Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Morgan sakit


__ADS_3

Keluarga Alexander berduka, calon penerusnya berjatuhan. Ini salah satu ujian berat bagi keluarga Alexander di tahun ini. Bagaimana dengan tahun-tahun mendatang, mereka harus sebisa mungkin membentengi diri dan harus siap menghadapi ujian yang jauh lebih berat daripada ini.


Tampak beberapa anggota keluarga Alexander tengah berkumpul di rumah sakit, mereka semua menunggu di depan pintu ruang operasi. Dimana Rania mengalami keguguran, dan dokter sedang melakukan tindakan operasi untuk mengangkat janin yang dikandung oleh Rania.


Rania mengalami keguguran akibat terpeleset di dalam kamar mandi hingga membuatnya pendarahan, alhasil janin dalam perutnya tidak bisa di selamatkan.


Padahal kehamilan kedua Rania begitu dinantikan, sekitar lima bulan lagi Rania akan melahirkan buah hatinya, namun takdir berkata lain. Dia pun kehilangan calon bayinya sama halnya yang dialami oleh Mai.


Kabar keguguran Rania sudah menyebar, bahkan sudah sampai di telinga Alfhat. Pria yang dijuluki cassanova dan baru-baru ini juga mendapatkan julukan pria cabul oleh Etha, tampak memijit keningnya yang tidak sakit mendengar kabar tersebut.


"Bagaimana dengan kondisi Rania?" ucapnya pada sekretarisnya. Walaupun dia tidak suka bahkan tidak rela Rania jatuh di tangan musuhnya. Tapi, tetap saja dia begitu peduli dan khawatir terhadap kondisi Rania.


"Saya kurang tahu tuan, yang jelas bayi dalam kandungannya tidak tertolong." jelas Richard.


"Apa kamu tau siapa dalangnya yang sengaja mencelakainya?" Alfhat menopang dagu menatap tajam sekretarisnya itu.


"Tidak tuan, itu murni kecelakaan yang diakibatkan oleh kelalaian nona Rania sendiri." ucap Richard.


"Astaga, sungguh kasihan Rania ku. Aku senang anak musuhku mati, tapi aku sangat mengkhawatirkan kondisi Rania. Richard siapkan mobil, aku ingin melihat langsung kondisi Rania di rumah sakit." ucap Alfhat sambil bangkit dari duduknya.


"Maaf tuan, ada baiknya jika anda tidak perlu datang menjenguknya. Saya hanya tidak ingin kedatangan anda hanya membuat kekacauan." cegah Richard.


"Memang itu yang kuinginkan, aku suka dengan kekacauan. Dan aku ingin melihat langsung seperti apa wajah Adelio sekarang, kehilangan sosok yang disayanginya. Aku belum membalaskan dendam ku kepadanya, tapi dia sudah mendapatkan pelajaran terlebih dahulu." ucap Alfhat sambil menyeringai licik.


"Tapi tuan, ini demi kebaikan anda. Bukankah sore ini juga anda akan berangkat ke negara B untuk menagih hutang pada tuan David." ucap Richard mengingatkan kembali atasannya.


"Ha ha ha kamu mengingatkanku kembali akan hutang-hutang pria tua bodoh itu. Kurasa hal ini jauh lebih menarik dibandingkan melihat langsung wajah Adelio. Hanya sejentik jari, perusahaan JM Group sudah berada di genggamanku, hutangnya membeludak dan siap-siap jatuh bangkrut. Semua saham-sahamnya sudah diakusisi oleh perusahan ku. Setelah itu, tinggal menendang pria tua itu karena tidak mungkin membayar hutang-hutangnya. Walaupun berusaha untuk membayarnya, itu sangat mustahil, dia tidak mungkin mendapatkan pinjaman dengan nilai fantastis. Cukup melihat tontonan menarik dan melihat seperti apa reaksi perawan tua itu, ha ha ha." ucap Alfhat diiringi gelak tawa seperti baru saja mendapatkan tangkapan besar.


Dan benar saja sore itu Alfhat dan sekretarisnya berangkat ke negara B untuk menagih hutang. Mereka datang langsung di kediaman tuan David untuk memberikan peringatan sekaligus menagih hutang.


Kebetulan hari itu juga Etha pulang di kediaman orang tuanya sehabis menjenguk Rania di rumah sakit. Kepulangannya hari itu memang mendadak karena mendengar kabar ayahnya yang jatuh sakit.

__ADS_1


Sehingga tanpa diduga Etha sendiri yang membukakan pintu untuk Alfhat dan sekretarisnya.


"Kamu." Etha terkejut melihat tamu yang datang. Dia tidak menyangka pria cabul itu yang datang bertamu.


"Kenapa? bukankah aku sudah katakan aku datang untuk menagih hutang." ucap Alfhat dengan sinisnya.


