
"Mas, kenapa kamu memisahkan mereka. Aku sangat tidak setuju dengan rencanamu itu. Bagaimana jika sesuatu terjadi kepada Morgan." ucap Adelia sambil bertolak pinggang menatap suaminya yang tengah bersandar di kursi malas.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana keseriusan Morgan terhadap Khumaira. Bisa dibilang aku hanya ingin memberikan ujian atas cinta mereka. Apakah dia benar-benar mencintai istrinya atau hanya dijadikan sebagai pelampiasan semata atas kepentingannya sendiri. Bila itu terjadi aku tidak akan pernah mempertemukannya." Malfin tersenyum tipis sembari meletakkan iPad nya di atas meja lalu menatap ke arah istrinya.
Malfin bangkit dari duduknya lalu melangkah mendekati istrinya.
"Sayang, Morgan bukanlah pria bodoh. Jadi tak usah khawatir kepadanya. Dan satu lagi tetap rahasiakan masalah ini kepada Khumaira. Karena kita tidak bisa tebak apa yang akan terjadi selanjutnya." ucap Malfin tersenyum sambil memegang kedua pundak istrinya. Tatapan matanya begitu hangat menatap manik mata istrinya.
"Kamu ya, kakak tidak punya perasaan. Aku yakin Morgan sangat mengkhawatirkan Mai, dia pasti sudah pontang-panting mencari keberadaan Mai. Sementara pelaku utamanya yang menculik istrinya adalah kakaknya sendiri." ucap Adelia kesal sambil menunjuk-nunjuk dada bidang suaminya.
"Ha ha ha, biarkan saja. Yang namanya cinta harus butuh perjuangan dan pengorbanan. Kita lihat bagaimana perjuangan Morgan saat ini. Akankah dia sanggup melewati rintangannya walaupun badai sedemikian rupa datang menghampirinya atau dia malah memilih menyerah dan tidak bisa memperjuangkan cintanya." ucap Malfin panjang lebar diiringi gelak tawa. Dia hanya ingin melihat bagaimana keseriusan Morgan terhadap istrinya. Dan apakah mereka sudah saling mencintai satu sama lain atau belum ada cinta diantara mereka.
"Tapi tetap saja, apa yang kamu lakukan ini salah besar, Mas." protes Adelia tidak setuju dengan rencana suaminya. Hal itu membuat Malfin segera menarik tubuh istrinya lalu dipeluknya erat.
"Ya... aku akui memang aku salah, sayang. Tapi, tidak kah kamu ingat sayang, bagaimana perjuangan ku sebelum mendapatkanmu. Dari situlah aku mendapatkan ujian dalam mengejar cinta dan akhirnya aku pun mengerti apa itu cinta. Karena sesungguhnya cinta itu membutuhkan proses, perjuangan dan pengorbanan. Dan bagiku cinta itu ibarat sesuatu yang berharga, spesial dan hanya kita miliki yang tidak akan pernah tergantikan dari segi manapun. Itulah cinta." ucap Malfin tersenyum tipis dan kembali teringat dengan masa-masa dulu saat dirinya mengenal cinta.
Adelia terdiam mendengar ucapan suaminya. Hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manis yang juga teringat dengan masa lalunya.
Semua yang dikatakan oleh suaminya ada benarnya, namun dia tidak suka dengan caranya yang diam-diam menculik Mai dari Malfin. Apalagi pasangan suami istri itu sedang menjalani bulan madu bersama.
"Astaga, ternyata kalian disini. Dari tadi aku mencarimu bersama anak-anak." ucap suara cempreng seorang wanita sambil menggendong anak perempuan dan juga ditemani oleh tiga anak laki-laki berjalan bersama-sama masuk ke dalam kamar mewah yang ditempati oleh Malfin dan Adelia.
Adelia langsung melepaskan pelukannya lalu melangkah mendekati mereka.
"Putri kecil ku yang manis, lihatlah ibu mu sedang berduaan dengan ayahmu. Pantas saja meninggalkan kami." omel wanita bercadar itu lalu mencium gemes pipi gembul anak perempuan dalam gendongannya.
"Aqila kemari sayang, kasian bibi Rania sedang hamil. Takutnya dede bayinya rewel." ucap Adelia lemah lembut sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil alih putrinya.
Sementara wanita bercadar itu yang tidak lain adalah Rania hanya mampu tersenyum dan begitu senangnya menggendong Aqila.
"Biarkan saja, aku sangat senang menggendongnya. Semoga di kehamilan keduaku ini dikaruniai anak perempuan." balasnya tersenyum dibalik cadarnya.
"Aamiin." ucap si kembar dengan kompaknya mengaminkan ucapan ibunya.
__ADS_1
"Ah manisnya anak-anakku. Zaka, Zaki salim dulu sama bibi dan paman kalian." ucap Rania kepada anak kembarnya. Kemudian si kembar bergerak cepat menyalami tangan paman dan bibinya.
