Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Berubah


__ADS_3

Mai dan Morgan begitu bahagia makan malam dengan suasana romantis. Bahkan mengabadikan momen bahagia mereka. Pada akhirnya kejutan Morgan berjalan lancar.


"Terima kasih kak, aku sangat senang dengan kejutannya." ucap Mai dengan mata berbinar memancarkan kebahagiaan.


Morgan hanya mampu tersenyum lalu memeluknya dengan erat.


"Aku janji akan selalu membahagiakan mu sayang." pinta Morgan.


Setelah itu, mereka bergegas pulang ke apartemen. Terlihat jelas raut wajah bahagia keduanya setibanya di apartemen. Kedua tangan mereka masih saja saling menggenggam seolah memiliki lem perekat yang tidak bisa di lepaskan.


"Sayang, kenapa aku tak bosan memandangi wajahmu yang cantik ini. Bodohnya aku baru menyadarinya, ternyata kamu cantik" goda Morgan sesekali melirik Mai sepanjang menaiki anak tangga.


"Kak, perhatikan langkah mu. Jangan terus memandangi wajahku. Kita sedang menaiki anak tangga." tegur Mai dengan bijaknya dengan senyuman menghiasi sudut bibirnya.


"Iya baik, aku akan patuh dengan ucapan penyelamatku." ucap Morgan tersenyum.


Mai hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Aneh juga rasanya melihat gelagat tuan mudanya berubah seratus delapan puluh derajat, yang dulunya begitu arogan sekarang menjadi hangat dan banyak maunya.


Morgan membuka pintu kamarnya lalu mempersilahkan Mai masuk, kemudian menutup kembali pintu kamarnya. Mai melangkah ke ruang ganti, Morgan bergegas menyusulnya yang juga ingin mengganti pakaiannya.


"Tadi sore kakak ipar menelpon ku hanya untuk menanyakan kabarmu. Aqil dan Aqila juga titip salam kepadamu." ucap Morgan sambil membuka jasnya.


"Waalaikumsalam, bagaimana kabar mereka?" tanya Mai sambil memegang jas Morgan.


"Kabar mereka baik. Hanya saja, Aqil dan Aqila terus merengek meminta kepada mama dan papanya untuk mengunjungi kita berdua." ucap Morgan sambil membuka kancing kemejanya.


"Oh iya, maklum masih anak-anak, jadi hobi mereka merengek sebelum permintaannya di kabulkan." ucap Mai tersenyum yang kembali mengingat kebersamaannya dengan si kembar.


"Khumaira, sebenarnya aku berencana untuk membawamu berbulan madu." ucap Morgan dengan entengnya.


Sedari tadi dia menimbang-nimbang ucapannya yang berencana untuk berbulan madu, apakah dia harus mengatakannya sekarang atau tidak di depan Mai. Namun pada akhirnya dia berhasil mengatakannya dengan jujur.


Mai terdiam mendengar ucapannya itu.


"Apa kamu setuju jika kita pergi berbulan madu?" tanya Morgan penuh harapan.


"Tapi kak, sepertinya aku...." Mai tak jadi melanjutkan ucapannya karena dipotong cepat oleh Morgan.

__ADS_1


"Tidak ada kata penolakan, sayang." ucap Morgan cepat sambil memegang kedua pundak Mai.


"Baiklah. Aku setuju setuju saja jika memang keinginan kak Morgan untuk berbulan madu." ucap Mai tersenyum tipis.


"Berarti yes." Morgan begitu antusias dan terlihat kegirangan memojokkan tubuh Mai di lemari pakaian.


Sementara Mai hanya mampu menggangguk menanggapi ucapannya. Mau bagaimana lagi, tak ada yang bisa dia lakukan selain menyetujui ucapan tuan mudanya.


Morgan mendekatkan wajahnya ke wajah Mai hingga hidung mancung mereka saling bergesekan dan tanpa aba-aba Morgan langsung mencium bibir Mai dan dengan perlahan mellumat nya cepat. Mai sama sekali tidak melakukan penolakan, dia malah membiarkan Morgan melakukan apa yang diinginkan oleh pria arogan itu yang sudah berstatus sebagai suaminya.


Mendapati Mai tak melakukan penolakan terhadapnya, Morgan semakin memperdalam ciumannya. Mata mereka terpejam menikmati gerakan bibirnya yang saling bersahut-sahutan, karena Morgan terus merobohkan pertahanan Mai agar mau membalas ciumannya. Dan benar saja dengan kaku Mai membalas ciumannya.


