya dan memberkati ikatan suci pernikahan kita. Dan semoga kebahagiaan tidak pernah meninggalkan kita." ucap Morgan dengan tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.
Mai tak mampu berkata-kata, kedua matanya sudah berkaca-kaca mendengar setiap ucapan Morgan. Dia langsung berhambur memeluknya, dengan cepat Morgan membalas pelukannya.
Selamat hari jadi pernikahan, suamiku. Aku sangat bersyukur memilikimu. Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Aku berharap semoga kita selalu diberikan kemudahan dalam segala hal. Batin Mai.
Ameena dan Ameera hanya mampu bertepuk tangan melihat ayah dan ibunya berpelukan.
"Kami juga mau dipeluk, bunda." ucap Ameera.
Membuat Morgan dan Mai melepaskan pelukannya sambil mengusap sudut matanya yang berair.
"Kemarilah sayang." ucap Mai tersenyum.
Ameera dan Ameena segera berhambur memeluk ibunya, lalu mereka berempat berpelukan bersama. Tak lupa Mai dan Morgan memberikan ciuman di kedua pipi gembul putrinya secara bergantian.
Mereka semua tertawa bersama dengan perasaan bahagia merayakan anniversary pernikahannya. Setelah itu, mereka mulai menikmati jamuan makan malamnya dengan penuh khidmat.
Selesai makan malam bersama, dilanjutkan dengan melihat pertunjukan kembang api. Mai dan Morgan saling menggenggam tangan bersama dengan kedua putrinya melihat pertunjukan kembang api. Lalu Mai dan Morgan saling pandang.
"Aku mencintaimu." ucap Morgan tersenyum lalu mencium kening Mai.
"Aku juga mencintaimu." balas Mai tersenyum.
Terima kasih ya Allah, karena telah mempersatukan kami menjadi satu ikatan pernikahan. Aku berharap keluarga kecilku mendapatkan kesehatan yang baik, kebahagiaan, dan anak-anak kami menjadi anak yang sholehah dan berbakti kepada orang tuanya. Semoga kebahagiaan selalu menghampiri keluarga kecil kami, aamiin. Batin Mai tersenyum bahagia.
Cinta mereka tidak akan pernah terpisahkan seiring berjalannya waktu. Dengan hadirnya putri kembarnya semakin mengeratkan jalinan cinta kasih mereka.
***
TAMAT
Terima kasih dan terima kasih atas segala dukungannya untuk para pembaca sekalianπ yang tak henti-hentinya memberikan dukungannya baik itu berupa, like, love, komentar, hadiah dan vote nya selama ini.
Mohon maaf jika ada salah-salah kata selama ini. Akhir kata, aku hanya ucapin terima kasih dan terima kasih kepada kalian semua yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca cerita nyeleneh ku ini.... Sekian dan terima kasih...πππ
Sampai jumpa di lain kesempatan π
__ADS_1