Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Tidur Bersama


__ADS_3

Perlahan Mai berjongkok mengambilnya lalu diusapnya ponsel yang sudah dipakai hampir setahun ini. Pasalnya Ponsel tersebut ia beli dari gaji pertamanya menjadi seorang pelayan.


"Ya Allah, bagaimana bisa ponsel ini jatuh, tadi aku kan menyimpannya di atas meja." gumam Mai dengan mata berkaca-kaca lalu mencoba menyalakannya, namun sayangnya ponselnya sudah rusak.


Dia kembali teringat dengan ibunya karena setiap pagi ibunya menelepon untuk menanyakan kabarnya. Tapi, sekarang ponselnya sudah rusak.


Mai mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan tuan mudanya, namun dia tidak melihatnya lagi kemana perginya.


Mai hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menyimpan ponselnya di dalam tasnya. Dia tidak tega membuang barang yang sangat dijaganya itu. Walaupun sudah rusak dia akan tetap menyimpannya sebagai barang kenangan.


Mai tidak tau menahu bagaimana bisa ponselnya rusak begini, padahal seingatnya dia menyimpannya di atas meja lalu masuk ke ruang ganti. Apakah ada orang yang sengaja menjatuhkan ponselnya? pikirnya. Tapi, dia tidak ingin menuduh siapapun atas rusaknya ponselnya. Mungkin ponselnya memang harus diganti.


Kemudian Mai naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Aqila. Belum lama berada di samping Aqila, tanpa diduga Aqila lagi-lagi memeluknya bahkan tangan mungil anak menggemaskan itu mulai meraba-raba mencari sesuatu dalam tubuhnya. Sontak hal itu membuat Mai terkejut, namun dia tidak berani untuk mengganggunya takutnya membangunkannya.


Mai tersenyum tipis saat mendapati Aqila menemukan sesuatu dalam tubuhnya yang bisa diusap. Mai ingin sekali terkekeh geli dengan apa yang dilakukan Aqila terhadapnya. Namun dia pun memakluminya karena itu hal wajar yang sering dilakukan oleh anak kecil ketika tidur terkadang menyentuh atau mengusap aset kembar ibunya, karena dia pun pernah mengalaminya saat masih kecil.


Hati Mai menghangat melihat wajah teduh Aqil dan Aqila yang sedang tertidur pulas, kesedihan yang sempat mampir menyelimutinya akibat rusaknya ponselnya seketika hilang sekejap.


Kini wajahnya dipenuhi senyuman dan sesekali tangannya bergerak memperbaiki selimut mereka dan terkadang mengelus punggung kecil anak menggemaskan itu yang sudah menjadi ponakannya juga, persis yang dilakukan seorang ibu kepada anak-anaknya.


Mai belum juga tertidur. Dia hanya perlu menunggu tuan mudanya datang yang entah kemana perginya karena dari tadi meninggalkan kamar. Setelah tuan mudanya datang, Mai akan kembali ke kamar tamu yang berada di lantai satu.


Ya selama sebulan mereka sepakat memutuskan untuk pisah kamar. Dan Mai memutuskan menempati kamar tamu. Hal-hal yang mencurigakan di kamar tamu sudah Morgan bereskan hingga Mai leluasa menempati kamar tersebut.


"Hoaaamm." Mai sudah menguap berkali kali dengan rasa kantuk sudah menyerangnya. Namun Mai berusaha untuk tetap terjaga sampai tuan mudanya datang.


Tepat pukul 12 malam, pintu kamar terbuka lebar dan muncullah sosok yang sedari tadi ditunggu kedatangannya. Mai langsung mengerjapkan matanya melihat ke arah pintu.

__ADS_1


Tampaklah Morgan sedang menutup pintu dengan hati-hati, setelah itu melangkah mendekat ke arah tempat tidur. Morgan menatap Mai dengan sorot mata tajam, hal itu membuat Mai paham akan tatapannya dan mencoba untuk menggeser tubuhnya, namun dia pun menjadi kasihan melihat Aqila tengah memeluknya.


Morgan mengangkat tangannya memintanya untuk tetap diam di posisinya. Kemudian Morgan naik ke atas tempat tidur dengan penuh kehati-hatian takutnya membangunkan ponakannya.


Morgan menghela nafas lega setelah berhasil membaringkan tubuhnya di samping Aqil dengan posisi miring menghadap ke arah Mai dimana Mai sedang meliriknya.


