
"Mama akan menginap di sini." ucap ibunya membuat Morgan terhentak kaget mendengar ucapan ibunya, namun sebisa mungkin bersikap biasa-biasa saja.
"Aku sangat senang mendengarnya ma, akhirnya mama mau menginap di apartemenku." ucap Morgan tersenyum tipis.
Mai yang berdiri di samping Nyonya Milan ikut tersenyum mendengar ucapannya.
"Emm ini makanan untukmu." ucap Morgan menyodorkan paper bag berisi makanan yang sempat di pesan di restoran keluarganya.
Mai mengambil cepat paper bag tersebut lalu membawanya ke dapur untuk menyajikannya di meja makan. Nyonya Milan ikut membantunya menyajikan makanan yang sempat di beli oleh Morgan. Mereka hanya perlu menunggu kedatangan Morgan.
"Mai, apa Morgan berbuat kasar kepadamu?" tanya Nyonya Milan dan Mai menggeleng cepat sebagai jawabannya.
"Syukurlah, jangan pernah menutupi kesalahan Morgan jika berbuat kasar kepadamu. Katakan yang sejujurnya Mai, biar Mama yang memberinya pelajaran." ucap Nyonya Milan tersenyum.
"Kak Morgan begitu baik kepada Mai, jadi mama tak perlu khawatir." ucap Mai tersenyum.
Tak berselang lama, datanglah Morgan dengan penampilan yang sangat segar mengenakan pakaian santainya lalu disusul oleh tuan Fino mendekat ke meja makan.
"Mari, Silahkan duduk." ucap Mai dengan ramahnya.
Morgan menarik kursi kemudian duduk di kursi bersebelahan dengannya. Mai lalu mengambilkan makanan di piring Morgan persis yang dilakukan oleh nyonya Milan terhadap suaminya.
"Terima kasih." ucap Morgan tersenyum tipis dan sedikit tersentuh diperhatikan seperti itu. Mai hanya mampu tersenyum menanggapi ucapannya.
Mereka makan malam bersama dengan penuh khidmat tanpa adanya obrolan. Setelah selesai makan malam, Morgan dan tuan Fino memilih mengobrol di ruang tamu lalu disusul oleh nyonya Milan. Sementara Mai membersihkan piring kotor bekas makanan mereka.
"Bagaimana perkembangan perusahaan mu?" tanya tuan Fino kepada putranya. Jika mereka bertemu pasti urusan bisnis yang selalu mereka bicarakan.
"Ya sudah berkembang pesat ayah. Banyak investor asing yang menanam modal di perusahaanku. Mereka begitu percaya terhadap perusahaan ku, padahal bisnis yang ku jalankan hanyalah makanan dan minuman cepat saji." jawab Morgan tersenyum, karena hanya bisnis yang dijalankan berbeda dengan kerajaan bisnis keluarganya.
"Papa senang mendengarnya berarti mereka sudah mempercayaimu." ucap ayahnya sambil menepuk bahunya.
"Iya Pa. Bulan depan perusahaan kami kembali meluncurkan produk baru, semoga produknya diterima dengan baik di pasaran." ucap Morgan.
Mai kembali menyajikan teh hangat untuk mereka. Nyonya Milan tersenyum melihat menantunya yang begitu cekatan mengerjakan semuanya.
Cukup lama mereka mengobrol bersama, hingga kedua pasangan berbeda usia itu memilih masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Mai sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur dan tengah duduk di sofa menunggu Morgan yang masih berada di dalam kamar mandi.
Mai memeluk tubuhnya sendiri, perasaannya kembali dirundung kegugupan jika berada di ruangan yang sama dengan tuan mudanya.
Morgan keluar dari kamar mandi sambil mengancing piyamanya dan piyama tidur yang dipakainya warnanya mirip dengan piyama tidur Mai.
"Mengapa belum tidur?" tanya Morgan cuek.
"Emm... saya belum bisa tidur tuan." jawab Mai menunduk.
"Ya sudah temani aku mengobrol, ada hal yang ingin ku sampaikan kepadamu, demi kebaikan kita bersama." ucap Morgan lalu duduk di pinggir tempat tidur menghadap ke arah Mai yang sedang duduk di sofa.
"Malam ini kita berbagi kamar, tapi tidak tahu dengan malam-malam lainnya, karena mama akan terus memantau gerak-gerik kita." ucap Morgan cemas sambil bersikadap menatap tajam ke arah Mai.