Tak sia-sia Morgan mengajarkan Mai cara berciuman akhir-akhir ini. Ciuman mereka yang awalnya penuh kelembutan, karena terlebih dahulu Morgan menuntun Mai untuk mengikuti gerakan bibirnya, seketika ciuman mereka berubah menjadi memanas.


Nafas keduanya memburu dikala nafsu sudah menyelimuti tubuh dan pikirannya. Dan gelenyar aneh seketika membangkitkan hasrat seorang Morgan. Dengan terpaksa Morgan menghentikan ciumannya.


Seketika nafas keduanya tersengal-sengal setelah mengakhiri ciumannya. Jika masih dilanjutkan bisa saja mereka berakhir melakukan malam pertama. Baik Morgan maupun Mai tampak mengatur debaran jantungnya yang masih tak bergeming di tempatnya.


Morgan menatap Mai dengan tatapan sayu, kedua tangannya masih mengurung Mai di lemari pakaian.


"Se-sembilan belas tahun, kak " jawab Mai terbata-bata mengatakannya.


Deg!


Morgan terlonjat kaget mendengar langsung jawaban dari Mai.


"Sembilan belas tahun!" Morgan memperjelas nya kembali. Dan Mai menggangguk cepat.


Morgan langsung memijit keningnya seperti tertimpa reruntuhan bangunan tepat di kepalanya.


Sembilan belas tahun, hah...ini gila... bagaimana jadinya jika aku menggaulinya, lantas bagaimana nantinya jika dia hamil di usia muda. Tahan Morgan, pandai-pandailah menahan gejolak hasratmu. Batin Morgan tersenyum getir.


Morgan segera menjauhi Mai, pikirannya mulai berkelana kemana-mana. Morgan langsung menyambar piyama tidurnya di lemari pakaian lalu melangkah ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Sementara Mai terbengong melihat tingkah laku tuan mudanya. Mai dapat melihat jelas raut wajah tuan mudanya seketika berubah ketika menjawab pertanyaannya dan tersirat sebuah kekecewaan dari tatapan matanya.


"Ada apa ya, apa aku salah ucap." gumam Mai, namun tidak ingin ambil pusing.

__ADS_1


Mai segera mengambil piyama tidurnya dan bergegas melangkah ke kamar mandi. Bersamaan pula Morgan keluar dari kamar mandi yang sudah mengenakan piyama tidur, jadi mereka berpapasan tepat di depan pintu kamar mandi.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Morgan melangkah ke arah tempat tidur. Sementara Mai masuk ke dalam kamar mandi, namun Mai sempat menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung, setelah itu menutup pintu kamar mandi.


Kini mereka tengah berbaring di atas tempat tidur. Mai berkali-kali mengerjapkan matanya hanya sekedar untuk menatap ke arah Morgan yang tidur memunggunginya.


Ya Allah, apa aku berbuat kesalahan? kenapa kak Morgan berubah kepadaku. Batin Mai.


*


*


*


Sementara di tempat lain, tepatnya negara C...


"Aku sudah mengurus keberangkatan mu ke negara A. Kamu hanya perlu menunggu keputusan final dari Samuel." ucap Alfhat yang tengah duduk di samping tempat tidur pasien.


Sementara yang diajak mengobrol hanya diam membisu dengan posisi berbaring.


"Kamu yakin ingin melakukan perjalanan jauh hanya untuk menemui si brengsek itu. Lupakan saja niatmu itu, dia sudah menikah dengan wanita lain." ucap Alfhat menyeringai mengompori nya.


"Aku tidak peduli. Inilah yang menjadi tujuanku saat ini, hanya untuk bertemu dengan Morgan Leo Alexander." timpal Maura.


"Andai saja kamu tidak berkhianat kepadaku, mungkin nasib mu tidak se menyedihkan begini." ketus Alfhat.


"Semuanya sudah berlalu dan aku tidak menyesalinya." pinta Maura.


"Heh, kamu sama saja dengan Rania. Oh iya, kemungkinan jadwal keberangkatan mu ke negara A minggu ini, jadi perhatikan kondisimu. Jangan sampai kamu drop di tengah jalan."


"Dokter Samuel bersedia menemaniku."


"Wah baguslah, memang dia harus selalu mendampingi mu." jelas Alfhat kemudian bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju pintu keluar.


"Ku harap kamu cepat sembuh." ucap Alfhat lalu melenggang pergi.


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏

__ADS_1


__ADS_2