
"Anak-anak kesayangan ayah dan bunda, dengar ya, sebentar lagi kalian akan melihat dunia ini. Jadi yang sabar di perut bunda, jangan pada rewel." ucap Morgan mengajak berbicara calon bayinya. Mai hanya mampu tersenyum dan kembali merasakan calon bayinya menendang-nendang.
"Baik ayah." ucap Mai membalas ucapan sang suami. Namun tiba-tiba Mai meringis kesakitan merasakan perutnya berdenyut nyeri.
"Awwww...kak!." Mai meringis kesakitan sambil mencengkram kuat lengan Morgan.
"Kamu kenapa sayang?" ucap Morgan khawatir.
"Perutku sakit, aaakhh..." Mai meringis kesakitan sambil menangis.
"Mama, ibu, Mai sakit perut." teriak Morgan dan terlihat panik lalu memapah istrinya untuk duduk di sofa ruang tamu.
Sontak Nyonya Milan dan Bu Siti memilih menghentikan acara mengobrol nya di ruang keluarga saat mendengar teriakan Morgan. Mereka bergegas menghampirinya.
"Apa yang terjadi, ada apa dengan Mai?" Bu Siti begitu panik dan terkejut melihat Mai mengeluh kesakitan.
"Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit." ucap Nyonya Milan khawatir, karena takutnya Mai akan lahiran.
"Iya Ma."
Mereka segera membawa Mai ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, dokter Latifah dan perawat menyambut kedatangan mereka. Karena sebelum ke rumah sakit, Morgan terlebih dahulu menghubungi dokter Latifah perihal yang dialami oleh istrinya.
Brankar sudah disiapkan oleh perawat. Kemudian Morgan dengan hati-hati menurunkan Mai dari mobil dibantu oleh perawat wanita. Lalu membaringkan istrinya di atas brankar.
Nyonya Milan dan Bu Siti terlihat panik dan cemas melihat kondisi Mai.
"Ketubannya sudah pecah dok." ucap salah satu perawat wanita yang membantu Mai.
"Cepat bawa ke ruang bersalin." ucap Dokter Latifah dengan tegasnya. Kemudian mereka mendorong bersama-sama brankar yang ditempati oleh Mai ke ruangan bersalin.
Sementara Mai sendiri masih saja meringis kesakitan dengan kesakitan yang luar biasa sambil mencengkram kuat lengan sang suami. Perutnya selalu saja mules namun teramat sakit dia rasakan.
"Bertahanlah sayang, semuanya akan baik-baik saja." ucap Morgan dengan mata berkaca-kaca dan sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya. Morgan dengan penuh kasih membasuh bulir keringat di kening sang istri hingga mereka sampai di depan pintu ruang bersalin.
Sebelum memasuki ruang persalinan, Morgan masih saja menggenggam tangan Mai, seolah tidak ingin melepaskannya. Hingga genggaman tangan keduanya terlepas ketika perawat mendorong brankar yang ditempati oleh Mai masuk ke ruang bersalin. Setelah itu pintu ruang bersalin tertutup rapat, karena dokter tidak mempersilahkan Morgan dan lainnya masuk ke ruang bersalin.
Morgan hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar menatap pintu ruangan tersebut. Sementara Nyonya Milan dan Bu Siti hanya mampu mendoakan yang terbaik untuk Mai, agar persalinannya berjalan lancar.
__ADS_1
Dokter yang menangani Mai segera mengambil tindakan operasi cecar. Mengingat salah satu bayi Mai posisinya tak memungkinkan untuk dilahirkan secara normal.
Apalagi jauh-jauh hari Mai beserta sang suami sudah mengkonsultasikan kepada dokter Latifah perihal persalinannya yang akan dilakukan secara cecar. Tanggal persalinannya pun sudah ditentukan, namun tidak sesuai prediksi dokter.
Kini para medis sudah berkumpul di ruang bersalin untuk melakukan operasi cecar terhadap Mai.
Sementara diluar ruangan, Morgan, nyonya Milan dan Bu Siti merasakan perasaan campur aduk, antara cemas, khawatir, sedih dan bahagia menyelimuti perasaannya, karena sebentar lagi mereka akan menjadi seorang ayah dan juga seorang nenek.
"Ya Allah, tolong lancarkan persalinan istriku" ucap Morgan dengan mata berkaca-kaca sambil menopang dagu dan terlihat begitu cemas dan khawatir menatap pintu ruang bersalin. Dimana Istrinya di dalam sana tengah berjuang hidup dan mati untuk melahirkan buah hatinya.
Sementara Nyonya Milan dan Bu Siti memilih duduk di kursi tunggu. Tak berselang lama, tuan Fino sampai di rumah sakit, lalu menghampiri mereka.
Setelah mendapat kabar tentang Mai yang dilarikan ke rumah sakit, pria paruh baya yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakek bergegas cepat ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi, bagaimana keadaannya?" tanya tuan Fino khawatir sambil duduk di kursi samping sang istri.
