
Kapal nelayan yang ditumpangi Morgan masih saja terombang-ambing di tengah lautan yang sedang terjebak badai. Beberapa kali terdengar suara petir menggelegar membuat para nelayan semakin panik.
Mereka semua bahu membahu mengaes air yang tertampung di kapal, takutnya membuat kapal mereka tenggelam karena kelebihan kapasitas.
Morgan ikut membantu para nelayan, dia ingin segera sampai di daratan. Istrinya dalam bahaya saat ini, dia harus menyelamatkannya. Apa yang akan terjadi bila dirinya datang terlambat.
"Hei anak muda lakukan dengan benar, apa kamu ingin terjebak di tengah lautan hah!." tegur salah satu nelayan melihat Morgan tak bersungguh-sungguh membuang air yang masih tertampung di dalam kapalnya.
Morgan terlihat cuek dan tetap mengerjakannya walau pikirannya sudah kemana-mana. Andai saja situasinya tidak genting seperti sekarang, mungkin saja dia tidak akan pernah naik ke kapal nelayan dan berbaur dengan para nelayan yang super cerewet.
Hasil kerja keras mereka pun sedikit membuahkan hasil. Karena tak berselang lama, daratan sudah tampak terlihat. Mereka tersenyum dan begitu bersemangat untuk sampai di daratan. Dari kejauhan mereka sudah mampu melihat beberapa lampu jalan disekitaran dermaga bersinar terang.
"Sebentar lagi kita sampai." teriak salah satu nelayan begitu antusiasnya.
Sementara Morgan hanya mampu menghela nafas berat, semoga saja dia datang tepat waktu. Pandangan Morgan mulai diedarkan di sekitaran dermaga. Dia mencari orang-orang yang menculik istrinya. Dia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan orang-orang yang menculik istrinya lolos begitu saja.
Kapal nelayan sudah menepi di pinggir pantai, para nelayan berbondong-bondong turun dari kapal dan langsung menerobos hujan. Begitu halnya dengan Morgan yang juga ikut bergerak cepat turun dari kapal hingga tak sengaja menyenggol lengan salah satu nelayan. Nelayan itu tampak marah, mau tak mau Morgan meminta maaf kepadanya karena memang dirinya yang salah.
"Maaf, aku tak sengaja. Aku sangat terburu-buru, istriku diculik dan aku harus segera menemukannya." ucap Morgan gusar yang mengakui kesalahannya.
Nelayan itu terkejut mendengar ucapan Morgan. Sehingga dia tidak jadi marah-marah kepada pemuda itu.
"Tidak masalah, aku juga salah. Semoga istrimu segera ditemukan. Jika tak keberatan kami bisa membantumu mencari istrimu" ucap nelayan itu.
"Ya, kami bisa membantumu." timpal teman satunya.
"Tidak perlu, bantuan kalian sudah lebih dari cukup dengan memberiku tumpangan di kapal kalian. Aku tidak ingin merepotkan kalian. Bukankah kalian baru saja pulang melaut, anak dan istri kalian pasti sudah menunggu kedatangan kalian. Jangan khawatir aku bisa mengatasi masalah ku sendiri." tolak Morgan. Dia benar-benar tidak ingin merepotkan orang lain.
__ADS_1
Morgan segera turun dari kapal dan berlari cepat menerobos hujan bergerak mendekati dermaga. Karena dia sangat yakin sekarang berada di dermaga Singh, dermaga sesuai petunjuk dari gulungan kertas yang ditemukannya di dalam kamar resort.
"Kalau begitu kami pergi. Semoga berhasil." teriak nelayan tadi menatap kepergian Morgan.
Sedangkan Morgan hanya mampu mengangkat sebelah tangannya melambai ke arah mereka. Setelah itu bergegas mencari kesana-kemari di lokasi dermaga tersebut.
"Sialan!" Morgan mengumpat kesal karena melihat area dermaga tampak sepi. Tak ada orang yang berkeliaran di area dermaga mengingat hujan masih saja mengguyur tempat tersebut.
Tubuh Morgan sudah basah kuyup namun tidak menghentikan tekadnya untuk menemukan istrinya. Orang yang mencurigakan sama sekali tak muncul-muncul di hadapannya. Sudah cukup lama dirinya berdiam diri di dermaga.
