
"Persiapkan keberangkatanku sore ini juga. Aku ingin berbulan madu bersama istriku." ucapnya lalu mengakhiri panggilannya.
Sementara seseorang di ujung telepon tersenyum puas mendengar ucapan Morgan.
Morgan bergegas masuk ke dalam mobilnya dan langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut.
Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil. Mai terus menatap jalanan hingga ia merasa asing dengan jalanan yang dilewatinya.
"Kak, kita mau kemana?" tanya Mai.
"Nanti juga kamu bakalan tau." jawab Morgan acuh yang sengaja merahasiakannya dari Mai.
Setelah mendengar ucapan Morgan, Mai memilih untuk diam. Dia bukanlah tipikal wanita cerewet yang keinginan tahunya terlalu tinggi.
Sedangkan Morgan memilih merahasiakan keberangkatannya yang ingin pergi berbulan madu. Dia yakin apapun keputusannya akan diterima dengan baik oleh istrinya.
Mobil yang membawanya melaju kencang menuju salah satu hotel berbintang milik saudaranya.Kebetulan segala persiapan keberangkatannya semuanya diurus oleh saudaranya Malfin, termasuk pakaiannya. Mereka hanya tinggal terima beres.
Tapi sebelum itu, Morgan membawa Mai ke hotel untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum berangkat. Pasalnya dia baru saja kembali dari kantor, begitu halnya dengan Mai yang juga baru saja pulang dari tempat kursus memasak.
Setibanya di hotel, Morgan segera membawa Mai ke salah satu kamar hotel yang sering ditempatinya menginap. Morgan membuka pintu kamar hotel menggunakan kartu aksesnya dan bergegas masuk ke dalam lalu diikuti oleh Mai.
"Untuk apa kita kesini, kak? mengapa tidak langsung pulang ke apartemen." ucap Mai sambil mengedarkan pandangannya melihat-lihat suasana kamar hotel tersebut.
Terdapat dua paper bag di atas tempat tidur, Mai sangat yakin isinya berupa pakaian.
"Baiklah, aku akan mengatakan dengan jujur. Khumaira, sebenarnya kita akan pergi berbulan madu." ucap Morgan dengan entengnya.
"Bulan madu?" Mai menoleh kearahnya mendengar ucapannya barusan.
"Ya, kita akan berbulan madu ke pulau Kana. Kebetulan Pulau Kana salah satu pulau tropis milik keluargaku yang letaknya di daerah perbatasan negara A dan B. Sangat bagus untuk kita menghabiskan waktu bersama dan ya sebagai bentuk liburan tentunya." ucap Morgan tersenyum tipis.
"Lalu bagaimana dengan persiapannya?" tanya Mai.
"Tenang saja, semuanya sudah beres. Kita hanya perlu duduk manis di dalam pesawat jet pribadi milik kak Malfin." ucap Morgan dengan tatapan hangatnya sambil memegang kedua pundak Mai.
Ya Allah, kami akan pergi bulan madu. Sementara kondisiku tidak mendukung saat ini. Batin Mai cemas.
__ADS_1
"Kak, bolehkah nanti kita mampir ke rumah ibu ku" ucap Mai dengan tatapan memohon penuh harapan. Pasalnya dia sangat merindukan ibunya, sudah hampir dua bulan lamanya dia tidak bertemu dengan ibunya.
"Nanti aku pikir-pikir dulu. Memangnya kamu ingin bertemu dengan ibumu?"
Mai mengangguk cepat sebagai jawabannya.
"Baiklah, kita akan mengunjungi ibumu, setelah itu kita mengunjungi kedua orang tuaku." usul Morgan sambil menaikkan alisnya.
Mai tersenyum merekah dan langsung berhambur memeluknya. Mai begitu senang mendengar usulan Morgan yang setuju untuk menemui ibunya.
"Ya sudah, kalau begitu kita bergantian menggunakan kamar mandi. Dan ambil paper bag yang warnanya putih, karena isi dari paper bag berupa pakaianmu." jelas Morgan.
"Baik kak." Mai mengangguk lalu melangkah masuk ke kamar mandi.
Mereka bergantian menggunakan kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian. Setelah itu, mereka meninggalkan hotel tersebut menuju bandara.
Kini Mai dan Morgan sudah berada di dalam pesawat jet pribadi milik Malfin. Mereka tampak bahagia menikmati perjalanannya melalui jalur udara.