"Tidurlah, ini sudah larut malam. Tak usah kembali ke kamarmu." ucap Morgan berbisik lalu mengubah posisinya menjadi terlentang. Mai hanya mampu mengedipkan matanya mengiyakan ucapannya.


"Malam ini dan malam-malam berikutnya kita akan tidur bersama, selama si kembar berada di apartemen." peringat Morgan kepada Mai. Sedangkan Mai menggangguk mengerti akan ucapannya.


Tak ada salahnya juga jika dirinya bersama Mai tidur bersama toh sah-sah saja karena kedua ponakan kembarnya juga berada di tempat tidur yang sama dengannya.


Tak berselang lama, Mai pun akhirnya tertidur pulas karena memang nyatanya dia sudah mengantuk. Sementara Morgan masih terjaga menatap langit-langit kamarnya.


Morgan merasa terusik dengan pesan tersebut. Bagaimana tidak pengirim pesan tersebut dengan terang-terangan mengatakan menyukai wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Maka dari itu dia menjadi kesal, emosi plus marah dengan amarah menggebu-gebu.


Untuk meredamkan emosinya Morgan memilih berolahraga malam di ruang olahraga nya guna menghilangkan segala pikirannya yang mengarah pada pesan tersebut, namun tetap saja pikirannya masih saja tertuju pada pesan menyebalkan itu.


Morgan mengusap wajahnya dengan kasar dan tidak tahu perasaannya seperti apa kepada Mai, namun setiap kali melihat wajah Mai dengan cepat jantungnya bereaksi.


Perasaan apa ini? apa aku memang menyukainya... Arrgghhh.


Tanpa sadar Morgan mengulurkan tangannya menyentuh pipi mulus Mai lalu mengelusnya lembut. Morgan merasa menikmati aksinya hingga tanpa sadar matanya mulai berat dan pada akhirnya dia pun tertidur, jemari tangannya yang menyentuh pipi Mai masih bersemayam di pipi mulus Mai.


🍁🍁🍁🍁


Suara adzan berkumandang, perlahan Mai mengerjapkan matanya sambil mengumpulkan kesadarannya. Hal pertama yang mampu dia rasakan sebuah tangan kekar merangkul lengannya dan tangan mungil yang masih setia memeluknya.

__ADS_1


Mai terlonjat kaget melihatnya, apalagi posisi Morgan cukup dekat dengannya. Mai mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Aqil hingga matanya membulat sempurna melihat Aqil sudah berada di lutut Morgan dan tengah memeluk erat lutut pamannya yang sepertinya dijadikan guling.


Dengan hati-hati Mai memindahkan tangan kekar Morgan dari lengannya hal itu mampu membangunkan sang empunya.


"Kenapa?" ucap Morgan dengan suara serak habis bangun tidur, namun matanya masih tertutup rapat.


"Maaf, aku mau ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu." ucap Mai tidak enak hati.


"Hemm."


Morgan menanggapinya dengan santai yang masih nyaman dengan posisinya.


"Aqil berada di lutut mu, jangan sampai kamu menendangnya." tegur Mai sambil menggeser tubuhnya untuk turun dari tempat tidur, diluar dugaan membuat Aqila terbangun.


Morgan terhentak kaget mendengar ucapan Mai, ia pun segera bangun dan memang benar posisi Aqil berada di lututnya. Morgan mencoba untuk memperbaiki posisi tidur Aqil, namun sayangnya malah membangunkannya.


"Sudah subuh Mama..Papa?" tanya Aqila mengucek matanya dengan posisi duduk, memang kebiasaannya bangun subuh. Ketika orang tuanya sudah bangun mereka pun ikut bangun.


"Eeh iya." ucap Mai terkejut karena menggangu tidur Aqila.


"Aqil bangun, kita harus sholat bareng mama papa." ucap Aqila lalu kembali menguap.


"Iya, aku sudah bangun." ucap Aqil sambil mengucek matanya.


Mereka belum menyadari keberadaan nya dan masih menganggap Mai dan Morgan adalah orang tuanya.


Mai tersenyum mendengar ucapan ponakan kembarnya. Mai begitu salut kepada orang tua si kembar yang mendidik anak-anaknya sejak dini belajar tentang agama.

__ADS_1


Morgan hanya mampu diam membisu mendengar ucapan ponakannya. Dia yang tidak pernah sholat merasa tertampar akan ucapan ponakan kembarnya.


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏


__ADS_2