Hawa dingin semakin menusuk permukaan kulitnya hingga membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Dengan terpaksa Morgan melangkah meninggalkan dermaga untuk mencari kedai kopi, dia butuh minuman hangat.
Tak jauh dari dermaga, dia menemukan kedai kopi sederhana. Morgan bergegas masuk ke kedai kopi tersebut dan langsung memesan kopi. Tak lupa Morgan meminta tolong untuk mencharger ponselnya. Pemilik kedai kopi itu dengan ramahnya membantunya mencharger ponselnya.
Karena setelah ini, dia harus segera menghubungi anak buahnya untuk datang ke tempat tersebut.
Morgan sudah menghubungi anak buahnya setelah ponselnya kembali aktif. Sudah dua jam lamanya berada di kedai kopi, namun anak buahnya tak kunjung juga datang. Hujan deras masih saja mengguyur tempat tersebut, sehingga menyulitkan ruang geraknya.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Selesai makan malam bersama dengan dua pasangan bahagia yang masing-masing memiliki anak kembar, Mai memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Raut wajah Mai tampak murung dan tidak bahagia berada di kapal pesiar. Padahal dari dulu dia begitu memimpikan naik kapal pesiar bersama ibunya. Namun sekarang impiannya sudah terwujud, sayangnya tak membuatnya bahagia.
Mana lagi perjalanannya mengarungi lautan dengan kapal pesiar masih tersisa tiga hari lagi, hingga kapal pesiar itu bersandar di negara B. Mai merasa waktu berjalan begitu lambat, sehari berada di kapal pesiar rasanya sudah seperti sebulan lamanya. Sungguh hal itu menyiksa dirinya, dia merasa sepi dan merasa kehilangan sosok orang yang selalu bersamanya.
Mai menyeret kakinya mendekati tempat tidur. Kemudian Mai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ini kali pertamanya berpisah dengan Morgan selama menikah. Sungguh dirinya mulai merindukan sosok pria yang dicintainya.
"Aku sangat merindukanmu kak, aku sangat merindukanmu. Aku pun sangat merindukan ibu. Mengapa kalian semua jauh dariku" gumam Mai dengan mata berkaca-kaca sambil menatap langit-langit kamar yang ditempatinya. Dua sosok yang sangat disayanginya sedang dia rindukan saat ini.
"Ya Allah, dimanapun kak Morgan berada tolong lindungi dia. Jangan membuatnya kesulitan dan segera pertemukan kami, karena hanya engkau yang maha pengasih lagi maha penyayang dan maha mengetahui segalanya, aamiin." Mai mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia pun tidak bisa lepas memikirkan keberadaan suaminya.
Mai memejamkan matanya berharap rasa kantuknya cepat datang, namun sayangnya tak sesuai dengan perkiraannya karena pikirannya masih saja kemana-mana.
Mai kembali bangun lalu bersandar di tempat tidur, dia pun ingin menghubungi Morgan, namun dia sama sekali tidak membawa ponsel selama berada di kapal pesiar. Dan akhirnya Mai memilih menangis dalam diam. Cukup lama dirinya menangis dan akhirnya tertidur pulas.
🍁🍁🍁🍁
Lima hari kemudian.....
Morgan bersama anak buahnya tidak berhenti mencari keberadaan Mai. Selama lima hari dia terus mendatangi setiap dermaga di kota tersebut. Namun hasilnya nihil, dia tak kunjung menemukan istrinya. Bahkan pencariannya sudah sampai di negara B.
Mengenai hilangnya Mai, dia masih merahasiakannya dari orang tuanya. Dia hanya tidak ingin orang tuanya khawatir akan hilangnya Mai. Hanya Malfin yang mengetahui hilangnya istrinya. Namun Malfin tampak santai-santai saja dan hanya mengerahkan anggota The Tiger untuk membantunya mencari istrinya. Dan lagi-lagi tak membuahkan hasil karena tidak menemukan keberadaan Mai.
Khumaira, dimana kamu berada. Aku sangat merindukanmu, aku sangat rindu segala hal tentangmu. Batin Morgan cemas.
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗
Untuk bab selanjutnya nanti nyusul 😁
__ADS_1