Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Kedatangan Si kembar


__ADS_3

Tampak Joni begitu kewalahan membawa tumpukan laporan beserta desain produk makanan serta paper bag di tangannya.


"Ini laporan yang anda minta beserta contoh desain produk makanan yang sudah direalisasikan bersama dengan divisi bagian desain produk." ucap Joni meletakkan laporan dibawahnya di atas meja kerja atasannya beserta hasil print out desain produk makanan.


"Taruh saja disitu, nanti aku memeriksanya." ucap Morgan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


Sepertinya dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menjemput Mai pulang.


"Baik tuan."


"Dan ini produk makanan yang baru saja diluncurkan seminggu yang lalu, tuan." ucap Joni yang kembali ingin meletakkan paper bag yang dibawanya. Namun keburu Morgan memperingatkannya untuk menaruhnya di sofa. Mengingat meja kerjanya sudah dipenuhi tumpukan laporan keuangan perusahaan.


"Oh iya, saya hampir lupa tuan. Tuan Edward mengundang anda beserta istri anda untuk menghadiri jamuan makan malam di kediamannya pekan depan. Kebetulan beliau tidak datang di acara pernikahan anda, maka dari itu beliau mengundang anda makan malam di kediamannya." ucap Joni menjelaskan.


"Hemm nanti aku pikir-pikir, kamu boleh keluar." ucap Morgan tak beralih dari layar laptopnya.


Sekretarisnya membungkuk hormat lalu bergegas keluar dari ruangannya. Sementara dirinya begitu bersemangat mengerjakan pekerjaannya.


Tepat pukul empat sore, Morgan menghentikan pekerjaannya dan segera bersiap untuk pulang. Padahal tidak biasanya dia pulang secepat itu. Tapi kali ini berbeda dengan hari biasanya, karena dia ingin menjemput Mai di tempat kursusnya lalu pulang bersama ke apartemen.


Morgan tersenyum tipis mengigat pelayan itu, mengapa hari ini dia merasa aneh dengan jalan pikirannya. Tadi pagi dia begitu antusias untuk mengantarnya dan sekarang dia kembali antusias untuk menjemputnya.


Tak ingin berlama-lama berpikir, Morgan langsung menyambar kunci mobilnya lalu melangkah menuju pintu ruangannya. Saat beberapa langkah terdengar suara ketukan pintu dari luar. Morgan bergegas membukakan pintu.


"Paman." ucap suara cempreng anak kecil dan langsung berhambur memeluk kakinya.


Morgan terkejut hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.


"Aqil, Aqila." ucap Morgan tersenyum, seketika wajah lelahnya berubah ceria menatap ponakan kembarnya yang sedang bergelayut manja di kakinya.

__ADS_1


"Ucap salam dulu sama Paman." tegur ibunya lemah lembut dengan suara khasnya.


"Assalamualaikum paman." ucap Aqil dan Aqila dengan kompaknya lalu mereka mencium punggung tangan pamannya.


"Waalaikumsalam." balas Morgan tersenyum dengan tatapan hangatnya melihat tingkah ponakannya yang semakin pintar saja. Lalu Morgan mengalihkan pandangannya pada orang tua si kembar.


"Ayo masuk." ajaknya sambil menarik tangan ponakan kembarnya. Niatnya untuk menjemput Mai sepertinya gagal atas kedatangan mereka.


Malfin dan Adelia bergegas masuk ke ruangannya lalu duduk di sofa. Sedangkan Morgan duduk di sofa singel ditemani si kembar, dimana si kembar begitu nyaman duduk di pangkuannya yang tengah menikmati es krim.


Kedatangan si kembar membuatnya senang dan seolah rasa lelahnya terbayarkan hanya bertemu langsung dengan ponakan kembarnya.


Memang benar yang diucapkan oleh saudaranya tentang setiap kali pulang kantor rasa lelahnya terbayarkan hanya karena melihat anak-anaknya. Dan sekarang ia pun mengalaminya.


Ya terkadang Morgan merasa iri dengan saudaranya yang sudah memiliki anak yang lucu. Sementara dirinya belum bisa menjadikan rumah tangannya menjadi keluarga yang sempurna tanpa kehadiran buah hati mereka.


Apakah dia harus segera memiliki momongan juga? Tapi bagaimana memulainya, mengigat bagaimana perlakuannya terhadap pelayan itu. Walaupun hubungannya sudah membaik, tapi tetap saja Mai sepertinya sedang menjaga jarak dengannya.


Morgan menjadi pusing memikirkannya, dia pun melonggarkan dasinya yang tiba-tiba kembali teringat kejadian malam itu dan sekarang tubuhnya menjadi gerah.


Sepertinya ide itu mustahil baginya, mengigat gengsinya terlalu tinggi akan urusan yang satu itu. Namun jika hubungannya hanya itu itu saja, kapan dia akan memiliki keturunan. Kapan dia akan seperti saudaranya memiliki anak yang lucu dan bisa bermain bersamanya.