Pesawat terbang menuju pulau Kana. Ini kali kedua bagi Mai naik pesawat. Tak henti-hentinya wanita berhijab itu bersyukur dan berdoa, agar perjalanannya berjalan lancar dan selamat sampai tujuan.
Sementara di tempat lain....
"Mereka sudah pergi tuan." ucap pria berambut ikal melapor kepada atasannya sambil menundukkan pandangannya.
"Bagus, inilah yang dinantikan oleh kedua orang tuaku. Niko, mengenai rencanaku, kamu cancel dulu. Kita hanya perlu melihat situasinya, setelah situasinya sudah memungkinkan kamu boleh bergerak menjalankan rencanaku." ucap Pria tampan penuh wibawa itu yang tidak lain adalah Malfin. Sedang orang yang bersamanya adalah Niko, salah satu orang kepercayaannya.
"Baik tuan." ucapnya sambil membungkuk hormat. Kemudian pamit undur diri dari hadapan atasannya.
Malfin menutup laptopnya dan terdengar suara ponselnya berdering. Malfin langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapa orang yang meneleponnya.
"Istriku." gumamnya melihat panggilan masuk dari istrinya.
Dengan cepat Malfin mengangkat panggilan masuk dari istrinya.
"Apa? baiklah aku akan segera pulang." ucapnya dengan raut wajah berubah. Panggilan mereka pun berakhir.
Malfin bangkit berdiri dan langsung menyambar dompet dan kunci mobilnya lalu melangkah keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Siapkan mobil Niko, aku harus kembali ke mansion " ucapnya pada sekretarisnya sambil melempar kunci mobilnya dan dengan sigap sekretarisnya langsung menangkap kunci mobilnya.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Pintu lift terbuka, mereka bergegas keluar dan berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya. Hingga mobil yang mereka tumpangi melaju kencang membelah jalanan kota menuju kediamannya.
*
*
*
Sementara itu, tampak wanita berkursi roda ditemani oleh pria berkacamata sedang berada di sebuah mansion mewah. Wanita berkursi roda itu hanya mampu menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya yang sedang diperhatikan oleh wanita bercadar dan sepasang anak kembar.
Hanya keheningan yang terjadi di ruang tamu yang super luas itu. Sudah beberapa menit berlalu, namun tak kunjung adanya obrolan diantara mereka. Dimana wanita bercadar tampak shock melihat kedatangan wanita berkursi roda yang sangat dikenalnya itu. Begitu halnya dua pasang mata sedang menatap lekat-lekat wajah wanita berkursi roda itu.
"Mama, bukankah itu kakak cantik, mengapa sekarang memakai kursi roda. Apa kedua kakinya tidak bisa berjalan." ucap anak kembar perempuan yang berbisik kepada ibunya. Pasalnya mengenali wanita itu.
"Sayang, jangan ngomong seperti itu. Tak baik. Apapun yang kita lihat dari kekurangan orang lain, cukup hanya kita yang tahu tanpa harus mengucapkannya langsung di hadapan orang lain." ucap ibunya menasihatinya.
"Maaf Mama, Aqila tidak akan mengulanginya."
"Iya, jangan ulangi lagi ya. Kalau begitu kalian boleh bermain dengan bibi sitter karena Mama ada tamu."
"Baik Mama. Ayo Aqil."
Kedua anak kembar itu bergegas meninggalkan ruang tamu.
"Bagaimana kabarmu, Maura." tanya wanita bercadar itu yang tidak lain adalah Adelia
"Alhamdulillah baik." dusta wanita berkursi roda. Wanita itu adalah Maura.
"Alhamdulillah....Syukurlah."
"Begini mbak, maksud kedatangan saya hanya untuk meminta maaf kepada keluarga besar kalian." ucap Maura dengan mata berkaca-kaca.
"Kami sudah memaafkan mu, sebaiknya jangan lagi berharap kepada Morgan karena kini Morgan sudah bahagia dengan kehidupannya." timpal Pria tampan yang sedang berdiri di ambang pintu.
Maura menjadi bungkam mendengar ucapan Pria yang pernah menjadi bosnya itu. Dia berusaha untuk tersenyum ramah, padahal senyumannya itu teramat menyakitkan baginya, dan tiba-tiba dadanya teramat sesak mendengar bahwa pria yang dicintainya sudah bahagia dengan kehidupannya.
__ADS_1