"Tumben mereka akur." ucap Malfin karena biasanya setiap kali mereka bertemu ujung-ujungnya bertengkar melulu.
"Mereka terlalu senang liburan bersama. Maaf ya sudah merepotkan kalian atas kehamilanku. Lain kali aku tidak akan lagi ngidam aneh-aneh dengan naik kapal pesiar dan membawa kalian liburan bersama." ucap Rania tidak enak hati.
"Sudahlah semuanya sudah terjadi, nikmati saja liburanmu." ucap suara bariton seseorang yang menimpali ucapannya dan tengah berdiri di dekat pintu.
Rania langsung menurunkan Aqila dari gendongannya lalu menoleh ke arah orang itu yang diyakini adalah suaminya.
"Iya suamiku. Tapi maaf, kami harus kabur darimu. Anak-anak, ayo kabur." Rania begitu antusias sambil berjalan cepat, begitu halnya kedua anak kembarnya yang berlari kecil mengikutinya.
"Perhatikan langkahmu, saat ini kamu tengah hamil." tegur Adelio kepada Rania sambil menghadang mereka di dekat pintu. Adelio langsung meraih tubuh anak kembarnya lalu mengangkatnya dan membawanya ke kamarnya dan Rania mau tak mau mengekor di belakangnya.
Malfin dan Adelia bersama anak kembarnya hanya mampu tertawa terbahak-bahak melihat keluarga heboh itu.
*
*
*
Tampak Morgan berada di atas kapal nelayan dan berbaur dengan para nelayan yang mencari ikan di lautan. Bau amis dari tangkapan ikan para nelayan membuat Morgan mual dan ingin muntah. Namun Morgan berusaha untuk menahannya.
Morgan terpaksa menaiki kapal nelayan. Pasalnya dia tidak memiliki waktu banyak, sedang bala bantuan tak kunjung datang membantunya. Ditambah baterai ponselnya habis sehingga dia tidak bisa menghubungi siapapun, lengkap sudah penderitaannya saat ini.
Tidak hanya itu, sudah dua kali dirinya berpindah-pindah kapal. Dan kapal yang digunakannya sekarang kebetulan tujuannya akan kembali ke dermaga Singh.
Pikiran Morgan sudah tidak tentu arah, dia sangat mengkhawatirkan istrinya. Dia sungguh takut jika sesuatu terjadi kepada istrinya. Kebahagiaannya sekarang hanya pada istrinya seorang.
Diluar dugaan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya hal itu membuat para nelayan terlihat panik ditambah ombak menggulung dengan besarnya.
"Berhati-hatilah, badai kembali datang." peringat salah satu nelayan.
__ADS_1
Morgan semakin was-was, waktunya sudah hampir habis karena matahari sudah hampir tenggelam. Sementara dia belum juga sampai di daratan. Kapal nelayan yang dinaikinya masih terombang-ambing di tengah lautan yang sedang melawan badai.
Apapun yang terjadi aku harus menyelematkan istriku. Batin Morgan dengan tekad yang kuat untuk menyelamatkan istrinya.
🍁🍁🍁🍁
Bandara internasional negara A...
Terlihat Dilan, Etha dan Kendrick sedang berada di Bandara. Rupanya mereka sedang mengantar Dilan ke bandara. Karena hari ini adalah jadwal keberangkatan Dilan ke negara B.
"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik kak. Dan kamu Ken tugasmu menjadi pengawal kak Etha." ucap Dilan. Sedangkan Etha hanya mampu menepuk pundaknya.
"Ya, jangan khawatir. Etha sudah ku anggap seperti kakak perempuan ku." timpal Kendrick.
"Mengapa aku jadi sedih meninggalkan kalian." ucap Dilan cemberut.
"Sudahlah jangan bawel, suatu saat kita pasti berjalan sendiri-sendiri." timpal Etha sambil menepuk-nepuk punggung adik angkatnya itu lalu mendorongnya pelan untuk memintanya pergi.
Dengan berat hati Dilan menarik kopernya dengan langkah berat. Sebelum pergi, Dilan tak lupa melambaikan tangannya ke arah mereka.
Etha dan Kendrick hanya mampu tersenyum tipis melepas kepergian Dilan dan tak lupa mereka membalas lambaian tangan Dilan.
Setelah itu Etha dan Kendrick berjalan beriringan keluar dari Bandara.
"Aku akan kembali ke butik, bagaimana denganmu?" tanya Etha.
"Aku akan kembali ke perusahaan. Tuan Adelio tidak berada di tempat sehingga semua pekerjaan menjadi tanggung jawabku." jawab Kendrick.
"Ooh, sampai jumpa Ken dan semangat bekerja." ucap Etha tersenyum lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Kendrick hanya mengiyakan ucapannya lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya. Mobil mereka melaju meninggalkan tempat tersebut.
Dari kejauhan seseorang sedari tadi mengintai mereka dari dalam mobil. Setelah itu mengikuti mobil merah yang dikemudikan oleh Etha.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