Lamunan Morgan terbuyarkan saat mendengar suara ponakannya.


"Paman, kakak baik mana? Aqila rindu sama kakak baik" tanya Aqila yang seperti tahu saja hubungan pamannya dengan kakak baiknya. Bahkan cara memanggilnya masih sama.


"Kakak baik sedang belajar memasak. Nanti Paman akan mengajakmu menemuinya." jawab Morgan tersenyum tipis sambil mengelus puncak kepalanya.


"Belajar masak? Aqila juga mau belajar masak sama kakak baik, paman." ucap Aqila antusias dan kembali menyendok es krimnya lalu memakannya dengan lahap.

__ADS_1


"Khumaira belajar memasak? bukankan dia..." Adelia tak melanjutkan ucapannya.


"Iya kak, dia bosan tinggal di apartemen makanya aku mendaftarnya kelas memasak." potong Morgan dengan berkata jujur.


"Ooh...Baguslah, kurasa dia memang jago di bidang itu " ucap Adelia tersenyum dibalik cadarnya. Dan sah-sah saja jika Khumaira berkecimpung di bidang itu karena semua masakan yang pernah ia cicipi yang dimasak langsung oleh Khumaira rasanya memang enak dan pas di lidah.


Malfin dan Adelia menghela nafas berat menatap anak kembarnya. Mereka pun tak sanggup mengutarakan maksud kedatangannya.


"Morgan. Sebenarnya maksud kedatangan kami....kami ingin menitipkan si kembar untuk tinggal bersama mu di apartemen selama tiga hari." ucap Malfin berat hati.


"Apa?" Morgan terlonjat kaget mendengar ucapan saudaranya itu. "Apa maksud kalian? bagaimana bisa kalian meninggalkan anak-anak kalian. Aku tidak ingin mengambil resiko. Bagaimana nantinya jika mereka mencari kalian." ucap Morgan tak habis pikir.


" Aku akan melakukan perjalanan bisnis keluar negeri bersama Adelia. Cuaca disana tak mendukung makanya kami tidak membawa Aqil dan Aqila untuk ikut bersama kami. Tolong jaga anak-anakku selama aku pergi. Kamu tahu sendiri mama sudah kembali ke negara B, tidak mungkin aku menyusulnya pulang. Dan tidak mungkin juga jika aku menitipkan kepada mertuaku, kamu tahu kan bagaimana Aqil dan Aqila selalu berantem dengan Zaka dan Zaki setiap kali bertemu hingga mereka semua menangis berjamaah. Dan pastinya semua orang akan kewalahan melerainya ataupun menjaganya. Ditambah Rania tengah hamil, otomatis mereka harus membagi waktunya mana yang akan mereka prioritaskan. Tolonglah... Keputusan ini teramat berat, kami terpaksa melakukannya." ucap Malfin panjang lebar.


"Iya Morgan, hanya kamu yang bisa kami percayakan menjaga anak-anakku. Andai saja urusan ini tidak penting, mungkin aku hanya perlu tinggal di rumah bersama anak-anakku." ucap Adelia memelas dan tak ingin meninggalkan anak-anaknya.


"Kami melihat kamu begitu akrab dengan ponakan mu. Jadi tolonglah jaga mereka selama kami pergi. Dan sepertinya Khumaira bisa membantumu. Apalagi Aqila selalu menanyakan Khumaira." ucap Adelia berat hati.


"Tolonglah Morgan, itung-itung kamu bisa belajar mulai dari sekarang bagaimana caranya menjadi orang tua. Mungkin dengan menjaga anak-anakku nantinya kamu tidak kewalahan. Kemungkinan besar tidak lama lagi kamu dan Khumaira diberikan momongan." ucap Malfin memohon kepada saudaranya itu.


Morgan memijit keningnya mendengar setiap ucapan mereka.


"Baiklah, aku bersedia menjaga si kembar." ucap Morgan pada akhirnya. Dia pun menjadi kasihan mendengar curhatan saudaranya.


"Terima kasih Morgan." ucap Malfin menepuk pundak Morgan dan hanya disambut dengan tatapan mata jengah.


"Ya sudah kalau begitu kami akan berangkat sore ini juga." Malfin lalu mendekati anak-anaknya untuk berpamitan. Matanya berkaca-kaca menatap buah hatinya.


Tampak Adelia sedang berusaha menahan air matanya untuk tidak menetes yang tengah menggendong Aqil dan Aqila secara bergantian dan terus mencium kedua pipi gembul anak-anaknya.

__ADS_1


Malfin pun melakukan hal yang sama menggendong dan memeluk anak-anaknya secara bergantian dan tidak rela untuk meninggalkannya.


Perpisahan mereka tampak begitu haru. Aqil dan Aqila tampak biasa-biasa saja dan menganggap ayah dan ibunya hanya pergi untuk bekerja. Karena sebelum berangkat dari rumah mereka di berikan pengertian bahwa kedua orang tuanya akan pergi bekerja dan anak kembarnya tampak mengerti.


__ADS_2