Pengantin Pengganti Tuan Arogan

Pengantin Pengganti Tuan Arogan
Ajakan ibu mertua


__ADS_3

"Tidak perlu, kamu pikir aku anak kecil membawa bekal. Aku terbiasa makan diluar." tegas Morgan dengan ketusnya lalu melenggang pergi.


Mai hanya mampu memeluk paper bag tersebut dengan mata berkaca-kaca. Sungguh tidak nyaman rasanya jika mendapatkan penolakan.


Mai berusaha menarik senyuman disudut bibirnya lalu melangkah ke dapur untuk menyimpan kembali bekal tersebut.


Mai memilih menyibukkan dirinya dengan membersihkan apartemen. Pekerjaan tersebut sudah menjadi makanan sehari-harinya selama menjadi pelayan di kediaman keluarga Alexander.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga." ucap Mai tersenyum sambil membasuh bulir keringat di keningnya yang sedang duduk di kursi meja makan. Akhirnya dia selesai juga membersihkan pekerjaan rumah.


Sambil bersantai, Mai menghabiskan dua gelas orange jus untuk melegakan tenggorokannya.


Kini Mai melepas penat dengan berdiri di balkon kamar menatap pemandangan kota yang sangat menakjubkan untuk dipandang pagi ini. Matanya terus berbinar melihat bangunan-bangunan pencakar langit menjulang tinggi.


Mai tidak bisa menghitung jari melihat berapa banyaknya bangunan pencakar langit yang berdiri kokoh di mana-mana. Mai kembali mengedarkan pandangannya ke bawah dan mampu melihat kendaraan berlalu lalang. Anak sekolah dan muda mudi tampak berlarian mengejar bus sekolah dan angkutan umum yang ingin mereka tumpangi.


Seketika Mai tersenyum kecil mengingat masa-masa sekolahnya dulu yang harus berangkat lebih awal demi mendapatkan sebuah kursi kosong pada bus sekolah yang setiap hari mengantar jemput dirinya pulang pergi ke sekolah.


"Jadi ingat masa-masa sekolah dulu." gumam Mai tertawa kecil.


Mai kembali mengedarkan pandangannya mengamati balkon kamar tersebut yang sama sekali terlihat kaku, hanya ada sepasang kursi besi beserta mejanya. Tak ada tanaman hias yang memperindah balkon kamar tersebut. Tidak seperti balkon kamar di mansion kedua orang tua tuan mudanya, beserta tetangga apartemennya.


"Wajar saja, kak Morgan seorang pria yang super sibuk, jadi dia tidak begitu memperdulikan suasana balkon kamarnya." ucap Mai dengan pemikirannya. Mai melihat kearah balkon kamar tetangga apartemennya yang dipenuhi tanaman hias dan juga bunga-bunga.


Dia berspekulasi bahwa pemilik apartemen itu adalah seorang wanita mengingat balkon kamarnya dipenuhi tanaman hias dan juga bunga-bunga indah, ibarat balkon kamar tersebut adalah taman kecil.


"Sungguh kreatif pemiliknya, aku juga ingin membuat balkon kamar kak Morgan cantik seperti itu. Tapi, aku harus minta izin dulu pada kak Morgan, jangan sampai dia marah karena aku melakukan hal tanpa memberitahunya terlebih dahulu." ucap Mai tersenyum dan ingin menyulap balkon kamar tuan mudanya.


Mai melangkah masuk ke kamar dan kembali melangkah menuruni anak tangga menuju dapur. Saat diujung tangga Mai mampu melihat sosok wanita tengah duduk di sofa dan Mai begitu mengenali siapa sosok wanita tersebut.


"Mama." ucap Mai tersenyum lalu melangkah menghampirinya.

__ADS_1


"Surprise, mama kembali datang. Jangan bosan-bosan ya melihat mama bolak-balik ke apartemen hanya untuk menemui mu." ucap Nyonya Milan tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk menantunya.


Nyonya Milan bebas keluar masuk di apartemen putra bungsunya, karena dia memiliki kartu akses, sehingga dia bebas berkunjung kapan saja di apartemen putra bungsunya.


Mai menyambut uluran tangannya dengan senyuman merekah sambil menyalaminya lalu berhambur memeluknya.


"Benar dugaan Mama, pasti kamu ditinggal sendirian di apartemen. Makanya mama tidak tega jika kamu sendirian di apartemen." ucap Nyonya Milan tersenyum sambil melepaskan pelukannya.


"Saya tidak masalah di tinggal, Ma. Lagian kak Morgan sedang bekerja." ucap Mai tersenyum.


"Ya begitulah, yang sabar ya sayang. Ya sudah bersiaplah, mama akan mengajakmu jalan-jalan mulai hari ini selama seminggu, biar kamu tahu tentang kota ini sayang." ucap Nyonya Milan tersenyum sambil mengelus puncak kepalanya.