"Mai sedang ditangani dokter, kita doakan saja semoga persalinannya berjalan dengan lancar." ucap Nyonya Milan dengan mata berkaca-kaca. Dia sungguh mengkhawatirkan Mai, pasalnya Mai tengah mengandung anak kembar dan itu membutuhkan perjuangan yang sangat-sangat luar biasa. Ada dua bayi yang harus dilahirkan sekaligus.
"Aamiin." timpal tuan Fino sambil merangkul bahu sang istri.
Tak berselang lama kemudian, pintu ruang bersalin terbuka dan menampilkan sosok dokter Latifah yang baru saja melakukan tugasnya.
"Bagaimana keadaan istri dan anak aku, dokter? bagaimana dengan operasinya?" tanya Morgan yang begitu khawatir dengan kondisi Mai.
Dokter Latifah menghela nafas panjang lalu buka suara.
"Operasinya... berjalan dengan lancar. Selamat tuan, anda dikaruniai bayi kembar berjenis kelamin perempuan. Akan tetapi, salah satu bayi kembar anda berada di ruang NICU karena detak jantungnya begitu cepat sehingga butuh perawatan selama beberapa hari. Sementara nona Mai belum bisa di temui karena masih belum siuman. Setelah pasien sudah siuman kami akan memindahkan ke ruang rawat inap agar lebih nyaman."ucap dokter Latifah menjelaskan panjang lebar.
"Alhamdulillah, syukurlah, terima kasih ya Allah. Terima kasih dokter" ucap Morgan yang bisa bernafas dengan lega.
Semua orang tampak bernafas lega mendengar kondisi Mai, mereka kompak mengucapkan Alhamdulillah dan begitu bersyukur atas kelahiran bayi kembar Mai dan Morgan. Seketika perasaan haru dan bahagia menyelimuti perasaan mereka dengan kehadiran buah hati Mai dan Morgan yang selalu dinantikan selama ini.
"Terima kasih dok." ucap Nyonya Milan dan Bu Siti dengan kompak dan mereka tampak meneteskan air mata haru dan bahagia.
"Sama-sama, ini sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu saya permisi." ucap dokter Latifah pamit undur diri dari hadapan mereka.
Selama tiga jam lamanya akhirnya Mai siuman juga, setelah itu Mai dipindahkan ke ruang rawat inap.
__ADS_1
Kini Mai menempati ruang rawat inap, dimana Morgan beserta kedua orang tuanya dan ibu Mai sudah berada di ruangan itu. Mereka semua akan menginap.
Keesokan harinya...
Terlihat Mai sedang mendekap hangat bayinya, sedang Morgan hanya mampu menatap mereka dengan senyuman bahagia.
Sementara kedua orang tua Morgan sudah pulang pagi-pagi buta. Sedangkan ibu Siti masih menemani mereka dengan senyuman selalu saja menghiasi wajahnya yang berbinar-binar.
Tak berselang lama, Dokter kembali melakukan pemeriksaan kepada Mai. Setelah selesai, Mai diminta oleh dokter untuk menemui bayinya yang menempati ruang NICU.
Mai lalu menyerahkan bayinya untuk digendong oleh ibunya. Setelah itu, Morgan memindahkan Mai di kursi roda lalu membawanya ke ruang NICU.
Mai dan Morgan sudah berada di ruang NICU memakai pakaian steril yang tersedia di ruangan tersebut. Mereka memandangi bayinya yang sedang terlelap di inkubator. Tak terasa air mata Mai mengalir dengan sendirinya melihat buah hatinya. Morgan yang berada di samping nya juga ikut meneteskan air mata melihat buah hatinya yang menempati inkubator.
Mereka hanya mampu memandangi bayinya tanpa harus menggendongnya karena terdapat beberapa alat medis melekat di tubuh bayinya.
Mai dan Morgan hanya mampu bersyukur dan bersyukur kepada Allah SWT, karena diberi bayi kembar berjenis kelamin perempuan dan itu merupakan anugerah terindah bagi mereka.
Seminggu kemudian....
Mai sudah diperbolehkan pulang bersama dengan bayi kembarnya. Morgan begitu antusias membawa istri dan anak-anaknya pulang ke rumah.
Keluarganya begitu antusias dan bersemangat menyambut kedatangan mereka. Nyonya Milan dan Bu Siti masing-masing menggendong cucunya lalu membawanya ke kamar. Mai dan Morgan hanya mampu mengekor di belakang mereka.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk si kembar." tanya Nyonya Milan kepada mereka.
"Sudah Ma." jawab Morgan.
"Kalau begitu katakan pada Mama siapa nama si kembar." ucap Nyonya Milan antusias sambil membaringkan tubuh cucunya di boks bayi.
"Anak kembar kami namanya adalah Ameena Leo Alexander dan Ameera Leo Alexander..." Morgan menjeda ucapannya.
"Yang mama gendong barusan bernama Ameena dan yang ibu gendong bernama Ameera." ucap Morgan tersenyum, sedang Mai hanya mampu merangkul pinggangnya dengan senyuman manis menghiasi wajahnya melihat si kembar.
"Wah nama yang bagus." ucap Nyonya Milan.
"Iya ya, nama cucu nenek bagus semua." timpal Bu Siti. Nyonya Milan hanya mampu tersenyum saking bahagianya kembali memiliki cucu kembar.
__ADS_1