"Tuan..."
"Dan ubah cara mu memanggilku, aku tidak ingin kamu memanggilku sebutan tuan, bisa saja kamu keceplosan atau tidak sadar menyebutku tuan. Cari panggilan yang cocok untukku." tegas Morgan.
"Saya sudah pasih memanggil anda tuan." ucap Mai membela diri.
"Saya tidak berani memanggil nama anda, anda lebih tua dari saya. Bagaimana jika saya memanggil anda kak..kak... Morgan." ucap Mai terbata untuk menyebut nama tuan mudanya.
"Itu jauh lebih bagus, panggil saja seperti itu." ucap Morgan menaikkan alisnya.
"Baik..Kak..."
"Satu lagi, kamu masih muda, apa kamu tidak berencana untuk melanjutkan pendidikan mu? jangan khawatir aku bersedia membiayai pendidikanmu"ucap Morgan memberikan ruang bagi pelayanan itu untuk melanjutkan kembali pendidikannya.
"Terima kasih tuan, tapi saya tidak bisa menerima tawaran anda." jawab Mai ragu. Dia tidak ingin memanfaatkan keadaan dan mengambil keuntungan dari pernikahan tersebut.
"Aku sudah katakan jangan memanggilku tuan." protes Morgan yang kembali mendengar Mai menyebutnya tuan.
"Maaf k-kak." ucap Mai menunduk.
"Mengapa demikian? apa alasanmu tidak ingin melanjutkan pendidikanmu? padahal aku menawarimu hal yang bagus?" tanya Morgan penuh selidik.
"Saya tidak tau seperti apa rencana kedepannya, jangan sampai saya hanya pupus di tengah jalan. Dan saya tidak memiliki mimpi yang harus digapai." jawab Mai merendah diri. Memang seperti itulah dirinya, tak pernah bermimpi setinggi langit karena ia takut terjatuh.
__ADS_1
Bukan perkara mudah, dia harus menjalaninya selama beberapa tahun. Dia tidak tahu besok atau lusa bisa saja pernikahannya berakhir. Siapa yang akan bertanggungjawab membiayai pendidikannya sedang dirinya sudah tak bekerja.
Bekerja
Terlintas sebuah ide dipikirannya bahwa ia harus bekerja.
"Sungguh bodoh, minim sekali pemikiran mu." ketus Morgan tersenyum sinis mendengar ucapan Mai lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Mai hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Matikan lampu dan tidurlah." ucap Morgan bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.
Dengan malas Mai beranjak mematikan lampu, saat lampu padam sekelebat bayangan seseorang berdiri di luar jendela kamarnya. Mai terlonjat kaget menutup mulutnya, hingga dia berjalan mundur mendekat tuan mudanya.
Saat akan berbalik badan dia menubruk dada bidang seseorang, Mai mampu mencium aroma khas pemilik tubuh tersebut.
"Kak..."
"Ada apa?" bisik nya.
"Aku tidak sengaja melihat bayangan seseorang berdiri di luar jendela." ucap Mai takut dengan suara berbisik.
"Tunggu disini, biar aku yang mengeceknya?"
Morgan mengendap-endap mendekat ke arah jendela kamarnya. Saat beberapa langkah mendekat ke arah jendela, terdengar suara kucing melompat di balkon kamarnya.
Morgan berbalik badan dan langsung menyalakan kembali lampu kamarnya.
"Tak ada apa-apa, sebaiknya tidur. Syukur-syukur aku masih mau berbagi kamar denganmu." ucap Morgan cuek mendekati tempat tidurnya.
Mai berdiri mematung di samping tempat tidur, lalu menyeret kakinya mendekati sofa yang akan dijadikan tempat tidurnya malam ini.
Aku tidak salah lihat, tadi itu bayangan seseorang. Batin Mai.
Mai membaringkan tubuhnya di sofa, tak lupa menyelimuti tubuhnya hingga sebatas leher. Setelah selesai berdoa, Mai memejamkan matanya hingga tertidur.
Sementara Morgan masih terjaga. Dia tidak lupa menghubungi anak buahnya untuk melakukan penjagaan ketat di kawasan apartemennya. Dia tidak boleh kecolongan seorang penyusup berkeliaran di luar apartemennya.
__ADS_1