"Terima kasih Mama, Mai sangat senang mendengarnya. Tapi maaf sebelumnya, Mai mau mandi dulu, tidak apa-apa kan jika mama harus menunggu Mai bersiap" ucap Mai tidak enak hati jika ibu mertuanya harus menunggunya.


"Tidak apa-apa sayang, lagian mama juga baru sampai. Sana dandan yang cantik, apa sih yang tidak buat untuk menantu mama." ucap Nyonya Milan tertawa kecil.


Mai tersenyum merekah dan bergegas menuju kamarnya dengan langkah riang gembira. Akhirnya ia bisa menghirup udara bebas. Tapi sebelum itu, dia tidak lupa mengirimkan pesan kepada tuan mudanya untuk meminta izin perihal ajakan jalan-jalan dari ibu mertuanya.


Nyonya Milan sosok ibu panutan yang sangat menyayangi keluarganya, tidak pernah membeda-bedakan menantunya dan semuanya dianggap sebagai putrinya sendiri. Mai sangat bersyukur kepada Allah karena dikelilingi oleh orang-orang baik


🍁🍁🍁🍁


Sementara di tempat lain...


Morgan telah berada di ruangannya dan duduk penuh wibawa di kursi kebesarannya mendengarkan sang sekertaris membacakan seluruh jadwalnya hari ini. Namun pikirannya masih tertuju kepada pelayan itu.


Ya pelayan yang bernama khumaira yang sudah sah menjadi istrinya. Entah mengapa dia masih memikirkan ucapan penolakan yang dilayangkan kepada pelayan itu. Tidak seharusnya juga dia berkata ketus kepada Mai jika tidak ingin membawa bekal.


“Tuan, ada yang ingin anda batalkan tentang jadwal hari ini?” tanya sekretarisnya bernama Joni memastikan.


“Ah tidak, atur saja sesuai jadwal yang sudah kamu buat. Oh iya bagaimana perkembangan produk baru yang akan diluncurkan bulan depan, apa semuanya sudah sesuai standard dan kelayan produk pada makanan dan minuman?” ucap Morgan serius.

__ADS_1


“Sudah berjalan sekitar 80% tuan, kepala divisi bagian peneliti dalam mengembangkan makanan dan menu-menu baru untuk produk perusahaan beserta jajarannya masih terus bekerja keras melakukan uji kelayan tentang produk kali ini. Setelah hasil uji lab sudah keluar mereka akan melangkah ke tahap selanjutnya hingga produk benar-benar sesuai standar dan layak dikonsumsi dan sudah bisa untuk dipasarkan.” Jelas Joni panjang lebar.


“Hemm, terus awasi dan selalu lapor perkembangannya.”


“Baik tuan.” Ucap Joni dengan anggukan kepala. “Rapat akan segera di mulai tuan, para petinggi perusahaan sudah saya kumpulkan di ruang rapat.”


“Ya, bawa semua laporan ini ke ruang rapat.” Perintah Morgan sembari menunjuk tumpukan laporan di atas meja kerjanya. Joni bergerak cepat mengambil laporan tersebut lalu mengekor dibelakang atasannya menuju ruang rapat.


*


*


*


Sementara Mai dan Nyonya baru saja tiba di salah satu Mall milik sang suami. Tampak Mai begitu senang bergandengan tangan dengan nyonya Milan berkeliling di Mall tersebut.


Nyonya Milan menarik Mai masuk di salah satu toko pakaian muslimah.


"Mai, ini sangat cocok untukmu." ucap Nyonya Milan tersenyum memilih baju syar'i untuk Mai lalu menempelkan di depan tubuh Mai.


Mai hanya mampu tersenyum melihat baju syar'i tersebut yang memang ukurannya cocok dengan tubuhnya yang mungil. Mai tidak bisa menolak jika ibu mertuanya sudah turun tangan memilih baju syar'i yang cocok untuknya. Padahal baju-baju yang sudah di belikan oleh ibu mertuanya belum semuanya di pakai Mai.


Mereka terus berkeliling dan berbelanja barang-barang yang memang sangat dibutuhkan.


Puas berbelanja, mereka makan siang di restoran cepat saji. Tak lupa Nyonya Milan mengirimkan potret kebersamaannya pada putra bungsunya.


Sementara Morgan yang masih berada di perusahaannya tampak senyum-senyum sendiri melihat potret kebersamaan ibunya dengan Mai.


"Pandai sekali mengambil hati Mama, dasar gadis polos yang manis." gumam Morgan tersenyum tipis memandangi foto mereka.


Morgan jadi tidak sabaran untuk pulang ke apartemen. Dia ingin melayangkan segala pertanyaan kepada pelayan itu mengenai kesehariannya bersama orang terkasihnya.

__ADS_1


__ADS_2