Pasalnya mereka pun sempat bertemu di Bandara hingga melontarkan sindiran satu sama lain, dimana Alfhat sendiri mengatakan bahwa dia datang ke negara B untuk menagih hutang. Usut punya usut ternyata keluarganya lah yang memiliki hutang pada pria cabul itu.


Etha berdecak kesal sambil membuka pintu rumah dengan lebar, tatapannya begitu tidak suka kepada pria cabul itu yang pernah melakukan aksi cabul di dalam toilet hotel.


Lalu Etha mempersilahkan mereka masuk. Karena kebetulan para pelayan sedang menghidangkan makan malam di ruang makan. Setelah itu muncullah Ayahnya, Etha bergegas pamit ke belakang dan tidak ingin lagi bertemu dengan pria cabul itu.


Dan malam itu juga mau tak mau tuan David menjaminkan putri angkatnya untuk dijadikan sebagai alat pelunas hutang untuk sementara waktu. Semua itu memang rencana Alfhat dengan kekuasaan yang dimilikinya.


Apakah Etha akan setuju dengan keputusan ayah angkatnya itu?. Hanya waktu yang menjawabnya.


*


*


*


Sore harinya mereka memutuskan berangkat ke bandara. Dia tidak perlu membutuhkan persiapan jauh-jauh hari. Morgan akan selalu setia mendampingi sang istri kemanapun perginya.


Selesai berpamitan kepada Mama Milan dan Papa Fino, mereka memutuskan untuk pergi.


Kurang lebih satu bulan Mai tinggal bersama dengan ibunya. Perlahan Mai melupakan hal yang membuatnya sedih atas kehilangan calon bayi nya dan benar-benar menata hidupnya kembali untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Sementara Morgan sudah tiga kali harus bolak-balik ke negara A untuk mengurus masalah perusahannya. Hal itu membuat Mai menjadi kasihan kepada suaminya yang harus rela mengikutinya bahkan tinggal bersama di rumah ibunya yang sangat-sangat sederhana itu.


Padahal Morgan sudah membelikan rumah baru untuk ibu Mai, namun sang ibu mertua menolaknya dan lebih betah tinggal di rumah peninggalan sang suami.

__ADS_1


Terlihat Mai rebahan di pangkuan ibunya. Tangan ibunya dengan penuh kasih memijit kening sang putri.


"Ibu, aku merasa lebih baik setelah tinggal bersama ibu. Tapi, aku juga kasihan melihat kak Morgan harus bolak-balik ke negara ini hanya untuk menemui ku, ibu." ucap Mai.


"Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kamu tinggal bersama dengan suamimu. Kasian nduk suamimu, harusnya jadi istri kamu yang harus selalu mengikuti kemana suamimu pergi, bukan dia yang mengikutimu sampai ke sini nduk." ucap ibunya memberikan nasihatnya.


"Iya ibu, aku salah." ucap Mai memelas.


Tak berselang lama kemudian, terdengar suara seseorang mengucapkan salam. Mai sangat tahu betul siapa yang datang. Mai bergegas ke depan untuk menghampirinya.


"Waalaikumsalam." Mai tersenyum merekah melihat siapa yang datang.


"Kak Morgan." Mai langsung menghambur memeluknya. Morgan ikut tersenyum yang juga membalas pelukannya.


Sementara ibunya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan menantunya. Wanita paruh baya itu senyum-senyum berlalu ke dapur untuk membuat teh.


Baru tiga hari mereka berpisah, rindunya minta ampun. Mai melepaskan pelukannya dan sebuah kecupan singkat mendarat di keningnya. Mai tersenyum lalu mengelus lembut pipi sang suami hingga dia terkejut mendapati suhu tubuh sang suami tidaklah normal.


Mai kembali memastikannya dengan menyentuh kening sang suami.


"Kak Morgan sakit?" tanya Mai yang mampu merasakan suhu tubuh Morgan begitu panas.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja kok." elak Morgan. Padahal dirinya memang sakit.


Mai segera menggandeng tangan Morgan ke kamar.


"Pelan-pelan kak." ucap Mai khawatir lalu mendudukkan Morgan di sisi tempat tidur.


"Kak Morgan sudah minum obat?" tanya Mai. Morgan hanya menggeleng menanggapi ucapannya.


"Ya sudah, tunggu sebentar. Aku akan mengambil obat dan juga mengompres tubuh kak Morgan supaya panasnya turun." ucap Mai khawatir. Morgan langsung menarik tangannya hingga tubuh Mai terjatuh di atas pangkuannya.

__ADS_1


"Tak perlu melakukannya aku baik-baik saja. Tetaplah disini, aku hanya ingin memelukmu." ucap Morgan dengan mata sendu lalu memeluk tubuh istrinya dengan eratnya layaknya anak kecil bermanja-manja kepada ibunya.


__ADS_2